NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Ketegangan di Aula Utama

Suara riuh rendah ratusan pasang kaki yang memadati koridor utama SMA Bina Bangsa terdengar bergemuruh seperti ombak laut yang menghantam karang pantai. Papan-papan penunjuk arah berwarna biru tua bertuliskan Ajang Seleksi Regional Olimpiade Sains & Teknologi Nasional terpasang megah di setiap sudut persimpangan koridor, menyambut kedatangan para delegasi siswa terbaik dari berbagai sekolah menengah atas di seluruh provinsi.

Di dalam aula utama yang beratap tinggi dengan pencahayaan lampu sorot putih terang, puluhan stan pameran proyek ilmiah berdiri berjajar rapi. Setiap stan dihiasi dengan poster infografis berukuran besar, maket miniatur perangkat, serta barisan kode program yang ditampilkan di layar monitor jinjing masing-masing peserta.

Di stan nomor empat belas, Rian berdiri dengan postur tegak sempurna mengenakan seragam sekolah rapi berbalut almamater kebanggaan. Di sebelah kanannya, Maya tampak sibuk mengatur posisi kabel konektor osiloskop digital dan memeriksa ulang kelengkapan dokumen laporan cetak setebal seratus halaman yang tersusun rapi di atas meja pameran berlapis taplak hitam.

"Rian, semua kabel koneksi daya ke generator termoelektrik sudah tersambung dengan stabil," bisik Maya pelan, melirik sekilas ke arah kerumunan pengunjung dan peserta lain yang mulai memadati area stan mereka. "Tapi... aku melihat Kepala Sekolah dan pria berjas abu-abu gelap—Bramasta—berdiri di ujung koridor aula sejak sepuluh menit yang lalu. Mereka terus mengawasi stan kita dari kejauhan dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan."

Rian tidak menoleh ke arah yang ditunjuk Maya. Ia tetap berdiri tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada sambil mengamati grafik gelombang arus mikro yang berkedip stabil di layar monitor komputernya. Melalui Mata Dewa Pengamat, kesadarannya mampu menangkap pancaran energi gugup dan niat terselubung dari jarak puluhan meter di seberang ruangan.

"Biarkan mereka mengawasi, Maya," jawab Rian dengan nada suara yang sangat tenang dan datar. "Orang yang merasa terancam oleh kebenaran selalu menghabiskan waktunya untuk mengawasi bayangan mereka sendiri. Fokuskan perhatianmu pada persiapan teknis presentasi; para juri kehormatan dari kementerian sudah mulai memasuki area aula utama."

Benar saja, beberapa saat kemudian, suasana riuh di dalam aula mendadak berangsur-angsur mereda ketika pintu utama terbuka lebar. Tiga orang pejabat tinggi kementerian pendidikan yang didampingi oleh dewan pengawas independen dan Profesor Iskandar—pakar fisika kuantum nasional yang terkenal sangat kritis—berjalan memasuki area pameran dengan langkah tegap. Mereka didampingi oleh Kepala Sekolah Kusuma Bina Bangsa yang memasang senyuman kaku di wajahnya, berusaha menyembunyikan kecemasan mendalam di balik raut ramahnya.

Rombongan juri kehormatan itu berjalan perlahan dari satu stan ke stan lainnya, memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam seputar metodologi penelitian, validitas data, hingga implikasi komersial dari setiap proyek yang dipamerkan. Beberapa kelompok peserta tampak gugup, bahkan terbata-bata menjawab ketika Profesor Iskandar melontarkan kritik pedas mengenai kelemahan asumsi teoretis dalam proyek mereka.

Kini, langkah kaki rombongan juri kehormatan itu berhenti tepat di depan stan nomor empat belas milik Rian dan Maya.

Kepala Sekolah, yang berdiri tepat di belakang rombongan juri, menatap Rian dengan tatapan memperingatkan—sebuah isyarat terselubung agar remaja itu tidak membuat 'kesalahan' yang dapat memicu kontroversi. Namun, Rian mengabaikan tatapan itu sepenuhnya. Ia melangkah maju setengah langkah, membungkuk hormat dengan sopan namun tetap memancarkan wibawa yang kuat.

