Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Babak Baru
Ketenangan di Umalas tidak membuat Mamat, Darto, dan Bowo berpuas diri. Bagi Mamat, pencapaian di Jenewa bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Berita tentang keberhasilan Mamat menyuarakan ekonomi kerakyatan di tingkat internasional membawa dampak luar biasa. Surat, email, hingga kunjungan langsung dari berbagai pelosok negeri membanjiri kantor Brajamukti Center.
Pagi itu, udara di pekarangan villa terasa sangat sejuk. Mamat sedang duduk di area gazebo kayu bersama Darto yang sibuk membuka puluhan email masuk di tabletnya.
"Mat," kata Darto sambil menyipitkan mata menatap layar. "Ini bukan cuma permintaan pelatihan lagi. Ada lima pemerintah daerah dari pelosok Kalimantan dan Sulawesi yang mau kita bikin cabang Brajamukti Center di sana. Mereka siap sediakan lahan sama fasilitas, tinggal kita yang bawa sistem pendampingannya."
Bowo datang membawa nampan berisi kopi panas dan rebusan ubi manis. "Gila ya, dulu kita yang kebingungan nyari tempat kontrakan dua ratus ribu di Semarang, sekarang malah daerah-daerah yang merebutkan sistem kita."
Mamat menyunggingkan senyum tipisnya yang khas. Ia menyeruput kopi panasnya perlahan sebelum menjawab.
"Jangan keburu nafsu, To, Wo," kata Mamat dengan nada tenang namun tegas. "Bikin cabang itu gampang kalau cuma modal lahan sama gedung. Tapi yang paling susah itu nyari 'orang-orangnya'. Sistem kita ini jalan bukan karena gedungnya bagus, tapi karena pendampingnya punya empati, mau turun ke lumpur, dan jujur seratus persen."
"Terus rencanamu gimana, Mat?" tanya Bowo.
"Kita bikin Akademi Pendamping Rakyat di sini," tegas Mamat. "Sebelum kita buka cabang di mana-mana, kita seleksi anak-anak muda lokal yang punya dedikasi dari daerah-daerah itu. Kita didik di sini selama enam bulan. Kita ajarkan ilmu komunikasi bisnis, cara analisis masalah jalanan, dan yang paling penting: kita gembleng mentalnya supaya ndak gampang tergiur uang suap atau main curang."
Darto menepuk pahanya kencang. "Jancuk! Iki baru pemikiran kelas tinggi! Jadi kita mencetak 'Mamat-Mamat Baru' yang versi jujur dan terdidik!"
Mamat tertawa terbahak-bahak. "Iya, tapi jangan sampai mereka diajari cara bikin racun nyamuk rasa jeruk atau petasan banting!"
Dua bulan kemudian, pengumuman pembukaan Akademi Pendamping Rakyat Brajamukti resmi diluncurkan secara daring. Tanggapan masyarakat luar biasa. Lebih dari dua ribu pendaftar dari seluruh wilayah Indonesia mengirimkan aplikasi mereka, namun hanya lima puluh anak muda terpilih yang lolos seleksi tahap akhir dan dipanggil menuju Bali.
Hari pertama orientasi di aula utama Brajamukti Center terasa sangat khidmat. Lima puluh pemuda-pemudi dengan latar belakang beragam—dari lulusan sarjana yang menganggur, mantan aktivis mahasiswa, hingga anak petani daerah—duduk rapi memenuhi ruangan.
Mamat melangkah ke depan panggung. Ia tidak mengenakan pakaian mahal, melainkan kemeja katun lokal berwarna gelap dan celana santai.
"Selamat datang di tempat di mana kalian akan dibongkar seluruh kesombongannya," buka Mamat tanpa basa-basi, suaranya tenang namun bergema di dalam ruangan.
Para peserta hening seketika.
"Kalian di sini tidak diajari cara jadi kaya dengan cepat," lanjut Mamat sambil menatap satu per satu wajah peserta. "Kalian di sini diajari cara menjadi jembatan bagi orang-orang kecil yang tidak punya suara. Kalau tujuan kalian ikut akademi ini cuma buat nyari ijazah atau kerjaan gaya-gayaan berjas rapi, pintu keluar ada di belakang. Silakan angkat kaki sekarang juga."
Tidak ada satu pun peserta yang beranjak dari tempat duduknya. Mata anak-anak muda itu justru memancarkan tekad yang semakin menyala.
