Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 : cheat code pangeran dan bau sianida
Perjamuan Teh Musim Semi masih berlangsung, namun atmosfer di taman istana belakang perlahan berubah menjadi medan perang terselubung. Di luar, Xie Yufei duduk dengan postur super anggun, menikmati kue-kue kecil dengan gerakan tangan yang sangat lambat dan estetik. Namun di dalam kepalanya, konser musik rock dan analisis politik tingkat SMA sedang bergemuruh tanpa henti.
(Halah, ini mah bukan perjamuan teh namanya, tapi ajang flexing terselubung. Lihat tuh, Nona Wang di sebelah sana sengaja banget benerin tusuk konde emasnya tiga kali semenit. Terus itu pejabat muda yang di pojok, natap Mas Jenderal kayak pengen caper tapi takut. Hih, politik istana gini amat ya? Mirip-mirip dinamika pemilihan ketua OSIS di sekolah gue dulu, penuh intrik dan kubu-kubuan, cuma bedanya di sini taruhannya nyawa,) gumam Yufei dalam hati sembari mengunyah kue dengan anggun.
Pangeran Mo Cheng yang duduk tak jauh darinya, mendadak menghentikan gerakannya. Flexing? Ketua OSIS? Istilah-istilah aneh itu lagi-lagi masuk ke kepalanya. Namun, kalimat terakhir Yufei membuat sang pangeran tersentak. Gadis ini, meski bahasanya absurd dan otaknya terkesan geser, ternyata memiliki kemampuan analisis situasi yang sangat tajam. Dia bisa membaca faksi-faksi politik di perjamuan ini hanya dalam sekali lirik.
Pangeran Mo Cheng menatap Yufei dengan sudut mata yang menyipit. Menarik. Jiwa aneh di tubuh Nona Xie ini ternyata bisa menjadi "cheat code" alias kode curang bagiku untuk membaca situasi.
Tak lama kemudian, seorang pelayan istana mendekati meja Yufei dengan nampan giok, membawa secangkir teh krisan yang mengepul hangat. "Nona Xie, ini adalah teh krisan khusus kiriman dari Selir Agung sebagai bentuk perhatian atas kesembuhan Anda," ucap pelayan itu sambil menunduk hormat.
Xie Jian yang berdiri sebagai pengawal langsung menajamkan instingnya. Tangannya refleks menyentuh gagang pedang. Xiao Mei di belakang Yufei juga menahan napas, dadanya berdebar kencang karena dia bisa mendengar firasat buruk dari situasi ini.
Yufei tersenyum manis. "Terima kasih atas kemurahan hati Selir Agung."
Dia menerima cangkir teh tersebut. Sesuai tata krama, Yufei mengangkat cangkir itu setinggi dada, menghirup aromanya sebelum meminumnya. Namun, begitu aroma teh itu menyentuh hidungnya, sensor sains di otak anak SMA-nya langsung menjerit histeris. Mata Yufei membelalak di dalam hati.
(BENTAR, BENTAR! Bau apa nih? Wangi krisannya pekat sih, tapi kok ada semacam aroma bitter almond alias almon pahit yang agak menusuk? LAH! Wah, bau sianida nih woy!! Dikira gue gak belajar kimia kelas sebelas apa?! Ini fiks hidrogen sianida atau sejenisnya! Gila, gila, gue baru sembuh dari tenggelam, sekarang mau diracun? Tega bener ini musuh politik bokap gue atau musuhnya Mas Jenderal!)
Jeritan batin Yufei yang begitu panik dan penuh istilah ilmiah instan meledak di kepala Pangeran Mo Cheng, Xie Jian, dan Xiao Mei.
Xie Jian hampir saja menghunus pedangnya saat itu juga karena panik adiknya dalam bahaya. Xiao Mei sudah pucat pasi, siap berteriak. Namun, sebelum kedua orang itu bertindak, Pangeran Mo Cheng bergerak lebih cepat.
Sianida? Zat kimia? Pangeran Mo Cheng tidak paham istilah itu, tapi dia menangkap satu kata kunci yang jelas: Racun.
Prang!
Pangeran Mo Cheng sengaja berdiri dengan hentakan cepat, membuat cangkir teh di mejanya sendiri tersenggol dan jatuh pecah ke lantai batu. Perhatian seluruh taman langsung tersedot ke arah sang pangeran.
"Pelayan curang!" bentak Pangeran Mo Cheng dengan suara menggelegar yang dingin, langsung mengintimidasi pelayan yang menyajikan teh untuk Yufei. "Siapa yang mengizinkanmu menyajikan teh basi kepada tamu istana? Lancang sekali!"
Yufei tertegun, tangannya yang memegang cangkir teh "sianida" itu membeku di udara.
Pangeran Mo Cheng melangkah lebar mendekati meja Yufei. Tanpa basa-basi, dia merebut cangkir teh dari tangan Yufei dengan gerakan cepat, lalu menuangkan isinya ke atas tanah. Dalam hitungan detik, rumput yang terkena tetesan teh itu langsung melepuh dan menghitam.
Semua orang di taman terengah panik. Konspirasi racun itu gagal total sebelum Yufei sempat melakukan apa pun.
Yufei mengerjipkan matanya beberapa kali, menatap rumput yang menghitam, lalu menatap Pangeran Mo Cheng yang berdiri gagah di depannya dengan wajah murka. Di luar, Yufei langsung memasang wajah ketakutan yang dramatis, meremas saputangannya. "Yang Mulia... teh itu..."
Namun di dalam hatinya, Yufei malah bersorak heboh dengan volume maksimal:
(ANJAYYY!!! Mas Jenderal keren banget, sumpah! Reflex actions-nya bintang lima! Gue baru mau akting keselek atau pura-pura numpahin ini teh, eh dia udah maju duluan kayak pahlawan kesiangan di film-film aksi! Tapi tunggu... kok dia bisa tahu itu teh basi alias beracun ya? Apa dia punya indra penciuman setajam serigala? Makin tidak masuk akal ketampanan dan kesaktian pria ini!)
Pangeran Mo Cheng yang masih memasang wajah sangar seketika kedutan di pelipisnya. "Pahlawan kesiangan? Bintang lima? Gadis ini benar-benar... diselamatkan nyawanya malah sempat-sempatnya menilai ketampanannya!"
Sementara Xie Jian di samping mereka langsung menghela napas lega yang teramat panjang, diam-diam mengacungkan jempol di dalam hati untuk kecepatan aksi sang Pangeran yang berhasil melindungi adiknya yang bermulut batin ajaib itu.