NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Bibir Kafka yang menyapu sudut bibir Naya terasa seperti sengatan listrik bervoltase tinggi yang langsung melumpuhkan sistem saraf pusatnya. Dunia di sekeliling Naya mendadak senyap, hanya menyisakan suara derai hujan di luar jendela dan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.

Naya membeku, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia seharusnya mundur, ia seharusnya mendorong dada bidang pria yang setengah telanjang di hadapannya ini. Namun, tubuhnya sama sekali menolak bekerja sama. Hawa panas yang memancar dari kulit Kafka, berpadu dengan aroma cedarwood dan sisa wangi sabun mandi yang memabukkan, seolah mengikat kaki Naya kuat-kuat ke lantai.

Melihat tidak ada penolakan dari Naya, geraman rendah yang sarat akan kelegaan dan rasa lapar terdengar dari tenggorokan Kafka. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menangkup sisi wajah Naya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ibu jari Kafka mengusap lembut tulang pipi Naya, sedetik sebelum ia memangkas habis sisa jarak di antara mereka.

Kali ini, bibir mereka bertemu sepenuhnya.

Ciuman itu tidak terburu-buru, namun dipenuhi oleh intensitas dan kepemilikan yang absolut. Kafka menekan bibirnya ke bibir Naya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan postur tubuhnya yang mengintimidasi. Naya tersentak pelan, matanya terpejam rapat saat sensasi hangat dan memabukkan itu meledak di dalam dadanya. Ia belum pernah dicium seperti ini sebelumnya—seolah ia adalah satu-satunya sumber oksigen yang Kafka butuhkan untuk bernapas.

Tangan kiri Kafka melingkar di pinggang Naya, menarik tubuh wanita itu hingga merapat ke dada bidangnya yang keras dan hangat, mengikis jarak apa pun yang tersisa di antara mereka. Naya bisa merasakan otot-otot perut Kafka yang menegang di balik sentuhannya. Tanpa sadar, tangan Naya yang semula terkepal kaku di sisi tubuhnya, kini perlahan bergerak naik. Jemarinya yang gemetar meremas pelan lengan atas Kafka, mencari pegangan agar ia tidak merosot jatuh karena kakinya yang mendadak terasa seperti jeli.

Merasakan balasan kecil dari Naya, Kafka memperdalam ciumannya. Pria itu menuntun ritme dengan sangat ahli, menyesap bibir Naya dengan penuh pemujaan. Ciuman yang awalnya terasa seperti sebuah klaim, perlahan berubah menjadi luapan perasaan yang sudah dipendam Kafka selama bertahun-tahun. Ada kerinduan, kesabaran, dan janji perlindungan dalam setiap sentuhan bibirnya.

Naya mengerang tertahan. Akal sehatnya telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh gelombang emosi yang membuat matanya kembali memanas. Bukan karena sedih, melainkan karena ia merasa begitu berharga, begitu dijaga.

Tepat ketika Naya merasa ia akan benar-benar kehilangan kewarasannya dan tenggelam lebih dalam, Kafka perlahan menarik diri. Pria itu mengakhiri ciuman mereka dengan sebuah kecupan ringan dan panjang di dahi Naya.

Napas keduanya memburu. Dada Kafka naik turun dengan cepat, bergesekan pelan dengan dada Naya. Pria itu menyandarkan keningnya di kening Naya, hidung mereka saling bersentuhan. Mata legam Kafka menatap langsung ke dalam manik mata Naya yang masih sayu dan berkabut.

"Mulai sekarang," bisik Kafka, suaranya luar biasa serak dan parau, menggetarkan bibir Naya yang jaraknya hanya beberapa milimeter. "Jangan pernah lagi mencoba membangun dinding di antara kita, Kak Naya. Karena sekuat apa pun kau membangunnya, aku akan terus menghancurkannya."

Naya menelan ludah, masih berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Jantungnya berdebar sangat keras hingga rasanya menyakitkan.

"Kaf..." Naya mencoba bersuara, namun yang keluar hanyalah cicitan lirih.

Kafka mengusap bibir Naya yang sedikit membengkak dengan ibu jarinya. Tatapan pria itu kembali menggelap, seolah tengah berperang dengan hasratnya sendiri. Dengan rahang yang mengeras, Kafka mengambil satu langkah mundur, melepaskan kungkungannya dari tubuh Naya.

"Kembalilah ke kamarmu dan tidurlah, Kak," ucap Kafka, suaranya tertahan, terdengar seperti sebuah perintah sekaligus permohonan. "Sebelum pertahananku benar-benar hancur dan aku tidak membiarkanmu keluar dari kamarku malam ini."

Peringatan itu cukup untuk membuat kesadaran Naya kembali sepenuhnya. Wajahnya seketika memerah padam, semerah kepiting rebus. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, Naya segera membalikkan badan dan setengah berlari kembali ke kamar tamu. Begitu masuk, ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, dan bersandar di sana dengan dada yang naik turun hebat. Naya menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa kehangatan Kafka yang masih tertinggal pekat di sana. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Naya sama sekali tidak mengingat nama Reno sebelum ia terlelap.

Cahaya matahari Senin pagi terasa seperti musuh terbesar bagi Naya. Ia terbangun dengan perasaan panik yang luar biasa. Ingatan tentang ciuman semalam menghantamnya layaknya kereta ekspres. Bagaimana ia harus menatap wajah Kafka pagi ini?

Setelah menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya di kamar mandi, Naya akhirnya keluar dengan mengenakan blus putih tulang dan rok pensil berwarna hitam. Ia mengaplikasikan riasan natural, menutupi rona merah di pipinya yang selalu muncul setiap kali ia teringat wajah Kafka.

Naya mengendap-endap menuruni tangga, berharap ia bisa segera melarikan diri ke kantor menggunakan taksi online sebelum bertemu siapa pun. Namun, harapannya hancur berkeping-keping begitu ia menginjakkan kaki di lantai satu.

Di ruang makan, Kafka sedang duduk bersandar santai di kursinya, menyesap secangkir kopi hitam. Pria itu sudah berpakaian sangat rapi, mengenakan kemeja navy yang pas di badan dan celana bahan berwarna gelap. Lengan kemejanya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewahnya. Ia tampak seperti CEO muda dari majalah bisnis.

"Pagi, Kak Naya," sapa Kafka. Suaranya tenang, datar, seolah ia tidak baru saja meruntuhkan dunia Naya tadi malam. Namun, sudut bibirnya yang sedikit terangkat menunjukkan bahwa pria itu sangat menikmati ekspresi gugup Naya.

"P-pagi," jawab Naya canggung, berdiri kaku di dekat tangga. "Nessa mana?"

"Kak Nessa sudah berangkat lebih pagi karena ada meeting di luar kota. Aku membuatkan roti panggang dan telur mata sapi untukmu. Duduklah." Kafka menunjuk ke arah piring di seberangnya.

"Nggak usah, Kaf. Aku... aku sarapan di kantor aja. Ini udah agak telat, aku mau pesan taksi," Naya beralasan, mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru.

"Tidak ada taksi," potong Kafka mutlak. Pria itu meletakkan cangkirnya dan bangkit berdiri. Ia meraih kunci mobilnya dari atas meja. "Aku yang akan mengantarmu setiap hari. Dan aku tidak menerima penolakan, apalagi setelah apa yang terjadi semalam."

Wajah Naya memanas mendengar Kafka menyinggung kejadian semalam dengan begitu kasual. Naya menggigit bibir bawahnya, merasa kalah sebelum berperang, lalu akhirnya mengekor langkah tegap Kafka menuju garasi.

Perjalanan menuju kawasan Sudirman pagi itu dihabiskan dalam keheningan yang luar biasa tebal. Naya duduk diam, pura-pura fokus menatap gedung-gedung tinggi di luar jendela, sementara Kafka mengemudi dengan santai. Aroma parfum pria itu memenuhi kabin mobil, membuat Naya kesulitan mengatur ritme napasnya.

Saat mobil berhenti di antrean panjang lampu merah simpang Kuningan, Kafka tiba-tiba melepaskan tangan kirinya dari setir. Tanpa permisi, pria itu meraih tangan kanan Naya yang bertaut gugup di atas pangkuan wanita itu, lalu menggenggamnya erat.