Di antara para peserta, ada seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun bernama Rian, asal dari sebuah desa terpencil di pesisir Nusa Tenggara Timur. Rian adalah anak seorang nelayan kecil yang sering melihat orang tua dan warga desanya diperas oleh para tengkulak ikan nakal.
Saat sesi tanya jawab, Rian berdiri dengan keberanian tinggi. "Pak Mamat... di desa saya, warga tidak percaya sama teori-teori manajemen. Mereka sudah terlalu sering dibohongi sama orang-orang kota yang datang bawa janji manis. Bagaimana cara kami bikin mereka percaya?"
Mamat tersenyum hangat, melangkah mendekati Rian.
"Pertanyaan yang sangat bagus, Rian," ujar Mamat. "Orang kecil itu tidak butuh teori tebal. Mereka hanya butuh bukti dan kehadiran. Kamu tidak bisa menyembuhkan rasa trauma mereka dengan pidato. Kamu harus tinggal bersama mereka, merasakannya langsung, dan membantu mereka menyelesaikan masalah paling kecil dulu—misalnya memutus rantai utang tengkulak dengan bikin sistem pencatatan hasil tangkapan yang transparan."
Mamat menepuk pundak Rian pelan. "Kepercayaan itu tidak bisa dibeli pakai uang atau gelar, Rian. Kepercayaan itu dibangun dari keringat yang kamu cucurkan bersama mereka."
Pendidikan di Akademi Brajamukti tidak hanya diisi oleh kuliah di dalam ruangan ber-AC. Pada bulan ketiga, Mamat mengirim lima puluh peserta akademi ke berbagai lokasi ujian lapangan di wilayah pesisir dan pegunungan Bali yang masih terisolasi.
Rian dan kelompoknya dikirim ke sebuah desa nelayan kecil di daerah Buleleng utara yang sedang mengalami krisis ekonomi akibat penurunan harga jual ikan segar dan maraknya praktik pinjaman uang tidak resmi.
Darto dan Bowo bertindak sebagai pengawas tersembunyi dari jauh.
Di hari-hari pertama, Rian dan timnya mendapat penolakan keras dari warga lokal. Para nelayan menganggap anak-anak muda akademi itu hanyalah mahasiswa kota yang sok tahu dan tidak mengerti kerasnya kehidupan laut.
Namun, Rian tidak menyerah. Ia tidak langsung menyuruh warga bikin koperasi atau pelatihan gaya-gayaan. Setiap pukul tiga pagi, Rian dan teman-temannya ikut turun ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan), membantu nelayan mengangkut keranjang ikan yang berat, membersihkan perahu, dan mendengarkan keluh kesah mereka di warung kopi saat fajar menyingsing.
Setelah dua minggu hidup prihatin bersama warga, para nelayan mulai melunak. Rian perlahan-lahan mengenalkan sistem pendataan hasil tangkapan berbasis aplikasi telepon pintar sederhana yang dirancang oleh tim akademi. Dengan sistem itu, nelayan bisa mengetahui harga pasaran ikan secara langsung di Denpasar tanpa bisa dibohongi lagi oleh para tengkulak lokal!
Dalam waktu satu bulan, harga jual ikan nelayan Buleleng utara melonjak naik dua puluh persen karena rantai distribusi yang memeras berhasil dipotong!
Malam sebelum penarikan peserta akademi kembali ke Umalas, warga desa nelayan menggelar acara bakar ikan bersama di tepi pantai sebagai bentuk pelepasan dan rasa terima kasih yang teramat dalam bagi Rian dan timnya.
Dari atas tanggul pantai, Mamat, Darto, dan Bowo berdiri memperhatikan keceriaan warga dan para peserta akademi di bawah pendaran cahaya api unggun.
Darto merangkul pundak Mamat sambil tersenyum bangga. "Mat... kamu lihat si Rian itu? Gaya pendekatannya persis banget kayak kamu pas nundukkan preman Semarang dulu, tapi bedanya dia ndak pakai trik adu domba atau ramalan palsu."
Mamat tertawa kecil, memandangi pantulan cahaya api unggun di atas permukaan air laut malam. "Itulah bedanya, To. Dulu kita pakai kecerdasan jalanan buat menyelamatkan diri sendiri. Sekarang mereka pakai kecerdasan jalanan buat menyelamatkan ratusan kepala keluarga."
