NovelToon NovelToon
Cinta Bersemi Diujung Musim

Cinta Bersemi Diujung Musim

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:603.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Rahayu

Mengisahkan tentang seorang gadis bernama Fatimah yang biasa di panggil Fatim berasal dari keluarga yang cukup berada namun sangat tomboy dia anak semata wayang yang tak pernah menyukai laki - laki karena menganggap semua lelaki adalah sama seperti ayahnya yang menurutnya berengsek karena tega meninggalkannya dan ibunya sewaktu ia masih kecil.

Akankah semuanya berubah sejak ia mengenal sosok Abas lelaki sederhana murid pindahan yang sekarang sekelas dengannya.

Apakah Fatim akhirnya akan merasakan jatuh cinta dimasa SMA nya???
Siapakah lelaki yang dapat memenangkan hatinya??? ikuti kisah selanjutnya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERSYUKUR

"Teman - teman, makasih ya udah khawatir sama gue, gue nggak apa - apa kok, sekarang semuanya bubar ya, kita kembali ke kelas untuk belajar.." Ucap Fatim.

Akhirnya mereka semua bubar dan kembali ke kelas untuk belajar.

*Alhamdulillah semua dapat berjalan lancar, terimakasih ya Allah, batin Fatim lega.*

Dan diujung koridor Gladis menangis histeris karena tidak terima bisa dikalahkan Fatim dengan telak.

"Awas saja loe Fatim, gue nggak terima dilecehkan begini, pokoknya loe harus segera enyah dari SMA Unggulan ini.." Teriak Gladis.

Gladis CS memutuskan untuk pulang saja dari pada melanjutkan pelajaran. Sedangkan Fatim, Yati, dan teman - teman yang lain segera kembali ke kelas untuk belajar.

KetiKa pelajaran Bahasa Indonesia sedang berlangsung dikelas Fatim, tiba - tiba bel panjang berbunyi yang menandakan pembelajaran harus segera dihentikan, dan tidak lama kemudian suara pengumumanpun terdengar.

"Perhatian kepada semua guru yang sedang mengajar dikelas, harap segera menuju ruang rapat, dan anak - anak silahkan dipulangkan lebih awal, sekian dan terimakasih.."

Semua siswa bersorak gembira mendengar mereka akan dipulangkan lebih awal. Namun dengan cepat bu Silvi memberikan tugas untuk dikerjakan anak - anak dirumah sebelum meninggalkan ruang kelas.

"Anak - anak, tugas yang tadi ibu berikan tolong kerjakan dirumah ya dan besok pagi jam 07.00 Wib sudah ada dimeja ibu.." Berlalu meninggalkan kelas.

"Huuuuuuu.." Teriak semua karena merasa Ibu Silvi telalu memaksa.

Semua anak kini telah berhamburan keluar kelas.

" Yati !"

"Karena kita pulang lebih awal, bagaimana kalau kita langsung ke cafe ? Dan setelahnya kita kerumah loe, karena ada yang ingin gue bicarakan dengan kedua orangtua loe.."

"Gue mah terserah loe aja Fren, kan loe sopir ojeknya," ucap Yati sambil tertawa.

"Loe kate gue tukang ojek apa? Loe mau bayar tarif argo gue berapa hah ?" Seloroh Fatim.

"Maaf pren gue nggak bisa bayar pake uang, gue cuma bisa bayar pake senyuman gue yang cemerlang kayak senyum Pepsodent, ha.. ha.. " Tawa Yati sambil memegang perutnya karena sakit kebanyakan tertawa.

"Ya sudah buruan naik, nanti loe gue tinggal nih.." Menghidupkan mesin motor sportnya.

Dengan cepat Yati naik diboncengan Fatim, dan keduanya meluncur membelah keramaian jalan Jakarta memuju My Cafe.

*****

My Cafe...

Motor Fatim telah memasuki area parkir My Cafe, dan Fatim melihat seorang ibu hamil sedang memandangi Cafenya. Dan Fatim dan Yati segera menghampirinya.

"Maaf bu, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya Fatim.

"Ehmmm anu... Anu.. Apa ibu boleh kerja disini nak ? Apa masih ada lowongan ya? Ibu butuh ngumpulin uang untuk biaya lahiran nanti ?"Jawab si Ibu hamil.

"Emang suami Ibu kemana sampai Ibu harus kerja saat hamil besar begini?" Tanya Yati.

"Suami ibu sudah satu bulan dipenjara Neng, gara - gara ketangkep Satpol PP, waktu kita jualan dipinggir jalan.."Menangis sedih.

