Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak Malam di atas Awan
Malam kembali turun membungkus Alas Purba dengan keheningan yang pekat dan absolut. Di atas pohon tertinggi, angin bertiup kencang menghantam dinding gubuk bambu hitam, menimbulkan suara derit kayu yang ritmis dan dalam.
Di dalam gubuk, tungku batu hanya menyisakan keremangan bara api merah yang temaram, melemparkan bayangan-bayangan meliuk yang seram sekaligus eksotis di langit-langit ruangan.
Suasana pengap oleh hawa dingin yang tertahan di balik anyaman serat purba, menciptakan ruang isolasi yang begitu sunyi di antara dua peradaban yang berbeda.
Hera Grahansa berbaring telentang di atas ranjang tanaman merambat buatan Sulung.
Kedua matanya terbuka lebar, menatap kosong ke kegelapan langit-langit gubuk. Di bawah kepalanya, tas ransel kecil berisi kantung sampel Dream Flower masih ia jadikan bantal darurat, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkannya dengan kenyataan di dunia luar.
Tubuhnya luar biasa lelah, namun otaknya menolak untuk beristirahat. Sifat keras kepala seorang Grahansa sedang bekerja keras di dalam kepalanya, menyusun setiap detail rencana pelarian yang mungkin bisa ia lakukan begitu fajar menyembul dari ufuk timur.
Aku tidak bisa bertahan di sini selama tiga minggu, batin Hera sembari meremas ujung kain jaket gunungnya yang terasa kaku. Sains kota memiliki garis waktu yang ketat. Sel kanker di otak Mama tidak akan menunggu datangnya Bulan Purnama Merah.
Aku harus menemukan cara mendeteksi distorsi magnetik itu sendiri, melarikan diri menembus hutan, dan kembali ke laboratorium kota secepat mungkin.
Di seberang ruangan terbuka, Sulung semula tampak berbaring diam di atas ranjang kulit beruangnya. Namun, kegelisahan batin dan aroma tubuh Hera yang asing mendadak mengusik sesuatu yang jauh lebih dalam di dalam diri sang Panglima rimba.
Aroma manis nektar Dream Flower yang melekat kuat di kulit dan pakaian Hera berbaur dengan keharuman murni tubuh seorang wanita kota yang bersih.
Di bawah hukum Alas Purba, aroma itu adalah sebuah anomali sekaligus penanda wilayah yang sangat kuat. Dorongan primitif yang tertidur di dalam darah Sulung selama tiga puluh tahun mendadak bangkit secara agresif, dipicu oleh insting teritorial yang liar terhadap mahluk asing yang kini berada di bawah perlindungan atapnya.
Tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun di atas lantai papan kayu, Sulung berdiri dari ranjangnya. Tubuh tegapnya yang bertelanjang dada bergerak lambat menembus keremangan malam, melangkah seperti seekor macan tutul yang sedang mendekati mangsanya di rimbunnya semak belukar.
Langkah kakinya begitu ringan, tidak berbunyi, namun membawa bobot aura intimidasi yang kian memadat di udara gubuk.
Hera yang sedang melamun mendadak menangkap sebuah perubahan atmosfer yang drastis di sekeliling tempat tidurnya.
Udara di sekitar ranjang merambatnya terasa memadat dan memanas secara tidak wajar. Suara gemertak bara api di tungku batu seolah meredup, digantikan oleh suara tarikan napas berat yang mendekat.
Hera menoleh ke arah samping kanan, dan dalam sekejap, jantungnya langsung berdegup kencang hingga terasa menyumbat tenggorokannya.
Siluet tinggi besar Sulung sudah berdiri tepat di tepi ranjangnya. Di bawah temaram sisa api tungku, pria itu menatapnya dengan sepasang mata elang yang tidak lagi memancarkan pandangan datar yang dingin, melainkan berkilat dengan intensitas gairah primitif yang sangat pekat, gelap, dan berbahaya.
"Sulung? Ada apa?" tanya Hera, suaranya bergetar menahan cemas. Dia mencoba menegakkan tubuhnya untuk duduk dan menciptakan jarak, namun seluruh egonya mendadak terkunci oleh tatapan berburu pria itu.
Sulung tidak menjawab dengan kata-kata.
Set!
Dengan gerakan taktis yang luar biasa cepat, efisien, dan bertenaga besar, Sulung menyambar kedua pergelangan tangan Hera.
Dia mendorong tubuh wanita kota itu kembali runtuh telentang di atas kasur tanaman merambat. Dalam satu fraksi detik berikutnya, Sulung mengunci pergerakan kedua tangan Hera di atas kepalanya dengan hanya menggunakan satu cengkeraman tangan kirinya yang sekeras jepitan besi panas.
Tubuh tegap Sulung yang besar, tegap, dan berat langsung merunduk menindih di atas tubuh Hera, mengeliminasi seluruh sisa ruang gerak wanita itu secara mutlak dari atas ranjang.
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku, Sulung!" jerit Hera panik. Wajahnya memerah padam karena amarah yang bercampur dengan rasa syok yang luar biasa.
Watak keras kepalanya meledak menjadi pemberontakan fisik yang liar di bawah kungkungan tubuh Sulung.
Hera menggeliatkan ping-gulnya dengan kasar, mencoba mengangkat lututnya untuk menendang, dan meronta sekuat tenaga demi melepaskan pergelangan tangannya dari jepitan tangan kiri pria itu.
Namun, kekuatan fisik sang Panglima rimba berada di level yang sepenuhnya berbeda.
Himpitan dada bidang Sulung terasa seperti bongkahan batu besar dari tebing purba yang mengubur seluruh kekuatannya hidup-hidup. Seluruh usaha defensif Hera terasa mentah dan sia-sia belaka.
Sulung mendekatkan wajahnya lebih rapat. Embusan napasnya yang panas dan memburu menghantam langsung permukaan kulit pipi dan leher Hera, mengirimkan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus menakutkan. Sepasang mata elang pria itu mengunci manik mata Hera dari jarak yang hanya terpaut beberapa sentimeter, memancarkan gelombang dominasi yang sangat pejal dan menuntut kepatuhan mutlak.
"Kau berada di wilayahku," bisik Sulung, suaranya terdengar sangat rendah, kering, dan serak oleh hasrat primitif yang telah lama tertahan di dalam dadanya.
"Aromamu menantang seluruh hukum hutan ini."
"Aku tidak menantang hukum apa pun! Lepaskan tanganku! Tindakanmu ini benar-benar keterlaluan—"
Kalimat protes cempreng Hera terputus total dalam satu gerakan secepat kilat berikutnya.
Sulung merundukkan kepalanya lebih dalam, lalu menautkan bibirnya di atas bibir Hera dengan satu gerakan yang sangat brutal, intens, dan memburu.
Itu bukanlah sebuah ciuman lembut penuh rayuan manis dunia kota yang sopan dan teratur, melainkan sebuah klaim teritorial yang murni, kasar, dan tak terkendali dari seorang penguasa rimba yang sedang menandai mahluk asing di wilayahnya.
Hera terbelalak sempurna, manik matanya membelalak lebar dalam rasa syok dan tidak percaya yang luar biasa besar. Sentuhan fisik yang begitu mendadak, pekat, dan intim itu terasa seperti sengatan aliran listrik statis berkekuatan tinggi yang langsung menjalar menembus seluruh urat saraf di sekujur tubuhnya.
Bibir Sulung terasa sangat panas, menekan bibirnya dengan tuntutan mutlak yang menolak segala bentuk negosiasi atau penolakan dari sang ilmuwan.
Hera mencoba mengatupkan giginya dan menggigit bibir Sulung demi bisa melepaskan diri dari siksaan manis itu. Namun, insting Sulung jauh lebih cerdas. Cengkeraman tangan kirinya pada pergelangan tangan Hera justru semakin mengetat tanpa ampun, sementara tangan kanan Sulung yang bebas bergerak naik dengan cepat, mencengkeram rahang Hera dengan cengkeraman jari yang kuat dan mantap.
Pria itu mengunci posisi kepala Hera secara mutlak agar tidak bisa bergerak menghindar ke kiri maupun ke kanan. Ciuman itu bertransformasi menjadi semakin panas, dalam, dan memburu, merebut setiap sisa pasokan oksigen yang ada di dalam rongga dada Hera.
Detik demi detik berlalu di bawah cengkeraman malam Alas Purba yang pekat. Di tengah kepanikan, ketakutan, dan amarahnya yang membakar dada, sebuah sensasi aneh yang menakutkan mendadak mulai merayap naik di dalam diri Hera Grahansa.
Aroma maskulin kayu gaharu yang pekat dan bersih dari tubuh Sulung, kehangatan kulit dada pria itu yang menempel lekat menembus kain jaket gunungnya, serta intensitas ciuman yang begitu mendominasi perlahan-lahan mulai mengaburkan isi kepalanya yang biasa dipenuhi rumus dan logika.
Seluruh dinding logika modern dan benteng pertahanan diri yang selama puluhan tahun dibangun oleh sang profesor muda di dunia luar seolah-olah diguncang gempa dahsyat hingga runtuh berkeping-keping tanpa sisa di atas ranjang merambat ini.
Otaknya mendadak lumpuh total, kehilangan kemampuan untuk menganalisis situasi pelarian secara rasional.
Rontaan fisiknya yang semula liar perlahan-lahan mulai mengendur dan melemah tanpa ia sadari sendiri. Jantungnya berdentum berkali-kali lipat lebih liar, berkejaran dengan ritme napas Sulung yang kian memburu dan memanas di atas bibirnya yang mulai pasrah.
Hasrat primitif dari kedalaman Alas Purba malam itu telah berhasil menjebak kesadaran sang ilmuwan kota ke dalam sebuah pusaran dimensi kei-ntiman yang tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh jurnal sains mana pun di dunianya.
Jangan lupa komen .