Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Mawar yang Tak Boleh Disentuh
Pukul 01.23 dini hari.
Angin malam berembus melewati pepohonan di sepanjang gang sempit. Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya, perempuan berpakaian hitam itu berjalan menuju mobil yang diparkir agak jauh dari jalan utama. Dia membuka pintu, masuk, lalu menyalakan mesin tanpa membuang waktu.
Di balik kemudi, Lyssandra Celestine Vale mengembuskan napas panjang. Rambut hitamnya tergerai melewati bahu, sementara wajahnya masih menyimpan kekesalan yang sulit disembunyikan.
Malam ini benar-benar di luar perkiraannya.
Dia hanya ingin menemui Nara setelah sekian lama tidak berkomunikasi secara langsung. Namun, sebelum sempat menjelaskan kedatangannya, dia malah diperlakukan sebagai penyusup berbahaya oleh suami sahabatnya sendiri.
Lebih parah lagi, Nara berteriak begitu keras seolah-olah baru saja melihat hantu.
Lyssandra mengingat kembali kejadian di rumah itu, lalu menggeleng pelan.
"Nara, Nara ... sejak kapan suaramu bisa mengalahkan alarm keamanan?" gumamnya, masih tidak habis pikir.
Seumur hidupnya, Lyssandra sudah menghadapi berbagai situasi berbahaya. Dia pernah berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih mengerikan daripada Silas Crane. Namun, tidak pernah terpikir olehnya bahwa kunjungan untuk menemui sahabat sendiri justru akan berakhir dengan kekacauan seperti tadi.
Kekesalannya perlahan mereda. Namun, saat hendak menjalankan mobil, dia mendadak teringat sesuatu.
Pisau lipatnya.
Ketika bergulat dengan Silas, benda itu terlepas dari genggamannya dan terlempar ke sudut dapur. Pisau tersebut terselip di bawah lemari sehingga dia tidak sempat mengambilnya sebelum melarikan diri.
Lyssandra memijat pangkal hidungnya.
Benar-benar ceroboh.
Pisau lipat itu bukan benda sembarangan. Pada gagangnya terdapat lambang mawar dengan tulisan kecil The Crimson Rose, tanda khas yang selama ini melekat pada identitasnya.
Jika Nara menemukannya, bukan tidak mungkin sahabatnya itu akan menghubungkan benda tersebut dengan dirinya.
Bahkan tanpa pisau lipat itu, Lyssandra sudah menduga Nara akan mulai mencurigai identitas penyusup yang datang malam ini. Mereka telah berteman cukup lama. Meskipun Nara tidak sempat mengenali wajahnya di tengah kekacauan, perempuan itu pasti akan menyadari ada sesuatu yang terasa familier setelah memikirkan kejadian tadi.
Lyssandra menyandarkan punggungnya pada kursi dan menatap jalanan yang mulai sepi.
"Nara, semoga kamu tidak membuat kesimpulan aneh sebelum kita sempat bicara."
Setelah itu, dia kembali memusatkan perhatian pada jalan dan mengarahkan mobilnya menuju kediaman Pramudita.
---
Beberapa puluh menit kemudian, mobil Lyssandra memasuki kawasan kediaman pribadi keluarga Pramudita.
Bangunan megah itu berdiri agak jauh dari rumah-rumah lain, dikelilingi pepohonan rindang dan pagar tinggi yang membatasi halaman. Lampu taman menerangi jalan setapak menuju pintu utama, sementara kamera pengawas terpasang di sejumlah sudut bangunan.
Di dekat gerbang, sebuah papan nama berwarna gelap bertuliskan Kediaman Pramudita berdiri di antara tanaman hias.
Lyssandra memarkir mobil, lalu masuk menggunakan akses pribadi. Setelah melewati ruang depan, dia langsung menuju ruang keluarga tanpa perlu memanggil siapa pun.
Seorang pria telah menunggunya di sana.
Darian Elviero Pramudita duduk santai di sofa dengan satu kaki bertumpu pada kaki lainnya. Segelas anggur merah kering berada di tangannya, sementara aroma buah gelap dan kayu ek tercium samar dari minuman tersebut. Dia tampak begitu santai, seolah-olah tidak memiliki urusan mendesak meskipun hari sudah berganti.
Begitu melihat Lyssandra masuk, sudut bibirnya terangkat.
"Kamu pulang lebih cepat daripada yang kukira."
Lyssandra melepaskan mantel hitamnya dan meletakkannya di sandaran kursi.
"Jangan mulai."
"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa."
"Tampangmu sudah mengatakan banyak hal."
Darian tertawa pelan. Dia meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian mengamati perempuan di hadapannya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
"Jadi, bagaimana hasil kunjunganmu?"
Lyssandra berjalan menuju sofa di seberangnya, lalu duduk sambil menyilangkan kaki.
"Gagal."
Darian mengangkat alis. "Gagal?"
"Menurutmu aku sedang bercanda?"
"Bukan begitu." Senyum di wajah Darian justru semakin lebar. "Aku hanya tidak menyangka seseorang dengan kemampuan sepertimu bisa gagal menemui seorang teman."
"Aku cuma ingin menemui Nara. Siapa sangka dia dan suaminya malah menganggapku penyusup?"
Darian menatapnya beberapa saat sebelum terkekeh geli.