"Anak ibu ada yang sudah besar?" Tanya Fatim.

"Ini anak pertama kami Neng.." Menunduk dan mengusap perutnya semakin sedih.

*Ya Allah kasihan sekali ibu ini pasti berat baginya hidup tanpa suaminya, gue harus bantu ibu ini, batin Fatim.*

"Oke Yati loe masuk aja dulu ke cafe, bilang sama kak Wawan gue ada perlu diluar ya.." Menepuk pundak Yati.

"Loe mau kemana Fatim?"

"Gue mau banguin nih Ibu.."

"Oke, loe hati - hati ya, gue masuk dulu.." Meninggalkan area parkir.

"Yuk Bu tolong anterin saya ke penjara tempat suami ibu berada.."

"Neng beneran mau bantu Ibu?" Tersenyum dalam linangan air matanya.

"Iya Bu Inshaa Allah, yuk Bu ikut saya.." Tawar Fatim Sopan.

Dengan cepat Fatim mengganti motor sportnya dengan mobil dinas My Cafe yang kuncinya sengaja dibuat dua, dipegang kak Wawan satu, dan dipegang Fatim satu.

"Mari Bu silahkan naik!"

"Terimakasih Neng.."

Mobil Fatim telah melaju menuju sebuah lapas yang ternyata tidak begitu jauh dari My Cafe, hanya memakan waktu setengah jam saja mereka sudah sampai.

"Kiri Neng, kita udah sampai.."

Fatim segera memarkirkan mobilnya.

Mereka berdua turun.

"Hati - hati Bu.."

"Iya Neng, terimakasih, oh iya kenalkan nama Ibu Murni.." Mengulurkan tangan.

"Fatim.." Menjabat tangan Bu Murni.

"Mari nak Fatim.." Berjalan beriringan memasuki lapas.

"Selamat siang Ibu! Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Pak Polisi yang jaga.

"Iya pak, saya mau bertemu suami saya.." Menatap penuh harap.

"Namanya?"

"Sujiono.."

"Apa suami saya sudah bisa bebas Pak?"

"Bisa bu tapi harus ada yang menjaminnya terlebih dahulu.."

"Saya yang akan menjaminnya Pak.."Ucap Fatim tegas.

"Oke Ibu silahkan kedalam dan selesaikan semuanya disana.." Menunjuk bagian administrasi didalam.

"Terimakasih Pak, kami permisi.." Menuju kedalam.

"Neng, serius ya mau jadi penjamin suami Ibu?"

"Iya Bu, biar Ibu bisa kumpul lagi bersama suami Ibu.." Tersenyum.

"Terimakasih ya Neng Fatim.."

"Iya Bu, yuk kita masuk Bu.."

Setelah semua urusan berkas - berkas selesai, akhirnya suami Bu Murni bisa dibebaskan.

"Bu e!"

"Ya Allah Pak e, alhamdulillah kita bisa berkumpul lagi.." Memeluk suaminya haru.

Suasa melepas rindu kedua pasutri itu membuat Fatim tersenyum dan menangis bahagia, seolah ikut merasakan kebahagiaan keduanya.

"Pak e, kenalin ini Neng Fatim yang telah menjamin pembebasan Bapak.." Melihat Fatim.

"Ya Allah, masih ada orang baik yang mau menolong kami orang miskin ini, matur nuhun sanget ya Neng.." Menghapus air matanya.

"Sama - sama Pak, sebaiknya kita segera pulang, biar saya antar pulang kerumah Ibu dan Bapak.."

Mereka bertiga telah meninggalkan lapas dan menuju kerumah Bu Murni dan Bapak Sujiono.

*****

Tiga Puluh Menit Kemudian...

"Alhamdulillah kita sampai Neng, itu rumah Bapak.." Menunjuk sebuah rumah petak yang sangat sederhana.

Mereka kemudian turun.

"Mari mampir Neng ke gubuk kami.." Ucap Bu Murni.

"Tapi maaf kondisinya kayak gini.."

Fatim ikut masuk ke rumah Bu Murni, tampak rumah yang sungguh tak layak apa lagi kondisi Bu Murni lagi hamil tua, rumah yang hanya sepetak, disitulah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang hampir lapuk, diatasnya ada kasur yang sudah sangat tipis, dengan dua kursi butut, dan perabotan yang minim, sungguj membuat seorang Fatim ingin menangis.

*Ya Allah sungguh sangat menyedihkan, gue merasa sangat tidak berguna, gue enak -enakan tidut dan makan dirumah gue sementara masih ada saudara gue yang begini, kurang bersyukur bagaimana lagi gue atas nikmatMu, ampuni gue ya Allah jika gue masih sering lupa untuk bersyukur, batin Fatim menangis.*

Fatim duduk dikursi yang rapuh itu.

