Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pertarungan sengit 2
Saat melihat mata para monster itu, Isabella segera menoleh ke arah Aeron.
“Aeron! Apa kau menyadari sesuatu yang aneh pada mereka?” Seru Isabella sambil mengalihkan pandangannya ke arah monster-monster yang masih mengepung mereka.
Aeron yang sedang menghindari serangan cakaran dari salah satu monster langsung menoleh.
“Apa maksudmu?” Tanya Aeron.
“Mata mereka! Perhatikan baik-baik!” Seru Isabella sambil menunjuk ke arah monster-monster itu. Tatapannya tampak serius, karena baru saja menyadari sesuatu yang janggal dari monster-monster itu.
Aeron melompat mundur, kemudian mengamati monster yang berdiri di hadapannya.
Saat makhluk itu mengangkat kepalanya, Aeron akhirnya melihat sepasang mata hitam pekat yang menatapnya tanpa ekspresi.
Harimau raksasa itu terdiam sejenak.
“Kau benar....”
Dia menggeram pelan.
“Mata mereka berbeda dari monster-monster yang biasa kita temui!”
“Bukan hanya itu,” lanjut Isabella. “Mereka juga tidak bertindak seperti monster liar biasa. Mereka terus menyerang tanpa memedulikan luka yang mereka alami.”
Aeron mengamati kawanan monster yang masih berusaha menerobos penghalang.
“Seolah-olah mereka tidak memiliki naluri untuk menyelamatkan diri!”
Kael yang mendengar percakapan mereka segera mendarat di dekat keduanya.
Ekspresi naga itu tampak serius.
“Aku rasa aku tahu apa yang sedang terjadi.”
Isabella langsung menoleh.
“Apa maksudmu?”
Kael mengarahkan pandangannya kepada para monster.
“Mereka mungkin sedang dikendalikan oleh sihir hitam.”
Isabella terdiam.
Sihir hitam.
Kekuatan yang berbeda dari sihir elemen biasa. Sebuah kekuatan yang dapat digunakan untuk memengaruhi makhluk lain, bahkan mengambil alih kehendak mereka jika penggunanya memiliki kemampuan yang cukup besar.
Kael kembali berbicara.
“Aku belum bisa memastikan bagaimana mereka dikendalikan atau siapa yang melakukannya. Namun, melihat kondisi mata mereka dan cara mereka menyerang, aku yakin ada kekuatan lain yang bekerja di balik semua ini.”
“Jadi, seseorang sengaja mengirim mereka kemari?” tanya Isabella dengan suara rendah.
“Sepertinya begitu.”
Isabella mengepalkan kedua tangannya.
“Siapa orang itu?”
“Aku belum mengetahuinya. Begitu pula dengan tujuan mereka.”
Kael menggelengkan kepala.
“Namun, mengendalikan monster sebanyak ini bukan perkara mudah. Orang yang melakukannya pasti memiliki kekuatan sihir yang besar, atau menggunakan sesuatu untuk memperkuat sihir hitamnya.”
Isabella tidak segera menjawab.
Pikirannya mulai menghubungkan berbagai kejanggalan yang mereka temui sejak perjalanan pulang.
Hutan yang mendadak sunyi, monster-monster yang seolah menghilang tanpa jejak. Lalu, puluhan makhluk yang tiba-tiba mengepung rumahnya. Semua itu terlalu teratur untuk dianggap sebagai kebetulan, seseorang telah merencanakan serangan ini, seseorang mengetahui lokasi rumahnya dan orang itu mungkin juga mengetahui siapa saja yang tinggal bersamanya.
Tiba-tiba, tubuh Isabella menegang.
Sebuah kemungkinan mengerikan muncul dalam pikirannya.
Bagaimana jika sasaran mereka bukan hanya aku?
Tatapannya perlahan beralih ke rumah di belakang penghalang. Ketiga anaknya masih berada di dalam, mereka yang selama ini berusaha dia lindungi dari segala bahaya. Mereka yang telah membuat Isabella kembali menemukan arti keluarga setelah melewati begitu banyak kehilangan.
Bagaimana jika semua monster ini dikirim untuk membunuh mereka?
Dada Isabella terasa sesak.
Dia tidak ingin memercayai kemungkinan tersebut, tetapi semakin dia memikirkannya, semakin masuk akal semuanya.
Seseorang tidak mungkin mengerahkan monster sebanyak ini hanya untuk menghancurkan sebuah rumah. Terlebih lagi, monster-monster tersebut tidak menyerang kawasan lain.
Mereka hanya mengepung rumahnya.
Mereka datang untuk membunuhnya.
