Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*30
Beberapa hari kemudian. Mika akhirnya terbiasa dengan sikap Paris yang berubah-ubah. Lalu, dia juga sudah terbiasa bekerja di satu ruangan yang sama dengan atasannya itu.
Tapi, untuk tinggal bersama, Mika dan Paris masih tinggal terpisah. Mereka memang sudah menikah, tapi masih belum siap untuk tinggal satu atap.
Saat Paris di tanya oleh Naya soal hubungannya dengan Mika. Pria itu menjawab seadanya. Dia akan pulang dua hari sekali ke tempat tinggal Naya. Lalu, dua harinya dia habiskan di apartemen.
...
"Mama yakin tetap ingin pulang kampung, Mah?"
"Iya, Mika sayang. Mama tetap ingin pulang."
"Yah ... padahal, Mika sudah punya pekerjaan yang sangat bagus sekarang. Mika punya rumah yang kantor sediakan."
Mika berbohong soal rumah yang Paris berikan untuknya. Seperti yang telah Paris katakan, Mika bisa bilang pada orang tuanya kalau rumah hadiah pernikahan itu sebagai rumah yang kantor sediakan. Lalu, Mika gunakan posisinya sebagai sekretaris untuk mengatakan pada sang mama, kalau rumah itu diberikan padanya dengan jabatan yang sedang dia duduki.
"Lah, nanti 'kan kita bisa tinggal di rumah itu setelah mama kembali ke kota, Nak. Apa yang membuat kamu sedih sih, hm? Mama kan perginya gak akan lama."
"Mama janji ya."
"Iya. Besok mama pergi, satu minggu kemudian, mama kembali lagi."
"Itu lama, mama."
"Lah, gak lama, sayang. Cuma satu minggu doang. Tapi, itu kalo gak ada halangan yah."
"Tuh 'kan, Mika tahu ucapan selanjutnya yang bikin Mika gak rela mama pulang kampung."
"Lho, kamu bukan anak kecil lagi kok. Apa yang mama cemaskan untuk ninggalin kamu lebih dari seminggu? Lagian, mama kan udah lama gak pulang kampung, Mika sayang."
"Iya deh, iya. Pulang kampung harus tetap ingat Mika tapi."
"Tentu saja."
Keesokan harinya, sang mama meninggalkan kota. Pulang ke desa tempat dia dibesarkan. Setelah mengantarkan sang mama sampai ke stasiun, Mika kembali ke kontrakan setelah melihat keberangkatan sang mama menggunakan transportasi umum.
Mika membereskan barang-barang yang akan dia bawa pindah ke rumah barunya. Karena permintaan Paris, dia harus pindah. Namun, dia juga tidak rela untuk melepaskan rumah tersebut pada pemiliknya. Maklum, rumah itu adalah rumah tempat dia di besarkan. Terlalu banyak kenangan yang ada di rumah tersebut. Makanya, Mika tidak rela kalau rumah itu di sewa oleh orang lain.
"Jadinya, Mika juga pindah ke rumah baru ya hari ini?" Ibu kontrakan memulai obrolan dengan Mika.
"Iya, Bu. Mika juga pindah ke rumah baru hari ini. Tapi, rumah ini tetap Mika sewa kok. Setiap bulannya, Mika akan bayar seperti biasa."
"Mm ... baiklah. Kalau itu yang Mika katakan, ibu akan tagih uang sewa seperti biasa ya."
"Iya, Bu."
"Neng Mika. Pindah ke rumah baru ya hari ini?"
"Iya, Bu." Mika menjawab pertanyaan tetangga lainnya dengan senyum manis.
"Wah, gak akan bertemu lagi deh kita sama neng Mika. Karena si neng akan pindah ke tempat tinggal yang baru."
"Nggak juga, bu. Mika juga akan tetap datang ke sini. Maklum, itu rumah yang perusahaan sediakan. Gak tahu selama apa Mika akan tetap tinggal di sana."
"Benar juga apa yang neng Mika katakan. Semoga semuanya berjalan dengan baik, ya Neng."
"Iya, Bu. Aamiin."
Mika pun berjalan sambil menyeret koper kecil miliknya. Mobil Paris sudah menunggu kedatangan Mika di depan gang. Para tetangga melihat gadis itu pergi sampai Mika menjauh.
"Bu ibu, beruntung banget ya si Mika. Dalam waktu singkat, anak itu bisa naik jabatan jadi sekretarisnya pimpinan di kantor pusat. Dapat fasilitas lagi dari kantor," ucap salah satu tetangga.
"Iya. Mika sangat beruntung."
"Dia gadis yang baik. Wajar jika keberuntungan menyertainya."
"Eh ... tapi, kalian gak ngerasa ada yang aneh ya." Tiba-tiba, si tetangga ujung datang. Si manusia julid akhirnya muncul.
"Aneh bagaimana?" Mulai timbul rasa penasaran dari si telinga yang mendengar.
"Ya aneh. Setelah dia dikabarkan pindah je kantor pusat, semuanya berubah dengan sangat cepat. Belum juga nyampe dua bulan udah naik jabatan saja. Apa itu gak aneh namanya, hm?"
"Lah, Mika kan bukan karyawan baru, mbak. Dia karyawan lama yang dipindahkan ke kantor pusat. Jadi wajar dong kalo dia bisa naik jabatan dengan cepat."
"Apanya yang wajar? Naik jabatan itu butuh waktu lho. Lihat saja suamiku. Sudah lama bekerja, tetap saja tidak menerima kenaikan jabatan."
"Lah itu hal yang berbeda, ibu."
"Iya. Suamiku laki-laki. Mika perempuan. Mudah buat anak gadis untuk menggoda atasannya agar bisa mencapai posisi penting dalam waktu singkat."
"Lho, mbak kok malah ngomongnya ke mana-mana sih? Malah ngebawa pikiran yang nggak-nggak." Salah satu ibu-ibu mulai dongkol dengan ucapan si tetangga julid.
"Lho? Apa yang saya bilang itu bener kok, ibu-ibu. Di kantor tempat suami saya bekerja saja sudah banyak kejadian kek gitu. Atasan tergoda gadis muda. Maklum, bau yang masih wangi."
"Ya Tuhan. Ibu jangan ngomong gitu ih. Gak baik. Tar jadi fitnah. Bahaya, bu." Ibu kontrakan yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.
"Lah, saya bicara ini karena melihat kenyataan, Bu. Pikirkan saja soal biaya operasi mama Mika yang sangat besar. Mika bisa mendapatkan biaya itu dari mana, Bu? Bayangkanlah!"
Ucapan si ibu julid langsung membuat benak yang lain meragukan Mika. Namun, ibu kontrakan langsung mengalihkan pikiran itu dengan cepat.
"Ah, sudahlah. Jangan di bahas lagi. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Jangan sampai nantinya jadi fitnah. Kasihan anak baik yang nantinya buruk nama gara-gara fitnahan yang tidak berdasar."
"Ya sudah, saya permisi dulu. Sebaiknya, jangan dilanjutkan lagi obrolan ini. Semakin lama, jadinya semakin tidak baik."
Ucapan ibu kontrakan langsung di benarkan oleh ibu-ibu yang lainnya. Si ibu tetangga julid langsung merasa sangat kesal akan hal tersebut.