Follow IG @rr_maesa
Dilamar pria tampan super tajir, dengan rumah mewah dan perhiasan satu koper, mau? Mau dong! Tapi bagaimana kalau prianya ternyata memiliki gangguan kejiwaan? Masih mau?
Jack Delmar adalah pria tampan kaya raya keturunan bangsawan Perancis, yang mengalami hal buruk di masa kecil yang membuatnya depresi dan terpaksa dirawat di RSJ.
Arasi Mayang, seorang gadis yang menerima lamarannya Jack karena dikejar target menikah tanpa tahu kalau Jack dalam masa pengobatan. Apa yang terjadi ketika Ara baru mengetahui kondisi Jack setelah menikah?
Yuk ikutin kisah cintanya Jack dan Ara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-33 Siapa Jack?
Ara hanya mengantar ibunya sampai teras. Ibunya Ara menatap putrinya dengan rasa kasihan. Dia membayangkan kehidupan putrinya akan bahagia ternyata sangat jauh dari bayangan. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur, putrinya sudah menikah dengan Jack dan putrinya tidak mau meninggalkan Jack. Dia hanya bisa mengurut dada dan segera pulang untuk membicarakn masalah ini dengan ayahnya Ara.
Setelah taxi pergi membawa ibunya meninggalkan rumah besar itu, Ara kembali masuk kadalam rumah, dia langsung pergi ke ruang makan membawakan makanan untuk Jack, lalu kembali ke kamarnya.
Ditangga dia bertemu dengan Ny.Inez.
“Kenapa kau tidak ikut pulang dengan ibumu?” tanya Ny.Inez.
“Sekarang ini rumahku,” jawab Ara.
Ny.Inez tersenyum sinis.
“Aku lupa, ternyata kau lebih matrealistis dari yang ku duga. Tentu saja kau mendapat lebih banyak kalau kau menjadi istrinya Jack daripada jadi jandanya,” kata Ny. Inez.
Ara tidak mau menanggapi perkataannya Ny.Inez, dia terus melangah menuju kamarnya Jack.
“Jack, waktunya makan dan minum obat,” ucap Ara, berjalan mendekati tempat tidur. Jack sama sekali tidak menghiraukannya.
“Lihat, aku membawakan makan untukmu, sekarang aku yang akan menyuapimu,” ucap Ara sambil menyimpan nampan diatas meja dekat tempat tidur lalu dia duduk dipinggir tempat tidur menghadap Jack.
Tiba-tiba Ara bangun lagi.
“Jack aku lupa obatmu ada di Pak Beni, tadi Dokter Mia menambah obat lagi, kau tunggu disini ya, sebentar aku kembali,” ucap Ara.
Jack tidak menjawab, dia masih memeluk kedua lututnya dan menggerak-gerakkan tubuhnya.
Ara tersenyum pada suaminya itu lalu bangun dan keluar dari kamar itu. Ara tidak tahu dimana kamarnya Pak Beni. Diapun menanyakan pada Pak Atam, karena Pak Beni tidak terlihat diruangan itu. Setelah diberitahu Pak Atam, Arapun menuju ruangan yang kearah kamarnya Pak Beni.
Dia akan mengetuk pintu itu tapi diurungkannya saat mendegar Pak Beni bicara di telpon dengan bahasa Inggris.
“Saya ingin membawa Tuan Delmar kembali ke Perancis,” ucap Pak Beni.
Ara mendengarkan dibalik pintu, dengan siapa Pak Beni bicara dengan bahasa Inggris? Untung bahasa Inggris, dia bisa sedikit faham apa yang dikatakan oleh Pak Beni, coba kalau Bahasa Perancis, mana ngerti dia?
“Kondisinya malah semakin buruk disini,” kata Pak Beni lagi.
Ara semakin menajamkan pendengarannya, dia penasaran Pak Beni membicarakan Jack.
“Mau sampai kapan Tuan Delmar bersembunyi disini? Dia butuh ditangani oleh Dokter yang lebih bagus! Sekarang sudah tidak bisa diajak bicara!” kata Pak Beni.
Ara mengerutkan dahinya, semakin penasaran dengan siapa Pak Beni bicara? Apa maksudnya menyembunyikan Jack disini? Kenapa harus bersembunyi? Bersembunyi dari siapa? Bukankah Jack kesini karena dia pulang ke rumahnya, kenapa dikatakan bersembunyi?
“Iya, saya juga tahu dia orang penting, tapi disini juga bukan membaik malah memburuk! Saya sangat khawatir Tuan Delmar tidak bisa sembuh lagi,” ucap Pak Beni.
