Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi oleh puluhan awak media dan wartawan yang berdesakan. Kasus dugaan percobaan pembunuhan dan konspirasi racun yang melibatkan keluarga konglomerat ini menjadi sorotan utama nasional.
Di dalam ruang sidang utama yang dingin, Radhit duduk di barisan paling depan ruang tunggu saksi. Wajahnya tegas dengan setelan jas hitam pekat, namun lingkaran hitam di matanya memperlihatkan betapa ia tak menyentuh tidur sejak kepulangannya dari desa dua hari lalu.
Di kursi terdakwa, duduk ibu tirinya Sisca dengan pakaian serba putih. Wajah wanita paruh baya itu tampak tenang, bahkan sesekali mengukir senyum tipis seolah yakin dirinya akan lolos dari jeratan hukum.
TOK TOK TOK!
"Sidang perkara dugaan tindak pidana percobaan pembunuhan berencana dengan terdakwa Nyonya Sisca, resmi dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum," tegas Hakim Ketua seraya mengetukkan palunya.
Suasana sidang seketika berubah tegang. Tim Pengacara Hukum Sisca berdiri lebih dulu, mengajukan keberatan dan mengklaim bahwa seluruh bukti rekam medis serta laporan racun dua tahun lalu adalah rekayasa Radhit untuk merebut seluruh sisa aset keluarga.
"Majelis Hakim yang Mulia," ujar Pengacara Utama Sisca dengan nada percaya diri. "Klien kami adalah korban fitnah. Bukti yang diajukan Saudara Radhit tidak memiliki saksi mata langsung yang melihat Klien kami memasukkan zat tersebut. Bahkan, kami menghadirkan saksi kunci yang memegang seluruh dokumen dan komunikasi internal perusahaan serta keluarga saat malam kejadian terjadi!"
Pintu ruang sidang terbuka lebar. Seorang wanita berstelan rok formal melangkah masuk dengan senyum dingin.
Mata Radhit membelalak seketika. Dadanya bergemuruh hebat.
Wanita itu adalah Siska Rahmawati —mantan sekretaris pribadi Radhit yang memegang seluruh rahasia komunikasi dan jadwal Radhit di masa lalu. Wanita yang menerima ancaman pesan misterius dua hari lalu.
Siska berjalan menuju kursi saksi di tengah ruang sidang, mengangkat sumpah di bawah kitab suci, lalu duduk berhadapan dengan Majelis Hakim.
Pengacara Sisca tersenyum puas, melangkah mendekati Siska. "Saudari Saksi, bisakah Anda jelaskan pada Majelis Hakim, apa yang sebenarnya terjadi pada malam pendarahan Ibu Vivian dua tahun lalu? Dan apakah Terdakwa Nyonya Sisca berada di lokasi?"
Siska menarik napas dalam-dalam. Matanya sempat melirik ke arah Radhit yang menatapnya tajam bagaikan hendak menembus jantungnya.
"Pada malam itu..." suara Siska bergema melalui mikrofon, "Nyonya Sisca tidak pernah menyentuh cangkir atau makanan Ibu Vivian."
Grebeg!
Gumam riuh seketika memenuhi ruang sidang. Tim pengacara Radhit saling berpandangan panik. Ibu tiri Radhit menyandarkan punggungnya di kursi terdakwa dengan wajah sangat puas. Radhit mencengkeram pembatas kayu di depannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lanjutkan, Saudari Saksi!" panggil Hakim Ketua.
Siska melanjutkan dengan suara yang makin mantap. "Nyonya Sisca tidak menyentuhnya... karena yang memasukkan racun penggugur kandungan itu ke dalam cangkir teh Ibu Vivian atas perintah Nyonya Sisca... adalah saya sendiri".
BLAAR!
Suara itu bagaikan ledakan petir di dalam ruangan tertutup!
Seluruh wartawan mendadak berdiri, kilatan lampu kamera berkelebat tanpa henti. Pengacara Sisca seketika membeku di tempat, wajahnya berubah pucat pasi bagaikan mayat! Ibu tiri Radhit melonjak berdiri dari kursi terdakwa dengan mata membelalak lebar karena syok!
"Pengacara Terdakwa membayar saya lima ratus juta rupiah kemarin malam untuk bersaksi bohong di ruangan ini!" teriak Siska seraya merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk serta rekaman suara.
"Tapi saya tidak sudi lagi menjadi budak iblis! Ini adalah rekaman percakapan saya dengan Nyonya Sisca dua tahun lalu saat beliau memerintahkan saya mencampur zat racun itu, beserta bukti transfer uang tutup mulut!"
"BOHONG! DIA BOHONG! TANGKAP DIA!" teriak Sisca histeris hingga petugas keamanan harus menahannya paksa di kursi terdakwa.
Ruang sidang berubah menjadi kekacauan total! Radhit terpaku di tempatnya, matanya menatap Siska dengan rasa syok yang tak terhingga. Pria itu tidak pernah menyangka bahwa sekretaris yang sangat ia percayai dulu adalah orang yang menyodorkan racun itu langsung ke tangan Vivian.
Hakim Ketua mengetukkan palu berkali-kali untuk menenangkan ruangan. "Harap tenang! Bukti tambahan dari saksi diterima dan akan langsung diputar oleh tim forensik!"
Selama tiga puluh menit berikutnya, kejahatan Sisca terbongkar habis tanpa sisa di depan umum. Rekaman suara yang jelas, jejak transfer bank, hingga dokumen pemalsuan tanda tangan dr. Julian dipaparkan secara bertelanjang dada di hadapan majelis hakim dan awak media.
Tidak ada lagi celah untuk bersembunyi. Hukum akhirnya menangkap iblis yang sebenarnya.
Sore harinya, saat Sisca digiring keluar dari gedung pengadilan dengan borgol di tangannya di bawah kerumunan wartawan, Radhit berdiri di lorong pengadilan yang mulai sepi.
Siska, mantan sekretarisnya, berjalan mendekati Radhit dengan tangan gemetar.
"Pak Radhit..." bisik Siska menunduk penuh penyesalan. "Saya tahu maaf saya tidak akan pernah mengembalikan masa lalu Ibu Vivian. Setelah ini, saya akan menyerahkan diri ke kepolisian sebagai kaki tangan kejahatan."
Radhit menatap wanita itu dengan napas berat. "Kenapa kamu baru bicara sekarang, Siska?"
Siska menatap Radhit dengan mata berkaca-kaca, lalu merogoh saku jasnya dan menyerahkan selembar surat lusuh.
"Karena kemarin malam... Ibu Vivian menelepon saya secara pribadi, Pak."
Radhit tersentak kaget. "Vivian?"
"Ibu Vivian bilang... beliau sudah memaafkan saya, dan beliau tidak ingin Pak Radhit hancur sendirian menanggung rasa bersalah yang bukan sepenuhnya kesalahan Bapak. Beliau yang meminta saya untuk memberikan kesaksian jujur ini agar Bapak bisa lepas dari ikatan masa lalu."
Radhit memegang surat lusuh itu dengan tangan gemetar hebat. Dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang tak tertahankan. Di tengah semua luka dan ketakutan yang ia berikan... Vivian masih memikirkannya dan membantunya.
"makasih vi"Gumam Radhit lirih
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian