"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33. Hidup baru
Paman Fitri menepuk dada Danu pelan. "Kami ikhlas, sangat merestui kamu nikah sama Fitri. Titip mereka ya nak. Tolong jangan pernah lukai hati mereka."
"Saya janji dengan taruhan nyawa saya sendiri, Pak," jawab Danu tegas tanpa keraguan sedikit pun.
Aiden yang tidak paham pembicaraan orang dewasa itu mendadak berlari memeluk kaki Danu. "Uncle Danu mau tinggal di sini terus sama Aiden dan Ibu?"
Danu tertawa haru, lalu berlutut dan menggendong Aiden tinggi-tinggi. "Iya, Jagoan! Nanti Uncle bakal jagain Aiden dan Ibu tiap hari!"
Tawa bahagia membuncah di teras rumah itu. Momen lamaran sederhana itu terasa begitu hangat, penuh berkah, dan menjadi awal baru bagi keluarga kecil mereka.
Sore harinya, Fitri dan Danu mengajak Aiden berjalan-jalan di alun-alun kota. Aiden tertawa lepas sambil memegang balon gas warna-warni, dibimbing oleh Danu.
"Mas..." panggil Fitri pelan saat mereka duduk di bangku taman, memperhatikan Aiden yang sedang mengejar burung merpati.
Danu menoleh, menggenggam jemari Fitri hangat. "Kenapa, Fit? Ada yang mengganggu pikiran kamu?"
Fitri menghela napas panjang. "Makasih ya, Mas. Makasih udah mau menerima aku sama masa lalu aku yang rumit ini. Kadang aku merasa... aku gak pantas dapat kebahagiaan sebesar ini setelah semua yang terjadi."
Danu menggeleng tegas. Ia mengusap pipi Fitri dengan lembut. "Jangan pernah bicara begitu lagi, Fitri. Kamu layak bahagia. Luka masa lalu kamu itu bukan kesalahan kamu. Justru aku yang beruntung bisa dapatin hati wanita sehebat dan setegar kamu."
Fitri tersenyum tulus, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Danu. Semua memori kelam tentang Adam perlahan-lahan menghapus diri dari benaknya.
Namun, di lain tempat... roda takdir ternyata belum berhenti berputar.
Malam harinya di Bandung...
Hujan deras mengguyur area bengkel Soekarno-Hatta. Adam baru saja selesai membersihkan oli di tangannya dan bersiap untuk menutup pintu besi bengkel. Yudi sudah lebih dulu pulang karena ada urusan keluarga.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor berhenti mendadak di depan gerbang bengkel yang remang-remang.
Adam mengerutkan dahi, merasa ada yang tidak beres. "Maaf, Pak, bengkelnya udah tutup"
Belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya, dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam dan masker kain menerobos masuk secara kasar! Tanpa wacana, salah satu dari mereka langsung mencengkeram kerah baju wearpack Adam dan menghantamkan tubuhnya ke dinding bata!
BRUK!
"Khh! Siapa kalian?!" teriak Adam kesakitan, memegang dadanya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Gak usah banyak bacot!" bentak pria bertato di lehernya. "Lu yang namanya Adam kan?! Mantan suaminya Rosa?!"
Jantung Adam serasa berhenti berdetak saat mendengar nama Rosa disebut. "Ro... Rosa? Ada apa sama dia?! Saya udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama wanita itu!"
Pria itu tertawa dingin, sebuah tawa yang menyayat keheningan malam. Dia menarik keluar sebuah pisau lipat dan menempelkan ujung pisau yang dingin itu tepat di leher Adam.
"Gara-gara lu bikin laporan ke polisi dan bikin Rosa ditangkap, bos gue rugi miliaran rupiah!" bisik pria itu penuh ancaman. "Rosa udah dipenjara, tapi bos gue gak mau rugi sendiri. Dia tau lu punya rahasia besar tentang mantan istri lu yang dokter itu!"
Napas Adam mendadak sesak. Ketakutan luar biasa menerjang batinnya. Bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut jika keselamatan Fitri dan Aiden terancam!
"Jangan sentuh Fitri dan anak saya! Mereka gak tahu apa-apa!" bentak Adam nekat, mencoba melawan walau tubuhnya masih lemah.
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat telak di perut Adam! Adam tersungkur ke lantai dingin, terbatuk-batuk hebat sambil memegang dadanya yang kembali dihantam rasa sakit serangan jantung yang mengerikan.
Pria itu berlutut, mencengkeram rambut Adam kasar dan menyodorkan sebuah foto ke depan mata Adam yang mulai kabur. Foto itu memperlihatkan Danu, Fitri, dan Aiden yang sedang tertawa bahagia di teras rumah Jawa Tengah foto yang baru saja diambil siang tadi secara sembunyi-sembunyi!
"Bos gue butuh uang tebusan lima miliar. Dan Dokter Danu itu kaya raya, kan?" bisik pria itu penuh intrik jahat. "Lu yang harus bawa anak itu ke kita besok malam. Kalau lu menolak atau lapor polisi... lusa lu cuma bisa ngelihat mayat anak dan calon istrinya Dokter Danu di koran!"
Mata Adam membelalak horor. Di tengah rasa sakit dadanya yang makin membakar dan kesadarannya yang mulai menipis di atas lantai dingin, Adam menyadari satu hal yang mengerikan: "Bahaya besar baru saja mengintai darah dagingnya, dan dialah yang dijadikan alat untuk menghancurkannya!"
Napas Adam memburu, kesadarannya makin menipis saat rasa sakit jantungnya menghantam dada seperti dihujam ribuan jarum. Foto anak dan mantan istrinya yang diancam para preman itu terus terbayang di depan mata.
"Aku... gak akan pernah biarin kalian sentuh anak dan Fitri!" jerit Adam dalam hati.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Adam nekat menerjang kaki pria bertato itu hingga tersungkur! Adam meraih kunci pas berat di atas meja bengkel, menyambar ponselnya yang tergeletak, lalu berlari nekat menembus hujan deras di luar bengkel. Suara makian dan langkah kaki dua preman itu mengejarnya dari belakang.
Sambil terus berlari dengan dada yang makin sesak, jemari Adam yang bergetar hebat menekan panggilan cepat ke nomor Yudi dan pihak kepolisian.
"Yudi! Tolong... preman anak buah Rosa mau celakain Fitri sama Aiden! Hubungi polisi sekarang!" teriak Adam serak ke ponselnya sebelum akhirnya tubuhnya ambruk di tepi jalan utama, tak sadarkan diri di bawah derasnya hujan.
Beruntung, tindakan nekat dan sigap Adam malam itu menjadi penyelamat. Informasi cepat dari Yudi dan kesaksian Adam membuat tim kepolisian bergerak kilat malam itu juga. Sebelum komplotan penjahat itu sempat mendekati rumah orang tua Fitri di Jawa Tengah, jaringan preman anak buah Rosa berhasil diringkus sepenuhnya oleh polisi.
Ancaman besar yang sempat membayangi kehidupan Fitri dan Aiden akhirnya benar-benar musnah sampai ke akar-akarnya. Semua berkat pengorbanan dan kewaspadaan Adam yang rela mempertaruhkan nyawanya sekali lagi.
Beberapa bulan berlalu...
Badai telah sepenuhnya berlalu, digantikan oleh langit cerah yang membawa kedamaian dan kebahagiaan baru.
Suara alunan musik gamelan Jawa bernuansa modern mengalun lembut membelah keindahan gedung resepsi di kawasan Bandung. Rangkaian bunga melati segar dan mawar putih menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma wangi yang begitu menenangkan. Hari ini menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang saling mencintai dan menghormati dalam ikatan suci pernikahan.
Di atas pelaminan yang megah berkonsep tradisional elegan, Fitri tampak begitu cantik dan memesona berbalut kebaya putih payet karya perancang ternama, dipadu pashmina silk yang tertata sangat rapi. Di sampingnya, Dokter Danu berdiri gagah mengenakan beskap putih dengan ronce melati di dada, memancarkan aura wibawa dan ketampanan seorang pria sejati.
"Selamat ya, Dokter Fitri! Selamat Dokter Danu!" seru para rekan dokter spesialis dan staf Rumah Sakit Medika Utama yang mengantre memberikan ucapan selamat secara bergantian.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.