NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Rahasia Kematian Ibu

Setelah satu kampung kesurupan massal berhasil aku sembuhkan dengan Azan Gaib di tengah 40 warga, Dusun Krajan pingsan massal. Semua warga tidur di jalan, di halaman masjid, di perempatan, karena habis muntah air hitam kencing Ulo Sowo.

Aku yang masih berdiri di tengah mereka, tubuhku gemetar, tenggorokanku kering habis azan.

Malik menepuk pundakku, "Kamu berhasil, Arga. Kamu selamatkan satu kampung. Tapi lihat retakan masjid enam meter itu belum tutup, dan tangan Banaspati masih pegang bibir retakan, dia mau keluar..."ucap Malik.

Aku lihat ke masjid, tangan kerbau besar berbulu hitam itu masih pegang lantai masjid, kuku-kukunya menancap ke keramik cahaya.

Tapi aku tidak peduli, aku capek. Aku mau pulang ke rumah warisan, mau tidur.

Sampai di rumah, aku lihat Ibu telpon lagi dari Surabaya. Ada lima kali panggilan masuk.

Aku angkat, Ibu nangis,

📱"Arga, Rania sudah sadar, tapi dia bilang waktu kesurupan tadi, dia lihat Ibu kamu... ibumu yang sudah meninggal 15 tahun lalu... ada di dalam sumur hitam rumah Krajan..."ucap ibu angkatku.

Jantungku berhenti.

Ibuku meninggal waktu aku umur 9 tahun, waktu aku kelas 3 SD di Surabaya. Kata Bapak, Ibu meninggal karena sakit kanker darah. Bapak tidak pernah izinkan aku lihat jenazahnya, langsung dikubur. Sejak itu aku tidak pernah tanya lagi.

Tapi kenapa Rania lihat Ibu di sumur hitam Krajan? Ibu meninggal di Surabaya, kuburannya di Surabaya, bukan di Krajan.

Aku masuk ke kamar belakang, kamar yang Rumah Leluhur Yang Masih Dihuni selalu terkunci, kamar milik kakekku Mbah Suro Joyo.

Kunci kamar itu ada di tongkat cendana Malik. Aku buka.

Di dalam kamar, bukan kamar tidur, tapi seperti gudang sesajen. Dindingnya penuh foto hitam putih, dan di tengah kamar ada satu peti kayu jati besar, diikat rantai dan kain kafan.

Di atas peti itu ada foto Ibu, waktu masih muda, gendong aku umur 2 tahun, dan di belakang foto ada tulisan tangan Mbah Suro Joyo: "Perjanjian Darah Leluhur - Tumbal Pertama 2009"

Tahun Ibu meninggal, 2009.

Malik masuk ke kamar itu, melihat peti, langsung sujud, wajahnya pucat.

"Arga... inilah Rahasia Kematian Ibumu yang ditutupi kakekmu... Ibu kamu bukan meninggal kanker..."ucap Malik.

"Terus meninggal kenapa? tanyaku.

"Ibu kamu adalah tumbal pertama Perjanjian Darah Leluhur.."jawab Malik.

Aku tidak paham.

Malik buka peti kayu jati itu pakai cahaya. Di dalam peti, bukan mayat, tapi ada kain kafan bayi yang sama seperti di Beringin Kembar, ada rambut panjang perempuan, dan ada surat wasiat dari Mbah Suro Joyo ditulis tangan 2009.

Aku baca surat itu keras-keras, tanganku gemetar:

"Arga, cucuku, kalau kau baca ini berarti kau sudah jadi penjaga. Maafkan kakek. Tahun 1984 kakek buat Perjanjian Darah Leluhur dengan Jin Islam, kakek janji setiap 25 tahun harus ada satu darah keluarga penjaga yang dikembalikan ke tanah Krajan untuk tutup Gerbang Antara Dua Dunia. Tahun 1959 kakek kasih darah adik kakek, tahun 1984 kakek kasih darah kakimu sendiri (kakek potong jempol kaki). Tahun 2009 giliran anak kakek, yaitu Ibu mu, Mira. Ibu mu setuju jadi tumbal, dia minum Banyu Suci campur darahnya sendiri dan terjun ke sumur belakang rumah Krajan, sumur yang tadi hitam . Jasadnya tidak pernah ditemukan karena langsung ditarik ke Alam Seberang untuk jadi penutup gerbang. Bapak mu bilang kanker biar kamu tidak dendam sama kampung ini. Ibu mu mati mulia, bukan sakit."

Kertas jatuh dari tanganku.

Rahasia Kematian Ibu. Ibu bukan sakit. Ibu tumbal sukarela untuk tutup gerbang, biar kampung tidak hilang.

Dan sekarang, sumur yang jadi tempat Ibu terjun tahun 2009, sumur itu yang tadi dipakai Banaspati untuk kirim mantra ke Rania, sumur itu yang sekarang retakannya enam meter di masjid , di pegang tangan Banaspati.

Ibu ada di dalam sumur itu. 15 tahun.

Aku lari ke sumur belakang rumah. Sumur yang sudah bening bercahaya setelah azan tadi, aku lihat ke bawah.

Di dalam air bening itu, bukan pantulan wajahku, tapi pantulan wajah Ibu, umur 30 tahun, cantik, ibu tersenyum, pakai mukena putih, dia melambai ke aku.

"Arga... anakku..."ucap ibuku.

Aku nangis, "Bu..."teriakku.

Ibu di dalam sumur bicara, suaranya dari Alam Seberang, "Arga, Ibu tidak mati, Ibu jadi penjaga gerbang, sama seperti kamu sekarang. Tapi Banaspati mau keluar lewat retakan enam meter itu, dia mau pakai tubuh Ibu untuk keluar. Kalau dia berhasil, Ibu akan jadi Jin Kafir, dan kamu harus bunuh Ibu mu sendiri..."ucap ibuku.

Malik yang di belakangku menangis, "Itulah harga menjadi penjaga. Mbah Suro Joyo tahu. Setiap penjaga harus korbankan darah keluarganya...."ucap Malik.

Tiba-tiba sumur bening itu hitam lagi, wajah Ibu hilang, diganti wajah Banaspati yang kepala kerbaunya tersenyum, "Terima kasih, penjaga baru, kau sudah tahu rahasia ibumu. Sekarang kau bingung mau selamatkan ibumu atau kampungmu. Kalau kau selamatkan ibumu, retakan enam meter itu akan jebol jadi Gerbang Antara Dua Dunia dan Pasukan Jin Kafir Mengepung Kampung.."ucap Banaspati.

Aku pegang tongkat cendana, aku mau pukul sumur itu, tapi Malik tahan.

"Jangan! Kalau kau pukul sekarang, ibumu di dalam akan hancur. Kau harus pilih Arga, Mau buka peti ibumu dan bawa jasad gaib ibumu keluar untuk dikubur layak, tapi gerbang terbuka, atau biarkan ibumu tetap jadi penutup gerbang selamanya dan kau tidak pernah bisa kubur ibumu? ucap Malik lagi.

Itulah Rahasia Kematian Ibu, Ibu bukan korban, Ibu adalah penjaga sebelum aku Dan sekarang keputusan ada di tanganku...."batinku.

Aku lihat foto Ibu gendong aku umur 2 tahun, aku lihat sumur hitam yang ada Ibu di dalamnya, aku lihat retakan masjid enam meter yang dipegang tangan Banaspati.

Aku pilih.

Aku ambil kain kafan bayi dan rambut Ibu dari peti di kamar Mbah Suro Joyo, aku bawa ke sumur.

Aku tidak akan buka gerbang. Aku akan perkuat gerbang pakai darahku sendiri, seperti Ibu.

Aku sobek telapak tanganku pakai parang, darahku menetes ke sumur bening yang ada Ibu di dalamnya.

"Bu, kita jaga sama-sama..."ucapku.

Darahku yang menetes, darah penjaga baru, bertemu darah Ibu penjaga lama di dalam sumur, sumur itu langsung bercahaya putih terang sekali, terang seperti matahari, dan tangan Banaspati yang pegang retakan masjid enam meter itu terbakar dan melepas, masuk lagi ke retakan dan menjerit.

Retakan enam meter itu mengecil lagi jadi satu meter.

Gerbang selamat malam ini, tapi Ibu tetap di dalam.

Rahasia Kematian Ibu selesai, tapi harga menjadi penjaga baru dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!