Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya Kamu?
Sudah cukup lama Faz membiarkan DM dari seseorang itu begitu saja.
Bahkan, sampai saat ini ia tidak tahu siapa orang di balik akun tersebut. Perempuan atau laki-laki, Faz tidak tahu.
Mungkin hanya seseorang yang sedang iseng.
Selama ini, untuk urusan pemotretan, Faz tidak pernah mengganti fotografer. Apalagi tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagai fotografer dan menawarkan diri memotretnya.
Bagaimana mungkin Faz langsung percaya?
Terlebih akun itu diprivat.
Faz kembali meletakkan ponselnya di atas kasur.
Sejak seharian dia jalan-jalan sendiri. Dia akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.
Ia hanya ingin menikmati sisa waktunya.
Mungkin kali ini ia perlu lebih banyak beristirahat. Mengumpulkan tenaga sebelum benar-benar meninggalkan semuanya.
Pikirannya kembali dipenuhi bayangan tentang hidupnya yang sebentar lagi akan berubah.
Tiba-tiba—
Ting!
Sebuah notifikasi Instagram muncul.
Seseorang mulai mengikuti Anda.
Faz meraih ponselnya.
Matanya menyipit ketika melihat nama akun tersebut.
Orang yang beberapa jam lalu mengiriminya DM.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa malasnya.
Faz membuka profil itu.
Kemudian, tanpa banyak berpikir, ia menekan tombol follow back.
Foto profilnya hanya sebuah kamera yang diletakkan di atas meja dengan latar sederhana.
Akira Studio.
“Akira Studio?”
Faz mengernyit.
“Perempuan, ya?”
Ia mulai menggulir layar.
Satu per satu unggahan akun itu muncul.
Tidak ada foto pemiliknya.
Hanya foto-foto candid aktivitas masyarakat di tengah kota, sudut-sudut jalan yang terlihat estetik, pemandangan, suasana kafe, beberapa potret jalanan, hingga foto-foto studio.
Semuanya tampak sederhana, tetapi memiliki sesuatu yang membuat Faz berhenti lebih lama pada setiap unggahan.
Namun tidak ada satu pun foto wajah pemilik akun itu.
“Dia terlalu menutup diri atau memang nggak suka difoto?”
Faz tersenyum kecil.
Ia terus menggulir.
Sampai akhirnya jarinya berhenti.
Ada satu foto yang berbeda.
Seorang perempuan muda mengenakan dress hitam panjang dengan gaya feminin dan elegan. Hijab putih membingkai wajahnya. Ia berdiri di dalam ruangan bernuansa hangat dengan pencahayaan lembut.
Faz memperhatikan foto itu beberapa detik.
“Ini dia?”
Namun segera ia menggeleng.
Bisa saja perempuan itu hanya pelanggan.
Toh, foto tersebut diambil di studio.
“Ah…”
Faz kembali menggulir layar.
Entah kenapa, justru karena tidak menemukan wajah pemilik akun tersebut, rasa penasarannya semakin besar.
Siapa sebenarnya fotografer ini?
Namun kemudian Faz teringat sesuatu.
Ia sudah membuat keputusan.
Ia ingin meninggalkan media sosial.
Bukan hanya Instagram. Perlahan ia ingin meninggalkan dunia pemotretan dan semua hal yang selama ini memenuhi hidupnya.
Entah keputusan itu akan berjalan semudah yang ia bayangkan atau tidak.
Yang jelas, ada satu hal yang membuatnya sedikit khawatir.
Papa.
Papa tidak pernah benar-benar setuju dengan keputusan-keputusan yang Faz ambil.
Dan kali ini mungkin akan sama.
Bahkan mungkin lebih buruk.
Pikiran Faz perlahan kembali pada masa lalu.
Dulu, ia pernah begitu bersemangat ingin menjadi jaksa.
Seperti Papa.
Ia masih ingat bagaimana Mama begitu mendukung cita-citanya. Setiap pagi, Mama selalu bangun lebih awal hanya untuk menyiapkan bekal untuknya.
“Belajar yang rajin, ya, Faz.”
Kalimat sederhana itu masih terngiang di kepalanya.
Nilainya bagus. Kuliahnya berjalan lancar. Masa depannya seolah sudah tersusun rapi.
Sampai sebuah kejadian mengubah semuanya.
Faz mulai merasa bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang jaksa.
Ia memilih berhenti kuliah.
Keputusan yang tidak pernah bisa diterima Papa.
Mama bahkan hanya bisa menangis semalaman.
Sementara Papa memilih diam.
