NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Kata dan Satu Bayangan

Tiga hari berlalu sejak Bayu pergi, dan rumah sakit terus berjalan seperti biasa, seolah dunia tidak tahu bahwa sebagian dari Alya masih tertinggal di anak tangga kos malam itu. Di antara sesendok bubur hangat dan kalimat yang sengaja ditunda. Dia bekerja lebih keras dari biasanya, membiarkan rutinitas mengambil alih pikirannya. Mengecek infus, mengganti perban, mencatat tekanan darah. Karena selama tangannya sibuk, kepalanya tidak sempat terlalu jauh mengembara ke pertanyaan yang belum terjawab.

Pak Handoko, yang masih rutin kontrol setiap minggu, sempat menegurnya pelan saat dia memeriksa tekanan darahnya. "Suster kok kelihatan capek banget. Ada masalah di rumah?" Alya hanya tersenyum, menjawab bahwa dia baik-baik saja, meski kebohongan kecil itu terasa semakin berat setiap kali dia harus mengulanginya ke orang lain.

"Kamu masih kelihatan kayak zombie," Tia berkomentar di ruang ganti, menyodorkan sekotak jus kotak dari tasnya. "Minum ini. Kamu butuh gula."

"Makasih, Ti," Alya menerima jus itu, tersenyum tipis. Meski senyumnya sendiri terasa lebih berat dari biasanya untuk dipertahankan.

"Bayu udah ngehubungin kamu?" Wulan bertanya, tidak repot berbasa-basi seperti biasanya.

"Udah, tapi singkat, gk sebawel dan sehangat seperti biasanya," Alya menjawab, menyesap jusnya. "Kayak lagi belajar cara ngomong lagi sama orang asing."

"Dia butuh waktu, Al," Wulan berkata, menepuk bahunya sekali sebelum kembali sibuk dengan lokernya sendiri. "Yang penting kamu juga jelas sama diri sendiri, mau ke mana arahnya."

Bayu mengirim pesan setiap malam, singkat, sopan, seperti dua orang asing yang baru saja belajar cara bicara satu sama lain lagi. "Udah makan?" Alya membalas sama singkatnya, dan jarak dalam kalimat-kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada keheningan sekalipun.

Sore itu, Raze memanggilnya ke ruang kerja lantai dua puluh dua. Begitu pintu tertutup, dia tidak langsung duduk di kursinya seperti biasa, melainkan berdiri di dekat jendela. Punggungnya menghadap kota yang mulai temaram, tangannya di dalam saku, sesuatu di bahunya yang tegang seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar laporan medis. Lampu ruangan sengaja diredupkan, hanya lampu meja yang menyala, dan aroma kopi yang biasa menyambutnya kini digantikan aroma bunga segar dari sebuah vas kecil yang tidak pernah ada di sana sebelumnya.

"Kamu manggil aku buat apa?" Alya bertanya, berdiri canggung di dekat pintu, menyadari perubahan kecil di ruangan itu tanpa sepenuhnya mengerti maknanya.

"Duduk," katanya, dan begitu Alya duduk di sofa kecil di sudut ruangan, dia berbalik, berjalan mendekat, lalu berlutut di depannya, sejajar dengan matanya. Gestur yang begitu tidak biasa untuk seseorang yang selalu berdiri tegak di atas segalanya.

"Raze, kamu ngapain—"

"Aku sudah menahan ini cukup lama," katanya, memotong, tangannya meraih kedua tangan Alya, menggenggamnya erat. "Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Aku tahu kamu masih dalam proses menyembuhkan sesuatu yang belum selesai. Tapi aku sudah lelah menghitung berapa lama lagi aku harus menunggu waktu yang tepat, karena bagiku, tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar tepat untuk kalimat ini."

Jantung Alya berdegup kencang, entah karena firasat atau karena sesuatu yang jauh lebih sederhana. Ketakutan bercampur harapan yang tidak seharusnya dia rasakan bersamaan.

"Aku mencintaimu," katanya, akhirnya, suaranya jujur tanpa perhitungan, tanpa nada memerintah yang biasa menyertai hampir semua kalimatnya. "Bukan sejak minggu lalu. Bukan sejak ciuman pertama kita. Jauh lebih lama dari itu, dengan cara yang aku sendiri butuh waktu bertahun-tahun untuk mengerti bagaimana mengucapkannya tanpa terdengar seperti sedang memberi perintah."

Alya merasakan air matanya jatuh sebelum dia sempat menahannya. Perasaannya terlalu campur aduk kali ini sampai dia pun tidak sanggup menguraikannya satu per satu. "Raze—"

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang," dia memotong cepat, ibu jarinya mengusap air mata di pipinya. "Aku hanya perlu kamu tahu, sebelum kamu memutuskan apa pun tentang Bayu, tentang masa depanmu, tentang segalanya. Bahwa ada seseorang yang mencintaimu dengan cara yang tidak sempurna, tidak selalu sehat, tapi sepenuhnya nyata."

"Kenapa sekarang?" Alya bertanya, suaranya bergetar. "Kenapa nggak dari dulu, sebelum semuanya jadi serumit ini?"

"Karena dulu aku pengecut," katanya, jujur, matanya tidak berkedip menatapnya. "Aku lebih memilih mengawasi dari jauh, mengatur segalanya diam-diam, daripada mengambil risiko kau menolakku secara langsung. Malam ini, aku lelah jadi pengecut, Alya. Aku lebih memilih risiko itu, daripada terus bersembunyi di balik kalimat yang belum pernah kuucapkan."

"Aku takut, Raze," Alya berbisik, jujur untuk pertama kalinya malam itu. "Takut sama perasaan aku sendiri. Takut sama semua yang belum aku ngerti soal kamu."

"Aku juga takut," katanya, mengejutkannya, karena jarang sekali dia mengakui ketakutan apa pun. "Tapi aku lebih takut kehilangan kesempatan ini, daripada takut pada ketidaktahuan itu sendiri."

"Apa yang bikin kamu setakut itu, Raze?" Alya bertanya, tangannya masih dalam genggamannya, ibu jarinya membalas mengusap punggung tangan Raze. Gestur kecil yang membuat matanya sedikit terkejut, seolah tidak terbiasa menerima kelembutan yang sama seperti yang biasa dia berikan.

"Kehilangan," katanya, singkat, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Aku sudah kehilangan cukup banyak dalam hidupku untuk tahu, rasanya tidak pernah mengenakkan, tidak peduli seberapa siap kita mengira diri kita menghadapinya."

"Kehilangan apa?" Alya bertanya, penasaran, meski dia tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk mendesak lebih jauh.

"Cerita lain, untuk hari lain," katanya, mengecup keningnya sebelum Alya sempat mendesak lebih jauh. Dia membiarkannya, memilih untuk tidak merusak kelembutan momen itu dengan pertanyaan yang jawabannya mungkin belum siap dia dengar.

Dia mencondongkan tubuhnya, dan kali ini ciuman itu berbeda dari yang sebelumnya. Lebih lambat, lebih penuh, seolah setiap detik yang mereka bagi adalah kalimat lanjutan dari pengakuan yang baru saja diucapkan. Tangan Alya naik ke rambutnya, menariknya lebih dekat, dan untuk beberapa menit, semua pertanyaan tentang benar dan salah lenyap, digantikan oleh detak jantung dua orang yang untuk pertama kalinya berhenti berpura-pura tidak saling menginginkan.

Ketika mereka akhirnya berpisah, Raze menyandarkan dahinya ke dahi sang pujaannya. Nafasnya masih memburu pelan. Untuk sesaat, dia terlihat begitu manusiawi, begitu jauh dari sosok dingin yang biasa berjalan di lorong rumah sakit dengan wibawa yang mengintimidasi semua orang.

Ponsel di meja kerjanya bergetar berulang kali. Cukup mengganggu hingga akhirnya dia berdiri untuk memeriksanya. Begitu matanya membaca nama yang muncul di layar, seluruh kelembutan yang baru saja Alya saksikan lenyap dalam sepersekian detik, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dingin, lebih keras, seperti melihat topeng lain terpasang secepat kilat.

"Aku harus angkat ini," katanya, suaranya sudah berubah total. Dia berjalan ke sudut ruangan membelakangi Alya, tapi tidak cukup jauh untuk sepenuhnya menyembunyikan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku sudah bilang, jangan hubungi nomor ini lagi kecuali darurat," katanya, suaranya rendah, tajam, tanpa satu pun kelembutan yang tersisa dari beberapa menit sebelumnya. Jeda sebentar, mendengarkan, rahangnya mengeras semakin lama semakin keras. "Aku nggak peduli apa alasannya. Kontraknya jelas. Kalau dia masih menolak bayar, kamu tahu apa yang harus dilakukan. Aku tidak ingin dengar alasan kedua kalinya."

Ada jeda lain, lebih pendek, dan suara di seberang telepon terdengar seperti sedang memohon sesuatu, meski Alya tidak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas.

"Aku tidak peduli dia punya keluarga," Raze melanjutkan. Nadanya tidak naik sedikit pun, justru semakin datar, semakin dingin. "Semua orang punya keluarga. Itu bukan alasan untuk berutang lalu menghilang. Selesaikan sebelum akhir minggu."

Dia menutup telepon tanpa ucapan salam, memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ketika dia berbalik, wajahnya sudah kembali tenang, seolah percakapan itu tidak pernah terjadi, seolah dia bisa mengganti versi dirinya semudah mengganti jas.

"Siapa itu?" Alya bertanya, suaranya sedikit gemetar, karena nada suara yang baru saja dia dengar terasa begitu asing, begitu jauh dari pria yang baru saja berlutut di depannya.

"Urusan bisnis," katanya, singkat, terlalu singkat untuk kalimat yang terdengar sekeras itu.

"Bisnis apa yang bikin kamu ngomong kayak gitu, Raze?"

"Bisnis yang tidak perlu kamu ketahui detailnya," katanya. Nadanya kembali ke kelembutan sebelumnya, tapi kali ini terasa dipaksakan. Seperti seseorang yang buru-buru menutup pintu yang baru saja terbuka sedikit terlalu lebar.

"Kedengarannya bukan cuma soal telat bayar tagihan biasa," Alya berkata, tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu. "Kamu ngomong soal keluarga orang segala."

"Alya," katanya, suaranya lebih tegas, hampir memperingatkan. "Ada bagian dari hidupku yang tidak bisa kubagikan sekarang. Bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena begitu kau tahu, kau tidak akan bisa lagi berpura-pura tidak tahu. Aku ingin melindungimu dari itu selama aku masih bisa."

"Melindungi aku, atau melindungi diri kamu sendiri?" Alya bertanya, lebih tajam dari yang dia inginkan.

Untuk sesaat, dia terdiam, dan sesuatu di matanya menunjukkan bahwa pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada yang siap dia akui. "Mungkin keduanya," katanya akhirnya, jujur. "Aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu, Alya. Jangan biarkan telepon kerja mengalihkan momen itu, kumohon."

Alya ingin mendesak lebih jauh, tapi sesuatu di matanya, sesuatu yang baru saja dia lihat sekilas sebelum topeng itu terpasang kembali, membuatnya ragu untuk melangkah lebih dalam malam itu. Seolah dia baru saja mengintip pintu ke ruangan yang belum siap dia masuki.

Dia menemukan Wulan masih di ruang perawat, merapikan berkas terakhir sebelum pulang. Begitu melihat wajah Alya, Wulan langsung tahu ada sesuatu yang terjadi tanpa perlu bertanya dua kali.

"Kamu kayak abis liat hantu," Wulan berkata, menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Alya lekat.

"Dia bilang dia cinta aku, Lan," Alya berbisik, duduk di kursi terdekat, tangannya masih sedikit gemetar. "Terus lima menit kemudian, dia ngangkat telepon dan ngomong ke seseorang kayak... kayak orang yang beda sama sekali. Dingin banget. Nyaris kayak ngancem."

Wulan terdiam sejenak, memilih kata-katanya hati-hati. "Ngancem soal apa?"

"Nggak jelas. Soal utang, soal orang yang nggak mau bayar," Alya menjawab, meremas ujung seragamnya. "Tapi caranya ngomong, Lan... itu bukan cara orang ngomongin telat bayar tagihan rumah sakit biasa."

"Aku udah bilang, kan," Wulan berkata, pelan, tidak dengan nada menyalahkan, hanya kekhawatiran yang jujur. "Orang seperti dia biasanya punya lebih dari satu wajah. Kamu baru aja liat salah satunya yang jarang dia tunjukkan ke siapa pun."

"Aku takut, Lan. Tapi aku juga..." Alya berhenti, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya sendiri.

"Tapi kamu juga masih pengen percaya sama wajah yang tadi bilang cinta," Wulan menyelesaikan untuknya, suaranya tidak menghakimi, hanya jujur. "Aku ngerti, Al. Tapi hati-hati. Orang yang bisa ganti wajah secepat itu, biasanya tahu persis wajah mana yang harus ditunjukkan ke kamu, kapan waktunya."

Alya mengangguk pelan, tidak punya jawaban yang lebih baik, dan mereka duduk dalam diam beberapa menit. Hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruang perawat yang mulai sepi itu.

Malam itu, di kosnya, ponsel Alya bergetar dengan pesan dari Bayu, kali ini lebih panjang dari biasanya.

"Alya, aku nemuin sesuatu yang aneh soal investor lama proyekku. Aku lagi coba lacak, siapa sebenarnya yang ada di balik penarikan dana itu. Kayaknya bukan cuma keputusan bisnis biasa. Aku ceritain detailnya kalau udah lebih jelas. Jaga diri baik-baik."

Alya membaca pesan itu berulang kali, jantungnya berdegup dengan alasan yang sama sekali berbeda dari beberapa jam sebelumnya. Dia mengetik balasan, jarinya ragu di atas layar. "Hati-hati, Kak. Apa yang kamu curigai?"

Balasan Bayu datang setelah beberapa menit. "Belum bisa cerita sekarang, takut salah. Tapi ada nama perusahaan yang keluar-masuk beberapa kali di dokumen yang aku dapet. Dan namanya nggak asing. Aku mau pastiin dulu sebelum aku tuduh macam-macam."

Alya menatap layar itu lama, memikirkan telepon yang baru saja dia dengar, nada suara yang begitu asing, kalimat tentang seseorang yang "menolak bayar", dan untuk pertama kalinya, dua potongan yang selama ini terasa terpisah. Investor Bayu yang mundur tiba-tiba, dan sisi Raze yang baru saja dia saksikan mulai terasa seperti bagian dari gambar yang sama, meski dia belum berani menyusunnya sepenuhnya dalam kepalanya.

Dia mengetik balasan pendek

"Hati-hati, Kak. Kabarin aku kalau ada perkembangan" lalu meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamarnya lama. Memikirkan tiga kata yang baru saja diucapkan seseorang yang, entah bagaimana, bisa mengucapkan cinta dan ancaman dengan suara yang sama persis. Hanya berjarak beberapa menit satu sama lain.

Dia meraih jaket yang masih tersimpan di lemari paling bawah, menariknya keluar. Menciumi aromanya sekali lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kehangatan yang dia rasakan malam ini masih lebih nyata daripada ketakutan yang baru saja mulai tumbuh di sudut hatinya. Dia memeluk jaket itu erat-erat sambil berbaring, seolah dengan begitu dia bisa memilih untuk percaya pada versi Raze yang berlutut di depannya sore tadi, bukan versi yang suaranya berubah dingin di telepon. Meski jauh di dalam hatinya, dia tahu keduanya sama-sama nyata, sama-sama bagian dari satu orang yang sama.

Di lantai dua puluh dua, buku bersampul kulit hitam itu terbuka lagi malam itu. Tulisan di dalamnya terbagi jadi dua bagian yang begitu berbeda, seolah ditulis oleh dua orang yang berbeda pula.

Aku mengatakannya akhirnya. Tiga kata yang aku simpan sejak sebelum dia tahu namaku sendiri. Dia menangis. Aku tidak tahu itu pertanda baik atau buruk, tapi aku memilih percaya itu baik, karena aku butuh percaya itu baik.

Telepon itu datang di waktu yang buruk. Aku tahu dia mendengar sebagian. Aku melihat itu di matanya. Pertanyaan yang belum berani dia ucapkan keras-keras.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa perlu menjelaskan diriku pada seseorang. Aku membenci perasaan itu. Aku juga, entah bagaimana, tidak sepenuhnya ingin perasaan itu hilang.

Urusan dengan orang yang menolak membayar itu akan selesai minggu ini, dengan caraku sendiri, seperti biasa. Aku hanya perlu memastikan Alya tidak pernah cukup dekat untuk melihat bagaimana caraku menyelesaikannya. Ada dua dunia yang aku jaga terpisah seumur hidupku. Untuk pertama kalinya, aku takut satu dunia mulai bocor ke dunia yang lain.

Pria itu mulai mencari tahu soal investornya. Aku sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Dia terlalu teliti untuk berhenti di jawaban yang mudah. Aku perlu bergerak lebih cepat sekarang, sebelum dia menemukan nama yang seharusnya tidak pernah dia temukan.

Ada satu hal yang tidak kutuliskan di halaman ini sebelumnya, dan mungkin sudah waktunya aku mengakuinya, setidaknya pada diriku sendiri. Semakin dekat aku dengannya, semakin sulit aku membedakan mana bagian dari rencana, dan mana yang benar-benar hanya aku, tanpa perhitungan apa pun. Aku tidak yakin itu membuatku lebih lemah, atau untuk pertama kalinya, sedikit lebih manusiawi.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈ℒᵒᵛᵉ ᵧₒᵤ .•ᰔᩚ•┈┈┈•┈┈┈•┈┈

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!