NovelToon NovelToon
My Magic Room

My Magic Room

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irish_kookie

Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dalam Cermin

Pusaran besar menyapu ruang ganti karyawan, menghantam dinding, menjatuhkan bangku, menggoyang loker-loker besi hingga berderit nyaring.

Jemima refleks memegangi kalung oval di dadanya. Panasnya menjalar cepat, membakar kulitnya seperti besi yang baru diangkat dari api.

“Kai!” teriaknya.

Dia sempat merasakan jari-jari Kai menggenggam tangannya. Ada Ashley di sisi lain, menjerit memanggil namanya.

Namun, sebelum Jemima sempat menarik napas lebih dalam, pusaran itu menarik mereka bertiga sekaligus, seperti ditelan oleh satu mulut yang sama.

Tak lama, semuanya menjadi gelap gulita.

Jemima mendarat dengan lutut gemetar di atas lantai dingin.

Bau lembap menyergap indra penciumannya, bau yang asing, tapi entah kenapa terasa familiar.

Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan. Dia sudah kembali lagi ke ruang ajaib yang menyimpan banyak misteri.

Dia pun beranjak berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Ruangan itu terlihat berbeda.

Tidak ada cahaya ungu lembut yang biasanya menyelimuti sudut-sudut ruangan. Dindingnya tampak pucat, nyaris kosong.

Udara terasa berat, menekan dadanya hingga napas Jemima tersendat. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, dan baru menyadari kalau teman-temannya tidak bersamanya.

“Kai?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

“Ashley?” gumamnya lagi. "Kalian di mana? Keluarlah!"

Hanya gema suaranya sendiri yang kembali padanya. Pantulan suara itu terserah patah, teredam, seperti dipantulkan oleh dinding yang terlalu jauh.

Jemima bangkit berdiri. Kalung di lehernya masih panas, tetapi denyutnya melemah, seolah kelelahan.

Langkahnya terhenti di depan cermin oval. Dia menggerakkan tubuhnya.

Namun, pantulan dirinya di cermin itu berbeda. "Hmm, kenapa aku tetap menjadi aku?"

Jemima memerhatikan cermin oval itu. Tidak ada kilau dan tidak ada kabut tipis dalam pantulan bayangannya di cermin.

Cermin itu kini hanyalah kaca biasa, bening, dingin, dan kosong.

Jantung Jemima berdegup kencang. "Apa selama ini aku berkhayal? Semuanya itu hanya ada dalam khayalanku? Tidak mungkin aku segila itu, kan?"

Dia kembali mendekat, menempelkan telapak tangannya ke permukaan cermin.

Tetap saja cermin itu terasa dingin dan seperti cermin pada umumnya.

Jemima menatap pantulan kosong itu dengan mata berkaca-kaca.

“Jemi, kau di mana?” panggilnya, suaranya bergetar.

Tidak ada jawaban. Kepanikan mulai merayap naik.

Jemima memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan gemetar yang tak terkendali. "Apa yang terjadi jika aku menghilang dari cermin?"

Tiba-tiba saja, dia teringat ucapan Kai tentang Lily, ibunya.

Lalu, sebuah pikiran gila dan luar biasa liar merayapi tubuh Jemima. "Mungkinkah bayangan di cermin itu, ibuku?"

"Apakah selama ini Lily berada di dalam cermin? Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Jemima berbisik ngeri.

Di sisi lain ruangan, Kai terengah-engah sambil meletakkan nampan kosong di meja.

Kai dan Ashley mendarat di tempat yang sama. Di ruang ajaib yang berubah menjadi kafe.

Cahaya ungu putih menyambut mereka saat mereka tiba dan suara bising memenuhi ruangan itu.

Mereka berdua tak sempat mencari di mana Jemima karena jiwa-jiwa itu terus berdatangan menghampiri keduanya.

“Pesanan berikutnya!” teriak seorang tamu.

Kai menoleh. "Ya, tunggu!"

Kafe itu penuh. Terlalu penuh. Meja-meja terisi tanpa jeda, suara alat makan beradu, tawa, keluhan, dan panggilan tak henti-henti saling bertabrakan.

