Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Rahasia Gua Bintang
Angin dingin berembus di antara tebing Puncak Hantu Kesunyian. Suaranya terdengar seperti ribuan pedang yang bergesekan dalam kegelapan malam.
Gunung ini dijauhi hampir semua murid Sekte Bintang Jatuh karena Niat Pedang yang memenuhi setiap sudutnya. Namun bagi Shen Luo, tekanan tersebut tidak lebih dari hembusan angin biasa.
Selama sepuluh tahun, tubuhnya telah ditempa oleh Niat Pedang Sikong Jian. Sisa kekuatan yang mengendap di gunung ini justru terasa akrab baginya.
Dengan mengikuti tarikan Cincin Bintang Suci, Shen Luo terus mendaki hingga melewati hutan pinus mati dan tiba di sebuah lembah tersembunyi.
Di ujung lembah terdapat tebing batu dengan bekas air terjun yang telah lama mengering. Dari luar, tempat itu terlihat tidak berbeda dari tebing biasa.
Namun saat Shen Luo mendekat, Cincin Bintang Suci di jarinya tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan.
Ia mengangkat tangan dan menempelkan cincin itu pada dinding batu.
Wuuung!
Permukaan tebing bergetar.
Pemandangan di hadapannya perlahan bergoyang seperti bayangan yang terpantul di permukaan air. Batu dan lumut yang menutupi dinding kemudian menghilang, memperlihatkan sebuah lorong tersembunyi di balik ilusi.
Cahaya biru lembut mengalir dari dalam.
Shen Luo tersenyum tipis lalu melangkah masuk.
Begitu tubuhnya melewati pintu, ilusi di belakangnya kembali seperti semula. Dari luar, tidak akan ada seorang pun yang menyadari keberadaan lorong tersebut.
Di dalam gua, pilar giok menggantung dari langit-langit. Tetesan embun spiritual jatuh perlahan dan berubah menjadi kabut tipis yang memenuhi seluruh ruangan.
Qi Suci di tempat ini sangat pekat.
Bahkan Shen Luo dapat merasakan bahwa setiap tarikan napas membawa energi spiritual dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada di luar.
"Jadi, ini tempatnya."
Matanya berbinar ketika melihat altar giok di tengah gua.
"Tempat yang cocok untuk Sembilan Akarku."
Ia segera duduk bersila di atas altar.
Setelah menenangkan pikirannya, Shen Luo mulai menjalankan teknik pernapasan yang diajarkan kedua kakeknya.
Sembilan Akar Spiritual di dalam Dantian perlahan bergerak.
Dalam sekejap, kabut Qi Suci di seluruh gua mulai berputar. Energi spiritual berkumpul di sekitar tubuh Shen Luo dan membentuk sembilan pusaran kecil sebelum mengalir masuk melalui pori-porinya.
Qi yang masuk kemudian bergerak melewati meridian, membasuh tulang dan mengisi Dantian sedikit demi sedikit.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Empat jam kemudian, suara ledakan rendah terdengar dari tubuh Shen Luo.
Bum!
Auranya meningkat tajam.
Pengumpulan Qi tingkat dua.
Namun Shen Luo tidak berhenti.
Sembilan Akar Spiritual masih terus menyerap Qi Suci dengan kecepatan yang mengerikan. Energi spiritual yang memenuhi gua bahkan mulai berkurang secara perlahan.
Tiga jam berikutnya berlalu.
Bum!
Aura lain meledak.
Pengumpulan Qi tingkat tiga.
Shen Luo membuka matanya.
Sesaat, cahaya keemasan bercampur merah darah melintas di pupilnya sebelum kembali menghilang.
Ia mengepalkan tangan dan merasakan aliran kekuatan di dalam tubuhnya.
"Jauh lebih kuat."
Meski baru mencapai tingkat ketiga Pengumpulan Qi, Qi di dalam tubuhnya jauh lebih padat dan murni daripada milik kultivator biasa.
Malam telah sepenuhnya turun ketika Shen Luo selesai membersihkan tubuhnya. Ia kembali duduk di atas altar untuk menstabilkan kultivasinya.
Namun ketenangan Puncak Hantu Kesunyian tidak berlangsung lama.
Di luar gua, tiga sosok berpakaian hitam bergerak cepat melewati bebatuan. Wajah mereka tertutup kain hitam, sementara aura Pengumpulan Qi tingkat tujuh tersamar di balik pakaian mereka.
Ketiganya adalah pembunuh bayaran yang dikirim Tetua Ma dari Sekte Angin Kencang.
Beberapa waktu sebelumnya, Shen Luo telah mematahkan lengan keponakan Tetua Ma di Kota Gerbang Besi. Dendam tersebut ternyata belum berakhir. Dengan menyuap penjaga sekte, Tetua Ma berhasil mengirim ketiga pembunuh itu ke Puncak Hantu Kesunyian untuk menghabisi Shen Luo.
Jika mayatnya ditemukan di gunung ini, kematiannya dapat dianggap sebagai kecelakaan akibat Niat Pedang liar.
Salah seorang pembunuh memperlambat langkah.
"Hati-hati. Niat Pedang di gunung ini terlalu tajam."
Pemimpin mereka mendengus.
"Jangan banyak bicara. Target kita hanya murid tingkat satu. Bunuh dia, lalu segera pergi."
Ketiganya terus mendaki tanpa menyadari bahwa sejak mereka memasuki lembah, keberadaan mereka sudah diketahui.
Di dalam Gua Bintang, Shen Luo membuka mata.
Hawa membunuh yang samar telah menembus masuk ke dalam persepsinya.
Ia perlahan berdiri.
Sumpah darah yang pernah ia ucapkan kembali terlintas di benaknya.
Tidak ada belas kasihan bagi mereka yang datang membawa niat membunuh.
Shen Luo berjalan keluar dari gua tanpa menimbulkan suara. Ia menyembunyikan auranya dan membiarkan tubuhnya menyatu dengan kegelapan malam.
Salah seorang pembunuh berhenti di balik batu.
Entah mengapa, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
Perasaan bahaya muncul begitu kuat hingga membuat napasnya tercekat.
Ia baru saja hendak menoleh ketika sebuah tangan muncul dari kegelapan dan mencengkeram lehernya.
Krak!
Tulang lehernya patah seketika.
Pembunuh tingkat tujuh itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara sebelum tubuhnya lemas.
Shen Luo menurunkan tubuhnya perlahan dan meletakkannya di tanah.
Dua pembunuh lainnya segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Dia tahu kita ada di sini!"
Keduanya mencabut pedang pendek dan berpencar untuk mencari Shen Luo.
Namun mereka terlambat.
Sosok Shen Luo tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menerjang pembunuh kedua.
Pedang beracun menebas lurus ke arah dadanya.
Shen Luo mengangkat lengan untuk menahannya.
Trang!
Pedang itu hanya meninggalkan bekas putih di kulitnya.
Mata pembunuh tersebut melebar.
"Bagaimana mungkin tubuhmu..."
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Shen Luo meraih pergelangan tangannya, lalu menghantam dadanya dengan telapak tangan.
Bum!
Tubuh pembunuh itu terlempar dan menghantam batu di belakangnya. Darah menyembur dari mulutnya sebelum tubuhnya jatuh tak bergerak.
Pemimpin pembunuh yang tersisa akhirnya memahami bahwa mereka telah salah menilai target.
Wajahnya memucat.
Ia berbalik dan melarikan diri tanpa ragu.
Namun suara Shen Luo terdengar dari belakangnya.
"Kau datang membawa niat membunuh."
Langkah pembunuh itu semakin cepat.
"Jangan berharap bisa pergi."
Shen Luo menendang pedang yang tergeletak di tanah.
Pedang tersebut melesat seperti kilat.
Puh!
Bilahnya menembus punggung sang pembunuh dan memakunya pada batang pohon.
Tubuh pria itu menegang. Darah hitam mengalir dari sudut mulutnya.
Shen Luo berjalan mendekat.
"Siapa yang mengirimmu?"
Pembunuh itu menatapnya dengan ketakutan, tetapi tidak menjawab.
Shen Luo tidak memaksanya.
Qi Darah Iblis perlahan berkumpul di telapak tangannya.
Ia menempelkan telapak tangan ke dahi pria itu.
Bum!
Tubuh sang pembunuh menegang sebelum akhirnya kehilangan seluruh kekuatannya.
Shen Luo melepaskan tangannya.
"Kalau begitu, tidak perlu tahu."
Ia kemudian menyeret ketiga mayat ke satu tempat dan membakarnya dengan api yang cukup untuk menghapus seluruh jejak keberadaan mereka. Setelah memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal, ia kembali menuju Gua Bintang.
Dinding ilusi terbuka ketika Cincin Bintang Suci mendekat.
Shen Luo masuk dan kembali duduk di atas altar giok.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Di luar, angin malam kembali berembus melewati Puncak Hantu Kesunyian. Kabut perlahan menyelimuti lembah, sementara sisa abu para pembunuh terbawa angin tanpa meninggalkan jejak.
Gunung itu kembali sunyi.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/