Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Siang hari di kampung asal Rian terasa tenang seperti biasa.
Rumah kayu sederhana milik Rukmini berdiri di ujung gang yang agak sepi. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam. Rukmini sedang duduk di teras sambil mengupas sayur untuk makan siang. Di dalam rumah, Sonya menidurkan Janu, sementara Lukman rebahan di kamar sambil memainkan ponsel. Tidak ada yang menyangka bahwa ketenangan itu akan pecah dalam hitungan menit.
Suara kendaraan berhenti di depan pagar. Rukmini mengangkat kepala. Dua orang pria berpakaian rapi turun dari mobil dinas berwarna putih. Di dada mereka tersemat tanda pengenal.
Rukmini buru-buru berdiri, tangan masih memegang pisau dapur. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia melangkah mendekati pagar dengan wajah waspada.
“Maaf, Anda mau mencari siapa?” tanya Rukmini, suaranya sedikit gemetar karena takut.
Salah satu polisi, yang tampak lebih senior, menatapnya sopan tapi tegas. “Apa benar ini kediaman saudara Lukman?” tanyanya. “Kami datang ke sini ingin menangkapnya. Beliau telah melakukan penganiayaan terhadap saudari Mia.” Sambil berbicara, pria itu mengeluarkan selembar surat perintah penangkapan dan menunjukkannya kepada Rukmini.
Mata Rukmini terbelalak tak percaya. Surat itu terlihat resmi, lengkap dengan stempel dan tanda tangan. Nama Lukman tercetak jelas. Nama Mia juga ada.
“Penganiayaan? Lukman?” suaranya naik, campuran antara panik dan marah. “Tidak mungkin! Anak saya tidak mungkin melakukan itu! Siapa yang mengadu? Mia? Menantu kurang ajar itu?!”
Polisi tetap tenang. “Maaf, Bu. Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan laporan dan surat perintah yang sah. Mohon kerja samanya. Kami ingin berbicara dengan saudara Lukman.”
Dari dalam rumah, Sonya muncul sambil menggendong Janu yang baru saja terbangun. Wajahnya pucat melihat dua polisi di depan pagar. “Bu… ada apa?”
Rukmini tidak menjawab. Ia berbalik dan berteriak ke dalam rumah, “Lukman! Keluar! Ada polisi!”
Lukman muncul beberapa detik kemudian dengan wajah mengantuk dan kesal. Begitu melihat polisi, langkahnya terhenti. Ekspresinya berubah menjadi panik.
“Ada… apa ini?” tanyanya, suara agak bergetar.
Polisi yang lebih muda melangkah maju. “Saudara Lukman? Anda ditangkap atas dugaan penganiayaan terhadap saudari Mia. Mohon ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut.” ucapnya tegas.
Lukman membelalak. “Aku tidak melakukan apa-apa! Itu fitnah! Mia yang memprovokasiku lebih dulu"
Rukmini langsung berdiri di depan anaknya, seolah ingin melindungi. “Jangan bawa anak saya! Ini fitnah belaka! Rumah ini rumah kami, kalian tidak boleh main tangkap orang seenaknya!”
Salah satu polisi menghela napas. “Bu, kami bawa surat perintah resmi. Kalau Ibu keberatan, Ibu bisa ikut ke kantor polisi juga. Tapi proses penangkapan tetap harus dilakukan.”
Suasana di depan rumah langsung kacau. Beberapa tetangga mulai keluar dan mengintip dari kejauhan. Bisik-bisik terdengar. Sonya menangis pelan sambil menenangkan Janu yang ikut rewel. Lukman mencoba melawan secara verbal, bilang ini semua ulah Mia yang dendam, bilang ia hanya membela ibunya.
Rukmini semakin histeris. “Ini semua salah Rian! Dia tidak membela adiknya! Dia terlalu lemah di depan istrinya! Sekarang anak saya mau dipenjara karena menantu durhaka itu!”
Polisi tidak terpancing emosi. Mereka tetap profesional. Setelah beberapa menit ketegangan, Lukman akhirnya diborgol di depan rumahnya sendiri. Rukmini menangis sambil memegang lengan anaknya, memohon agar tidak dibawa.
“Ibu, tenang,” kata Lukman, meski wajahnya pucat. “Nanti Kak Rian yang urus. Ini pasti bisa diselesaikan.”
Mobil polisi siap berangkat. Rukmini masih berdiri di tengah jalan, menangis dan mengumpat nama Mia berulang kali. Sonya hanya bisa terdiam, memeluk bayi di gendongannya, tidak tahu harus berbuat apa.
Di dalam mobil yang melaju meninggalkan kampung, Lukman menatap keluar jendela dengan wajah kosong. Ia tidak menyangka bahwa pukulan yang ia lakukan di rumah Mia dulu akan berujung sampai ke sini. Ancaman wanita itu tidak main-main.
Rukmini duduk di teras dengan tubuh gemetar. Ia mengeluarkan ponsel dengan tangan bergetar, lalu menelepon Rian.
“Rian! Adikmu ditangkap polisi! Karena laporan Mia! Kau harus segera ke sini! Kau harus bantu adikmu!”
Telepon itu berdering di ujung sana, menunggu jawaban dari anak sulungnya yang kini harus menghadapi ujian terbesar dalam hidupnya.
Siang yang tadinya tenang di kampung itu, kini berubah menjadi awal dari kekacauan baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rian masih di kantor berkutat dengan pekerjaannya. Hari ini banyak kerjaan yang mesti di kerjakan.
Nama ibunya muncul di layar ponselnya. Ia mengangkatnya dengan ragu, tapi meski begitu Rian tetap mengangkat panggilan dari ibunya.
Begitu suara Rukmini terdengar, darahnya seolah mengalir ke kaki.
“Rian! Adikmu ditangkap polisi! Karena laporan Mia! Kau harus segera ke sini! Kau harus bantu adikmu!”
Telepon terputus. Rian duduk kaku di kursi kerjanya, ponselnya masih menempel di telinganya. Ternyata Mia menempati ucapannya. Dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana?
Ia berdiri, mondar-mandir di ruangan sempit itu. Dilema yang sangat berat menekan dadanya.
Kalau ia membela Lukman, ia akan kehilangan Mia selamanya. Mia sudah memberi isyarat jelas. Kalau ia membela adiknya, berarti pernikahan mereka akan berakhir. Kalau ia membiarkan proses hukum berjalan, ia harus rela melihat adik kandungnya masuk penjara. Dan dia harus siap dengan makian ibunya.
Rian memegang kepala. “Aku harus bagaimana?” gumamnya.
Ia teringat semua kesalahan masa lalu. Bagaimana ia selalu memilih diam. Bagaimana ia membiarkan Mia dilukai demi menjaga perasaan ibunya. Bagaimana ia menandatangani surat cerai karena takut Lukman dipenjara. Kali ini, pilihan yang sama datang lagi, hanya saja jauh lebih berat.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Rukmini berdatangan, penuh makian dan tuntutan. Lalu pesan dari Sonya, memohon agar ia segera datang.
Rian hanya membacanya saja, tidak membalas satu pesan pun.
Ia membuka kontak Mia. Jari-jarinya gemetar di atas layar. Ia ingin meneleponnya, ingin bertanya, ingin memohon agar laporan itu dicabut. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, kalau ia meminta Mia mencabut laporan, itu sama saja dengan membela Lukman.
Rian duduk di lantai, memeluk lututnya. Tanpa sadar air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Ia merasa terjebak di antara dua dunia yang sama-sama tidak ingin ia kecewakan. Rasa cintanya pada Mia dan sang putri. di satu sisi darah dan tanggung jawab sebagai kakak.
Hari itu, di kantor yang ramai oleh para karyawan, Rian tidak lagi konsen mengerjakan pekerjaannya. Ia hanya duduk menatap dinding, menimbang setiap kemungkinan, dan menyadari satu hal yang paling pahit.
Apapun pilihan yang ia ambil, seseorang akan terluka. Dan kali ini, ia tidak bisa lagi melarikan diri dari keputusan itu.