Tidak memarahinya.
Tidak bertanya.
Bahkan tidak mau berbicara dengannya.
Dan sekarang…
Faz kembali mengambil keputusan besar.
Kali ini mungkin ia akan mengecewakan mereka untuk kedua kalinya.
Faz mengembuskan napas panjang.
Ponselnya masih berada di tangannya.
Tiba-tiba sebuah notifikasi Instagram kembali muncul.
Sebuah pesan masuk.
Faz membukanya.
«“Namaku Hannah Akira. Aku mempunyai studio kecil. Kamu bisa mengecek studioku di Google bahwa aku bukan penipu maupun orang gila.”»
Faz terkekeh kecil.
Setidaknya perempuan ini cukup percaya diri.
Ia melanjutkan membaca.
«“Aku dengar kamu ingin berhenti dari pemotretan baju Arfa. Bagaimana kalau aku mengajukan diri menjadi fotografermu?”»
Faz terdiam.
Beberapa detik ia hanya menatap pesan itu.
Kemudian tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sesuatu yang sederhana berhasil membuatnya penasaran.
Hannah Akira.
Nama itu kembali ia baca.
Faz belum tahu siapa perempuan di balik nama tersebut.
Belum tahu seperti apa wajahnya.
Belum tahu mengapa perempuan itu tiba-tiba ingin menjadi fotografernya.
Namun satu hal yang pasti—
Untuk pertama kalinya, Faz tidak langsung mengabaikan sebuah pesan.
Faz akhirnya membuka Google.
Ia mengetik nama Akira Studio pada kolom pencarian.
Tidak butuh waktu lama sampai hasil pencarian muncul.
Benar saja.
Ada sebuah studio dengan nama yang sama.
Lokasinya bahkan terlihat cukup jelas di peta.
Faz memperbesar layar.
“Lho…”
Alisnya terangkat.
Studio itu ternyata berada tepat di samping sebuah kedai kopi yang namanya tidak asing baginya.
Coffee Aroma Waktu.
Faz mengerutkan kening.
Entah kenapa nama itu terasa familiar.
Ia kemudian mengetik nama kedai kopi tersebut di Google.
Beberapa informasi muncul.
Faz membaca salah satunya.
Pemilik: Arif Rifa’i.
Tangannya berhenti menggulir.
“Arif Rifa’i?”
Faz menatap layar lebih lama.
Nama itu benar-benar tidak asing.
Ia mengenal Arif.
Tapi yang membuatnya heran bukan soal kedai kopi itu.
Melainkan lokasinya.
Studio Hannah tepat di sebelah Coffee Aroma Waktu.
“Kenapa bisa di sebelah kafe Arif?”
Faz menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Pikirannya mulai ke mana-mana.
Apakah mereka berteman?
Atau…
Faz menyipitkan mata.
“Jangan-jangan mereka…”
Ia menghentikan kalimatnya sendiri.
Kemudian tertawa kecil.
“Ah, nggak mungkin.”
Tapi rasa penasarannya belum hilang.
Kalau bukan teman, lalu siapa?
Faz kembali melihat profil Hannah.
Kemudian ia kembali membuka informasi tentang Coffee Aroma Waktu.
Ia mencoba mencari tahu apakah Arif sudah menikah.
Sejauh yang ia tahu, Arif sepertinya belum menikah.
“Kalau istrinya, sepertinya bukan…”
Faz bergumam.
Lalu matanya kembali tertuju pada nama Hannah Akira.
“Terus Hannah ini siapa?”
Pertanyaan itu justru membuatnya semakin penasaran.
Kalau adik juga bukan. Bukannya adiknya Farah?
Temannya?
Partner bisnisnya?
Atau…
Faz menggeleng cepat.
“Kenapa aku jadi kepo begini, sih?”
Ia terkekeh sendiri.
Padahal beberapa jam lalu ia bahkan tidak berniat membalas DM perempuan itu.
Sekarang ia malah sibuk mencari tahu hubungan Hannah dengan seseorang yang bahkan bukan urusannya.
Faz kembali membuka pesan dari Hannah.
Nama itu tertera jelas di sana.
Hannah Akira.
Entah kenapa, semakin banyak yang ia temukan, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Faz merasa ingin mengetahui sesuatu.
Bukan tentang penyakitnya.
Bukan tentang masa depannya.
Bukan pula tentang keputusan untuk meninggalkan semuanya.
Melainkan tentang seorang perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
“Hannah…”
Faz tersenyum tipis.
“Siapa sebenarnya kamu?”
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