Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Clarissa akan putus kerja sama tapi—
Hallo guyss... Kalian lagi happy ga nih... Jadi, sama dong hehe.
Happy Reading 🐤
Mereka saling berhadap-hadapan, yang satu seperti sudah hilang nyawa dan satunya lagi mengepal tangan erat, mata pria itu menatap nyalang ke bawah, 'lemah.' pikirnya, walaupun hal itu berbalik terbanding dengan hatinya yang malah berdebar, pria itu segera memalingkan wajah mengumpat-ngumpat kasar.
"Anjing! Sialan!"
Arkan menatap semua orang di kamar satu persatu, dari para pelayan, desainer, dan orang-orang yang tadinya bertugas menata Aluna disuruh keluar.
"Keluar kalian semua!!"
Mereka langsung bergegas pergi, seperti anak bebek yang dimarahi induknya mereka juga tak lupa langsung membereskan bawaan mereka untuk ikut dibawa keluar juga.
Kini mereka tinggal berdua, Aluna akan berdiri tapi dia jatuh kembali Aluna mengusap air matanya ia mencoba tetap teguh. Pria itu berdecak, "Mau kemana?"
Mendengar pertanyaan yang tak membantu sama sekali sedikit membuat Aluna kesal, 'Aku mau kemana memang itu tanggung jawabmu Mas? Ada-ada saja, kejar aja Clarissa itu... dia mantanmu atau apa sih...'
"Ga kemana-mana, lagian ini penjaraku." jawab Aluna, dia memalingkan pandangan.
Arkan dengan tatapan tajamnya berjongkok, menarik dagu wanita itu untuk menatapnya.
"Kau kesal karena aku membalas perbuatanmu? Kau mengira tamparanmu tak sebanding dengan latihan tadi?"
Aluna tak menjawab, memang benar tak hanya kesal tapi juga bercampur kecewa. Namun apalah daya dia tak bisa melawan pria itu, tangannya terus terkekang ke bawah tetap dalam tumpuannya.
"JAWAB SAYA ALUNA!"
"Iya, memang benar Mas... Aku muak sudah, aku kesal sekaligus bingung... kenapa di sisi lain kamu jahat tapi juga kadang baik? Aku bingung..." ucap Aluna pelan, dia memeluk kedua lengannya
erat-erat menyembunyikan dirinya yang sebenarnya di dalam sana.
Arkan meneguk ludah, dia menurunkan pandangan ke bawah, disaat tumit kaki perempuan itu terluka Arkan seolah tak bisa apa-apa di sini.
"Kalau sakit bilang."
"Hah, untuk apa? Lagian Mas juga—"
Arkan berdiri, dia mengulurkan tangan ke atas. Setiap ruangan akan selalu dibekali dengan P3K, tentu saja Arkan mengambil salep, NaCl, kapas dan air steril dari air garam.
Pria itu menarik kaki Aluna sampai dia hampir saja tertarik ke depan, kepalanya tertatap kursi di belakang. Aluna mengedip tak percaya, pria itu memegang kakinya sekarang? Ia tak mimpi kan? Pikirnya sendiri.
"Ap—apa yang kamu lakukan Mas... Lep—lepas..."
"Kalau luka tidak segera diobati nanti malah jadi borok, kau mau?"
Gluk—
Mendengarnya saja Aluna langsung geleng kepala, dia menghentikan pria itu yang akan menuangkan air steril. "Mas... aduh tunggu dulu, itu sakit ga?"
Byur—
"AHH!"
Aluna menggeram di dalam punggung tangannya, ia menggigit tangannya sendiri sampai berbekas gigi kelincinya. Ia menahan rasa sakit luar biasa yang seolah menjalar sampai ke otaknya.
"Sakit..."
"Tahan! Gitu aja ngeluh,"
"Mas sendiri kalau coba kayak gini pernah gak?!"
Arkan yang ditanyai membalas dengan tatapan tajam, "Kau berani menanyai saya?!"
"I—iya! Kenapa kalau aku berani tanya sama Mas?"
"Ck,"
Arkan menekan jempolnya ke luka lecet di ujung telapak kaki Aluna, yang membuatnya seketika menjerit bagai kuda.
"AKH!! SAKIT MAS!!!"
"Tahan! Kamu ini mau dipikir macam-macam di luar hah!"
"Hiks—" Aluna menangis sesenggukan, tangisnya luar biasa hebatnya daripada tangis sebelumnya.
Setelah diberi air steril pria itu memberikan setiap luka dengan Rivanol (obat kuning) dengan telaten Arkan berikan hati-hati, setelahnya kedua sisi kaki setelah diperban kini Aluna bisa membuka mata, ia mengedip pelan.
"Masih sakit?" tanya Arkan tegas, tatapannya tajam seperti biasa. Namun Aluna geleng kepala antusias, dia menyentuh kakinya yang diperban.
'Apa waktunya sekarang aku harus berterima kasih? Apa aku harus?' pikir Aluna, dia menatap wajah Arkan berkali-kali, tak jadi dengan niat baiknya.
Arkan yang seolah menunggu sesuatu kecewa sendiri karena tak ada harapan untuk wanita itu diberikan padanya. "Jangan melakukan hal seperti itu lagi kepada Clarissa, dia memiliki kuasa dibanding saya."
Mendengarnya Aluna mengedip tak percaya,
"Daripada kamu Mas? Memang sekaya apa di—"
"Tak hanya kaya tapi kalau tidak ada dia mungkin resepsi pernikahan tak akan berjalan dengan mulus. Dengar ini Aluna, cukup satu saja yang kau ingat setelah bertemu lagi dengan Clarissa minta maaf dengannya agar kontrak kerja sama tidak hancur karenamu, mengerti? Perbuatanmu tadi sudah salah besar, akan meruntuhkan citra keluarga ini. Hanya gara-gara wanita miskin sepertimu."
Mendengarnya Aluna langsung tertohok, sebegitu pentingkah Clarissa daripada dirinya?
Dibanding-banding dirinya yang seorang wanita miskin, bekerja tak sesuai passion setelah kuliah gitu?
Begitukah?
Pasti Clarissa bukan karyawan biasa, tapi jelas saja dia adalah pemimpin konsultan kelas atas, keluarganya juga terpandang sama hal dengan keberadaan Arkan. Wanita itu memegang dadanya serasa dihujani es batu.
Melihat Aluna tak menjawab perkataannya, Arkan berdecak menggenggam kedua pipi wanita itu dengan sekali genggaman.
"Kau dengar Aluna?! Dengar tidak?"
Aluna berusaha angguk kepala tapi rasanya sangat sulit sekali, ia merintih, "I—iya Mas... setelah aku bertemu dengan Clarissa nanti aku akan minta maaf, aku janji ga bakal ulangi lagi..."
"Begitu dong." ucap Arkan puas, dia menyeka tangannya dengan tisu basah lalu menaruh kotak P3K ke dalam tempatnya semula.
Aluna diulurkan tangan dari pria itu, tapi wanita itu memilih merangkak ke ranjang daripada harus ditolong suaminya.
Arkan menaikkan sebelah alis, sedikit kesal dia berdecak atas keberhasilannya yang tidak dihargai. Pria itu pergi menjauh, merasa tak ada lagi kegiatannya di sini.
Aluna melihat kamarnya, berantakan karena setumpuk orang-orang tadi yang menatanya sebaik mungkin menghancurkan lata letak barang-barang disini yang sudah rapi awalnya, masih terbayang bagaimana meteran para desainer mencekik pinggangnya ia memeluk perutnya cepat.
'Clarissa... Clarissa... Clarissa... dia duluan yang membuatku marah... juga bagaimana bisa wanita itu tau soal masalahku dulu? Aku sudah trauma sampai menjalankan rehabilitasi bersama dokter psikiater... itu bukan salahku, Reno yang mendekatiku dan pacarnya... menuduhku sembarangan... ah—'
Aluna merebahkan dirinya ke belakang, dia melihat tangannya yang merah pucat seperti tomat, ia mengelus hidungnya pelan.
'Aku benci dengan hidupku, aku benci.'
'Aku benci, aku mau mati... aku mau ini cepat berakhir...'
'Setelah kontrak ini selesai, dengan uang 1 triliun apa yang bisa aku lakukan? Pada akhirnya uang itu akan direbut ayah lagi, lalu aku akan kembali ke caffe itu... kalau begitu aku tak perlu melakukan pernikahan pura-pura ini kan? Membuang waktu satu tahunku... AH AKU LELAH!!!'
