NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 (KASUS 1) LAPORAN KASUS DAN DISKUSI

Matahari pagi bergerak memanjat langit timur, menyiramkan pendaran cahaya hangat menembus deretan jendela kaca Gedung Laboratorium Forensik Dokpol Bhayangkara. Suara ketukan tombol mesin tik digital dan pendaran lampu baca di atas meja kerja berkilat memenuhi ruangan kantor dr. Haruma yang bernuansa serba putih dan steril.

Pukul 08.00 WIB. Jarum jam dinding berdetik teratur.

Di atas meja kerja berbahan kayu jati milik Haruma, tersusun dua tumpukan map tebal. Map pertama berlabel VISUM ET REPERTUM NO. 104 (JONATHAN NASUTION), sedangkan map kedua berlabel DRAF VISUM ET REPERTUM NO. 105 (KI SUROTO).

dr. Haruma duduk tegap dengan mantel laboratorium putih berstempel basah kepolisian yang terpasang rapi. Jemari tangannya yang lentik memegang pena hitam khusus, membubuhkan catatan patologi anatomi pada lembar analisis mikroskopis jaringan organ Ki Suroto.

Di seberang meja, Bripda Bowo berdiri membungkuk seraya memegang beberapa lembar kertas hasil uji laboratorium toksikologi yang baru saja keluar dari mesin pencetak.

"Dokter Haruma," panggil Bowo penuh rasa hormat. "Hasil uji sampel spesimen toksikologi dan histopatologi jaringan organ Ki Suroto dari laboratorium pusat sudah keluar seluruhnya, Dok."

Haruma menengadah, mengusap pelipisnya pelan seraya tersenyum ramah. "Terima kasih, Bowo. Bagaimana hasil akhir pembacaan sampel kimia darah dan cairannya?"

Bowo menyerahkan lembaran berkas tersebut ke tangan Haruma.

"Tidak ditemukan adanya jejak bahan racun kimia sintetis, pestisida, atau senyawa arsenik pada spesimen darah korban, Dok," papar Bowo dengan analisis medis yang presisi. "Namun, hasil uji mikroskopis pada jaringan parenkim jantung dan hepar menunjukkan adanya nekrosis seluler sistemik ekstrem yang tidak cocok dengan usia biologis korban. Kerusakan selnya mencapai 92%."

Haruma menerima lembaran tersebut, meneliti grafik linier destruksi sel dengan ketelitian dokter spesialis forensik senior.

"Sesuai dengan hipotesis awal kita," tutur Haruma jernih. "Penyebab kematian Ki Suroto bukan disebabkan oleh racun kimia luar, melainkan kegagalan fungsi organ multipel akibat destruksi seluler mendadak (acute systemic organ failure) yang dipicu oleh trauma non-mekanis internal. Pola destruksinya identik 100% dengan pola kematian Jonathan Nasution."

Haruma menarik draf Visum et Repertum Nomor 105 ke tengah meja, lalu mulai membacakan poin-poin kesimpulan resmi untuk dicatat oleh Bowo.

"Bowo, tolong ketikkan kesimpulan akhir Visum et Repertum Nomor 105," instruksi Haruma tegas dan profesional. "Point pertama: Jenazah atas nama Ki Suroto, laki-laki, 52 tahun. Point kedua: Ditemukan atrofi dan nekrosis masif pada seluruh organ dalam vital (jantung, paru-paru, hati, dan ginjal) dengan tingkat pengkerutan jaringan mencapai stadium empat. Point ketiga: Kematian disebabkan oleh henti jantung dan gagal napas akibat pemusnahan jaringan seluler secara simultan."

"Siap, Dokter Haruma! Sudah saya ketikkan seluruh poinnya," sahut Bowo lincah menekan tombol kibor komputer.

Haruma membubuhkan tanda tangan resminya di atas meterai sepuluh ribu pada lembar terakhir Visum et Repertum Nomor 105, lalu menyatukan berkas tersebut dengan stempel basah resmi Kedokteran Forensik Dokpol Bhayangkara.

KLAK!

"Alhamdulillah... akhirnya laporan visum kedua ini selesai dengan sempurna," ucap Haruma lega seraya merapikan jilbab dan jas laboratoriumnya. "Bowo, tolong gandakan laporan visum ini menjadi tiga rangkap. Satu rangkap untuk arsip laboratorium, satu untuk Komandan Kombes Supriyadi, dan satu rangkap lagi tolong serahkan langsung ke meja Ipda Harumi di Satreskrim."

"Siap, Dokter Haruma! Segera dilaksanakan!" jawab Bowo penuh kedisiplinan seraya menerima dokumen tersebut dan melangkah keluar ruangan.

.....

.....

Pada saat yang bersamaan di lantai 2 Gedung Satuan Reserse Kriminal, suasana di ruang kerja Unit Jatanras tampak sangat sibuk. Tumpukan barang bukti hasil penggerebekan di Padepokan Sirah Lazuardi terhampar tertata rapi di atas meja panjang identifikasi.

Dua pucuk senjata api rakitan jenis revolver dan FN, puluhan butir amunisi kaliber sembilan milimeter, tiga unit komputer jinjing (laptop), brankas besi kecil berisi buku catatan transaksi keuangan, serta serpihan cincin akik hitam milik Ki Suroto telah diberi label nomor registrasi barang bukti kepolisian.

Ipda Harumi berdiri tegap di depan papan tulis putih berukuran besar. Tangannya memegang spidol hitam, menghubungkan garis-garis koordinat dari foto Padepokan Sirah Lazuardi menuju foto Budiarto, almarhum Jonathan Nasution, dan almarhumah Frida Valery.

Di sekeliling meja kerja, Aipda Rudi dan Bripda Aris tampak serius mengetik Laporan Hasil Operasi Penindakan dan Penggerebekan.

"Bu Kanit," panggil Aipda Rudi berdiri melapor seraya membawa draf laporan setebal 40 halaman. "Laporan resmi hasil penggerebekan di Perkebunan Teh Sirah Lazuardi sudah selesai kami susun penuh."

Harumi memutar tubuhnya, menatap Rudi dengan intonasi komando perwira yang disiplin. "Bagaimana perincian inventarisasi barang bukti dan daftar tersangka yang diamankan, Rudi?"

"Seluruhnya sudah tercatat rinci, Bu," jawab Rudi profesional. "Tersangka utama Ki Suroto dinyatakan tewas di tempat saat pemeriksaan akibat serangan medis mendadak. Tiga pengawal padepokan yang tersisa saat ini sudah resmi ditahan di sel isolasi Bareskrim dengan pasal berlapis: kepemilikan senjata api ilegal, perintangan penyidikan, dan keterlibatan dalam organisasi kejahatan terselubung."

Harumi mengangguk-angguk paham. "Bagaimana dengan analisis berkas fisik dan data digital yang kita sita dari brankas Ki Suroto, Aris?"

Bripda Aris menaikkan kacamata minusnya, lalu menunjuk layar monitor komputer siber di sebelahnya.

"Hasil ekstrak data dari flashdisk terenkripsi milik Ki Suroto sangat mengejutkan, Bu Kanit," papar Aris. "Di sana tercatat aliran dana masuk secara berkala sebesar 5 miliar rupiah setiap bulannya. Dana itu ditransfer langsung dari 5 rekening perusahaan cangkang yang berbeda. Dan yang paling krusial... kami menemukan buku manifes tamu rahasia padepokan periode 2 tahun terakhir!"

Harumi melangkah mendekati meja Aris dengan pandangan mata berkilat tajam. "Manifes tamu rahasia? Siapa saja nama-nama yang terdaftar di sana, Aris?"

