Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Di Antara Cinta dan Rasa Bersalah
Zinnia mengulangi gerakannya.
Jangan nikahin aku.
“Nggak.” Dandy menggeleng tegas. “Aku gak terima keputusan itu.”
Zinnia memandangnya tak percaya.
“Kamu boleh marah sama aku. Kamu boleh bilang aku bodoh karena rela nyembunyiin semuanya demi kamu. Tapi, jangan putusin hubungan kita cuma karena kamu merasa gak pantes buat aku.”
Zinnia menarik napas gemetar sebelum kembali menggerakkan tangannya.
Orang tuamu gak pernah suka sama aku. Mereka gak mau kamu nikahin perempuan dari keluarga sederhana kayak aku. Mereka juga tau aku gak bisa ngomong.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
Kalo mereka tau aku mengandung anak pria lain, mereka bakal makin benci sama aku.
“Kalo begitu, kita hadapi bersama.” Dandy menjawab tanpa ragu.
Zinnia menggeleng.
Gimana kalo mereka maksa kamu ninggalin aku?
“Aku gak bakal ninggalin kamu.”
Zinnia kembali menggerakkan tangannya.
Gimana kalo mereka gak menerima anak ini?
“Aku akan mengakuinya sebagai anakku," kata Dandy tanpa ragu.
Riri mengangkat wajah. “Dandy, kamu yakin sama perkataanmu?”
Dandy menoleh kepadanya. “Saya tau ini bukan keputusan kecil, Bu. Saya juga tau saya gak bisa nyelesain semua masalah cuma dengan nikahin Zinnia.” Ia kembali menatap perempuan di ranjang itu. “Tapi, saya gak mau dia mikir bahwa dia harus menghadapi semuanya sendirian.”
Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
“Kalo perlu, saya bakal bicara sama orang tua saya. Saya akan berusaha bikin mereka ngerti. Saya gak mau bohong soal keadaan Zinnia, tapi saya juga gak bakal biarin mereka memperlakukan Zinnia seolah-olah dia bersalah atas apa yang terjadi sama dia.”
Zinnia menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Dandy benar-benar bersedia melakukan semua itu. Namun, justru itulah yang membuatnya semakin tidak sanggup menerima.
Ia tidak ingin Dandy berbohong kepada orang tuanya. Ia tidak ingin pria itu harus mengakui anak orang lain hanya demi mempertahankan hubungan mereka. Ia juga tidak ingin anak itu tumbuh menjadi alasan pertengkaran di antara keluarga mereka.
Nggak, Dandy.
Gerakan tangan Zinnia kali ini tegas, meskipun jemarinya gemetar.
Aku gak mau nikah sama kamu.
Dandy terdiam.
Zinnia memaksa dirinya menatap pria yang selama ini selalu membuatnya merasa dicintai.
Kamu terlalu baik buat aku. Kamu pantes dapet seseorang yang bisa ngasih kamu kehidupan yang kamu inginkan. Seseorang yang gak bawa masalah sebesar ini ke dalam hidupmu.
“Berhenti bilang bahwa kamu gak pantes buat aku.” Dandy terdengar putus asa. “Aku yang nentuin sama siapa aku nikah, Zin. Kamu gak berhak mutusin aku pantas dapat perempuan lain atau gak.”
Zinnia menggeleng.
Maaf.
Hanya itu yang mampu ia sampaikan sebelum kembali menunduk.
Dandy berdiri kaku di samping ranjang. Ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi penolakan orang tuanya, kesulitan ekonomi, bahkan kemungkinan harus berjuang sendirian untuk mempertahankan hubungan mereka.
Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang dicintainya akan terus mendorongnya pergi, bahkan setelah ia mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikannya.
“Zin, aku gak bakal nyerah cuma karena kamu lagi takut.”
Zinnia memejamkan mata. Ia tidak menjawab lagi.
Di ambang pintu, seorang pria berdiri mematung.
Arvid Danendra. Ia datang kembali ke rumah sakit setelah menyelesaikan urusan kantornya. Sejak meninggalkan tempat itu, pikirannya terus kembali kepada Zinnia. Ia ingin memastikan keadaan perempuan yang entah mengapa begitu mengusik perasaannya.
