Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara cemburu
"Sayang!"
Vara langsung mendongak. Dirga menghampirinya dengan raut wajah tanpa dosa. Sebenarnya Vara sangat muak melihat wajah suaminya. Namun, untuk saat ini, mempertahankan akting jauh lebih penting.
"Sayang," balas Vara.
Dirga langsung memeluknya. "Kamu, kalau kerja nggak ikut aku," keluhnya manja.
Vara menghela napas pelan. "Sayang, kamu kan bisa bermanja-manja di rumah."
"Tapi aku maunya sekarang." Dirga semakin mempererat pelukannya. "Nyesal deh, kasih kamu izin kembali kerja."
Vara menatapnya. "Kok kamu gitu sih?"
"Kamu sih sibuk terus sampai lupa waktu." Dirga kemudian memperhatikan wajahnya. "Terus, kamu sudah makan?"
Vara menggeleng.
"Tuh, kan. Selain lupa aku, kamu juga lupa sama kesehatanmu."
Dirga langsung merogoh ponselnya. "Sekarang aku pesankan makanan buat kamu."
Vara menatapnya lekat.
Kamu pikir perhatian seperti ini bisa membuatku luluh? Maaf, Dirga. Aku bukan Vara yang dulu.
Vara justru tersenyum manis.
Dirga mengerutkan kening. "Kenapa kamu natap aku begitu?"
"Aku cuma bersyukur punya suami seperti kamu, Sayang."
Tentu saja itu bohong.
Dirga tersenyum tipis. "Kamu bisa saja. Aku juga bersyukur punya kamu."
Vara membalas senyumnya.
Tiba-tiba Dirga mendekat dan mencium bibir Vara.
Vara sempat ingin menghindar. Namun, sudut matanya menangkap layar CCTV yang terpasang di sudut ruangan. Ia mengurungkan niatnya.
Vara justru membalas ciuman itu.
Tidak lama kemudian, Monica muncul di depan pintu ruangan Vara yang kebetulan masih terbuka. Langkahnya langsung terhenti. Matanya membelalak melihat Vara dan Dirga sedang berciuman.
Panas menjalar di wajahnya.
Vara yang menyadari kehadiran Monica sengaja tidak segera mengakhiri ciuman tersebut. Ia ingin melihat sampai sejauh mana wanita itu mampu menahan rasa kesalnya.
"Sial," geram Monica dalam hati.
"Permisi."
Dirga langsung menjauh dan menoleh. Ia terkejut melihat Monica berdiri di depan pintu. "Monica..."
Vara ikut memasang wajah canggung. "Maaf, Bu, Pak. Saya mengganggu waktu kalian."
"Nggak apa-apa. Aduh, saya jadi malu." Vara langsung menepuk bahu Dirga dengan wajah malu-malu. "Kamu sih, Sayang. Aku kan jadi malu sama Monica."
Dirga hanya tersenyum canggung. "Ada apa, Monica?" tanyanya.
"Saya cuma ingin menyampaikan, Pak. Malam ini Pak Dirga harus rapat dengan klien."
"Malam ini?" sahut Vara.
"Iya, Bu. Ini berkasnya."
Monica menyerahkan berkas tersebut kepada Vara.
Vara menerima itu lalu membaca isi berkas dengan teliti.
Pertemuan tersebut terlihat seperti biasa. Ada nama klien, waktu, tempat, bahkan agenda pertemuan.
Namun, Vara tahu semuanya palsu.
Licik juga wanita ini.
Entah siapa yang Monica bayar untuk membuat dokumen palsu seperti ini, tetapi semuanya dibuat cukup rapi untuk terlihat meyakinkan.
Vara mengangguk pelan, lalu menyerahkan berkas itu kepada Dirga.
"Malam ini kamu harus rapat, Sayang."
Dirga mengerutkan kening. Ia mengambil berkas tersebut dan membacanya sekilas.
Tak butuh waktu lama sampai ia memahami maksud Monica.
Dia sengaja membuat berkas palsu ini supaya Vara percaya dan kami bisa berduaan, batin Dirga, lalu menatap Vara. Untung Vara bodoh, jadi tidak tahu berkas ini sebenarnya palsu.
Dirga kembali memasang wajah tenang. "Baiklah. Siapkan semua berkas yang dibutuhkan. Kita rapat malam ini."
Monica mengangguk. "Baik, Pak."
Ia kemudian pamit dan meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Monica mengepalkan tangannya. Bayangan Vara dan Dirga yang sedang berciuman kembali muncul di kepalanya. Rahang Monica mengeras.
Sialan. Kenapa sih dia harus kembali!
Monica menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Tenang, Monica," gumamnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Hari ini biarkan kamu bersamanya. Tapi nanti malam, aku yang akan mendapatkan Dirga!"