NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Satu kesempatan

Arhan menatap Nadira dengan wajah yang sulit diartikan. Mendengar ketegasan dalam suara istrinya membuat hatinya terasa semakin sesak. Ia tahu Nadira bukan lagi wanita yang sama seperti dahulu, wanita yang akan luluh hanya karena dirinya meminta maaf dan mengucapkan beberapa janji manis.

"Aku tidak datang untuk memaksamu membatalkan perceraian ini," jawab Arhan pelan. "Aku datang karena ingin meminta kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

Nadira menggeleng kecil. "Kesempatan? Berapa banyak kesempatan yang sudah aku berikan kepadamu, Arhan? Apa selama ini kamu pernah benar-benar menghargainya?"

Arhan terdiam.

"Ketika aku memintamu meluangkan waktu untuk keluarga kecil kita, kamu bilang pekerjaanmu lebih penting. Ketika aku memintamu membelaku di hadapan ibumu, kamu memilih diam. Bahkan ketika aku sudah tidak sanggup lagi bertahan dan memutuskan pergi, kamu masih saja membiarkanku menghadapi semuanya sendirian."

Nadira menarik napas panjang. Ia berusaha menahan emosinya, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku tidak pernah meminta rumah mewah atau kehidupan yang sempurna darimu. Aku hanya ingin memiliki seorang suami yang bisa berdiri di sisiku ketika aku membutuhkannya. Aku ingin merasa bahwa aku punya tempat dalam hidupmu, Arhan. Tapi selama ini, aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar penting bagimu."

"Kamu penting, Nadira," sahut Arhan cepat. "Kamu dan Naya adalah orang yang paling penting dalam hidupku."

"Kalau begitu, kenapa kamu selalu membuatku merasa seolah-olah aku tidak berarti?"

Pertanyaan itu membuat Arhan kehilangan kata-kata.

Nadira mengusap sudut matanya sebelum melanjutkan, "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini? Bukan ketika kamu meninggalkanku sendirian di rumah. Bukan juga ketika kamu memilih pergi ke rumah ibumu daripada menghabiskan waktu bersama kami."

Ia berhenti sejenak, menatap suaminya dengan mata yang mulai memerah.

"Yang paling menyakitkan adalah ketika aku menyadari bahwa aku terus berjuang mempertahankan seseorang yang bahkan tidak berusaha mempertahankanku."

"Nadira..." Arhan melangkah mendekat.

Namun, Nadira segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pria itu tidak mendekatinya.

"Jangan."

Arhan menghentikan langkahnya.

"Aku sudah terlalu sering menangis karena kamu. Aku sudah terlalu sering tidur sendirian sambil bertanya-tanya apa kesalahanku sampai kamu memperlakukanku seperti itu. Aku bahkan pernah berpikir bahwa mungkin aku memang istri yang buruk karena tidak bisa membuatmu betah di rumah."

Nadira tertawa hambar.

"Tapi sekarang aku sadar, Arhan. Aku tidak seharusnya terus menyalahkan diriku sendiri hanya karena kamu tidak pernah mau memperbaiki sikapmu."

"Aku tahu. Semua itu kesalahanku." Arhan menundukkan kepalanya. "Aku tidak akan mencari alasan untuk membenarkan apa yang sudah kulakukan kepadamu. Aku hanya... aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan waktu yang sudah terbuang."

"Aku tahu."

"Penyesalanmu juga tidak akan menghapus semua luka yang sudah kamu berikan kepadaku."

"Aku tahu, Nadira."

"Lalu apa yang kamu harapkan dariku?"

Arhan mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat begitu lelah, tetapi ada kesungguhan yang selama ini jarang diperlihatkannya kepada sang istri.

"Aku tidak berharap kamu langsung memaafkanku. Aku juga tidak akan memintamu kembali ke rumah sekarang. Aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah."

Nadira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng. "Aku tidak bisa memberikan kesempatan itu lagi kepadamu."

Raut wajah Arhan seketika berubah. Ia benar benar masih berharap mendapatkan satu kesempatan lagi. Tanpa pikir panjang Arhan segera berlutut di hadapan Nadira, ia menampar pipinya.

"Tamparan ini untuk kesalahanku karena mengabaikanku dan Naya."

Nadira terbelalak ketika melihat Arhan tiba-tiba berlutut di hadapannya. Belum sempat ia memahami apa yang sedang dilakukan suaminya, pria itu justru mengangkat tangannya dan menampar pipinya sendiri hingga terdengar suara cukup keras di antara keheningan mereka.

"Arhan!" seru Nadira terkejut.

Arhan tidak menghiraukan seruan istrinya. Ia kembali mengangkat tangannya, tetapi kali ini Nadira segera bergerak maju dan menahan pergelangan tangannya sebelum pria itu sempat melakukannya lagi.

"Jangan gila! Apa yang sedang kamu lakukan?" Nadira menatapnya dengan mata membelalak.

Arhan mendongak. Wajahnya tampak memerah akibat tamparan yang baru saja ia berikan kepada dirinya sendiri. Namun, bukan rasa sakit di pipinya yang menjadi perhatiannya. Pria itu justru menatap Nadira dengan sorot mata penuh penyesalan.

"Tamparan ini untuk kesalahanku karena sudah mengabaikanmu dan Naya selama ini," ucapnya lirih.

Nadira terdiam. Ia tidak menyangka Arhan akan melakukan hal seperti itu di hadapannya.

"Arhan, kamu pikir dengan menyakiti dirimu sendiri, semua kesalahanmu akan selesai begitu saja?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Tidak." Arhan menggeleng pelan. "Aku tahu ini tidak akan mengubah apa pun. Aku juga tahu bahwa aku tidak bisa menghapus semua luka yang sudah kuberikan kepadamu hanya dengan melakukan ini."

Ia menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya sendiri yang kini bertumpu di atas lutut.

"Tapi aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi, Nadira. Aku sudah mencoba meminta maaf kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkanku. Aku mencoba menjelaskan semuanya, tetapi aku tahu bahwa semua perkataanku mungkin terdengar seperti kebohongan bagimu."

Arhan menarik napas panjang. Dadanya terasa begitu sesak, seolah-olah ada sesuatu yang menekan dirinya dari dalam.

"Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti aku akan berlutut di hadapanmu seperti ini hanya untuk meminta satu kesempatan lagi. Dulu, aku selalu menganggap kamu akan tetap berada di sisiku, tidak peduli seberapa buruk sikapku kepadamu. Aku terlalu yakin bahwa kamu akan selalu memaafkanku."

Suaranya semakin melemah.

"Dan sekarang, ketika kamu benar-benar ingin pergi, aku baru menyadari betapa bodohnya aku selama ini."

Nadira perlahan melepaskan pergelangan tangan suaminya. Ia mundur selangkah, kemudian memandang Arhan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Ada bagian dalam hatinya yang merasa iba melihat pria itu berlutut di hadapannya. Bagaimanapun, Arhan adalah seseorang yang pernah begitu ia cintai. Pria yang dahulu membuatnya percaya bahwa pernikahan akan menjadi awal dari kehidupan yang bahagia.

Namun, rasa iba itu tidak serta-merta menghapus luka yang selama ini ia pendam.

"Bangun, Arhan," ujar Nadira akhirnya.

Namun, Arhan menggeleng. "Aku belum selesai, Nadira."

"Aku bilang bangun!" Kali ini, suara Nadira terdengar lebih tegas.

Arhan mendongak, menatap wajah istrinya yang tampak menahan emosi.

"Aku tidak ingin melihatmu melakukan hal seperti ini," lanjut Nadira. "Aku tidak pernah meminta kamu berlutut di hadapanku. Aku juga tidak pernah memintamu menyakiti dirimu sendiri untuk membuktikan bahwa kamu menyesal."

"Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar bersungguh-sungguh."

"Lalu bagaimana aku bisa tahu bahwa kamu bersungguh-sungguh?" Nadira balik bertanya. "Apa karena kamu berlutut di hadapanku? Apa karena kamu menampar wajahmu sendiri? Atau karena sekarang kamu menangis dan memintaku untuk tidak meninggalkanmu?"

Arhan terdiam. Nadira menggeleng pelan. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia segera mengangkat wajahnya agar tidak sampai jatuh.

"Aku sudah terlalu sering mendengar permintaan maafmu. Aku sudah terlalu sering melihatmu menyesal setelah menyakitiku. Setiap kali itu terjadi, aku selalu berharap bahwa kali ini kamu benar-benar akan berubah. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin setelah ini kamu akan lebih memperhatikanku, lebih peduli kepada Naya, dan lebih berani membela keluarga kecil kita."

Ia menarik napas yang terasa berat.

"Tapi kenyataannya, aku selalu kembali kecewa."

Arhan menggenggam kedua tangannya sendiri. Ia tidak berani menyela karena setiap kalimat yang keluar dari mulut Nadira terasa seperti cermin yang memperlihatkan betapa buruknya dirinya selama ini.

"Mmaf, tapi aku mohon kali ini beri aku satu kesempatan. Aku akan memutuskan hubungan dengan orang tuaku," jelasnya.

1
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!