Namun, langkahnya terhenti sebelum sempat memasuki kamar. Ia telah mendengar percakapan mereka.
Ia melihat perempuan di ranjang itu menangis ketika mengakui bahwa dirinya telah menjadi korban kekerasan seksual. Ia mendengar Dandy bertanya tentang pria yang telah melakukannya, lalu menawarkan diri untuk menikahi Zinnia meskipun anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya.
Arvid tidak bergerak.
Tatapannya tertuju kepada Zinnia. Ia tidak pernah membayangkan perempuan yang baru saja ia temui di restoran itu menyimpan luka sebesar ini. Ia bahkan tidak tahu apakah Zinnia benar-benar perempuan yang selama ini dicarinya.
Namun, ketika mengingat malam di pantai, tubuhnya mendadak terasa kaku. Malam ketika kesadarannya direnggut oleh sesuatu yang dimasukkan ke dalam minumannya. Malam ketika ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Malam ketika ia meninggalkan seorang perempuan dengan sebuah cincin, berjanji akan bertanggung jawab, lalu terpaksa pergi karena keadaan mendesak.
Arvid menelan ludah.
Apakah perempuan itu Zinnia? Apakah dialah perempuan yang selama ini ia cari?
Ia menatap tangan Zinnia yang masih gemetar di atas selimut. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Apa benar aku pria yang telah melukaimu malam itu?
Bahkan Arvid merasa takut mendengar jawabannya.
Getaran ponsel di saku jas membuat Arvid mengalihkan pandangan dari pintu ruang rawat Zinnia.
Ia mengeluarkan ponsel dan melihat nama Juki tertera di layar. Arvid menjauh dari pintu ruang rawat itu.
“Ya?”
“Bos, ada problem di cabang Kalimantan.”
Arvid mengernyit. “Problem apa?”
“Pengiriman material untuk proyek utama tertahan karena ada ketidaksesuaian dokumen. Klien sudah ngancem bakal berhentiin proyek kalo masalahnya gak diselesain secepatnya. Tim cabang sudah coba mengurusnya, tapi keputusan dari kantor pusat dibutuhin sekarang.”
Arvid mengembuskan napas kasar. “Sudah kamu periksa penyebabnya?”
“Sudah, Bos. Saya juga sudah menghubungi kepala cabang. Tapi ada beberapa hal yang harus diputuskan langsung oleh Anda. Kalo kita terlambat, kita bakal rugi besar.”
Arvid memejamkan mata sesaat. Ia bahkan belum menyelesaikan satu masalah, dan sekarang masalah lain kembali datang. “Siapkan tiket penerbangan paling awal. Hubungi kepala cabang dan minta semua dokumen terkait dikirimkan padaku sebelum aku tiba.”
“Baik, Bos. Saya ikut?”
“Ya. Kita berangkat bersama.” Setelah memutus panggilan, Arvid kembali menatap pintu ruang rawat Zinnia.
Ia teringat percakapan yang didengarnya beberapa saat lalu. Tentang seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan, tentang kehamilan yang berusaha disembunyikannya, dan tentang seorang pria bernama Dandy yang bersedia menikahinya meskipun mengetahui keadaan sebenarnya.
Arvid mengusap wajahnya.
Ia ingin masuk. Ingin bertanya langsung, memastikan dengan matanya sendiri. Namun, ia juga sadar: apa pun jawabannya nanti, itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam hitungan menit di tengah krisis perusahaan yang menunggu keputusannya.
Untuk sementara, ia harus menyelesaikan urusan itu dulu, meski hatinya menolak pergi.
“Siapa sebenarnya kamu, Zinnia?” gumamnya.
Tatapannya bertahan beberapa detik pada pintu kamar sebelum akhirnya ia berbalik.
Untuk sementara, ia harus menyelesaikan urusan perusahaan terlebih dahulu.
...🔸🔸🔸...
...“Jangan biarkan kejahatan yang dilakukan orang lain membuatmu merasa kehilangan hak untuk dicintai. Luka mungkin mengubah cara kita memandang diri sendiri, tetapi luka itu tidak pernah mengurangi nilai diri kita.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar