NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL18. Cemburu?

Sudah empat hari sejak Ravi pulang dari rumah sakit, dan selama itu pula Qiera menjalankan tugas barunya sebagai pengawas pasien dengan kesungguhan yang nyaris membuat Ravi kehilangan kesabaran.

Setiap pagi, perempuan itu memastikan suaminya sarapan sebelum meminum obat. Setiap siang, ia mengirim pesan untuk menanyakan apakah Ravi sudah makan. Setiap sore, begitu pulang dari kampus, hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa keadaan Ravi sebelum mengganti pakaian atau menceritakan kegiatan hari itu.

Ravi seharusnya merasa beruntung memiliki istri yang begitu perhatian. Masalahnya, perhatian Qiera sering kali datang bersama larangan yang tidak masuk akal.

Seperti pagi itu, ketika Ravi baru saja hendak mengambil sebuah map dari rak ruang tengah, suara Qiera langsung terdengar dari arah dapur.

“Mas! Mau ngapain?”

Ravi berhenti dengan tangan masih terulur. “Mengambil map.”

“Buat apa?”

“Melihat isinya.”

“Isinya apa?”

Ravi menoleh perlahan, menatap istrinya yang muncul dengan spatula di tangan. “Lily, apakah saya sedang menjalani pemeriksaan silang?”

“Kalau Mas terus bertingkah seperti pasien bandel, bisa jadi.”

“Saya hanya ingin mengambil satu map.”

“Kalau begitu, minta aku.”

Ravi memandang rak yang hanya berjarak beberapa langkah darinya, lalu kembali menatap Qiera. “Kamu sedang memasak.”

“Memangnya kenapa? Aku masih bisa mengambil map.”

“Lalu kalau kamu meninggalkan kompor dan masakannya gosong?”

Qiera terdiam. Ia melirik ke arah dapur, kemudian kembali menatap Ravi dengan ekspresi seolah sedang mempertimbangkan argumen yang cukup masuk akal.

Namun, pada akhirnya ia tetap menghampiri suaminya, mengambil map tersebut, lalu menyerahkannya dengan wajah serius.

“Nih. Tapi setelah ini Mas harus duduk lagi.”

Ravi menerima map itu sambil menggeleng. “Baik, Bu Dokter.”

“Jangan menyindir.”

“Saya memuji dedikasi kamu.”

“Mas Ravi!”

Tawa kecil Ravi memenuhi ruang tengah. Ia akhirnya duduk kembali di sofa, sementara Qiera bergegas ke dapur sebelum sarapannya benar-benar gosong. Dalam hati, Ravi mengakui bahwa suasana apartemen menjadi jauh lebih ramai sejak perempuan itu mulai mengatur hampir setiap sudut kehidupannya. Anehnya, ia tidak benar-benar ingin menghentikan kebiasaan tersebut.

Setidaknya, sampai sebuah nama muncul dalam percakapan mereka sore nanti.

...🌇🌇...

Pukul empat sore, Qiera baru saja selesai merapikan beberapa dokumen kuliah ketika ponselnya berdering. Nama Arga muncul di layar, membuatnya segera mengangkat panggilan tersebut setelah meminta izin kepada Ravi yang sedang membaca buku di sofa.

“Halo, Kak? Kenapa?”

Ravi tidak berniat mendengarkan percakapan itu. Ia kembali memusatkan perhatian pada buku di tangannya, berusaha mengabaikan suara Qiera yang sesekali terdengar dari meja makan. Namun, ketika perempuan itu mulai membicarakan rapat BEM yang akan diadakan keesokan harinya, konsentrasinya perlahan buyar.

“Iya, aku bisa datang lebih awal. Dokumen yang kemarin sudah aku periksa, tinggal kita samakan dengan laporan terakhir.” Qiera berhenti sejenak, mendengarkan lawan bicaranya. “Oh, kakak mau menjemputku? Tidak usah, Kak. Aku bisa berangkat sendiri.”

Ravi tanpa sadar membalik-balik halaman buku dengan sedikit lebih keras daripada sebelumnya. Meski akhirnya ia kembali ke halaman yang sejak tadi ia buka.