Jam di dinding berdetak pelan, tapi jarumnya tidak bergerak.

“Ash, ada yang tidak beres di sini,” kata Kai cepat, mendekat ke Ashley yang baru saja kembali dari dapur.

Ashley menyeka keringat di dahinya. Wajahnya pucat, matanya lelah. “Sejak tadi aku melayani meja yang sama. Mereka pesan lagi, lagi, dan lagi.”

Seorang pelanggan melambaikan tangan dengan tidak sabar. Ashley mengatupkan rahang, lalu berjalan lagi. Tangannya gemetar saat mencatat pesanan, dadanya terasa sesak.

“Jemi, di mana kau?” tanyanya tiba-tiba, suaranya pecah oleh kelelahan.

Kai terdiam sesaat. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari yang dia kira. “Seharusnya dia ada di sini bersama kita atau aku berharap, dia terlempar keluar seperti aku kemarin."

“Dia tidak ada di mana-mana, Kai!” balas Ashley, nada suaranya meninggi. “Aku berharap dia baik-baik saja dan tidak tersesat ke ruang aneh yang lain.”

“Ash,” potong Kai, lebih lembut. “Tenang. Anggap saja ini ujian. Ruangan ini tidak akan mengurung kita. Ruangan ini ingin melihat sampai sejauh mana kita bertahan.”

Ashley menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Tapi, aku lelah dan aku mengkhawatirkan Jemi.”

Kai tidak menjawab. Dia juga merasakan hal yang sama seperti Ashley.

Tangannya pegal, pikirannya kacau, dan perasaan kehilangan yang samar itu terus menggerogoti dadanya.

Sementara itu, Jemima terduduk di lantai di depan cermin oval. Air mata jatuh satu per satu, membasahi ujung gaunnya.

Da tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri terpaku di depan cermin itu.

Waktu terasa seperti genangan air yang tidak bergerak, tapi menelannya perlahan.

Lalu, tiba-tiba saja sesuatu berubah.

Permukaan cermin yang tadi kosong bergetar halus. Sebuah bayangan seperti napas yang menempel di kaca muncul di cermin.

Jemima menahan napas. Dari balik pantulan yang buram, sosok yang selama ini dia anggap sebagai pantulan dirinya datang.

Wajahnya pucat, rambutnya tergerai, dan matanya, mata itu sama persis dengan milik Jemima.

Penuh kelelahan, namun hangat. Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang membuat dada Jemima terasa nyeri.

“Ibu?” suara Jemima nyaris tak terdengar.

Lily tidak bicara. Dia hanya mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh, tetapi terhalang oleh kaca.

Jemima berdiri terpaku, air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.

Kalung di lehernya berdetak sekali, lalu hening.

Di saat yang sama, Kai dan Ashley merasakan lantai di bawah kaki mereka berguncang. Suara restoran memudar, meja-meja menghilang, dan udara berubah dingin.

“Apa yang terjadi?” seru Ashley.

Sebelum Kai sempat menjawab, tarikan kuat menghantam mereka. Dunia berputar cepat, lalu ketiganya terhempas keluar bersamaan.

Jemima jatuh tersungkur di lantai ruang ganti, napasnya tersengal. Kai terduduk dengan tangan gemetar. Ashley terbaring telentang, dadanya naik turun cepat.

Tidak ada pusaran, tidak ada angin kencang, dan ruang ganti yang tadi mereka tinggalkan terlihat sangat kacau dan berantakan.

"Jemi!" Ashley menarik tangan Jemima dan memeluknya erat. "Kau tersesat di mana, Anak Bodoh? Aku khawatir sekali."

Kai juga melakukan hal yang sama tanpa sadar. "Kau selalu membuatku khawatir, Jemi! Apa yang terjadi denganmu?"

Jemima melepaskan pelukan Kai dan saat itu, wajah Kai sudah seperti kepiting rebus dan jantungnya berdegup kencang.

"Kai, bayangan di cermin oval itu bukan aku! Itu ibuku, Kai!" kata Jemima setelah suaranya muncul kembali.

***

1
Andira Rahmawati
hadir thorr..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!