JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbakar Kecemburuan Sang Monster
# Terbakar Kecemburuan Sang Monster #
Cengkeraman Nataniel di rahangku terasa begitu kuat hingga persendian pipiku berderit ngilu. Hawa membunuh yang terpancar dari tubuh tegapnya meluap-luap tanpa kendali, membakar atmosfer Kamar Utama puncak karang menjadi sangat pekat dan mencekam. Tekanan sihir gravitasi murni yang terpancar akibat cemburu butanya terus menekan tubuhku ke dinding karang, seolah-olah hendak meremukkan setiap tulang rusukku menjadi serpihan debu.
Iris matanya yang semula keemasan kini sepenuhnya berubah menjadi merah darah yang liar. Taring tajam Siren-nya mencuat lebih panjang, menyenggol garis bibirku yang gemetaran hebat.
"Katakan padaku, Serangga!" geram Nataniel rendah dengan suara yang bergema bagaikan gemuruh badai di palung terdalam. "Nama pria mana yang kau simpan di dalam dada kerdilmu ini?! Siapa yang berani menyentuh milikku sebelum kau terlempar ke dasar samudra?!"
("Ya Tuhan, tolong!") jerit batinku histeris seraya memejamkan mata rapat-rapat. ("Ini monster ikan bener-bener korslet total! Cuma gara-gara jimat kayu bekas pemuda desa yang bahkan aku udah lupa mukanya kayak gimana, dia malah mengamuk kayak kesurupan begini! Kalau aku jujur bilang itu jimat pemberian mantan crush ku bisa-bisa leherku langsung dipatahkan detik ini juga!")
Aku hampir kehabisan napas. Oksigen di sekitarku seolah-olah tersedot habis oleh aura membunuh yang dipancarkannya. Punggungku yang hanya terlapis bikini laknat tipis terasa dingin menempel di dinding karang, sementara dadaku yang berdempetan rapat dengan dadanya merasakan hawa panas yang luar biasa menyengat.
Sebelum aku sempat menyusun kebohongan baru untuk membela diri, Nataniel sudah menundukkan wajahnya.
Tanpa peringatan, ia menyambar bibirku dengan ciuman yang teramat dalam, dominan, dan ganas!
*UMPH!*
Mataku membelalak lebar! Ciumannya bukan lagi sekadar sapaan intim biasa, melainkan sebuah serbuan penuh tuntutan mutlak yang bermaksud menguasai seluruh ingatan dan keberadaanku. Nataniel menyesap dan melahap bibirku dengan sangat intens dan lapar. Lidahnya yang hangat menerobos masuk tanpa ampun, menguasai seluruh rongga mulutku secara paksa.
Hembusan napas panasnya berhembus liar di atas wajahku. Suasana di antara kami benar-benar berubah menjadi pusaran gairah yang teramat menuntut dan mengintimidasi.
("Aargh! Ganas banget, woi!") jerit batinku yang makin panik setengah mati. ("Ini makhluk kalau nyium nggak ada santai-santainya sama sekali! Kalau begini terus, aku bisa mati konyol gara-gara kehabisan napas!")
Otak kreatif dan licik ku langsung berputar cepat di tengah himpitan tubuh tegapnya, mendadak memercikkan ide nekat yang sangat berisiko tinggi.
("Tunggu dulu, Alessia...Jangan lawan monster yang lagi murka pakai otot, tapi pakai otak dan seni kepatuhan penjilat ulung! Dia mau dominasi mutlak, kan? Dia cemburu dan mau kepemilikan total, kan? Oke, biar aku ajari cara main yang lebih halus, kasih umpan manis sampai ikan purba ini kapok dan terjerat sendiri!")
Memanfaatkan sisa tenagaku yang terhimpit di dinding karang, aku sengaja menghentikan seluruh perlawananku. Tubuhku yang semula kaku dan gemetaran perlahan kulemaskan secara total di bawah kungkungan tegapnya.
Bukannya memberontak atau mendorong dadanya, kedua tanganku yang gemetaran justru perlahan terangkat naik. Jemari lentikku merayap mengusap perut sixpack Nataniel yang terekspos, lalu menyusup naik menelusuri dada bidangnya lalu keleher hingga jemariku menyatu di balik rambut hitamnya yang halus.
Aku memiringkan kepala sedikit untuk sejenak menghindar, lalu kembali membalas ciumannya dengan ciuman yang sangat lembut, penuh kepatuhan, dan kepasrahannya yang memanjakan. Aku mencoba membimbing pagutan bibirnya agar berjalan lebih halus, memberikan ketenangan di tengah gelombang amarahnya.
*NGHHH...*
Sebuah desahan halus, manis, dan sarat akan kepalsuan yang sangat memabukkan refleks lolos dari celah bibirku, bergetar tepat di dalam rongga mulut Nataniel!
*TASSS!*
Nataniel tersentak hebat! Gerakan ciumannya yang ganas mendadak terhenti sejenak di udara.
Pendaran merah liar di matanya meredup sejenak, terganti oleh kebingungan tajam saat merasakan sentuhan lembut dan respons dari tubuhku. Pangeran Iblis yang tadinya mengamuk karena cemburu buta itu tidak pernah menyangka bahwa serangga kecil yang selalu gemetaran ketakutan di hadapannya mendadak mengajarinya ketenangan lewat ciuman manis yang begitu pasrah.
Namun, mengajari seekor monster purba untuk menjadi lembut ternyata adalah sebuah kekeliruan besar.
Nataniel tidak bisa menjadi lembut. Sensasi manis dan kelembutan yang kuberi justru meledakkan naluri dominasinya ke tingkat yang jauh lebih berbahaya!
Nataniel mengerang rendah dari dalam tenggorokannya. Suara erangannya terdengar begitu berat, serak, dan sarat akan gairah liar yang mendadak meledak seratus kali lebih dahsyat dari sebelumnya!
Kelembutan yang kusemaikan justru bertindak bagaikan racun manis yang paling mematikan bagi sang Penguasa Samudra. Bukannya mereda, Nataniel justru makin ganas, terjerat, dan kehilangan akal sehatnya secara total!
Amarah dan cemburu butanya dalam sekejap mata lebur, berganti menjadi dahaga seksual dan gairah kepemilikan yang teramat membara!
Ia membalas kelembutanku dengan serbuan ciuman yang jauh lebih menggebu-gebu dan menyapu bersih seluruh pertahananku. Nataniel menyesap bibirku menjelajahi setiap jengkal kulit ku dengan keahlian memikat yang membuat seluruh sendi lututku mendadak lemas tak bertulang.
"Ngh... N-Nataniel..." desahku pelan di sela-sela cumbuan bibirnya, sengaja memanggil namanya tanpa gelar kebangsamaan demi memancing keangkuhannya lebih jauh.
"Hanya aku..." bisik Nataniel rendah di depan leher ku yang basah dan memerah. Matanya menyala penuh pendaran keemasan membara yang sangat pekat. "Hanya aku satu-satunya pria yang boleh memenuhi pikiran dan tubuhmu, Alessia!"
Tanpa membiarkanku bernapas lebih lama, Nataniel menyusupkan satu lengan besarnya di bawah paha mulusku, lalu mengangkat tubuh kecilku secara mudah dalam satu gerakan kilat!
"ahh!" jerit ku panik saat tubuhku melayang di udara.
Nataniel menggendongku rapat menempel pada dada tegapnya yang panas membara, lalu melangkah lebar meninggalkan dinding karang menuju tempat tidur koral berbalut sutra empuk di tengah ruangan.
"N-Paduka... mau apa?!" cicitku dengan suara manis yang sengaja dibuat bergetar manja.
"Mengklaim milikku secara mutlak," jawab Nataniel dingin namun penuh tekanan gairah yang teramat pekat.
Ia menghempaskan tubuhku ke atas kasur sutra dengan lembut namun mengunci, lalu menyusul menindihku dari atas. Jemari kasarnya tanpa ragu menarik tali bikini laknat yang melilit dada dan simpul kain sutra di pinggangku hingga terlepas seketika!
Mata keemasannya menatap seluruh lekuk tubuhku yang kini sepenuhnya terekspos di bawah pendaran kristal malam Kamar Utama. Tatapannya begitu liar, haus, dan tidak lagi mengenal kata belas kasihan sedikit pun.
Usaha taktikku untuk membimbingnya dengan kelembutan mendadak berbalik menjadi bumerang paling mengerikan saat melihat ekspresi Nataniel yang tetap ganas dan terbakar habis oleh gairah monster purba!
("Mati aku!") jerit batinku dengan rasa horor yang memuncak hingga ke ubun-ubun. ("Maksud hati mau ngajarin dia santai dan lembut, eh ini monster malah makin kesetanan dan ganas banget! Lihat tatapan matanya kayak mau membelah dan melahapku sampai ke tulang!")
Nataniel menundukkan wajahnya, mengecup garis leherku hingga turun menuju dadaku dengan kehangatan membakar yang tidak memberi jeda sedikit pun untuk aku bernapas. Sengatan gairah dan keahlian sang Pangeran Siren mulai menguasai seluruh saraf tubuhku, menyeret kesadaranku ke dalam pusaran panas yang teramat menyiksa.
Malam yang panjang di dasar Samudra Teluk Bayangan baru saja dimulai. Dan aku baru menyadari satu hal yang teramat membagongkan, reaksi Nataniel di atas tempat tidur ini akan bergerak jauh, jauh di luar batas ekspektasiku!
Pria itu bertindak bagaikan binatang purba yang tidak kenal lelah, siap menggempur dan mendominasi tubuhku tanpa henti sepanjang malam, hingga aku bisa merasakan bayangan mengerikan bahwa besok pagi, seluruh tulang pinggul dan persendian tubuhku akan terasa remuk redam tak berdaya!
"Nataniel... pelan... ah!" jeritku tertahan saat Pangeran Iblis itu mulai meluncurkan dominasi utamanya di atas ranjang koral!
⭐ ⭐⭐⭐⭐
COBA NGAJARIN LEMBUT MALAH MAKIN GANAS!! 😱🔥 Nataniel udah bener-bener ketagihan dan tak terkendali di atas ranjang! Gimana nasib Alessia yang bakal digempur habis-habisan sampai tulang pinggulnya serasa remuk redam?
Yuk, Kiravers kesayangan! Tahan napas dan persiapkan mental kalian, gass lanjut ke Bab 30 sekarang juga buat saksiin puncak adegan ++ yang heboh dan membara! ✨