Gadis lugu yang pandai menyembunyikan luka dihati nya, ceria itulah dia, namun siapa sangka Arana yang dikenal ceria itu sering menyendiri, memendam perasaan nya sendiri.
Ia yang sering memperdulikan orang lain dibanding dirinya sendiri. Kebahagian nya ia anggap belakangan.
Hujan. Ara sangat suka, disaat ia suka menyendiri, rintik rintik nya menemani dirinya, hingga ia berpikir akan mencari sosok pelangi untuk nya.
Mampukah ia mencar pelangi tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aniya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Dia aneh?
Atau bodoh?
Dia manusia kan?
Pikir Lion.
Ara mengibas-ibaskan tangan nya lagi lalu berhenti sebentar dan menatap tangan nya lalu menangis lagi, tapi tidak mengeluarkan air mata. Berulang kali diri nya melakukan hal yg unfaedah itu.
Lion menatap Ara datar.
Mata nya hanya terbuka setengah melihat apa yang Ara lakukan, ia membuang nafas nya mencoba memaklumi.
Apa Ara tidak ada kerjaan?
"Lion huwee liat tangan Ara kenapa bisa digerakin????" ujar nya sambil mengibas-ibaskan tangan nya sendari tadi.
Lion menghentikan pergerakan tangan Ara.
Menatap Ara dengan datar dan teliti.
"Lo manusia kan?"
"I--iya" jawab Ara gugup, karna Lion melihat nya seperti mengintimidasi.
"Siapa yang punya tangan?"
"Ara" jawab Ara menatap tangan nya sebentar lalu menatap Lion kembali.
"Yang gerakin?"
"Otak Ara"
"Paham?" ujar Lion lalu melepaskan tangan nya dari Ara. Bersender didinding ranjang nya.
"Enggak" jawab Ara dengan tampang tak berdosa, membuat Lion mendengus menatap ke arah lain.
"Ra" panggil Lion, Ara menatap Lion.
"Ha?" Ara menjawab namun mata nya melihati tangan nya.
"Polos sama bego itu gak jauh beda"
"Maksud lion apa?" Ara mengernyit, bukan nya menjawab Lion malah mendekatkan wajah nya.
Ara yang tiba-tiba merasakan Lion yang terus mendekati nya perlahan menjauh, jantung nya berpacu dua kali lipat. Tangan nya pun sampai memegang kasur.
"Gue pengen.. ngerasain ini" Lion mengusap bibir Ara menggunakan jari jempol nya, Ara melihat pergerakan Lion di bibir nya lalu ia kembali menatap Lion. Ia tersenyum.
"Rasain aja Lion gak apa-apa kok--"
Chupp...
Mata Ara membulat ketika Lion yang langsung mencium bibir nya. Ia melihat Lion dari dekat, mata nya memejam. Ara mencoba menetralkan degupan jantung nya ia pun mengikuti Lion yang memejamkan mata nya.
Namun seketika ia teringat akan satu hal. Ia langsung mendorong tubuh Lion, ia langsung berdiri gugup. Lion terkejut.
Lion seakan-akan menanyakan kenapa Ara tiba-tiba-? Ara yang mengerti langsung menjawab dengan mencoba tidak gugup.
"Ara.. Ara mau ganti baju Lion. Nanti Ara kesini lagi" Ara buru-buru pergi. Lion menatap Ara yang pergi meninggalkan nya, aaah mungkin dia malu.
Lion dikagetkan dengan nada ponsel nya yang berdering, Lion pun mengambil ponsel nya dan melihat Gusti yang menelfon nya.
"Kenap--"
"ARA UDAH PULANG???" pertanyaan dengan nada keras Gusti berbicara. Lion menjauhkan telefon nya dari telinga nya.
"Udah barusan, lo berdua pulang lagi" jawab Lion, ada kelegaan dari nafas Gusti dan Ori yang berada disamping nya.
