NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Gosip Satu Sekolah

Clara ngerasa sekolah hari itu bukan sekolah. Tapi pasar.

Pasar gosip.

Baru masuk gerbang aja udah ada yang bisik-bisik sambil ngeliatin dia.

"Itu tuh Clara yang deket sama Seokjin."

"Iya yang kemarin ditolongin? Atau yang nolongin?"

"Katanya pansos biar dilindungin geng motor."

Clara jalan cepet. Nunduk. Tas dipegangin kenceng.

Mutiara yang jemput di gerbang langsung narik tangannya.

"Ra, jangan dengerin. Jalan aja terus."

Diana sama Safira udah nunggu di tangga. Mukanya tegang.

"Gila, Ra. Pagi ini grup angkatan isinya lo semua," kata Diana sambil nunjukin HP.

Di grup WA angkatan 11, ada foto Clara lagi nerima roti dari Seokjin kemarin. Difoto diam-diam dari jauh. Blur, tapi jelas itu Clara.

Captionnya: buset good girl kesayangan Bu Lilis sekarang deket sama ketua geng motor? Ada apa nih?

Komennya udah 80.

Ada yang bilang Clara cari sensasi. Ada yang bilang Clara mau jadi cewek matre biar dibayarin. Ada yang bilang Seokjin lagi iseng doang, bentar lagi dibuang.

Clara ngerasa perutnya mual. Bukan karena ginjalnya. Karena malu.

"Siapa yang foto?" suaranya kecil.

"Gak tau. Akun fake. Tapi nyebar ke mana-mana," jawab Safira. "Gue udah coba report tapi udah keburu di-save orang."

Mutiara langsung hapus chatnya. "Udah, jangan dibaca lagi. Makin dibaca makin sakit."

Mereka masuk kelas. Dan kelas juga sama.

Begitu Clara duduk, meja sebelah langsung bisik-bisik sambil ketawa. Meja depan pura-pura nanya PR, padahal mau kepo.

"Clara, beneran lo pacaran sama Seokjin?"

"Clara, spill dong gimana caranya dapetin Seokjin?"

Clara diem. Gak jawab. Buka buku. Tulisannya acak-acakan. Gak bisa fokus.

Bu Lilis masuk, kelas agak diem. Tapi tatapan-tatapan itu masih ada. Nusuk-nusuk punggung Clara.

Jam istirahat pertama, puncaknya.

Clara, Mutiara, Diana, Safira mau ke kantin. Baru keluar kelas, di koridor udah ada 3 cewek kelas 12 nunggu. Cewek-cewek yang biasanya nongkrong sama geng motor. Dandanannya menor, roknya pendek.

Yang paling depan, namanya Sinta. Mantan gebetannya Jimin apa siapa gitu. Terkenal judes.

"Eh, ini ya Clara yang lagi viral itu?" Sinta ngomong sambil senyum sinis. Tangannya nyilang.

Clara berhenti. Mutiara langsung maju setengah langkah. Mode protect on.

"Kak, ada apa?" kata Mutiara sopan tapi tegas.

Sinta ngeliatin Clara dari atas ke bawah.

"Gak apa-apa sih. Cuma mau ngingetin. Seokjin itu bukan mainan buat anak pinter kayak kamu. Dia udah punya banyak urusan. Jangan sok jadi pahlawan terus ngarep dibales cinta. Malu tau."

Darah Clara naik ke muka. Malu. Marah. Takut. Campur aduk.

"Gue gak ngarep apa-apa, Kak," jawab Clara pelan. "Kemarin gue cuma nolongin orang kecelakaan."

"Iya, nolongin. Terus sekarang dibawain roti, dibalikin amplop. Besok dibawain bunga? Modus lama tau," cewek di sebelah Sinta nyaut sambil ketawa.

Diana yang udah gak tahan, nyembur.

"Kak, kalau gak tau ceritanya jangan ngomong sembarangan dong! Clara tuh nolongin, bukan pansos!"

Sinta melototin Diana. "Lo siapa? Temennya tukang pansos?"

Safira mau maju, tapi Mutiara tahan. Karena dari ujung koridor, ada yang dateng.

Seokjin.

Baru naik dari bawah. Sama Jungkook. Mukanya masih diperban.

Ngeliat kerumunan di depan kelas 11, dia langsung ngerti ada apa.

"Ngapain lo di sini?" Suara Seokjin dingin. Gak kenceng, tapi semua orang langsung diem.

Sinta langsung ganti muka. Senyum manis.

"Eh, Jin. Enggak, lagi ngobrol aja sama adek kelas."

Seokjin gak ngeliatin Sinta. Ngeliatin Clara yang udah nunduk, megangin tas erat-erat.

"Clara, lo gapapa?" tanya Seokjin. Depan semua orang.

Clara geleng. Gak berani ngangkat muka.

Sinta sama temennya langsung salting. Karena Seokjin belain Clara depan umum. Itu gak pernah kejadian.

"Udah, bubar. Jangan berisik di koridor kelas orang," kata Jungkook dari belakang. Nadanya nyantai tapi ngancem.

Sinta sama gengnya langsung pergi. Sambil masih ngeliatin Clara sinis.

Koridor jadi sepi lagi.

Clara masih diem.

Seokjin mau ngomong lagi, tapi Mutiara nyela.

"Kak Seokjin, makasih. Tapi Clara lagi pengen sendiri dulu ya."

Seokjin ngerti. Angguk. "Oke."

Dia balik badan. Jalan pergi. Tapi sebelum jauh, dia noleh lagi ke Clara.

"Nanti kalau ada yang gangguin lo lagi, bilang gue aja."

Terus pergi.

Clara langsung diseret ke perpus sama tiga sahabatnya.

Di perpus, di pojokan paling belakang, Clara akhirnya jebol.

Nangis. Gak kenceng. Sesenggukan.

"Gue nyesel, Mut," katanya di sela-sela nangis. "Gue nyesel nolongin dia malam itu. Kalau gue biarin aja, gak bakal gini jadinya. Gak bakal digosipin, gak bakal dimusuhin kakak kelas."

Mutiara meluk Clara. Diana ngelus punggungnya. Safira ngasih tisu.

"Ra, dengerin gue ya," kata Safira, suaranya udah gak judes. "Lo gak salah. Yang salah tuh yang tukang gosip. Lo nolongin orang sekarat, itu bener. Masa gara-gara dia Seokjin, kebaikan lo jadi salah?"

"Tapi liat deh, sekarang semua orang benci gue," isak Clara. "Di rumah gue selalu salah. Di sekolah sekarang gue juga salah. Gue harus gimana lagi biar bener?"

Mutiara napas panjang.

"Ra, lo gak harus bener di mata semua orang. Lo cukup bener di mata kita aja. Kita tau lo gak pansos. Kita tau lo tulus. Udah cukup."

Diana nambahin, "Iya! Lagian Seokjin kan gak jahat-jahat amat ternyata. Tadi dia belain lo loh! Gila, gue aja merinding!"

Clara ngusap air mata.

"Tapi gue takut, Di. Gue takut Papa Mama tau gue deket sama geng motor. Nanti gue dimarahin lagi. Gue takut... gue takut penyakit gue ketauan gara-gara ini."

Semua diem. Karena itu masalah paling gede.

Mutiara ngelirik tas Clara. Amplop lab ada di dalem.

"Amplopnya masih aman kan?"

Clara angguk. "Aman. Di tas."

"Bagus. Jangan sampai ada yang liat. Apalagi mereka."

Bel masuk bunyi. Mereka balik ke kelas. Sepanjang jalan Clara masih nunduk.

Sore, pulang sekolah, gosipnya belum reda. Malah makin gede.

Di akun Instagram second sekolah, ada story baru. Foto Seokjin lagi nunggu di parkiran. Captionnya: Nungguin someone?

Tag lokasinya parkiran sekolah. Semua orang tau itu buat Clara.

Clara liat story itu di angkot. Dari HP Diana yang ngirim link.

Tangannya gemeter.

Dia chat Seokjin. Pertama kalinya dia ngechat duluan.

Clara: Kak, tolong jangan ke kelas gue lagi ya. Gue digosipin terus.

Dibaca. Centang dua biru. Tapi gak dibales lama.

Clara udah mau nangis lagi di angkot.

5 menit kemudian, balesan masuk.

Seokjin: Oke. Sorry bikin ribet.

Seokjin: Tapi roti kemarin enak gak?

Clara bengong baca balesan kedua. Antara pengen ketawa sama pengen nangis.

Orang se-syerem itu nanya roti enak apa enggak.

Clara ngetik: Enak.

Terus dia matiin HP.

Sampe rumah, rumah sepi. Cuma ada Nenek Kamila yang lagi nonton TV.

"Clara pulang? Kok mukanya capek banget?" tanya Nenek.

Clara senyum. Senyum tempelan lagi. Udah balik otomatis.

"Gapapa, Nek. Banyak tugas aja."

Dia masuk kamar. Ngunci pintu. Buka diary biru.

Hari ini semua orang ngomongin gue.

Gara-gara gue nolongin Seokjin.

Padahal gue cuma pengen nolongin orang. Kok jadi salah lagi ya?

Kenapa ya setiap gue lakuin hal baik, baliknya jadi masalah buat gue?

Apa gue emang ditakdirin jadi anak yang selalu salah?

Dia tutup diary. Naro di bawah bantal.

Di luar, HP-nya geter lagi.

Bukan dari Seokjin. Dari grup angkatan.

Ada foto baru. Foto Clara pas lagi di perpus tadi siang, lagi nangis dipeluk Mutiara.

Captionnya: Drama queen abis pansos terus nangis biar dikasihani?

Clara ngerasa darahnya naik ke kepala. Pusing. Pinggangnya nyut lagi. Lebih sakit dari kemarin.

Dia matiin HP. Lempar ke kasur.

Dan di saat yang sama, dari jendela kamarnya, dia bisa liat dari jauh, di ujung jalan kompleknya, ada satu motor gede parkir. Lampunya nyala.

Gak deket. Jauh. Tapi Clara tau itu motor siapa.

Seokjin bilang oke gak bakal ke kelasnya lagi.

Tapi dia gak janji gak bakal nungguin di ujung jalan.

Clara narik gorden. Cepet.

Malam itu, gosip satu sekolah bikin dia ngerasa kebaikannya malam itu adalah kesalahan terbesarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!