"Selamat pagi, Profesor Iskandar, Bapak dan Ibu dewan juri kehormatan," sapa Rian dengan suara jernih, tenang, dan berwibawa yang langsung menarik perhatian seluruh orang di sekitar stan. "Selamat datang di stan proyek penelitian pemodelan optimasi energi mikro berbasis transmutasi termoelektrik non-linear."

Profesor Iskandar, seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan dengan rambut beruban rapi dan tatapan mata tajam di balik kacamata berlensa tebal, melangkah lebih dekat ke arah meja pameran. Ia melirik sekilas ke arah poster infografis, lalu menatap tajam ke manik mata Rian.

"Anak muda," buka Profesor Iskandar dengan suara bariton yang berat dan menguji. "Aku telah membaca ringkasan eksekutif proyekmu tadi malam. Kau mengklaim bahwa algoritma yang kau rancang mampu memangkas kehilangan daya hingga empat puluh persen pada jaringan distribusi mikro skala kecil. Angka itu sangat fantastis, bahkan terlalu fantastis untuk ukuran siswa setingkat sekolah menengah. Apa dasar matematis yang membuatmu begitu percaya diri dengan klaim tersebut?"

Suasana di sekitar stan mendadak menjadi sangat sunyi. Beberapa peserta dari stan lain sengaja mendekat untuk mendengarkan bagaimana remaja pemegang beasiswa itu akan menghadapi ujian berat dari salah satu fisikawan paling ditakuti di negeri ini.

Maya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, menahan napas karena cemas. Namun, Rian sedikit pun tidak menunjukkan keraguan. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Profesor Iskandar, dalam fisika klasik, sebagian besar insinyur terjebak dalam asumsi bahwa hambatan termal adalah konstanta yang tidak dapat diubah secara dinamis pada rentang suhu mikro," jawab Rian dengan nada tenang, suaranya mengalir lancar bagaikan air pegunungan yang jernih. "Namun, jika kita meninjau ulang persamaan diferensial parsial menggunakan matriks non-linear berbasis fluktuasi frekuensi kuantum lokal, kita dapat menyelaraskan arus balik elektron sebelum disipasi panas terjadi. Izinkan saya mendemonstrasikannya secara langsung melalui simulasi real-time di layar ini."

Rian mengetikan beberapa baris perintah pendek di papan ketik laptopnya dengan gerakan jari yang sangat cepat dan presisi. Seketika itu juga, grafik gelombang arus pada layar osiloskop berubah drastis, menunjukkan lonjakan efisiensi daya yang stabil hingga persentase empat puluh dua persen tanpa ada fluktuasi liar.

Profesor Iskandar tertegun di tempatnya. Ia membungkuk lebih dekat ke arah layar monitor, memperhatikan setiap parameter barisan kode dan grafik kurva yang ditampilkan dengan mata terbelalak lebar. Alis tebalnya bertaut, menunjukkan proses analisis tingkat tinggi yang sedang berputar di dalam kepalanya.

"Luar biasa..." gumam Profesor Iskandar pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain selain dirinya sendiri. Ia menegakkan kembali tubuhnya, menatap Rian dengan campuran antara rasa takjub yang luar biasa dan rasa hormat yang mendalam. "Kau tidak hanya menggunakan pendekatan matematika tingkat lanjut; kau memecahkan masalah disipasi termal dengan kerangka pikir yang belum pernah dipublikasikan di jurnal ilmiah mana pun di negeri ini. Di mana kau mempelajari metode penurunan matriks ini, anak muda?"

"Alam semesta menyediakan seluruh cetak biru pengetahuannya bagi siapa saja yang bersedia mengamati tanpa prasangka, Profesor," jawab Rian tenang dan penuh makna.