Ara kembali mengerutkan keningnya, Jack orang penting? Tentu saja orang penting karena Jack sangat kaya, tapi kenapa Pak Beni bilang sembuh lagi? Apakah Jack pernah sembuh sebelumnya? Kenapa Pak Beni tidak mengatakan kalau Jack pernah sembuh?
“Iya, sekarang Tuan Delmar sudah menikah,” jawab Pak Beni.
“Ya baiklah, saya akan bertahan,” ucap Pak Beni.
Ara masih mematung memikirkan kata-kata Pak Beni yang menurutnya sangat membingungkan.
Dia terkejut saat tiba-tiba pintu terbuka, dan Pak Beni sudah berdiri menatapnya.
“Aku akan mengambil obat,” ucap Ara, menyapa Pak Beni.
“Baik Nyonya, padahal tidak perlu repot repot kemari, biar saya yang mengantarnya,” kata Pak Beni, sambil masuk ke dalam kamar itu.
Ara menunggu dipintu, Pak Beni kembali menghampirinya dan memberikan obat yang didapatnya tadi dari tempat Prakteknya Dokter Mia.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Ara, tidak bisa membendung rasa penasarannya.
“Soal apa?” tanya Pak Beni.
“Pak Beni bicara dengan siapa ditelpon tadi?” tanya Ara.
Pak Beni tampak terkejut, tapi kemudian berubah biasa lagi.
“Itu Dokternya Tuan Delmar di Perancis,” jawab Pak Beni.
“Dari Perancis tapi kau bicara menggunakan bahasa Inggris?” tanya Ara, mengerutkan dahinya, bukankah seharusnya menggunakan bahasa Perancis? Waktu pengacara itu datang Pak Beni menggunakan bahasa Perancis.
“Dokternya berasal dari Amerika,” jawab Pak Beni.
Mendengar jawaban Pak Beni, Arapun mengangguk, dia sudah mengerti sekarang.
“Pak Ben, apa Jack pernah sembuh?” tanya Ara, tiba-tiba.
Kalau tidak salah mengartikan kata bahasa Inggris yang Pak Beni ucapkan, saya khawatir Tuan Delmar tidak bisa sembuh lagi artinya Jack pernah sembuh.
“Seperti yang sering saya katakan, sembuh tapi masih tergantung dengan obat-obatan,” ucap Pak Beni.
“Tapi kenapa Pak Beni bilang bersembunyi? Apa Jack sedang bersembunyi sekarang?” tanya Ara.
“Sepertinya Nyonya salah mengartikan, bukan bersembunyi tapi tinggal di rumah ini, karena tuan kondisinya tidak baik saya butuh Dokter yang benar-benar bisa menangani Tuan,” jelas Pak Beni.
Arapun diam, jadi dia salah mengartikan? Ya bisa jadi karena dia mendengarnya hanya sepotong, akhirnya Ara tidak bertanya lagi, diapun meninggalkan kamarnya Pak Beni denggan obat ditangannya.
Ara masih memikirkan kata-kata yang dikatakan oleh Pak Beni tadi. Hatinya merasa tidak puas dengan jawaban dari Pak Beni. Apa ada yang Pak Beni sembunyikan?
Kalau bahasa Inggris dia masih mengerti tapi apa artinya tidak salah? Pak Beni juga bilang Jack orang penting, bersembunyi? Maksudnya apa itu? Tapi sepertinya Pak Beni juga menyembunyikan sesuatu, tidak mau bercerita apa-apa padanya.
Ara bergegas menuju kamarya Jack. Dia terkejut saat melihat Jack sedang makan dengan sebagian makanannya berjatuhan keatas selimut.
“Jack apa yang kau lakukan? Tadi aku sudah bilang aku akan menyuapimu!” ucap Ara.
Tangan Ara akan meraih piring ditangan Jack tapi Jack mengabaikannya dan terus makan. Akhirnya Ara duduk dipinggir tempat tidur dan mengambil makanan yang berjatuhan diatas selimut lalu dikumpulkannya.
Ditatapnya pria yang sedang makan dengan cepat itu. Dilihatnya Jack terbatuk- batuk, Ara segera mengambilkan minum dan menyodorkannya ke mulut Jack.
Jack menatap Ara, istrinya itu tersenyum padanya.
“Makannya pelan-pelan, supaya kau tidak tersedak,” ucap Ara, lebih mendekatkan lagi gelas itu ke mulutnya Jack. Pria itu mau minum dari gelas itu, lalu kembali makan.
“Setelah makan, kau minum obat lalu istirahat, semoga besok kau lebih baik,” ucap Ara menatap Jack.
“Syukur-syukur kau benar-benar sembuh, aku pasti sangat senang sekali,” ucapnya lagi, sambil menyimpan gelas lagi dan mengeluarkan obat buat Jack.
“Jack, apa jika suatu saat kau sembuh, benar-benar sembuh, kau akan mengingatku atau tidak?” tanya Ara tiba-tiba, kembali menatap Jack yang menghabiskan makanan di piringnya.
“Apa kau akan mengatakan, Ara aku mencintaimu?” tanya Ara, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, dia rindu sekali Jack mengatakannya.
Ara mengambil piring ditangan Jack yang kosong, beberapa isi mangkuk juga yang di nampan habis dimakan Jack saat dia tadi ke kamarnya Pak Beni.
Ara memasukkan obat satu persatu ke mulutnya Jack sambil diberinya minum. Rasanya tidak percaya bibir itu pernah menciumnya, entah kapan Jack akan menciumnya lagi?
Dia merasa senang suaminya itu mau minum obat tanpa masalah, Coba kalau Jack tidak mau minum obat, entah harus bagaimana lagi dia berusaha membuat Jack sembuh.
Arapun bangun, menarik selimut yang terkena makanan dari Jack itu, lalu menggantinya dengan yang baru, diapun mengumpulkan makanan yang berjatuhan ke lantai, karena memang tidak ada sapu di kamarnya Jack.
Sesekali menoleh kearah Jack, Arapun tersenyum meskipun pria itu tidak menatapnya.
“Berbaringlah, kau perlu istirahat,” ucap Ara, menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah bersih, diapun naik ke tempat tidur karena Jack masih saja duduk dengan memeluk kedua lututnya lagi.
“Tidurlah,” ucap Ara, sambil merapihkan bantalnya, meraih bahunya Jack supaya mau berbaring.
Meskipun Jack berbaring meringkuk tak apa, Ara langsung menyelimutinya.
“Jack,” ucap Ara, yang tak dapa jawaban dari Jack.
“Di dalam kamar ini kita berdua tapi serasa aku hanya sendiri karena aku bicara sendirian tanpa kau jawab,” ucap Ara, diapun berbaring disamping Jack.
“Hari ini sangat melelahkan, Jack,” ucap Ara sambil melihat pada Jack yang meringkuk menghadapnya. Arapun memiringkan tubuhnya menghadap Jack.
“Aku berharap besok bisa melihatmu berenang lagi, kau sangat pandai berenang. Aku ingin bisa berenang sepertimu tapi aku takut air Jack, aku tidak bisa berenang,” ucap Ara, tangannya mengulur menyentuh pipinya Jack.
“Selamat malam, Jack,” ucap Ara, lalu memejamkan matanya, mencoba tidur.
Dalam tidurnya dia bermimpi. Ara berada disebuah pantai sendirian menyusuri pesisir dipantai itu mencari-cari Jack.
“Jack! Jack! Kau dimana?” teriaknya.
Tidak ada sahutan dari Jack.
“Jack! Jack!” teriak Ara. Tapi yang dicarinya tidak ada.
Tiba-tiba datang ombak besar bergulung-gulung dan menerjangnya. Ara yang tidak bisa berenang terbawa arus air laut, dan merasakan sesak didalam dadanya. Sangat sesak sampai tidak bisa bernafas diapun terbatuk-batuk dan membuka matanya. Dia terbangun melihat langit-langit kamar itu. Dia bermimpi buruk, sungguh mimpi yang sangat buruk tapi terasa begitu nyata.
Diapun menoleh ke sebelahnya, ternyata Jack masih tidur, tapi dengan posisi terlentang tidak menekuk lagi.
Ara bangun membetulkan selimutnya Jack. Ditatapnya wajah pria tampan yang sedang tidur itu.
“Baik buruknya kau adalah suamiku Jack, aku akan selalu ada disampingmu dan menyayangimu,” ucap Ara, lalu mencium pipinya Jack.
“Tidurlah, mimpi yang indah,” ucap Ara lagi, lalu diapun berbaring dan mencoba untuk tidur lagi dan melupakan mimpi buruknya tadi.
***********
mana ada cowo gila romantis.. ada d tempat yang sama, sempet sempetnya kirim bunga
ibarat kalau pilih kiri (dikejar pria beristri)
pilih kanan dikejar pria autis (gangguan jiwa)
tp setidaknya jack itu ganteng, kaya raa.. pilih dia aja.. minus ny cuma atu, dia gila raa.. gapapa lah.. ketutup ama ketajiran ny.. anak semata golek kolongmerat..
dr pada pilih laki beristri..
mending setia.. bisa bisa nambah pasukan.. belum lagi anaknya banyak.. di unyeng2 istri tua.. haih...ibarat udah jatoh nyusruk ke selokan comberan itu mah.. dibahagiain kaga.. sengsara udah pasti
seneng bgt 🥰