Enam bulan pendidikan akademi berlalu dengan sangat cepat. Lima puluh peserta angkatan pertama resmi dinyatakan lulus sebagai Pendamping Lapangan Brajamukti.
Hari kelulusan digelar bertepatan dengan peresmian cabang pertama Brajamukti Center di luar Bali, yaitu di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang bakal dipimpin langsung oleh Rian bersama timnya.
Acara peresmian di Kupang dihadiri oleh ratusan pelaku usaha kecil, jajaran pemerintah daerah, serta para sesepuh adat setempat. Bahkan, Pak Bintoro dan Pak RT Sugino dari Kampung Kalisari sengaja terbang dari Jawa Tengah khusus untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut!
Pak Bintoro yang kini sudah makin memutih rambutnya melangkah mendekati Mamat di sela-sela acara.
"Mat," panggil Pak Bintoro dengan suara mantap penuh kebanggaan. "Pensiunan tentara kayak aku ini dulu mikir kalau kejahatan atau penipuan itu cuma bisa dibasmi pakai hukum keras dan penjara. Tapi setelah lihat apa yang kamu bikin dari Bali sampai ke Kupang ini... aku sadar ada cara yang jauh lebih ampuh."
Mamat menatap pensiunan polisi militer yang dulu hampir menendang pintunya di Kalisari itu. "Cara apa itu, Pak Bintoro?"
"Cara mengubah energi kejahatan jadi energi kebaikan," jawab Pak Bintoro tulus. "Kamu punya otak kecerdasan luar biasa, Mat. Dulu otak itu salah jalan karena kepepet kemiskinan. Tapi begitu dikasih arah yang bener, kamu bisa merangkul ribuan orang buat bangkit."
Mamat tersenyum takzim, membungkukkan badannya memberi hormat pada Pak Bintoro. "Semua ini tidak akan terjadi kalau Pak Bintoro dulu tidak membongkar trik racun nyamuk saya di kamar belakang, Pak."
Keduanya tertawa bersama, menghapus seluruh sisa gesekan masa lalu dalam balutan rasa saling menghormati yang tinggi.
Malam harinya, di tepi pantai Tenau Kupang, Mamat, Darto, Bowo, Rian, serta Pak Bintoro duduk melingkar di atas pasir putih di bawah naungan Bintang Pari.
Rian membawa sebuah kotak kayu ukir kecil yang diserahkannya kepada Mamat.
"Pak Mamat," kata Rian penuh hormat. "Warga pesisir Buleleng dan Kupang menitipkan ini untuk Bapak sebagai kenang-kenangan atas bimbingan Akademi Brajamukti."
Mamat menerima kotak kayu itu, membukanya perlahan. Di dalam kotak tersebut terbaring sebilah pisau nelayan tradisional berbahan besi sepuhan laut yang tajam dan sederhana, tanpa hiasan emas atau batu akik.
Mamat memegang pisau nelayan itu, memandangi kilatan matanya di bawah pendaran cahaya bulan.
Ia mengingat kembali Keris Bengkok Brajamukti yang dulu dibanggakkannya sebagai simbol kesaktian palsu. Keris bengkok karatan itu telah menyelesaikan tugasnya di museum yayasan di Bali. Dan kini, pisau nelayan yang polos ini datang sebagai simbol nyata dari kerja keras, ketajaman berpikir, dan keberanian untuk memotong rantai ketidakadilan di masyarakat.
"Pusaka yang sejati itu..." bisik Mamat pelan, memandangi Rian dan para murid akademi yang duduk di sekelilingnya, "...bukanlah besi tua yang dianggap punya ilmu gaib atau jin penunggu. Pusaka sejati adalah keberanian pikiran kita untuk terus jujur dan berguna bagi sesama manusia."
Darto dan Bowo mengangguk mantap, menyatukan genggaman tangan mereka bersama Mamat dan Rian di atas pasir pantai.
Masa lalu Mamat sebagai pengangguran kecanduan pinjol, dukun gadungan di kampung, konsultan aura di kota, hingga motivator tersohor telah lebur sepenuhnya. Yang tersisa kini adalah seorang Mamatya—seorang pembina, mentor, dan sahabat bagi ribuan rakyat kecil di seluruh penjuru Nusantara.
Di bawah naungan langit malam Indonesia yang luas dan indah, petualangan hidup Mamat telah sampai pada puncak kejayaan yang paling hakiki: sebuah kehidupan yang murni, bermanfaat, dan tak akan pernah padam dipukul zaman.