Profesor Iskandar terhenyak sesaat mendengarkan jawaban itu, sebelum akhirnya ia tertawa kecil penuh kekaguman. Ia menoleh ke arah anggota dewan juri lainnya dan mengangguk tegas. "Aku memberikan nilai maksimal sepuluh dari sepuluh untuk validitas teoretis dan inovasi praktis pada stan ini. Proyek ini bukan sekadar karya olimpiade tingkat sekolah menengah; ini adalah terobosan industri masa depan."

Sorotan mata kagum langsung tertuju pada Rian dan Maya dari para pengunjung yang memadati area tersebut. Maya menghela napas panjang penuh kelegaan, sementara di ujung koridor, Kepala Sekolah dan Bramasta tampak menampakkan ekspresi wajah pucat pasi, menyadari bahwa upaya apa pun untuk menjatuhkan Rian kini telah sepenuhnya gagal di hadapan pengakuan terbuka seorang pakar nasional.

Tiga jam kemudian, proses penjurian resmi selesai, dan seluruh peserta dikumpulkan kembali di tengah aula utama untuk pengumuman pemenang sementara seleksi regional.

Di atas panggung utama yang berhiaskan spanduk megah, ketua panitia penyelenggara berdiri di hadapan mikrofon, memegang amplop pemenang utama dengan senyuman lebar.

"Berdasarkan hasil penilaian ketat dari dewan juri kehormatan yang dipimpin langsung oleh Profesor Iskandar," umum ketua panitia dengan suara menggelegar melalui pengeras suara, "Dewan juri dengan bulat memutuskan bahwa peraih peringkat pertama sekaligus delegasi utama yang akan mewakili provinsi kita ke ajang Grand Final Olimpiade Sains & Teknologi Nasional adalah... Tim SMA Bina Bangsa: Rian dan Maya!"

Gemuruh tepuk tangan riuh rendah seketika meledak di seluruh penjuru aula utama. Teman-teman sekelas mereka berteriak gembira sambil melambaikan tangan, sementara Maya tampak menitikkan air mata kebahagiaan, menepuk bahu Rian dengan penuh antusias.

Rian berdiri tenang, merapikan jaket almamaternya, lalu melangkah ke atas panggung untuk menerima trofi kemenangan dan sertifikat penghargaan resmi. Wajahnya tetap tenang dan berwibawa, tanpa sedikit pun kesombongan, seolah-olah kemenangan besar itu adalah sebuah keniscayaan yang wajar dari setiap proses yang telah ia jalani.

Malam harinya, setelah perayaan kecil bersama pihak sekolah usai, Rian kembali ke kamar sederhananya di rumah susun. Suasana malam terasa begitu damai, ditemani cahaya lampu kota yang berkelip kejauhan di balik jendela kaca yang bersih.

Rian duduk bersila di atas lantai kayu dengan punggung tegak lurus sempurna. Di sekeliling tubuhnya, pendar cahaya keemasan yang terang benderang berputar membentuk lingkaran medan energi spiritual yang sangat padat dan murni.

[ Pemberitahuan Sistem: Resonansi pencapaian di dunia fana berhasil menyelaraskan 130% inti energi kultivator. ] [ Pintu gerbang transisi menuju tingkat ketujuh: Penguasaan Hukum Keseimbangan Kosmik Mutlak kini terbuka lebar. ]

Deretan teks transparan berwarna keemasan melintas sekilas di retinanya sebelum perlahan menyatu ke dalam kedalaman kesadaran batinnya.

Rian membuka kedua matanya perlahan. Kilatan cahaya keemasan yang tajam menyala terang sesaat di manik matanya, memancarkan wibawa seorang kultivator agung yang berdiri di puncak dunia. Ia menarik napas panjang, merasakan aliran energi semesta mengalir deras tanpa hambatan di dalam tubuhnya.

"Dunia fana hanyalah sebuah panggung kecil," bisik Rian pelan pada kesunyian malam, suaranya bergema lembut di dalam kamar yang sunyi. "Dan langkahku baru saja dimulai."

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!