Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dia bersedekap dada dan menatap Siska dengan pandangan kasihan yang dibuat-buat.
"Tante Siska yang kaya raya, daripada Tante sibuk mengurusi bajuku yang seperti lap pel ini."
"Mending Tante urus dulu tas merah KW super harga tiga ratus lima puluh ribu itu," tembak Dewi dengan suara lantang.
Suasana butik yang tadinya sepi mendadak hening.
Beberapa pengunjung lain dan pelayan toko langsung menoleh ke arah mereka.
Wajah Siska seketika berubah pucat pasi, namun dia mencoba menutupi kepanikannya dengan marah.
"A-apa maksudmu?! Ini tas asli dari Paris harganya lima ratus juta!" teriak Siska dengan suara bergetar.
Dewi tertawa keras hingga perutnya terasa sakit.
"Asli dari Paris atau dari pasar malam Tante?"
"Kulit buaya asli tidak akan mengelupas di bagian ujung resletingnya seperti itu. Dan jahitan pinggirnya berantakan sekali," jelas Dewi dengan gaya ala detektif.
Teman Siska yang berambut pirang langsung menatap tas itu dengan tatapan curiga.
"Siska, apa benar tasmu itu palsu? Kau bilang suamimu membelikannya bulan lalu," bisik temannya itu menjauh.
"D-diam kau! Wanita gembel ini cuma asal menebak!" bantah Siska semakin panik.
Siska lalu menoleh ke arah pelayan toko yang sedari tadi menonton pertunjukan itu.
"Pelayan! Panggil manajer kalian sekarang juga! Aku ingin gembel ini diseret keluar dari butik!" perintah Siska semena-mena.
"Baik Nyonya, saya akan memanggil keamanan sekarang juga," jawab pelayan toko itu dengan sigap karena Siska adalah pelanggan tetap mereka.
"Tidak perlu repot-repot memanggil keamanan."
Sebuah suara bariton yang luar biasa dingin dan mengancam mendadak terdengar dari arah pintu masuk.
Suhu di dalam butik itu seolah turun sepuluh derajat celcius detik itu juga.
Raka Mahardika melangkah masuk dengan aura membunuh yang sangat pekat, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Mata elangnya menatap tajam ke arah Siska dan pelayan toko itu secara bergantian.
"R-Raka? K-kau sudah selesai menelpon?" gagap Siska yang langsung salah tingkah melihat ketampanan pria itu.
Raka mengabaikan Siska dan berjalan lurus menghampiri Dewi serta Elvan.
"Papa!" seru Elvan langsung berlari memeluk kaki ayahnya.
Raka mengusap kepala anaknya dengan lembut, lalu menatap Dewi yang masih tersenyum penuh kemenangan.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada yang berteriak ingin menyeret istriku keluar?" tanya Raka dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Deg.
Jantung Dewi seolah melompat dari rongga dadanya mendengar kata istri keluar dari mulut Raka.
Seluruh orang di dalam butik itu, termasuk Siska dan pelayan toko, membelalakkan mata tidak percaya.
"I-istri? Raka, apa kau bercanda? Wanita kampungan ini istrimu?" tanya Siska dengan suara melengking.
Raka menatap Siska dengan pandangan jijik seperti sedang melihat kecoak mati.
"Jaga mulutmu. Siapa yang memberimu hak untuk menghina istri dari pemilik mall ini?" desis Raka tajam.
Siska langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, lututnya tiba-tiba terasa sangat lemas.
Pelayan toko yang tadi merendahkan Dewi kini wajahnya seputih kertas HVS.
"Manajer! Keluar sekarang juga!" teriak Raka dengan suara menggelegar.
Seorang wanita paruh baya berseragam rapi langsung berlari keluar dari ruang belakang dengan napas tersengal-sengal.
"Y-ya Tuan Raka! Ada yang bisa saya bantu?" tanya manajer butik itu sambil membungkuk dalam-dalam.
Raka menunjuk Siska dan temannya dengan dagunya.
"Aku tidak ingin melihat wajah dua badut ini di seluruh area mall milikku mulai detik ini."
"Hubungi pihak keamanan, masukkan nama mereka berdua ke dalam daftar hitam permanen," perintah Raka tanpa belas kasihan.
Siska langsung jatuh terduduk di lantai, menangis memohon ampun pada Raka.
Jika dia di-blacklist dari mall elit ini, gengsi dan reputasinya di kalangan sosialita akan hancur lebur.
"Raka, tolong jangan begini! Aku minta maaf! Aku tidak tahu dia istrimu!" ratap Siska memelas.
"Bawa mereka pergi. Suara mereka membuat telinga anakku sakit," ucap Raka dingin tanpa mempedulikan tangisan itu.
Dua orang satpam bertubuh besar segera masuk dan menyeret Siska serta temannya keluar dari butik dengan paksa.
Pelayan toko yang tadi sombong kini bersujud di depan kaki Dewi.
"Nyonya, mohon ampun! Saya buta karena tidak mengenali Anda! Tolong jangan pecat saya!" tangis pelayan itu.
Raka menatap manajer butik itu dengan tatapan memperingatkan.
"Ganti pelayan tidak berguna ini, atau butik kalian yang akan kuusir dari mall ini besok pagi."
"Baik Tuan! Saya akan langsung memecatnya hari ini juga!" jawab manajer itu ketakutan.
Ding!
[Misi Darurat Selesai!]
[Tuan Rumah berhasil menghancurkan mental sosialita palsu dengan bantuan tak terduga dari Sang Sultan!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +20 dan Kartu Diskon Permanen 99%!]
Dewi hanya bisa bengong melihat Raka membereskan semua kekacauan ini dalam waktu kurang dari lima menit.
Ini yang namanya kuasa orang dalam tingkat dewa, batin Dewi takjub.
Raka menarik tangan Dewi dengan lembut dan membawanya ke bagian gaun-gaun mewah yang dipajang di etalase.
"Pilih mana saja yang kau suka. Beli sebanyak-banyaknya," ucap Raka sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam legam dari dompetnya.
Dewi menelan ludah melihat kartu legendaris yang kabarnya tidak memiliki batas limit itu.
"Bos, kau serius mau membelikan aku baju-baju mahal ini?" tanya Dewi ragu-ragu.
Raka memutar bola matanya, tapi kali ini tidak ada aura dingin di wajahnya.
"Kau adalah ibu dari anakku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu hanya karena pakaianmu."
"Jadi cepat pilih, atau aku yang akan membeli seluruh isi toko ini sekarang juga," ancam Raka dengan gaya otoriternya.
Dewi tersenyum lebar, rasa hangat yang aneh kembali menjalar di dadanya.
Pria kaku ini ternyata punya cara yang sangat unik untuk menunjukkan rasa pedulinya.
"Siap laksanakan Bos! Awas saja kau menangis melihat tagihannya nanti!" seru Dewi riang sambil menggandeng tangan Elvan.
Mereka bertiga mulai memilih baju layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia, mengabaikan tatapan kagum dari para pelayan toko.
Di sudut hatinya, Dewi mulai sadar bahwa sandiwara keluarga palsu ini terasa semakin nyata setiap harinya.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