"Bu kalau nggak salah lihat tu rumah yang ada didepan petakan Ibu mau dijual ya?"

"Iya Neng tapi mahal.." Ucap Bu Murni.

"Apa sudah laku Bu?"

"Belum Neng.."

"Punya siapa Bu?"

"Tuh punya Ibu yang punya kontrakan disebelah Neng.."

"Ooo ya udah saya kesebelah dulu ya Bu.."

Fatim meninggalkan rumah Bu Murni dan menuju kerumah ibu yang punya kontrakan disebelahnya.

Fatim melakukan negosiasi untuk membeli sebuah rumah yang ada didepan petakan Bu Murni, setelah deal makan Fatim segera meminta Momon untuk membawa uangnya dan secepatnya mengurus surat menyuratnya.

Hanya berselang satu jam Momon sudah datang dan semua berkas sudah siap. Kini rumah itu sudah atas nama Bu Murni dan Bapak Sujiono.

"Assalamualaikum Bu!"

"Waalaikumussalam Neng, masuklah.." Tersenyum menyambut Fatim.

"Saya mau pamit Bu..Pak.. Dan ini untuk Ibu dan Bapak.." Menyerahkan amplop coklat.

"Apa ini Neng?" Tanya Pak Suji.

"Buka aja Pak.."

Perlahan kedua pasutri itu membukanya. Saat dibuka keduanya menjadi shock karena terkejut.

"Ya Allah Bu e, ini sertifikat rumah depan itu atas nama Bu e dan Bapak, huaaa.. "Keduanya menangis.

"Neng.. kami nggak bisa berkata - kata, selain ucapan ribuan terimakasih atas kemurahan hati Neng Fatim, semoga Gusti Allah melimpahkan rahmat dan karunianya buat Eneng.." Ucap keduanya dengan linangan ait mata.

"Aamiin iya Bu.. Pak, terimakasih banyak doanya.."

"Dan ini ada sedikit modal buat Bapak memulai usaha baru, dan jangan jualan keliling lagi ya, buat saja tempat usahanya didekat rumah baru itu.." Menyerahkan amplop yang berisi uang Dua Puluh Lima Juta.

"Saya pamit Bu.. Pak.. semoga lancar ya persalinnya nanti, assalamualaikum.."

"Waalaikumussalam.."

Kini Fatim dan Momon telah meninggalkan kediaman Bu Murni . Fatim pergi menuju Cafe untuk bekerja, sedangkan Momon pulang ke perusahaan Mama Fatim.

*****

My Cafe...

Fatim telah sampai di Cafe, dan siap untuk bertugas.

"Hai Pren gue.." Menyapa Yati.

"Fren gue, kangennnn.." Memeluk Fatim.

"Ihhh apaan sih loe Oneng, lebay banget deh.. "

"Beneran gue kangen, beberapa menit aja nggak lihat wajah loe dan nggak denger suara loe, rasanya udah bertahun - tahun.." Cengir Yati.

"Whattts, gue harus telepon dokter, sepertinya ke Onengan loe udah parah, haluuu.." Menepok jidat Yati.

"Aduhhh sakit Fatim.."

"Suruh siapa loe haluu.."

"Iyaaa maaf.." Menggosok jidatnya.

"Eh udah jam Lima ya, yuk ah kita cabut kerumah loe Yati !"

"Emang udah boleh, kan loe baru nyampe?"

"Gue nggak mau gaji loe dipotong gara - gara kita pulang.." Dengan wajah cemberut.

"Ya nggak lah Oneng, gue udah izin sama. kak Wawan.."

"Beneran?"

"Nggak bohongan.."

"Tuh kan?"

"Gue serius Oneng, yuk ah berangkat.." Berjalan Keluar Cafe.

Kini keduanya menuju kediaman Yati.

*****

Kediaman Yati...

"Assalamualaikum Bu.. Ayah.. Yati pulang.." Mengajak Fatim masuk.

"Yati gue numpang mandi boleh? Sekalian pinjem baju loe ya?"

"Loe beneran mau pake baju gue?" Merasa tak Percaya.

"Iya gue beneran, udah gatel nih badan gue.." Garuk - garuk tangannya.

"Ya udah deh yuk.."

Keduanya masuk, Fatim segera mandi sedangkan Yati menemui Ayah dan Ibunya dikebun belakang.

"Yah... Bu..Kita masuk dulu ya, Ada Fatim didalam katanya mau ngomong sama Ayah dan Ibu.."