Qiera tidak menyadarinya. Ia masih berbicara melalui telepon sambil sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya.

“Kalau begitu, sampai besok. Jangan lupa makan dulu, Kak. Jangan sampai perut kakak bunyi di tengah rapat gara-gara belum sempat makan siang.”

Panggilan berakhir. Qiera meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali memeriksa catatan. Baru beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa suasana ruang tengah terasa terlalu sunyi.

Ia menoleh ke arah Ravi. “Mas?”

“Ya?”

“Kenapa bukunya dari tadi nggak dibalik?”

Ravi menunduk. Benar saja, sejak tadi ia memegang buku pada halaman yang sama.

“Saya sedang berpikir.”

“Oh.” Qiera mengangguk, lalu kembali sibuk dengan catatannya. “Masih memikirkan pekerjaan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Tidak penting.”

Jawaban itu justru membuat Qiera penasaran. Ia menutup bukunya, lalu berjalan menghampiri sofa. “Mas kenapa, sih? Dari tadi kelihatan seperti orang yang sedang kesal.”

“Saya tidak kesal.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Qiera memperhatikan wajahnya beberapa saat. Ravi tampak biasa saja, tetapi ada sesuatu dalam cara pria itu menjawab yang membuatnya curiga. Ia kemudian teringat percakapan mereka sehari sebelumnya, ketika Ravi menunjukkan ekspresi aneh setelah mendengar namanya dikaitkan dengan Arga.

Senyum jahil perlahan muncul di bibirnya. “Mas, jangan-jangan Mas cemburu?”

Ravi langsung mengangkat wajah. “Apa?”

“Cemburu sama Kak Arga.”

“Saya tidak cemburu.”

Jawabannya begitu cepat hingga Qiera hampir tertawa. Ia duduk di ujung sofa, memiringkan kepala untuk melihat wajah suaminya lebih jelas.

“Lho, aku nggak bilang Mas harus malu kalau cemburu.”

“Karena memang tidak ada yang perlu dicemburukan.”

“Terus kenapa Mas mendadak diam waktu aku teleponan sama Kak Arga?”

“Saya sedang membaca.”

“Bukunya dari tadi tidak pindah halaman.”

Ravi menutup buku itu dengan tenang. “Kamu terlalu banyak memperhatikan hal-hal yang tidak penting, Lily.”

“Kalau begitu, kenapa Mas tidak melihatku waktu aku tanya?”

“Saya sedang melihat buku.”

“Buku yang halamannya masih sama selama lima menit?”

Ravi terdiam sesaat. Ia mulai menyadari bahwa berdebat dengan Qiera mengenai kecemburuan adalah keputusan yang buruk. Perempuan itu memiliki bakat luar biasa untuk menemukan celah dalam setiap jawaban, bahkan ketika lawan bicaranya adalah seorang dosen hukum yang sudah terbiasa menghadapi argumen mahasiswa.

“Saya hanya ingin tahu kenapa Arga menawarkan diri menjemputmu,” katanya akhirnya.

Qiera berkedip. Kemudian, senyumnya melebar. “Nah kan! Beneran!”

“Beneran apa?”

“Mas emang cemburu!”

“Saya tidak cemburu, Lily. Saya hanya bertanya.”

“Kalau cuma bertanya, kenapa harus memasang wajah seperti itu?”

“Wajah saya memang seperti ini.”

Qiera tidak mampu menahan tawanya. “Kasihan sekali Kak Arga. Dia cuma menawarkan bantuan kepada Wakil Ketua BEM-nya, tetapi malah dicurigai sama dosen yang bahkan tidak ada urusannya dengan kegiatan BEM.”

Ravi menatapnya datar. “Saya salah satu dosen pembimbing kegiatan kemahasiswaan di fakultas, jadi bukan berarti saya tidak ada urusan.”

“Mas bukan dosen pembimbing BEM-ku.”

“Intinya, saya tahu bagaimana kegiatan organisasi berjalan.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

Qiera mengangkat kedua bahu. “Tidak ada. Aku cuma senang melihat Mas punya topik baru selain menyuruhku belajar dan mengomel soal laptop.”