"Tamu-tamu yang datang ke padepokan Ki Suroto bukan orang sembarangan, Bu," terang Aris cermat. "Selain direksi PT. Cipta Buana Investco dan Budiarto, ada belasan nama pengusaha kelas atas. Namun yang membuat kami heran... di halaman paling belakang buku manifes itu, ada beberapa kode inisial khusus bertanda bintang merah yang sama sekali tidak mencantumkan nama terang atau nomor identitas resmi!"

Aipda Rudi menyahut seraya menunjukkan salinan lembar manifes tersebut. "Betul, Bu Kanit. Kode inisialnya cuma tertulis 'Bintang Utama-01' dan 'Pelindung Agung'. Dan setiap kali kode inisial ini dicatat datang berkunjung ke padepokan pada malam-malam tertentu, seluruh area Perkebunan Teh Sirah Lazuardi harus dikosongkan total dari penjaga lokal!"

Harumi memegang lembaran salinan manifes tersebut, matanya memicing menatap tulisan 'Pelindung Agung'.

Seketika itu juga...

Insting kepolisian dan getaran Mata Batin Murni Ipda Harumi berdesir hebat. Pendaran hawa dingin yang teramat sangat asing merayap pelan di tengkuknya.

Harumi menyatukan draf Laporan Hasil Operasi Penggerebekan tersebut di dalam stopmap tebal berlabel BERKAS KASUS 1 - RAHASIA TINGKAT TINGGI.

"Rudi, Aris... kerja kalian sangat luar biasa," puji Harumi dengan nada berbobot. "Cetak 3 rangkap laporan ini. Satu untuk arsip kita, satu untuk Komandan Kasat, dan satu rangkap lagi akan saya bawa langsung."

"Siap, Bu Kanit!" sahut Rudi dan Aris serempak seraya memberi hormat tegap.

.....

.....

Pukul 10.30 WIB.

Matahari pagi mulai merambat naik, memancarkan sinar hangat yang menembus rindangnya dedaunan pohon beringin tua di pekarangan tengah markas Polres.

Udara segar berhembus sepoi-sepoi menyejukkan area Kantin Terbuka Polres—sebuah kompleks gazebo kayu beratap genteng terakota yang menjadi tempat favorit para personel untuk beristirahat sejenak dari himpitan tugas.

Ipda Harumi melangkah keluar dari koridor Satreskrim, merogoh ponsel pintarnya dari saku kemeja dinas. Jemari tangannya yang lincah mendial nomor telepon kakak sulungnya.

Hanya dalam dua kali nada dering, suara jernih dr. Haruma menyahut dari balik telepon.

"Halo, Rumi..." sapa Haruma hangat.

Harumi menyunggingkan senyuman manisnya, mengosongkan intonasi kaku perwira dan menggantinya dengan bahasa sehari-hari yang renyah khas adik kandung.

"Halo, Kak Haruma! Lagi sibuk nggak di lab?" panggil Harumi riang.

"Nggak kok, Dek. Kakak baru aja selesai menandatangani lembar terakhir Visum Ki Suroto. Laporannya sudah diserahkan ke Bowo buat digandakan. Kenapa, Dek?"

"Aduh, pas banget!" seru Harumi senang. "Kak... ngopi atau minum teh yuk di kantin terbuka? Pusing banget nih kepala Rumi ngeliat tumpukan berkas dari tadi pagi. Mumpung udaranya lagi sejuk banget nih di luar."

Dari balik telepon, dr. Haruma terkekeh pelan. "Boleh banget, Dek. Kakak juga butuh udara segar nih setelah seharian di dalam ruang isolasi otopsi. Kakak nyusul ke kantin terbuka sekarang ya?"

"Sip! Rumi tunggu di gazebo sudut nomor 3 dekat pohon beringin ya, Kak!"

"Siap, Adikku sayang. Dahhh!"

"Dahhh Kakak!"

Harumi mematikan sambungan teleponnya, lalu berjalan santai menuju gazebo kayu nomor tiga yang sepi dan berada di pojok pekarangan terbuka.

Lokasi itu sangat ideal—terbuka dan sejuk, namun cukup berjarak dari lalu lalang personel lain sehingga sangat aman untuk membicarakan rahasia kasus tanpa perlu khawatir terdengar oleh pihak luar.

Seorang ibu penjaga kantin mendekati gazebo. "Eh, Bu Kanit Harumi! Mau pesan apa hari ini, Bu?"

Harumi tersenyum ramah pada penjaga kantin. "Bu Siti... tolong racikkan teh chamomile hangat satu cangkir buat Kak Haruma, terus teh manis dingin satu gelas besar buat saya ya. Sama minta tolong gorengkan pisang goreng keju renyah satu piring hangat, Bu."

"Siap, Bu Kanit! Segera diracikkan!" sahut Bu Siti ramah sebelum kembali ke kedai kantin.

Tidak sampai 5 menit kemudian, dr. Haruma melangkah anggun menyeberangi pekarangan rumput hijau kantin terbuka. Dokter forensik cantik itu mengenakan blouse bernuansa biru muda yang dipadu celana kain hitam dan jilbab senada, tampak sangat segar usai melepas mantel laboratoriumnya.

"Assalamu'alaikum, Adikku yang paling rajin," sapa Haruma tersenyum manis seraya melangkah masuk ke dalam gazebo kayu.

"Wa'alaikumussalam! Kak Haruma!" jawab Harumi riang, berdiri dan memeluk hangat kakaknya. "Duduk, Kak, duduk! Rumi udah pesenin teh chamomile hangat kesukaan Kakak nih!"

Haruma duduk berhadapan dengan Harumi di atas kursi kayu jati gazebo. Udara sejuk pegunungan berhembus lembut menggoyangkan ujung jilbab mereka.

Bu Siti datang menyajikan cangkir teh chamomile hangat, segelas teh manis dingin yang berembun, dan sepiring pisang goreng keju yang masih mengepulkan uap hangat.

"Silakan, Dokter... Bu Kanit," pamit Bu Siti ramah.

"Terima kasih banyak ya, Bu Siti," balas Haruma tersenyum manis.

Haruma menjangkau cangkir seramiknya, menyesap teh chamomile hangat tersebut perlahan. Rasa hangat dan aroma bunga chamomile seketika membasuh kelelahan di dadanya.

"Ahhh... segar banget udaranya di sini, Dek," puji Haruma tertawa renyah. "Gimana? Berkas laporan penggerebekanmu sudah beres seluruhnya?"

Harumi meminum teh manis dinginnya menggunakan sedotan, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu seraya mendesah lega.

"Alhamdulillah beres seratus persen, Kak," jawab Harumi renyah khas obrolan berdua. "Laporan penggerebekan, inventaris barang bukti senjata api, sampai berkas penahanan 3 pengawal Ki Suroto udah Rumi rampungin bareng Rudi sama Aris."

Harumi mengambil sepotong pisang goreng keju, mengunyahnya dengan nikmat. "Visum Ki Suroto dari Kakak gimana? Sudah siap diserahin ke Komandan?"

Haruma mengangguk tegar, meletakkan cangkir tehnya di atas meja. "Sudah siap seribu persen, Dek. Laporan Visum Nomor 105 sudah resmi Kakak sahkan. Dan hasilnya benar-benar makin mengukuhkan bukti sains forensik kita."

Haruma menatap mata adiknya dengan raut wajah amat serius namun penuh kelembutan.

"Rumi... dari hasil uji laboratorium histopatologi organ Ki Suroto tadi," terang Haruma jernih, "Kakak menemukan fakta sains kalau kerusakan organ akibat sihir pencuri usia itu sifatnya 100% konsisten dan tidak bisa direkayasa. Ki Suroto tewas dengan kerusakan organ stadium akhir yang persis sama dengan Jonathan Nasution."

Harumi meletakkan sisa pisang gorengnya, condong ke depan menatap kakaknya dengan mata membulat.