"Ngomongin apa ya Ndok?"

"Nggak tahu Yah, yuk kita masuk barangkali. Fatim udah selesai mandi.." Masuk kedalam rumah.

"Sore Bu.. Pak.." Sapa Fatim.

"Eh Nak Fatim, udah selesai mandinya?"

"Alhamdulillah Bu sudah.."

"Ehmm kata Yati ada yang mau diomongin ya?" Tanya Bapak penasaran.

"Iya Pak.. Bu.." Duduk dikursi dekat Ayah dan Ibu Yati.

"Alhamdulillah saya punya kabar baik untuk Bapak dan Ibu, minggu depan rumah Bapak dan Ibu akan direnovasi oleh perusahaan tempat Mama saya bekerja, jadi sementara nanti keluarga Bapak dan Ibu tinggal dikontrkan dulu, jadi silahkan cari kontrkannya nanti uang sewanya juga akan ditanggung perusahaan itu.." Jelas Fatim.

Ketiga beranak itu bengong mendengar penjelasan Fatim, seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

"Prenn loe jangan bercanda ya ini nggak lucu.." Ucap Yati air Matany sudah berlinang.

"Gue nggak bohong Oneng, ini beneran nih surat pemberitahuannya.." Menyerahlan amplop coklat.

Yati menerima amplop tersebut dan membukanya bersama kedua orantuanya.

"Ya Allah...Subhanallah.. Ini beneran, terimakasih prennn.." Memeluk Fatim.

"Terimakasih Nak Fatim, akhirnya mimpi Bapak dan Ibu untuk punya rumah baru terwujud.." Sambil sujud syukur.

Fatim ikut tersenyum bahagia bisa mewujudkan mimpi kedua orangtua sahabatnya.

*Alhamdulillah ya Allah, turut senang Rasanya melihat mereka tersenyum, Terimakasih Ya Allah, terimakasih Mama Nadya, semoga kita bisa menjadi orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, aamiin, batin Fatim.*

Bersambung....

Terimakasih ya sudah membaca karyaku ,jika suka tinggalkan jejakmu berupa like dan komen karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.

Jangan lupa Mampir juga ke Karyaku Nyanyian Takdir Aisyah dan novel favoritku Arsitek Cantik. Aku tunggu ya.

1
Andi Fitri
bagus banget karya kmu Thor..tpi ko udh ga ada up nya
Bu Fit: insyaaAllah ini mau segera dilanjut setelah lama hiatus. maaf membuat kalian menunggu
total 1 replies
Andi Fitri
Yati tiap lht cowok ganteng lgsg jatuh kecentilan..😁
Andi Fitri
pak dokter alasan aja anggap adek padahal lain di bibir lain di hati
Andi Fitri
pak dokter jgn terlalu pede fatim tdk suka sama laki2 yg terlalu pede Krn dia sudah jdi calon istri lelaki Sholeh..
Andi Fitri
pasti putra atau gladis...
Andi Fitri
lah pak Komar pamer anakx hafalan 30 jus tau agama tpi ko maksa..tau agama tdk suka pamer dan memaksakan kehendak..🤭
Andi Fitri
sdh aku duga pelakunya putra sengaja dia rusak motor agar bisa mengajak Fatim di mobilnya..
Andi Fitri
ya Rabb msh ada kh manusia tulus seperti Nadya dan fatim di dunia nyata..
Andi Fitri
gladis baru jdi anak kepsek aja udh belagu blm tau siapa fatim..
Andi Fitri
author bikin air mata meluncur dgn sendirinya..😭😭
Andi Fitri
Yati jgn terlalu pede jual mahal dikit sm cowok dong..
Andi Fitri
karya2 author mmg sllu bikin hati tertampar tpi bikin adem dgn pesan2 agamanya ..👍👍👍
Andi Fitri
karya author memang sllu bikin terharu dan byk pelajaran yg bisa kita ambil..👍👍👍
Nata
thor saya SDH nunggu hampir 2 tahunan lohhh....

semangat Thor,, sehat selalu
Bu Fit: insyaaAllah aku udah kembali, izin melanjutkan kisah yang terlerai
total 1 replies
Ila Lain
kapan dilanjutin Thor???
Qina Zahra
jangan lama thor aq suka banget segera temukan lagi abas ma fatim
Agus Rachmad Riduwan
moga tetap semangat berkarya
Rasni 01
mampir kesini Krn rekomendasi dr KK fit.(cinta untuk dokter nisa)
maura shi
layangan putus nih
Hidayati Rizkia
up tiap hari dong......
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!