Naya tersentak pelan dan menoleh, menatap tautan tangan mereka lalu menatap Kafka dengan bingung.

"Kaf..."

"Aku tidak akan meminta maaf untuk semalam," ucap Kafka memecah keheningan, matanya menatap lurus ke depan, namun genggamannya di tangan Naya semakin erat. "Aku melakukan apa yang sangat ingin kulakukan sejak hari pertama aku pulang."

Naya menelan ludah. "Kaf, ini salah. Aku teman kakakmu. Dan aku... aku baru aja hancur. Aku belum siap untuk apa pun."

Lampu berubah hijau. Kafka perlahan melajukan mobilnya, namun ia sama sekali tidak melepaskan tangan Naya. Ibu jarinya justru mengusap punggung tangan Naya dengan ritme yang menenangkan.

"Aku tahu kau belum siap, Kak," jawab Kafka, suaranya melunak, dipenuhi pengertian yang membuat hati Naya berdesir. "Aku tidak memintamu untuk langsung menjadi kekasihku hari ini. Aku tidak menuntutmu untuk melupakan semua lukamu dalam semalam. Aku hanya menegaskan posisiku."

Kafka menoleh sekilas, menatap Naya dengan sorot mata yang begitu dalam. "Aku akan memberikanmu semua waktu di dunia ini untuk sembuh. Tapi saat kau sudah siap nanti, pastikan kau menatap ke arahku. Karena aku tidak akan membiarkan pria lain menempati posisi itu."

Kalimat itu bukan sekadar gombalan murahan. Itu adalah sebuah janji. Sebuah ikrar yang diucapkan dengan keyakinan absolut. Naya tidak bisa menjawabnya. Ia hanya membiarkan tangannya berada dalam genggaman Kafka sepanjang sisa perjalanan, merasakan sebuah kehangatan aneh meresap ke dalam hatinya yang perlahan mulai sembuh.

Hari itu di kantor terasa berjalan sangat lambat. Naya kesulitan memusatkan perhatiannya pada layar laptop. Fokusnya terus-menerus terpecah.

"Woy, bengong aja lo!" seru Mita, tiba-tiba muncul di balik kubikel Naya sambil membawa segelas kopi es susu. "Kenapa lo? Mikirin Reno lagi? Nggak usah dipikirin, laki-laki sampah kayak dia mending dibuang ke laut."

Naya terkesiap, buru-buru merapikan dokumen di mejanya. "Nggak, gue nggak mikirin dia kok, Mit. Cuma lagi agak pusing aja mikirin laporan bulanan."

Mita menyipitkan matanya, mengamati wajah Naya dari jarak dekat. "Masa sih? Kok muka lo cerah banget kalau lagi pusing? Pipi lo merona tuh. Pasti gara-gara superhero tampan yang kemarin nyelamatin lo di lobi kan? Hayo ngaku!"

"Mit, apaan sih! Dia itu adik sahabat gue, jangan mikir yang aneh-aneh," sangkal Naya cepat, meskipun jantungnya berdegup kencang karena tebakan Mita tepat sasaran.

Naya menghabiskan sisa harinya dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia pulang tepat pukul lima sore. Karena Kafka sebelumnya sudah berpesan bahwa pria itu ada urusan di luar dan tidak bisa menjemput, Naya pulang menggunakan taksi menuju rumah Nessa.

Suasana rumah Nessa tampak sepi saat Naya tiba. Lampu depan belum dinyalakan. Naya masuk menggunakan kode sandinya. Begitu masuk ke ruang tengah, Naya mendengar sayup-sayup suara dari arah ruang kerja yang terletak di dekat taman belakang. Pintunya sedikit terbuka.

Itu suara Kafka.

Naya berniat menyapa, namun langkahnya terhenti saat menangkap nada bicara Kafka yang tidak biasa. Suara pria itu tidak terdengar hangat atau menggoda seperti biasanya, melainkan sangat dingin, tajam, dan penuh otoritas yang kejam. Penasaran, Naya melangkah pelan mendekati pintu ruang kerja yang terbuka celahnya, menahan napasnya agar tidak terdengar.