"Berarti emang nggak ada keraguan lagi ya, Kak?" reka Harumi. "Bahwa sihir yang menewaskan Jonathan Nasution di penthouse, yang membunuh Frida Valery di ruang rapat, dan yang membungkam Ki Suroto di ruang interogasi kemarin... semuanya berasal dari SATU SUMBER ilmu hitam yang sama?!"

"100% berasal dari satu sumber ilmu hitam yang sama, Dek," tegas Haruma mantap. "Pola destruksi selnya identik. Bedanya cuma satu: Ki Suroto tewas karena racun sihir yang dia tanam di tubuhnya sendiri mendadak membalik membakar organnya begitu dia mau buka suara."

Harumi menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Tatapan mata polwan Jatanras itu mendadak berubah menjadi sangat dalam, menerawang ke arah pepohonan beringin di pekarangan.

"Kak Haruma..." panggil Harumi dengan suara pelan yang berbobot.

Haruma mengerutkan keningnya pelan. "Iya, Dek? Kenapa?"

"Ada sesuatu yang dari tadi pagi mengganjal banget di pikiran dan perasaan batin Rumi, Kak," tutur Harumi jujur. "Semalam setelah Ki Suroto tewas membusuk di ruang interogasi, Rumi bareng tim siber kan ngebongkar seluruh isi brankas dan flashdisk terenkripsi yang kita sita dari padepokannya..."

"Terus kamu nemuin apa di dalam brankas itu, Dek?" tanya Haruma penasaran.

Harumi memajukan posisinya, menopang kedua tangannya di atas meja, berbicara dengan intonasi serius khusus untuk kakaknya.

"Di dalam brankas itu, kita nemuin buku manifes tamu rahasia Padepokan Sirah Lazuardi selama 2 tahun terakhir, Kak," ungkap Harumi membocorkan temuan kuncinya. "Di sana ada puluhan nama pengusaha elit, direksi PT. Cipta Buana Investco, sampai pengacara Budiarto. Tapi... ada satu kejanggalan gila yang bikin bulu kuduk Rumi berdiri!"

Haruma menatap adiknya lurus-lurus. "Kejanggalan apa, Rumi?"

"Di halaman paling belakang buku manifes itu, ada beberapa tanggal kunjungan rahasia yang cuma ditulis pakai kode inisial bertanda bintang merah," pangkas Harumi tajam. "Tulisannya cuma: 'Bintang Utama-01' dan 'Pelindung Agung'. Dan setiap kali kode inisial itu datang berkunjung ke padepokan pada malam-malam tertentu... seluruh area Perkebunan Teh Sirah Lazuardi yang seluas puluhan hektar itu harus DIKOSONGKAN TOTAL dari penjaga lokal dan polisi pamong praja!"

Deg!

dr. Haruma yang mendengarkan hal itu seketika tertegun. Saraf batin sang dokter forensik berdesir pelan mencerna informasi berbobot dari adiknya.

"Dikondisikan penuh oleh otoritas wilayah...?" gumam Haruma menerka.

"Tepat sekali, Kak!" seru Harumi dengan mata berkilat-kilat. "Coba deh Kak Haruma pikirkan pakai logika hukum dan analisis intelijen kita..."

Harumi mulai memaparkan rantai kejanggalan tersebut satu per satu dengan ketajaman analisis seorang Kanit Jatanras kasta tertinggi.

"Kejanggalan pertama," pangkas Harumi menunjuk jari telunjuknya. "Padepokan Sirah Lazuardi itu berdiri megah di atas lahan milik Perkebunan Teh Negara seluas puluhan hektar. Bagaimana mungkin seorang dukun kaya Ki Suroto bisa menguasai dan membangun sanggar ritual pesugihan di atas tanah negara selama 15 tahun tanpa pernah tersentuh hukum atau digusur oleh dinas kehutanan?!"

Haruma mengangguk-angguk paham, matanya memancarkan kesadaran baru. "Pasti ada pejabat tinggi yang memberi izin penggunaan lahan rahasia itu..."

"Betul banget, Kak!" lanjut Harumi menunjuk jari keduanya. "Kejanggalan kedua: transaksi 50 miliar rupiah yang dipindahbukukan dari PT. Cipta Buana Investco ke rekening perusahaan cangkang kemarin... Bagaimana mungkin transaksi sebesar itu bisa lolos dari sistem audit kepatuhan perbankan nasional dan pemantauan intelijen keuangan PPATK tanpa ada bendera merah (red flag) yang memblokirnya?!"

Haruma memegang cangkir tehnya, jari-jarinya meremas pelan porselen keramik tersebut. "Kecuali kalau ada orang dalam berwenang di tingkat otoritas keuangan yang sengaja mematikan radar pemantauan transaksi tersebut..."

"TEPAT, KAK!" seru Harumi menepuk mejanya pelan. "Dan kejanggalan ketiga yang paling mengerikan..."

Harumi membungkukkan tubuhnya lebih dekat ke arah Haruma, suara renyahnya berubah menjadi bisikan dingin yang sarat akan ketegangan mendalam.

"Sektor kejahatan sihir pencuri usia dan konsorsium dana triliunan rupiah ini... NGGAK MUNGKIN cuma digerakkan oleh satu Keluarga Taipan sendirian, Kak!" tegas Harumi.

Haruma menatap adiknya dengan keheranan yang membara. "Maksudmu gimana, Dek?"

"Keluarga Taipan itu memang kaya raya, punya uang triliunan, dan punya akses ke Sekte THE ONE," urai Harumi dengan analisis yang teramat presisi. "Tapi di Republik Indonesia ini, uang sebanyak apa pun milik pengusaha swasta NGGAK AKAN PERNAH BISA membeli imunitas hukum total, mematikan sistem intelijen perbankan, mengosongkan lahan milik negara, dan memerintahkan eksekusi pembunuhan rahasia di dalam markas Polres... KECUALI KALAU..."

Harumi menghentikan ucapannya sejenak, menatap mata kakak sulungnya lurus-lurus.

Di dalam gazebo kayu yang sejuk itu, angin pagi mendadak berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon beringin tua di atas mereka.

Haruma menatap adiknya dengan mata membelalak pelan, menyambungkan muara pemikiran adiknya dengan kearifan jiwanya.

"...Kecuali kalau di atas Keluarga Taipan itu," sambung Haruma dengan suara lembutnya yang bergetar penuh kesadaran mengerikan, "...ada sosok Misteri Sang Backup—seorang Pemimpin atau Pejabat Penting Negara Republik Indonesia yang memberikan perlindungan kekuasaan (political umbrella) tingkat tertinggi bagi Sekte THE ONE?!"

DEG!

Realisasi mengerikan itu meledak bagaikan hantaman petir di dalam sanubari dua bersaudara tersebut!

Harumi mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di atas meja, matanya berkilat-kilat oleh kebenaran raksasa yang baru saja terkuak di balik tabir kasus ini.

"Tepat 1.000%, Kak Haruma...!" bisik Harumi dengan intonasi suara dingin dan tak bergeming. "Dalang utama di balik semua pembunuhan keji ini... ternyata jauh lebih tinggi dan jauh lebih berkuasa dari yang kita bayangkan selama ini!"

Harumi menunjuk peta koordinat mental di pikirannya.

"Keluarga Taipan yang sampai detik ini pun belum diketahui identitas resminya itu... hanyalah pemegang saham dan penyedia dana!" tegas Harumi. "Sedangkan sang perantara sihir seperti Ki Suroto cuma eksekutor lapangan! Tapi di atas puncak piramida kejahatan ini... ada sosok pejabat tinggi negara yang menyalahgunakan kekuasaan dan jabatannya untuk melindungi jaringan iblis pencuri usia ini demi mempertahankan takhta kekuasaannya!"

dr. Haruma menyandarkan tubuhnya di kursi kayu, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan gejolak di dalam dadanya.

Sebagai seorang dokter forensik yang memiliki kepekaan batin tinggi, Haruma bisa merasakan betapa kelam dan pekatnya gurita kejahatan yang sedang mereka hadapi. Musuh mereka bukan sekadar dukun santet di pinggir kampung atau penjahat jalanan biasa, melainkan perpaduan antara kekuatan uang triliunan milik Keluarga Taipan, sihir hitam tingkat tinggi milik Sekte THE ONE, dan benteng imunitas kekuasaan milik Pejabat Negara!

Namun, di tengah bayang-bayang ancaman raksasa tersebut, dr. Haruma tidak sedikit pun merasa gentar.

Haruma mengulurkan tangan kanan anggunnya, memegang jemari tangan Harumi di atas meja dengan hangat dan penuh kasih sayang. Pendaran aura keemasan milik Sekar Arum memancar redup dan menenangkan di balik jiwa Haruma, memberikan kehangatan spiritual yang menguatkan sanubari adiknya.

​"Dek..." panggil Haruma dengan suara lembutnya yang penuh kedamaian dan keteguhan tauhid. "Kakak tahu betapa besarnya musuh yang sedang kita hadapi sekarang. Mereka punya uang, punya sihir, dan punya kekuasaan di negeri ini."

​Harumi menatap mata kakak sulungnya, merasakan aliran kekuatan batin yang begitu sejuk dan luar biasa mengalir dari genggaman tangan Haruma.

​"Tapi ingat pesan Ayah dan Ibu, Rumi..." lanjut Haruma tersenyum tegar dengan kedalaman jiwa seorang kakak. "Sebesar apa pun kekuasaan manusia, setinggi apa pun pangkat pejabat negara, dan sepekat apa pun sihir iblis yang mereka sembah... mereka semua hanyalah makhluk kecil di hadapan Allah SWT. Kebenaran dan keadilan tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kegelapan!"

​Kata-kata dr. Haruma bagaikan embun sejuk yang menyiram membakar dada Ipda Harumi. Rasa ragu dan cemas yang sempat mengintai seketika musnah tak bersisa, berganti dengan keberanian dan tekad baja yang membara tajam.

​Harumi menyunggingkan senyuman manisnya yang paling tegas dan renyah, membalas genggaman tangan kakaknya dengan erat.

​"Makasih banyak ya, Kak Haruma sayang..." ujar Harumi renyah dengan mata berkilat penuh semangat bertempur. "Kata-kata Kakak selalu bikin dada Rumi tenang dan membara lagi."

​Harumi mengepalkan tangan kirinya di udara.

​"Mau seberapa tinggi pun jabatan pejabat negara itu, mau selicin apa pun Keluarga Taipan itu bersembunyi di balik benteng emasnya... Rumi janji nggak bakal mundur selangkah pun!" seru Harumi penuh keyakinan. "Kita bakal bongkar satu per satu benang merahnya. Kita bakal seret semua iblis berjas mahal itu ke hadapan hukum!"

​Haruma terkekeh renyah, memegang kedua pipi adiknya seraya mencubitnya gemas. "Nah! Ini baru Adikku Ipda Harumi yang paling gagah dan cantik!"

​Dua bidadari penegak keadilan itu tertawa bahagia bersama di bawah naungan rindangnya pohon beringin tua di kantin terbuka Polres. Diskusi mendalam di bawah hembusan angin pagi itu telah membukakan mata batin mereka secara sempurna.

​Meski dalang utama di balik Kasus 1 ternyata melibatkan sosok pejabat tinggi negara dan Keluarga Taipan yang misterius, keteguhan batin, keahlian forensik, dan ikatan persaudaraan Haruma dan Harumi semakin tak tergoyahkan.

Mereka siap melangkah menembus badai politik dan sihir, membawa cahaya kebenaran untuk meruntuhkan kekaisaran iblis "THE ONE" hingga ke akar-akarnya di Tanah Jawa.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!