"Kamu pergi menemui temanmu dengan pakaian serba hitam seperti penjahat, lengkap dengan pisau lipat. Kamu juga datang diam-diam pada dini hari. Menurutmu, siapa yang tidak akan curiga?"
Lyssandra langsung menoleh tajam.
"Aku tidak berpakaian seperti penjahat."
"Oh, tentu saja." Darian mengangguk dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Kamu hanya mengenakan pakaian hitam dari ujung kepala sampai kaki, lalu masuk ke rumah orang tanpa pemberitahuan. Benar-benar tidak mencurigakan."
Lyssandra mendengus kesal.
"Aku tidak punya waktu untuk menghubungi Nara terlebih dahulu. Aku baru mengetahui malam ini bahwa Ethan Hale memasang kontrak pembunuhan untuknya dengan bayaran seratus juta Lyr."
Senyum Darian seketika menghilang.
"Seratus juta Lyr?" Dia meletakkan gelasnya dengan gerakan lebih serius. "Dia benar-benar berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membunuh Nara?"
"Sepertinya dia memang sangat ingin melihat Nara mati." Lyssandra menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat tangan di depan dada. "Mereka sudah lama saling bermusuhan. Aku tidak terkejut jika Ethan sampai melakukan hal seperti ini."
Darian mengernyit. "Jadi, setelah mengetahui kontrak itu, kamu langsung pergi ke rumah Nara?"
"Tentu saja. Sebagai ketua Dark Shadow, aku tidak mungkin membiarkan pembunuh bayaran lain menerima tugas tersebut sebelum aku mengetahui situasinya." Lyssandra menghela napas panjang. "Kalau aku tidak memeriksa daftar misi malam ini, mungkin seseorang sudah mengambil kontrak itu."
Darian terdiam sejenak, berusaha mencerna penjelasannya.
"Lalu kamu memutuskan untuk datang ke rumahnya tengah malam, mengenakan pakaian serba hitam dan membawa pisau lipat?"
Lyssandra menatapnya tajam.
"Aku tidak punya waktu untuk memikirkan pakaian!"
"Baiklah, baiklah." Darian mengangkat kedua tangan, menahan tawa. "Tapi tetap saja, kamu tidak bisa menyalahkan mereka karena menganggapmu penyusup."
"Kalau kamu tidak ingin tidur di luar malam ini, sebaiknya diam."
Darian menutup mulutnya, meskipun senyum geli masih tersisa di wajahnya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Lyssandra tiba-tiba bangkit dari sofa dan berjalan menuju lemari penyimpanan di sudut ruangan.
Darian memperhatikannya dengan dahi berkerut.
"Kamu mau ke mana lagi?"
"Menyelesaikan urusan."
Jawaban singkat itu membuatnya semakin curiga. Darian meletakkan gelasnya, lalu mengamati Lyssandra membuka lemari dan mengambil sebuah pisau lipat baru. Perempuan itu memeriksa mekanismenya sekilas sebelum menyelipkannya ke saku bagian dalam pakaiannya.
Darian langsung memahami maksudnya.
"Tunggu. Jangan bilang kamu berniat menemui Ethan Hale sekarang."
Lyssandra tidak menjawab. Dia justru mengambil jas hitam yang tergantung di dekat pintu, lalu mengenakannya dengan gerakan tenang.
"Lyssandra, sekarang sudah lewat pukul dua dini hari!"
"Terus?"
"Orang normal tidur pada jam segini!"
"Kalau begitu, kamu boleh kembali tidur."
Darian menatapnya tidak percaya. "Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian?"
Lyssandra akhirnya menoleh.
"Aku tidak meminta izinmu."
"Tentu saja. Kamu memang tidak pernah meminta izin siapa pun."
Tanpa memedulikan protesnya, Lyssandra melangkah menuju pintu keluar. Tujuannya jelas: hotel tempat Ethan Hale menginap.
Darian memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Dia sudah cukup lama mengenal Lyssandra untuk memahami bahwa mencoba menghentikan perempuan itu hanya akan membuang waktu.
Lagi pula, musuh Lyssandra di Negara Lyrantara bukan hanya satu atau dua orang. Ada terlalu banyak pihak yang ingin menjatuhkannya. Membiarkannya pergi sendirian pada tengah malam, apalagi dengan urusan yang berpotensi memancing masalah, jelas bukan keputusan bijak.
Pada akhirnya, Darian hanya bisa menerima kenyataan bahwa malamnya tidak akan berakhir dengan tenang.
Dia meraih mantel dan kunci mobil, kemudian menyusul Lyssandra.
"Tunggu aku. Setidaknya, biarkan aku memastikan kamu tidak membuat kekacauan yang lebih besar."
Lyssandra meliriknya sekilas.
"Kalau takut, tinggal saja di rumah."
"Sayangnya, aku masih ingin hidup tenang. Dan entah bagaimana, itu mengharuskanku mengawasimu."
Lyssandra hanya tersenyum tipis sebelum melangkah keluar.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil meninggalkan kediaman Pramudita dan melaju menembus jalanan malam menuju hotel tempat Ethan Hale menginap.
Di saat sebagian besar orang masih terlelap, Lyssandra justru sedang menuju seseorang yang mungkin tidak pernah menyangka akan menerima kunjungan darinya.
Ethan Hale telah membuat kesalahan besar dengan berani menyewa pembunuh untuk menghabisi sahabatnya.
Dan Lyssandra akan memastikan bahwa dia menyesali keberaniannya itu.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor