Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 – Yang Turun dari Atas
Kabut di lembah tidak lagi bergerak acak.
Ada tekanan.
Ren Tao merasakannya saat ia berdiri dari balik batu besar. Aliran qi di udara berubah arah halus, seperti mengikuti satu pusat. Bukan formasi penyempitan biasa. Ini lebih terfokus.
Seseorang sedang berjalan.
Bukan pengawal.
Ren Tao mengencangkan balutan di lengannya, lalu bergerak pelan, menjaga napas tetap stabil. Setiap langkahnya berhitung. Setiap suara kecil ia catat. Lembah ini tidak lagi memaafkan kesalahan.
Aura itu semakin dekat.
Tenang. Padat. Menekan.
Ren Tao berhenti di balik semak rendah, matanya menyipit. Dari balik kabut, muncul sosok tinggi dengan jubah rapi. Rambutnya diikat sederhana, langkahnya santai, seolah ia sedang berjalan di halaman rumah sendiri.
Wei Kang.
Tidak ada senjata terhunus.
Itu yang paling berbahaya.
Wei Kang berhenti beberapa meter di depan Ren Tao. Tatapannya menyapu sekitar, lalu berhenti tepat pada noda darah di pakaian Ren Tao.
“Luka cukup parah,” katanya datar. “Tapi kau masih berdiri.”
Wei Kang tersenyum tipis. “Benar.”
Hening beberapa detik.
Kabut bergerak perlahan di antara mereka.
“Kau tahu,” lanjut Wei Kang, “aku awalnya tidak tertarik padamu. Murid luar, qi tipis, latar belakang tak berarti.”
Ren Tao menatap lurus. “Dan sekarang?”
“Sekarang,” kata Wei Kang, “kau membuat pengawalku hilang. Satu demi satu.”
Ren Tao tidak menyangkal.
Ia justru menghela napas pelan. “Mereka yang mencari aku.”
Wei Kang mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang ia harapkan. “Itulah masalahnya. Kau tidak lari.”
Ren Tao menggeser kakinya sedikit. Tanah di bawahnya keras. Tidak ada jebakan. Tidak ada keuntungan posisi.
Dia sengaja memilih tempat ini, pikir Ren Tao. Lapangan netral.
Wei Kang melangkah satu langkah maju.
Tekanan qi langsung turun.
Ren Tao merasakan dadanya ditekan dari segala arah. Napasnya berat. Kaki hampir goyah, tapi ia menahan diri.
“Tenang,” kata Wei Kang. “Aku belum berniat membunuhmu.”
Itu tidak menenangkan sama sekali.
“Ujian ini,” lanjut Wei Kang, “dirancang untuk menyaring. Yang lemah tersingkir. Yang kuat naik.”
Ren Tao tersenyum tipis. “Dan yang pintar?”
Wei Kang menatapnya lama. “Biasanya… dipakai.”
Jawaban itu jujur.
Ren Tao menurunkan bahunya sedikit. “Kalau begitu, kenapa kau sendiri yang datang?”
Wei Kang tersenyum, kali ini lebih tipis. “Karena aku ingin melihat langsung.”
Ia mengangkat tangan, tidak menyerang. Qi di sekelilingnya berputar pelan, membentuk tekanan halus yang memaksa Ren Tao mundur setengah langkah.
“Kalau aku mau,” kata Wei Kang, “kau sudah mati.”
Ren Tao mengangguk. “Aku tahu.”
Itulah yang membuat Wei Kang mengerutkan kening.
Tidak ada penolakan. Tidak ada pembelaan.
Hanya pengakuan.
“Lalu kenapa kau masih berdiri?” tanya Wei Kang.
Ren Tao mengangkat pandangan. Matanya tajam, jernih.
“Karena kalau aku mati sekarang,” katanya pelan, “kau tidak akan dapat apa-apa.”
Kabut bergetar ringan.
Wei Kang menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Tekanan qi berkurang sedikit.
“Menarik,” gumamnya. “Kau sadar posisimu.”
“Aku sadar posisimu juga,” balas Ren Tao. “Kalau kau membunuhku terang-terangan, para tetua akan bertanya.”
Wei Kang tertawa kecil. “Cerdas.”
Ia menurunkan tangannya.
“Pergilah,” katanya. “Untuk sekarang.”
Ren Tao tidak bergerak. “Dan pengawalku?”
“Mereka salah perhitungan,” jawab Wei Kang tenang. “Aku tidak menghitung kesalahan.”
Ren Tao akhirnya melangkah mundur, menjaga jarak.
Saat kabut menelan tubuhnya, suara Wei Kang terdengar terakhir.
“Ujian ini belum selesai, Ren Tao.”
“Dan aku,” katanya dingin, “belum memutuskan apa kau musuh… atau alat.”
Ren Tao terus berjalan, jantungnya berdetak keras, tapi pikirannya tenang.
Dia tidak membunuhku karena belum bisa.
Ia tersenyum tipis.
Berarti aku masih di papan.
Langit di atas lembah bergemuruh pelan.
Fase berikutnya akan dimulai.
Dan kali ini—
Ren Tao tahu, tidak ada lagi tempat bersembunyi.
semangat terus ya...