...****************...
Malam harinya nampak Arkan dengan mata merahnya, pria itu menatap dari balik layar komputer.
Melihat kejadian di kamar Aluna yang tanpa sepengetahuan wanita itu di ujung lemari dipasang CCTV berukuran sangat kecil sekali, sehingga tak bisa ditemukan di mana pun.
Kembali kepada rekaman kejadian tadi pagi, Arkan kembali memutar ulang, matanya terkesiap melihat apa yang dilakukan Aluna di dalam kamarnya.
"Dion.... kesini."
Dion yang disuruh segera lekas mendekat, punggungnya tertunduk ikut melihat aksi Aluna dengan cutter kecil yang berniat akan menyayat pergelangan tangannya sendiri.
"Darimana dia mendapatkan cutter itu? Kenapa bisa para pembantu teledor Dion! Jangan anggap ini sepele ya?! Kalau Kakek kecewa bahwa cucu tersayangnya ini mati bagaimana!" hardik Arkan sekencang-kencangnya, tak menghiraukan soal Aluna yang menampar dirinya sendiri berkali-kali melainkan mempermasalahkan cutter yang entah bisa didapatkan darimana, akan dijadikan percobaan bunuh diri.
Dion menyesal teramat sangat, dia menurunkan pandangan. "Maaf atas kesalahan saya Tuan Arkan, saya berjanji akan segera menghukum para pembantu termasuk penanggung jawabnya Bu Lastri."
Arkan berdecak, dia mengangkat tangan ke atas yang menjadi kode untuknya berhenti berbicara.
"Ck sudahlah, sekarang suruh salah satu pembantu yang pandai menyamarkan suara untuk masuk ke dalam kamar Aluna untuk diam-diam mengambil cutter yang dia sembunyikan, paham?"
Dion meneguk ludah, sepertinya ini permintaan yang sangat sulit tapi apalah daya ia harus mengiyakan saja.
"Baik Tuan Arkan,"
Dalam hati Dion berpikir, 'Tuan Arkan apa Anda tidak merasa ada tanda-tanda masalah kejiwaan pada Nyonya Aluna... Apa Anda akan terus membiarkannya Tuan... Hah... Kalau aku katakan begitu pasti dia menyentakku, berpikir kalau aku cerewet atau sok ngatur...'
...****************...
Besok adalah H-1 resepsi, Arkan mondar-mandir tak jelas sampai dia mendapat ketukan di pintu kerjanya.
"Masuk," kata pria itu membiarkan Dion asistennya masuk ke dalam menghadapi dirinya di belakang badan.
"Tuan, ini sudah saya ambilkan cutternya."
Arkan tersenyum, "Bagus."
Ucap Arkan dia mengambil cutter tersebut dan ditaruh di dalam laci mejanya, ia menghampiri Dion lagi.
"Sekarang tugasmu belikan perhiasan cantik, mewah dan keluaran terbaru."
"Baik Tuan akan segera saya laksanakan." jawab Dion, dia segera melangkah pergi tanpa bertanya untuk siapa perhiasan itu—tapi di pikiran Dion terbesit untuk Aluna. Dion segera bersemangat tancap gas membelikan perhiasaan yang tuannya minta.
Matahari muncul dari balik tirai jendela, menunjukkan pukul 09.00 pagi. Arkan ditelepon Clarissa saat diangkat, wanita itu sudah seperti banteng yang tak bisa dikendalikan.
"ARKAN INI SALAHMU MENDIDIK CALON ISTRIMU! AKU MEMUTUSKAN AKAN MEMBATALKAN KERJA—"
"Tunggu Clarissa maafkan saya, saya memang benar-benar bersalah atas hal ini... tolong maafkan saya sedalam-dalamnya, dia memang dari keluarga kasta rendah jelas saja sikapnya seperti pengemis."
Mendengar Arkan yang terus menghina Aluna membuat Clarissa tersenyum senang, rambutnya yang sedang bermandikan sabun spa meneliti kuku panjangnya. "Oh hm... ya gak papa sih bisa aku maafkan, tapi hanya sekali ini saja yang lain belum tentu ada..."
"Tapi ada satu syarat untukmu Arkan."
Arkan terdiam, bibirnya langsung muram—entah apa yang akan wanita itu inginkan darinya.
