Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dompet Kosong
Matahari baru saja memanjat sepenggalah di langit timur Desa Kertajaya, menghangatkan pelataran kos Bu Ratna yang basah oleh embun pagi. Suara sabetan sapu lidi yang bergesekan dengan semen kasar berirama konstan sras... sras... sras… disusul suara radio tetangga yang menyiarkan acara dongeng pagi anak-anak.
Di lantai dua koridor kos nomor empat, Bayu sedang berdiri mengenakan celana pendek dan kaus oblong. Dengan ekspresi tertekan dan muka kucel khas orang bangun tidur, ia tengah menyeret sapu lidi untuk membersihkan lantai koridor sesuai dengan ancaman Bu Ratna semalam.
"Sumpah ya, ini hukuman paling kejam di abad modern," gerutu Bayu pelan, menghentikan gerakannya sejenak untuk mengelus pinggangnya yang pegal. "Cuma gara-gara sisa lumpur sedikit di tangga, kita disuruh kerja bakti membersihkan seluruh lorong lantai dua."
Raka yang baru saja keluar dari kamar sambil membawa handuk kecil di lehernya hanya tersenyum tipis. Ia melangkah mendekati pembatas koridor, menikmati angin pagi yang berhembus sejuk membawa aroma daun singkong dari kebun belakang warga. "Udah, nikmati aja, Bay. Daripada kasur kita beneran diangkut sama Bu Ratna, mending ngepel koridor sepuluh menit."
Dimas menyusul keluar sambil membawa segelas kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis. Ia menyeruputnya pelan sambil mengedarkan pandangan ke halaman bawah, melihat beberapa ibu-ibu sedang mengerubungi tukang sayur keliling yang membunyikan klonthongan besi khasnya.
T-t-t-tring!
"Eh, kemarin kita habis makan soto Mbok Darmi, terus sorenya heboh pohon beringin tumbang, dan sekarang kita malah jadi tukang ngepel," komentar Dimas datar. "Hidup kita ritmenya fluktuatif banget, dari urusan mistis langsung balik ke urusan rumah tangga."
Di dalam kamar nomor empat, Zahmira duduk di tepi kasur busa. Alih-alih memasang ekspresi anggun dan dingin seperti biasanya, perempuan bergaun ungu itu justru sedang menatap penasaran ke arah sebuah benda hitam legam yang tergeletak di atas meja kecil milik Raka sebuah kipas angin meja plastik merk nasional berukuran sepuluh inci yang bilahnya sudah agak kusam.
Zahmira memiringkan kepalanya, mengamati baling-baling kipas angin tersebut dengan sorot mata penuh selidik. Karena penasaran, ia mengulurkan jari telunjuknya yang lentik, lalu menyentuh pelan tombol kecepatan nomor dua yang ada di badan kipas.
Bzzzt... kriet...
Kipas angin tua itu tiba-tiba berputar kencang, menghasilkan embusan angin kuat yang langsung menerpa wajah Zahmira, membuat rambut panjangnya berkibar tertiup badai kecil dan gaun ungunya tersingkap tipis.
Zahmira terkesiap kaget. Ia melompat mundur dua langkah dengan mata terbelalak lebar. "Makhluk angin apa ini?!" serunya dramatis, menunjuk ke arah kipas angin yang masih berputar kencang.
"Benda mati ini berani-beraninya meniup wajahku?!"
Bayu, yang kebetulan sedang menyapu di depan pintu kamar dan melihat kejadian itu lewat celah pintu, langsung terbahak keras. "Hahaha! Itu namanya kipas angin, Mbak! Bukan makhluk halus yang mau ngajak berantem. Tinggal dipencet tombolnya, langsung adem."
Zahmira mendelik tajam ke arah Bayu, merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan cepat, lalu menegakkan dagunya tinggi-tinggi untuk menutupi rasa malunya. "Siapa yang takut?! Aku hanya sedang menguji seberapa kuat tekanan angin dari alat buatan kalian! Jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan angin badai di istanaku!"
"Iya deh, ratunya angin," cibir Bayu cengengesan sambil kembali menyeret sapunya. "Asal jangan nanti Mbak ngajak kipas angin itu duel di halaman."
Raka yang masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet kainnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sang putri jin. Ia membuka dompetnya lebar-lebar di atas meja, dan ekspresi wajahnya langsung berubah drastis begitu melihat isi di dalamnya.
"Wah, gawat..." gumam Raka pelan dengan nada cemas.
Bayu langsung meletakkan sapunya di pojok koridor dan melongok masuk ke dalam kamar.
"Kenapa, Ka? Dompetnya kebakaran?"
"Bukan kebakaran, tapi kekeringan," jawab Raka
lesu sambil memperlihatkan isi dompetnya yang hanya menyisakan satu lembar uang pecahan dua ribuan dan beberapa koin logam recehan. "Uang belanja yang kemarin kita pakai buat bayar kos dan makan beberapa hari terakhir ternyata sudah menipis banget. Sekarang, uang kas kita sisa dua ribu perak."
Bayu langsung memegang kepalanya dengan dramatis. "Ya ampun! Baru kemarin kita ngerasa agak tenang karena urusan kos beres, sekarang kita sudah balik lagi ke takdir asli sebagai anak kos fakir miskin!"
Dimas, yang masih menyeruput kopi hitamnya, mendengus pelan. "Ya mau gimana lagi. Namanya juga hidup pas-pasan. Kalau nggak cari kerjaan tambahan hari ini, besok pagi kita sarapan pakai air putih hangat."
Mendengar percakapan soal uang dan kemiskinan itu, Zahmira mendengus sinis, melipat kedua tangannya di dada dengan elegan. "Kalian ini benar-benar manusia yang paling merepotkan.
Kenapa kalian harus meributkan potongan kertas tipis bergambar angka itu setiap kali matahari terbit?"
Bayu menoleh ke arah Zahmira dengan tatapan melas yang dibuat-buat. "Mbak Zahmira sih enak, tinggal jentikkan jari beres. Lah kita? Kalau butuh uang harus banting tulang jadi buruh harian lepas atau mutar otak cari pinjaman."
Zahmira mendongakkan dagunya, tersenyum bangga. "Makanya, jangan jadi manusia yang tidak memiliki daya cipta. Kalau kalian mau..."
Sebelum Zahmira sempat menawarkan jalan pintas dengan sihirnya, Raka langsung mengangkat tangan kanannya, menatap Zahmira dengan tegas namun tenang. "Nggak usah, Mbak. Kita nggak mau pakai cara instan lagi, apalagi setelah kejadian prasasti kemarin. Kita harus cari uang dengan keringat sendiri."
Zahmira mengerucutkan bibirnya, tidak terima dipotong begitu saja. "Aku bahkan belum selesai bicara, manusia keras kepala! Kenapa kalian selalu berasumsi yang tidak-tidak? Harga diriku sebagai seorang bangsawan gaib tidak serendah itu untuk terus-terusan menawarkan hal yang sama!"
"Bukan begitu maksudnya, Mbak," balas Raka sabar. "Tapi kalau kita mendadak punya banyak uang tanpa kerja, nanti ibu-ibu tukang gosip di perempatan balai desa bisa ngamuk bikin petisi penyelidikan."
"Betul tuh, Mbak," sahut Dimas menimpali dengan nada datarnya. "Bisa-bisa kita digerebek warga sekampung gara-gara dikira jadi buronan."
Zahmira memutar bola matanya malas, mengibaskan tangannya sebal. "Terserah kalian! Silakan saja meratap di atas lantai semen yang dingin ini sambil menghitung sisa dua ribu perak."
"Nah, itu masalahnya, Mbak..." Bayu menyengir lebar, mendekati Raka dengan mata berbinar-binar penuh ide usil. "Kalau kita diam aja di kamar, dompet nggak bakal nambah tebal. Bagaimana kalau hari ini kita bertiga ke pasar desa lagi? Siapa tahu ada lowongan jadi tukang panggul beras di toko sembako Haji Marni."
Raka melirik jam dinding plastik di kamar. Pukul delapan pagi. "Boleh juga. Daripada nganggur, kita coba keliling pasar. Dim, lo ikut kan?"
Dimas menghabiskan sisa kopi di gelasnya, lalu mengangguk singkat. "Ikut. Daripada gabut di sini dengerin Bu Ratna ngoceh soal lantai koridor lagi."
Raka mengambil jaket kusamnya dari gantungan. Sebelum melangkah keluar pintu, ia menoleh ke arah Zahmira yang masih berdiri di dekat meja.
"Mbak Zahmira, berhubung kami mau ke pasar cari kerjaan, Mbak mau ikut jalan-jalan lagi atau mau nunggu di kamar sambil..." Raka sengaja menggantung kalimatnya, melirik sekilas ke arah kipas angin meja. "...nemenin kipas angin?"
Zahmira langsung mendelik tajam, tersinggung luar biasa. "Jaga kipas angin jelek itu? Enak saja! Tentu saja aku ikut! Aku ingin melihat bagaimana manusia seperti kalian mencari secarik kertas bergambar angka di tempat yang penuh lumpur dan bau ikan asin itu!"
Bayu terkekeh pelan. "Yaudah, ayo berangkat, Ratu Jin. Jangan lupa pakai mental baja, siapa tahu nanti di pasar kita ketemu lagi sama Bu Rini yang hobi bikin hoaks tingkat RT."
Raka, Bayu, Dimas, dan Zahmira akhirnya melangkah keluar meninggalkan kamar nomor empat. Di bawah terik matahari pagi Desa Kertajaya yang ramah, langkah kaki mereka berempat kembali menyatu dengan riuhnya kehidupan kampung membawa serta canda tawa receh, dompet yang nyaris kosong, dan tekad bulat anak kos untuk bertahan hidup di hari yang baru.