Ravi mengembuskan napas panjang. Ia seharusnya tahu bahwa membiarkan Qiera berbicara terlalu lama hanya akan membuat perempuan itu semakin berani menggodanya.

“Kalau kamu sudah selesai mengganggu saya, silakan lanjutkan pekerjaanmu.”

“Siap, Pak Dosen!”

“Lily.”

Qiera langsung terkekeh mendengar nada peringatan itu. Ia bangkit dari sofa, tetapi sebelum benar-benar pergi, ia membungkuk sedikit untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di meja.

“Besok aku mungkin pulang agak sore, ya, Mas. Rapat BEM-nya bisa lama. Kak Arga juga bilang mungkin kami harus menyelesaikan laporan bersama setelah rapat selesai.”

Ravi menatapnya. “Berdua?”

Qiera berbalik dengan wajah polos. “Iya. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Mas yakin?” Alis Qiera terangkat sebelah, dengan sorot mata menelisik pada suaminya itu.

“Yakin.”

Qiera tersenyum penuh kemenangan. “Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan cemburu, ya, Mas.”

Ia baru melangkah dua kali ketika suara Ravi kembali menghentikannya.

“Syaqiera..”

Perempuan itu menoleh. “Apa?”

“Besok saya antar.”

Qiera terdiam, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Memangnya ada orang lain bernama Syaqiera di sini?”

“Tapi Mas belum boleh banyak bergerak.”

“Saya masih bisa mengantar kamu dengan mobil.”

“Dokter nyuruh Mas istirahat. Aku bisa berangkat sendiri.”

“Saya tidak keberatan.”

Qiera memicingkan mata. “Mas mau mengantarku karena khawatir aku terlambat, atau karena tidak mau aku dijemput Kak Arga?”

Ravi tidak langsung menjawab. Keheningan singkat itu justru membuat Qiera semakin sulit menahan tawanya. Ia kembali mendekati sofa, lalu duduk di samping Ravi dengan wajah yang sengaja dibuat serius.

“Mas, aku tanya sekali lagi. Mas cemburu, ya?”

“Tidak.”

“Sedikit?”

“Tidak.”

“Sedikit sekali?”

“Lily..”

“Baik, baik.” Qiera mengangkat kedua tangan, berpura-pura menyerah. “Aku tidak akan bertanya lagi.”

Ravi kembali membuka bukunya, berharap percakapan itu benar-benar berakhir. Namun, Qiera ternyata belum selesai.

“Lagipula, Mas tidak perlu khawatir. Kak Arga itu cuma teman organisasi. Aku tidak punya perasaan apa-apa sama dia.”

Jari Ravi berhenti di tepi halaman.

Qiera melanjutkan tanpa menyadari perubahan kecil itu. “Dia memang baik, pintar, bisa diandalkan, dan.. mungkin memang tampan. Banyak anak BEM yang suka menggoda kami, tapi aku sudah terbiasa. Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu secara serius.”

Ravi menutup bukunya sekali lagi.

Entah mengapa, mendengar Qiera menyebut Arga baik, bisa diandalkan, dan bahkan tampan membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia tahu betul bahwa istrinya tidak sedang melakukan sesuatu yang salah. Qiera hanya bercerita tentang kegiatan organisasi, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali pulang dari kampus.

Namun, ada bagian dalam dirinya yang tidak menyukai betapa mudahnya nama Arga muncul dalam percakapan mereka.

Lebih buruk lagi, ia tidak punya alasan yang masuk akal untuk merasa demikian.

Pernikahan mereka memang sah, tetapi selama ini ia selalu berusaha memberi Qiera ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri. Ia tidak ingin menjadi suami yang mengatur setiap pergaulan istrinya, apalagi membuat perempuan itu merasa bersalah hanya karena memiliki teman laki-laki.

Karena itulah Ravi memilih diam. Sayangnya, diamnya justru membuat Qiera semakin ingin bertanya lebih jauh.

“Mas, kalau nantinya aku benar-benar suka sama Kak Arga, gimana?”

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!