Atau lebih buruk lagi....
Mereka datang untuk membunuh anak-anaknya.
Isabella terdiam.
Untuk sesaat, suara pertempuran di sekelilingnya seakan menghilang. Yang tersisa hanyalah bayangan masa lalu dan kenangan pahit tentang kehilangan yang pernah menghancurkan hatinya.
Dia sudah pernah kehilangan seorang anak, luka itu belum sepenuhnya sembuh dan sekarang, seseorang berani mengancam anak-anak yang masih berada dalam perlindungannya?
Tidak.
Dia tidak akan membiarkan sejarah menyakitkan itu terulang. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merenggut anak-anaknya. Bahkan jika seluruh dunia berdiri sebagai musuhnya, dia akan tetap melindungi mereka.
Tangan Isabella bergetar.
Bukan karena ketakutan.
Melainkan karena amarah yang perlahan melampaui batas kesabarannya.
“Aeron.... Kael....”
Suaranya terdengar rendah.
Keduanya menoleh.
Isabella menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
“Jika dugaanku benar....”
Dia mengangkat wajahnya perlahan, Iris matanya kini telah berubah menjadi kuning keemasan sepenuhnya.
Tatapan itu begitu dingin hingga membuat Aeron dan Kael terdiam.
“...maka orang yang mengirim monster-monster ini bukan sekadar mencari masalah denganku.”
Energi sihir mulai bergejolak di sekitar tubuhnya.
Tanah di bawah kakinya retak. Angin berputar semakin kencang, sementara api dan es muncul secara bersamaan di kedua tangannya, pusaran air mengelilingi tubuhnya.
“Mereka telah menjadikan anak-anakku sebagai sasaran.”
DUAAARRR!
Ledakan sihir mengguncang kawasan itu.
Beberapa monster terlempar sebelum sempat mendekat. Pepohonan bergoyang hebat, dan permukaan tanah dipenuhi retakan yang menjalar dari tempat Isabella berdiri.
Kael membelalakkan mata.
Aura yang terpancar dari tubuh wanita itu terasa begitu luar biasa hingga bahkan dirinya, seekor naga dengan kekuatan sihir tinggi, ikut merasakan tekanan yang mengerikan.
Aeron pun mundur setengah langkah.
Bukan karena ingin menjauh dari tuannya, melainkan karena dia tahu bahwa Isabella kini berada di ambang kemarahan yang sesungguhnya.
Isabella mengangkat kedua pedangnya.
Bilah di tangan kanannya diselimuti api yang menyala terang, sedangkan bilah di tangan kirinya membeku dalam lapisan es yang berkilauan.
Dia menatap kawanan monster di hadapannya.
Kemudian, sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
“Baiklah.”
Dia melangkah maju.
“Jika kalian datang untuk merenggut keluargaku dariku....”
Seketika, energi sihirnya meledak.
“AKU AKAN MEMASTIKAN TIDAK ADA SATU PUN DARI KALIAN YANG BISA KEMBALI!”
Isabella melesat maju.
Kali ini, dia tidak lagi menahan kekuatannya.
Kedua pedangnya bergerak secepat kilat, menciptakan kilatan cahaya yang membelah udara. Api menyapu tanah, es membekukan monster yang mencoba melarikan diri, pusatan air membentuk tombak dan menembua tubuh monster-monster itu, sementara pusaran angin menghantam dari berbagai arah.
Sulur-sulur tanaman menjalar dari tanah, menahan monster-monster yang berusaha mendekati rumah.
Aeron dan Kael segera mengikuti serangannya.
Aeron menerjang dari sisi kiri, mengerahkan sihir angin untuk mengumpulkan para monster dalam satu kawasan. Kael menyerang dari udara, menyemburkan api untuk memutus jalan mereka dan mencegah mereka menyebar.
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, kawanan monster itu mulai kehilangan formasi.
Namun, Isabella tidak memberikan mereka kesempatan untuk bangkit kembali.
Dia terus menyerang.
Setiap gerakannya membawa kemarahan seorang ibu yang berusaha melindungi anak-anaknya.
Setiap tebasannya merupakan peringatan bagi siapa pun yang berada di balik serangan tersebut.
Dan setiap kali dia melihat penghalang rumahnya yang semakin melemah, tekadnya untuk menghancurkan seluruh monster itu semakin kuat.
Anak-anakku harus selamat.
Tidak peduli siapa yang mengincar mereka.
Tidak peduli seberapa besar kekuatan yang dimiliki musuhku.
Selama aku masih bernapas, tidak akan kubiarkan seorang pun menyentuh mereka!
Bersambung