"Terus keadaan dia gimana???? Baik baik ajakan??" suara Gusti khawatir.
"Iya, gua liat dia baik baik aja"
"Gue yakinin engga, Ion apa yang lo liat belum tentu sama persis sama apa yang lo pikirin" ucap Gusti.
"Maksud lo?"
"Ara. Dia lagi gak baik Ion, murid SMA nguji kesabaran dia terus. Dia gak kuat Ion, buat dia ini berat" mendengar ucapan Gusti Lion terdiam.
Pikiran nya berkata ada yang mungkin Ara sembunyikan. Ia pun mematikan sambungan telepon dan berjalan keluar, dari luar kamar nya ia melihat Ara yang berdiri dipintu kaca balkon ruang tv, ia berdiri masih menggunakan seragam sekolah nya.
***
"Lo kok diem aja? Ada yang lo sembunyiin dari gua?" tanya Lion. Ara masih tetap diam. Kini keduanya berada di meja makan.
"Ra? Cerita." tekan Lion.
"Gua buat salah? Jangan diemin gua" ucap Lion lagi. Hingga Lion di kagetkan dengan Ara yang tiba-tiba menangis.
"Hiks..."
"Lion hiks"
"Jangan nangis.. lo kenapa?"
"Kamu jahat Lion hiks" Ara memukul dada bidang Lion. Lion mengernyit apa yang ia lakukan? Kenapa arah bIcara Ara lain?
"Gua minta maaf kalo gua salah, disengaja atau enggak" ucap Lion. Ntah ia pun tak tahu apa kesalahan nya.
"Maaf aja gak cukup.. kamu harus tanggung jawab.. hiks" ucap Ara mengelus perut nya yg datar, Lion mengerutkan keningnya tanda dirinya tak paham, mengapa ia harus tanggung jawab?
"Tanggung jawab?"
"Kamu gak paham juga! Lion ntar Ara hamil!" gemertak Ara menghadap ke Lion dengan mimik wajah yg serius nan kecewa.
Lion terkejut.
Ara hamil?
"Ha.. hamil?"
"Didrakor yang Ara tonton kalo cium-cium ntar Ara hamil..huaaa Lion Ara gak mau... Ara masih kecil, ntar perut Ara gede HUAAAA " tangis nya kian menjadi, namun ingat. Tidak mengeluarkan air mata.
Tunggu.
Otak Lion kini loding. Mencoba memahami apa yang dikatakan Ara. Saat ia kini paham wajah nya tercenga.
Dan...
"HAHAHAHAHAHA"
"Ra..Ra jhahahaha"
Mendengar tawa Lion, Ara seketika terdiam memandang kesal Lion yang menganggap perkataan nya bercanda.
"Lion Ara serius!" ucap nya memukul lengan lion.
Kini mereka berdua saling tatap menatap, Ara yang berdiri dengan wajah kesal sedangkan Lion yang duduk masih dengan ketawa kecil.
"Iya...iya hahaha Ra..Ra.." terdiam sebentar lalu
"hahahaha..." tertawa kembali.
"Lion! Lion nanti Ara hamil!" emosi Ara yg melihat Lion tidak serius dengan nya padahal masalah ini tu besar!.
"Iya..oke... Lo salah paham.. cium-cium gak bakal sampe lo hamil" jelas Lion, Ara berpikir.
"Masa iya? Em.. kayak nya pas Ara nonton itu.. Ara denger gini nih 'Aku belum siap untuk hamil' itu kata cewe nya terus kata cowo nya 'aku siap bertanggung jawab' gitu Lion, tapi abis mereka ciuman.. layar nya item" jelas Ara berkacak pinggang, apa itu nama nya yang diskip?
"Jangan nonton yg begituan, lo masi kecil" ucap Lion yg mendengar penjelasan dari Ara tentang Drakor yg ia tonton.
"Heiii...! Jangan panggil aku anak kecil, Singa!" Ara yang terlihat ingin menghajar seseorang Lion dengan wajah nya yang berlagak serius.
Kedua nya pun tertawa bersama, seperti lupa dengan masalah mereka, Ara tertawa lepas.
Namun entah kenapa secara tiba-tiba dan tanpa disengaja air mata Ara jatuh dipipi nya, Ara langsung menghapus nya secara cepat, ia tak mau Lion mengetahui jika ia sedang menahan air mata nya, semua perkataan mereka terus terulang dikepala nya.
Saat kedua kali nya Ara ingin menghapus air mata nya, Lion mencegat tangan nya.
"Ada apa?" tanya Lion dengan wajah serius.
"Eng..engga Lion, Lion kenapa berdiri?! Ayo duduk!" Ara menegaskan Lion agar duduk kembali dikursi, namun Lion tak menurut malah ia yang menyuruh Ara untuk duduk.
"Jangan ditahan, gua tau lo nahan nangis" ucapan Lion benar-benar membuat Ara tidak bisa menahan tangis nya.
"Lion ish..." Ara menunduk, menumpahkan air mata nya yang sejak tadi ia tahan. Lelah berpura-pura bahagia hingga air mata yang menjelaskan.
"Lo kenapa..."Lion bertanya lembut dengan mengelus kepala Ara. Ara menggeleng.
"Ara gak mau nangis Lion, tapi air mata nya keluar terus hiks" kata Ara melirih.
Lion yang mendengar itu merasakan sesak dihati nya. Kali ini apa yang mereka lakukan terhadap Ara?
Ara menguatkan dirinya, menghapus air mata nya dan kembali tersenyum namun rasa sakit dihati nya masih terpendam.
"Ra.. cerita, jangan pendem sendiri. Gue selalu disini disamping lo, kapanpun lo butuh gue, gue ada" Lion kembali membujuk Ara untuk menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
Ara tetap diam ia tak mau membuka mulut nya untuk berbicara.
"Sebenernya lo nganggep gua apa Ra? Gue jelas jelas ada disamping lo, gua gak bakal biarin orang yang nyakitin lo hidup dengan aman. Jadi gua minta cerita" bujuk Lion lagi.
"Ra! Jangan diem, liat gua! Gua khawatir sama lo! Dengan lo pura-pura dihadapan gua gak akan ngerubah pandangan gua ke lo!" Lion yang
khawatir berlebih sampai sampai membentak Ara.
"Ara gak mau Lion! Ara bisa pendem sendiri! Ara gak mau nyusahin Lion! Ara gak mau jadi beban pikiran Lion!" balas Ara.
"Siapa bilang lo beban pikiran gua? Pernah gua bilang gitu? PERNAH?!" Lion membentak Ara keras karna tak terima dengan ucapan Ara.
Ara menunduk, ia menggeleng kecil.
"Kalo lo gak mau cerita gue bakal cari tau sendiri" ucap Lion terakhir kali lalu pergi dengan tongkat kayu nya.
Ara mendonggak melihat Lion yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu milik nya dan pergi meninggalkan nya. Ara yang khawatir takut terjadi sesuatu terhadap Lion saat menaiki tangga ia pun berlari dan memegang lengan Lion.
"Biar Ara bantu.." ucap Ara.
"Gak usah!" Lion menghempaskan tangan Ara dari lengan nya.
Lion kembali berjalan ke arah kamar nya, meninggalkan Ara yang menatap nya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
Lion tahu ia berlebihan dan keterlaluan karna membentak Ara, tapi kalau tidak begini Ara tidak akan berani menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
"Apa.. sekarang Lion juga pergi kayak mereka?.." Ara menahan Isak tangis nya, ia sangat takut jika Lion pun pergi meninggalkan nya. Ara sangat takut.
up ya kak, karyanya bagus🐣
jangan lama"y😉😉