"Setelah menikah nanti kau tidak boleh sampai mesra-mesraan atau merasa berniat jatuh cinta pada wanita itu, yah kalau di depan Kakek terserah kamu aja sih... tapi kalau kamu pengen kerjasama ini tetap lancar, aku mau kamu ga boleh sampai menjalin hubungan erat sekalipun itu di belakang Kakek, cobalah untuk jahat sedikit Arkan. Untuk apa kamu harus berbelas kasih kepada wanita yang jelas-jelas dari wilayah kumuh itu? Coba bayangkan, masa seorang Arkan Seo Dirgantara keluarga dari pengusaha sukses turun temurun Seo Atmadja harus menderita karena satu wanita miskin? Haha..."
Arkan meneguk ludah mendengarnya, dia setuju-setuju saja agar wanita itu tak membatalkan kerjasama mereka.
"Iya kamu betul juga Clarissa... aku juga sedang menyuruh Dion untuk membelikan perhiasaan untukmu,"
Mendengarnya Clarissa sontak membalalak mata hampir tak percaya, wanita itu menyenggol pelayan spa yang membersihkan rambutnya.
"Maaf Mba saya terlalu bersemangat," kata Clarissa tersenyum manis. Si pelayan spa tak terlalu mempermasalahkan.
"Beneran Arkan?! Kamu baik banget deh! Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan yuk, tapi hanya berduaan aja... kemana kek, ke Jogja atau Bali."
Arkan tertawa, "Kan itu sudah berkali-kali Clarissa, coba yang lebih jauh sedikit di Paris atau di Belanda."
"Ide bagus! Makin sayang deh! Kutunggu ya Arkan perhiasaannya!" seru Clarissa menutup panggilan.
Arkan menghela napas kencang, dia melempar handphone ke sisi sofa, menutup matanya dengan kedua tangan.
'Semoga Clarissa ga jadi membatalkan kerjasama kita...'
Dari balik pintu, Aluna dari 25 menit yang lalu akan izin masuk tapi setelah mendengar isi perbincangan telepon Arkan bersama dengan Clarissa membuat wanita itu memegang dadanya sendiri, dia menitikkan air matanya, cepat-cepat ia hapus sebelum ketahuan.
'Bodoh Aluna... apa yang kamu harapkan dari seseorang yang hanya membelimu demi kontrak pernikahan? Kenapa malah sedih begitu, biarkan terserah pria itu mau mengapakan apa yang dia beli... itu juga bukan hak ku juga... setelah kontrak selesai, aku yakin Mas Arkan dan Clarissa lah yang akan menikah... lalu kenapa dari awal aku yang harus dikorbankan?'
Aluna dipanggil oleh beberapa pelayan untuk ke ruang ganti pakaian, ia disuruh mencoba gaun pengantin terakhir yang sebelumnya sudah dicoba berkali-kali, padahal bagi Aluna desain gaunnya tidak cocok pada porsi tubuhnya—membuatnya malah terlihat gendut.
Mereka malah merasa gaun putih yang Aluna pakai sudah cocok tak perlu direvisi lagi, Aluna menatap dirinya sendiri di cermin, 'Diriku saat pergi ke pesta makan malam di hotel lebih baik daripada ini semua...' pikirnya pelan.
Ia melihat Arkan masuk ke dalam, tangan pria itu menarik rambut panjang Aluna untuk ditaruh ke samping sehingga menampakkan tengkuk leher Aluna.
Pria itu entah lagi mabuk atau apa mencium tengkuk leher Aluna yang membuatnya kaget di tempat.
Para pelayan mengira kalau Arkan sekarang sedang kecintaan, padahal sebenarnya bisikan dari pria itu bisa membuat semua orang salah paham di sini.
"Besok statusmu sudah berbeda Aluna Inatura Kaleo, pastikan dirimu lebih baik daripada sebelumnya... karena saya tak mau—"
Aluna menjawab cepat, "Merusak reputasi keluarga SEO. Tanpa Mas beritahu lagi aku sudah paham..." jawab Aluna kembali berbisik.
Arkan menjauhkan badannya. Memuji wanita itu dari belakang, "Cocok sekali..."
Namun dalam pikiran Aluna, pria itu sedang mengejeknya.
Bersambung...
RAKSI PEMBACA:
REAKSI VERA: