NovelToon NovelToon
Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:68k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.

Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.

Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

“Tidak mungkin!” Tuan Sadam Conti langsung berdiri dari sofa begitu mendengar penjelasan Marco. Wajahnya berubah tegang, seolah-olah ia baru saja mendengar tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal.

“Amerda tidak mungkin melakukan hal seperti itu!” tegasnya. “Kalian pasti salah orang!”

Marco tetap berdiri dengan sikap tenang. Ia sudah menduga bahwa Tuan Sadam akan memberikan reaksi seperti itu, terlebih ketika nama putri kesayangannya disebut-sebut dalam kasus kematian Veronika.

“Tuan, saya hanya menyampaikan fakta yang kami temukan di lokasi kejadian. Anting tersebut telah kami identifikasi sebagai milik Nona Amerda,” jawab Marco. “Namun, penyelidikan masih berlangsung. Tuan Adam ingin mendengar penjelasan langsung darinya.”

“Lalu apa maksudmu datang ke rumahku dan menuduh putriku sebagai pembunuh?” bentak Sadam.

“Saya tidak menuduh siapa pun, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Adam.”

Sadam menggeleng keras. Ia sama sekali tidak bisa menerima kemungkinan bahwa Amerda terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa calon istri Adam Lorenzo Maxnore. Baginya, Amerda adalah putri yang telah menyelamatkan kehormatan keluarga mereka.

“Coba pikirkan baik-baik!” serunya, menatap Marco dengan sorot mata tajam. “Saat Gia menghilang pada hari pernikahannya sendiri, siapa yang menyelamatkan keluarga kami dari rasa malu? Amerda! Dialah yang bersedia menggantikan Gia dan menikah dengan Ricardo Dominic. Berkat dia, hubungan kedua keluarga tetap terjaga. Sekarang, keluarga Ricardo telah menerimanya sebagai menantu mereka!”

Sadam menunjuk ke arah pintu seolah-olah Marco bisa menemukan jawaban di luar sana.

“Amerda sekarang adalah istri Ricardo Dominic! Dia sudah menjadi bagian dari keluarga terhormat itu. Untuk apa dia melakukan kejahatan seperti ini? Apa keuntungan yang akan dia dapatkan dengan membunuh seseorang?”

Marco tidak segera menjawab. Dia memahami bahwa Tuan Sadam sedang berusaha mempertahankan keyakinannya sendiri. Namun, bagi Adam, kedudukan seseorang tidak akan menghapus kemungkinan keterlibatannya dalam sebuah kejahatan.

“Saya mengerti apa yang Tuan maksud,” kata Marco akhirnya. “Tetapi, kedudukan seseorang tidak dapat dijadikan bukti bahwa dia tidak bersalah. Kami hanya ingin Nona Amerda datang dan memberikan penjelasan.”

“Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian menyeret putriku begitu saja hanya karena sebuah anting!” Sadam membalas dengan nada tinggi. “Pasti ada sesuatu yang salah. Bisa saja anting itu terjatuh sebelumnya, atau seseorang sengaja meninggalkannya di sana untuk menjebak Amerda!”

Maudi yang sejak tadi duduk dengan wajah pucat mulai meremas jemarinya sendiri. Ia pun tidak ingin percaya bahwa Amerda terlibat dalam kematian Veronika. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Marco datang atas perintah Adam Lorenzo Maxnore. Jika Adam sudah mulai menyelidiki seseorang, bukan hal mudah untuk menghentikannya.

“Kalau begitu, Tuan sebaiknya meminta Amerda pulang dan menjelaskan semuanya,” ujar Marco.

Sadam terdiam sesaat.

“Dia mungkin sedang bersama suaminya,” jawab Sadam, berusaha terdengar yakin. “Kau tidak bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk mencurigainya.”

Marco mengangguk tipis.

“Baik, Tuan. Saya sudah menyampaikan maksud kedatangan saya. Saya berharap Nona Amerda segera menghubungi kami. Tuan Adam tidak akan menunggu terlalu lama.”

Setelah mengatakan itu, Marco berbalik dan berjalan menuju pintu bersama kedua anak buahnya. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, Sadam kembali memanggilnya.

“Marco!”

Marco berhenti dan menoleh.

“Kalau memang kalian sedang mencari orang yang bertanggung jawab atas kematian Veronika, apa kalian sudah memeriksa kemungkinan lain?” tanya Sadam. “Jangan sampai kalian salah menuduh seseorang hanya karena barang miliknya ditemukan di tempat kejadian.”

“Kami sedang memeriksa semua kemungkinan, Tuan,” jawab Marco. “Karena itulah kami membutuhkan keterangan Nona Amerda.”

Marco kemudian melanjutkan langkahnya hingga menghilang di balik pintu utama. Begitu suara mobil yang membawanya pergi terdengar semakin jauh, Sadam kembali duduk dengan wajah muram. Ia mengusap rahangnya, mencoba menyusun berbagai kemungkinan yang kini memenuhi kepalanya.

Maudi menatap suaminya dengan gelisah.

“Mas, bagaimana kalau ternyata Amerda benar-benar terlibat?” tanyanya pelan.

Sadam langsung mengangkat kepala, “Jangan bicara sembarangan!”

“Aku hanya bertanya.”

“Amerda tidak mungkin melakukan itu!” bentak Sadam. “Aku mengenal anakku sendiri!”

Maudi terdiam, dia ingin percaya kepada Amerda, tetapi sikap suaminya yang begitu keras membuat kecemasannya semakin bertambah.

Sadam bangkit dari sofa dan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia teringat kembali pada hari pernikahan Gia dan Ricardo, hari ketika keluarga mereka mendadak dilanda kekacauan karena Gia menghilang tanpa kabar. Lalu, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benaknya.

Sadam berhenti melangkah, “Sebentar....”

Maudi menoleh, “Ada apa, Mas?”

Sadam perlahan mengangkat wajahnya. Sorot matanya berubah, seolah-olah ia baru saja menemukan kemungkinan lain yang selama ini tidak terpikirkan olehnya.

“Bagaimana kalau bukan Amerda yang melakukannya?”

Maudi mengernyit. “Maksudmu?”

Sadam menatap istrinya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu yang tadi dilewati Marco.

“Bagaimana kalau sebenarnya Gia yang menyebabkan kecelakaan itu?”

Mata Maudi langsung membesar, “Apa?”

“Pikirkanlah!” Sadam mulai berbicara dengan nada penuh kecurigaan. “Gia menghilang tepat pada hari pernikahannya. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Sekarang, orang-orang Tuan Adam datang mencari Amerda karena sebuah anting ditemukan di lokasi kecelakaan. Bukankah mungkin Gia yang melakukannya, kemudian dia melarikan diri agar tidak bertanggung jawab?”

“Mas!” Maudi langsung berdiri dari sofa.

Sadam tidak memedulikannya. Ia justru semakin larut dalam pemikirannya sendiri.

“Selama ini kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gia. Dia menghilang begitu saja, meninggalkan keluarga dan mempermalukan kita di hadapan keluarga Dominic. Bagaimana kalau sejak awal dia memang memiliki masalah dengan Nona Veronika? Atau mungkin dia panik setelah kecelakaan itu dan memilih melarikan diri?”

“Cukup, Mas!” Suara Maudi menggema di ruang tamu.

Sadam terdiam dan menoleh kepadanya. Maudi menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Sadam bisa dengan mudah melontarkan tuduhan sekejam itu kepada putri kandung mereka sendiri.

“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu tentang Gia?” serunya dengan suara bergetar. “Dia memang menghilang pada hari pernikahannya, tetapi apakah itu berarti dia seorang pembunuh? Apa kamu punya bukti bahwa Gia yang menyebabkan kecelakaan itu?”

Sadam mengatupkan rahangnya, “Aku hanya mengatakan kemungkinan!”

“Lalu mengapa kamu begitu cepat mencurigai Gia, sementara kamu mati-matian membela Amerda?” Pertanyaan itu membuat Sadam terdiam.

Maudi mengusap air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.

“Amerda memang anak kita juga. Aku menyayanginya sebagaimana aku menyayangi Gia. Tetapi, Gia adalah anak kandungmu, Mas! Anak yang lahir dari rahimku. Dia sudah menghilang dan entah bagaimana keadaannya sekarang, tetapi kamu justru menambah penderitaannya dengan menuduhnya melakukan kejahatan yang bahkan belum terbukti!”

“Aku tidak pernah mengatakan dia pasti bersalah!” bantah Sadam.

“Tapi kamu sudah mencurigainya sebelum mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi!” Maudi menggeleng dengan kecewa.

“Ketika Gia menghilang, kamu langsung mengatakan bahwa dia bukan lagi anakmu. Sekarang, saat Amerda dicurigai, kamu mencari segala macam alasan untuk membelanya. Apa kamu tidak pernah berpikir bahwa mungkin saja ada sesuatu yang tidak kita ketahui tentang kejadian hari itu?”

Wajah Sadam mengeras. Ia tidak menyukai perkataan istrinya, terlebih karena sebagian dari ucapan itu menyentuh sesuatu yang selama ini enggan ia akui.

Sejak Gia menghilang, ia memang memilih menganggap putrinya sebagai anak yang telah mempermalukan keluarga. Ia begitu marah sampai tidak pernah benar-benar berusaha memahami alasan di balik kepergian Gia.

Sementara itu, Amerda selalu berada di sisinya. Gadis itu menenangkan keluarga mereka, bersedia menikahi Ricardo, dan membantu menjaga hubungan kedua keluarga. Bagi Sadam, semua itu merupakan bukti bahwa Amerda adalah anak yang baik.

"Kau akan tau kebenarannya, Tuan Adam tidak akan berhenti begitu saja, tetapi sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Amerda terseret dalam tuduhan itu!" kata Sadam tegas dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Maudi sendiri di ruang tamu.

"Mas, kamu tega banget mengatakan hal itu pada putrimu sendiri," gumam Maudi mengusap dadanya sendiri.

1
Rahayu Ayu
Tumben nih Kak Author ,bikin cerita mafia nya ada kek gininya🙏
nyonya
nico cepat lari ke adam,dia meski dingin² baik loh🤣
Septi Wijaya
boootie kah?
apa memang sedang jamannya? bootiie makin ada dimana-mana,
Anonim
Dasar Sadam jelas terlihat amerta anak nya
Anonim
Wah -wah-wah ada seduatu ya pak Sadam tentang siapa Amerta sebenarnya
kelihatan banget lo pak berst sebelahnya
Anonim
Gara-gara ucapanmu Pak Sadam Gia mau bunuh diri
orangtua yg tidak bijak
Anonim
Telat ......telat Gia sudah sakit dan hancur
Anonim
Duka lara Gia karena kakak yang jahat
Anonim
Mati sajalah Gia untuk apa kau hidup
hanya jadi ajang baas dendam yang salah
Anonim
Pembohang iri hati dan dengki Amerda semiga jarma segera berkaku untukmu
Asriani Rini
Enggak demudah itu kamu menghancurkan adam liat aja semuanya akan berbalik sama kamu sagara
Anonim
Bunuh diri sajakah Gia
daripada kau disiksa
Anonim
Mafia yang hanya nama saja
baru ini nemu mafia yang mlempem
Desy Nchie
maksd nya terong sama terong gtu whattt
Desy Nchie
maksd nya terong sama terong gtu whattt
Anonim
mafia yang bukan mafia ini
mafia kok hanya ngedepankan emosi
mewek untukmu Gia
Anonim
Mafia ......mengapa gak duselidiki dulu bos
siapa yang nyetir mobil yang nabrak calon mempelaimu
Kasian Gia teroenjara dalam derita
Mineaa
astaga naga..... boleh suuzon ga siiii.,........
merinding akuuuhhhh....,
Aisyah Alfatih: 🤣🤣🤣 suuzon dosa Lo kak 😭🤣🤣
total 1 replies
neni nuraeni
waduhhh😯😯😯
Al Fatih
hiiiiiii....,, maksudnya Sagara dan Nico itu ad "sesuatu" dan sekarang Nico sama mike.....😱😱😱😱
Aisyah Alfatih: ada something 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!