"Saya tidak peduli apa alasannya," suara berat Kafka menggema di dalam ruangan itu. Sepertinya pria itu sedang menelepon seseorang dengan mode loudspeaker atau headset. "Cabut semua investasi perusahaan kita dari perusahaan keluarga Reno. Lakukan sebelum bursa saham ditutup besok sore."

Naya membelalakkan matanya, darahnya seolah berhenti mengalir. Perusahaan keluarga Reno?

"Tapi Tuan Kafka, jika kita menarik dana sebesar itu secara tiba-tiba, perusahaan ayahnya akan langsung mengalami likuiditas parah. Mereka bisa gulung tikar dalam waktu kurang dari dua bulan," terdengar suara seorang pria paruh baya yang menjawab dari seberang telepon. Nada suaranya penuh kehati-hatian.

"Itu persis seperti apa yang saya inginkan," desis Kafka, suaranya serendah geraman predator. "Ayahnya adalah pria yang sombong, dan anak laki-lakinya adalah parasit yang tidak tahu diri. Dia sudah berani melukai apa yang menjadi milik saya."

Terdengar helaan napas dari seberang telepon. "Baik, Tuan. Saya akan siapkan dokumen penarikan sahamnya malam ini juga untuk Anda tanda tangani besok pagi. Tapi, apakah Tuan Besar sudah mengetahui hal ini?"

"Papa sudah menyerahkan seluruh kendali anak perusahaan di Indonesia kepadaku," jawab Kafka mutlak, menampik segala keraguan. "Dan satu lagi. Hubungi pihak keamanan gedung apartemen tempat Reno tinggal. Beli unit itu jika perlu, atau gunakan pengaruh kita untuk membuat kontrak sewanya dibatalkan. Saya tidak ingin melihat wajah bajingan itu berkeliaran dengan tenang di Jakarta."

"Dimengerti, Tuan Kafka. Akan segera saya laksanakan."

Sambungan telepon terputus. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruang kerja itu.

Di luar ruangan, Naya berdiri membeku. Tangan kanannya mencengkeram erat tali tas kerjanya. Napasnya memburu. Pria yang selama ini ia anggap sebagai adik sahabatnya yang sabar dan penyayang, ternyata memiliki sisi gelap yang sangat mengerikan. Kafka tidak hanya sekadar mengancam Reno secara fisik, pria itu benar-benar menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan hidup mantan kekasihnya itu hingga ke akar-akarnya, tanpa ampun sedikit pun.

"Dia sudah berani melukai apa yang menjadi milik saya."

Kalimat itu terngiang berulang kali di kepala Naya. Kafka tidak sedang bercanda. Keposesifan pria itu jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang bisa dibayangkan Naya.

Di tengah rasa syoknya, Naya tanpa sengaja memundurkan kakinya dan menabrak vas keramik hiasan yang berada di dekat meja konsol lorong.

Prang!

Suara pecahan keramik itu bergema nyaring di seluruh penjuru lantai satu, menghancurkan keheningan. Naya terkesiap, tubuhnya bergetar hebat.

Dari dalam ruang kerja, langkah kaki Kafka yang berat terdengar berjalan cepat menuju pintu. Saat pintu itu terbuka lebar, Kafka berdiri di sana. Pria itu masih mengenakan kemejanya, namun wajahnya mengeras, matanya menyorot tajam.

Begitu pandangan Kafka jatuh pada Naya yang berdiri mematung di dekat pecahan vas dengan wajah pucat pasi, raut wajah Kafka seketika berubah. Namun alih-alih panik atau merasa bersalah karena ketahuan, Kafka justru menyeringai tipis. Senyum miring yang membuat jantung Naya nyaris melompat dari tempatnya.

"Ah," gumam Kafka pelan, melangkah keluar mendekati Naya dengan tatapan seekor singa yang baru saja menemukan mangsanya di dalam kandangnya sendiri. "Sepertinya, rahasiaku baru saja terbongkar, Kak Naya."

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!