NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: JEJAK YANG DIHAPUS

Pagi hari di perbukitan datang menyusup lewat kabut tebal yang menyelimuti kediaman megah itu.

Sinar matahari keemasan menerobos masuk melalui celah-celah jendela besar ruang tengah, memantulkan bayangan dingin pada lantai granit yang terpoles sempurna.

Di atas permukaan meja makan, sebuah cangkir porselen berisi teh hangat memancarkan asap tipis.

Sesil duduk bersandar di kursi mahoni, memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Raut wajahnya dipasang redup, dengan sorot mata sayu yang pasrah—sebuah akting kepatuhan yang makin sempurna setelah dua malam berturut-turut berhasil berpura-pura menelan obat Mandaroba.

Di seberang meja, Alden sedang memeriksa berkas-berkas kantornya di atas tablet digital. Pria itu sesekali menoleh ke arah Sesil, menatap wanita itu dengan binar kepuasan seorang pemilik yang yakin bahwa aset berharganya tetap berada di bawah kendali penuh.

"Aku ada rapat penting dengan dewan komisaris di pusat kota siang ini, Sayang," ujar Alden seraya meletakkan tabletnya dan tersenyum hangat. "Mungkin aku baru kembali menjelang malam. Kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?"

Sesil mengangguk lambat, memaksakan senyuman tipis yang terkesan sangat bergantung pada pria itu. "Aku akan menunggu di perpustakaan atau rumah kaca, Alden. Jangan pulang terlalu larut... aku merasa lebih aman kalau ada kamu."

Alden tertawa kecil—sebuah tawa penuh kebanggaan yang dipuaskan oleh ketergantungan buatan yang dipercayainya. Pria itu berdiri, menghampiri Sesil, lalu mengecup puncak kepalanya dengan kehangatan yang kini terasa bagaikan sengatan racun bagi Sesil.

"Gadis pintar," bisik Alden lembut. "Ibu Marta akan menyiapkan makan siangmu. Tetaplah di dalam rumah."

Dua puluh menit kemudian, deru mesin sedan hitam milik Alden terdengar menjauh, menyusuri jalan setapak berkerikil sebelum akhirnya menghilang di balik gerbang besi utama yang terkunci otomatis.

Begitu keheningan kembali menguasai rumah besar itu, topeng kepatuhan di wajah Sesil runtuh seketika.

Jantungnya berdebar kencang, memacu adrenalin yang telah lama diredam. Ia bergeming di kursinya selama beberapa menit, memastikan Ibu Marta sibuk di dapur area belakang yang terpisah cukup jauh dari area kerja utama.

Sesil berdiri dan melangkah cepat tanpa suara menuju ruang kerja terbuka milik Alden di lantai satu. Tempat ini berbeda dari ruang kerja rahasia terkunci di lantai atas. Ruangan ini adalah tempat biasa Alden menerima telepon bisnis atau memeriksa dokumen harian.

Di atas meja kayu jati yang besar, terdapat sebuah laptop perak yang terhubung langsung dengan jaringan internet satelit berkecepatan tinggi.

Sesil menyentuh trackpad laptop tersebut. Layarnya seketika menyala, menampilkan kolom kata sandi.

Napas Sesil tertahan. Namun, ingatan visualnya yang telah pulih seratus persen bertindak cepat.

Ia mengingat gerakan jemari Alden saat mengetikkan kata sandi di laptop tersebut beberapa hari lalu ketika pria itu memperlihatkan foto-foto desain rumah kaca padanya.

Jemari Sesil menari di atas papan ketik: M-A-N-D-A-R-O-B-A-9-9.

Klik.

Layar utama laptop terbuka seketika.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Sesil membuka jendela peramban internet (browser) dalam mode penyamaran (incognito).

Tangannya yang gemetar mengetikkan namanya sendiri di kolom pencarian:

"Sesil Wijaya"

Tekanan tombol Enter terasa bagaikan ketukan pemicu bom. Hanya dalam hitungan detik, ribuan hasil pencarian bermunculan di layar perak itu.

Mata Sesil bergerak cepat menyusuri baris demi baris artikel berita dari berbagai portal media nasional. Apa yang ditemukannya di sana membuat darah di dalam tubuhnya seketika membeku dingin.

Nama dan foto dirinya terpampang di mana-mana—bukan sebagai calon pengantin dari seorang pengusaha kaya bernama Alden, melainkan sebagai korban dari sebuah tragedi misterius.

Artikel teratas dari portal berita utama bertanggal lima bulan lalu memuat judul berukuran besar:

"ENAM BULAN MENGERIKAN: JURNALIS INVESTIGASI SESIL WIJAYA RESMI DIENYATAKAN HILANG DAN DIDUGA TEWAS"

Sesil menahan jeritan di tenggorokannya, membaca isi berita tersebut dengan air mata yang mulai merebak di pelupuk matanya.

Berita itu menyebutkan bahwa pada malam hujan deras enam bulan lalu, mobil milik Sesil ditemukan hancur tenggelam di dasar jurang pinggiran kota. Tidak ada mayat yang ditemukan di dalam bangkai mobil tersebut, namun polisi menemukan ceceran darah dan barang-barang pribadinya yang rusak.

Setelah pencarian intensif selama beberapa minggu tanpa hasil, pihak kepolisian secara resmi menutup kasus tersebut dan menyatakan Sesil Wijaya menghilang—dengan dugaan kuat telah tewas terseret arus sungai deras di dasar jurang.

Sesil meremas tepi meja jati itu. Mobilku diceburkan ke jurang... Alden memalsukan kematianku! Dia membuat seluruh dunia percaya bahwa aku sudah tewas agar tidak ada seorang pun yang mencariku!

Sesil bergerak cepat mengetikkan kata kunci baru di kolom pencarian:

"Keluarga Sesil Wijaya".

Sebuah artikel koran lokal bertanggal empat bulan lalu muncul. Artikel itu memuat foto dua orang tua setengah baya yang tampak sangat kurus dan layu dengan mata sembap—ayah dan ibunya. Artikel tersebut memberitakan bagaimana orang tuanya telah menjual rumah keluarga mereka untuk membiayai detektif swasta dan kampanye pencarian Sesil, sebelum akhirnya menyerah dan pindah ke kota kecil di Jawa Tengah dalam keadaan berduka parah dan bangkrut.

"Ibu... Bapak..." bisik Sesil, air matanya menetes deras menghantam papan ketik laptop.

Kepedihan yang amat sangat mencabik-cabik dadanya saat melihat wajah kedua orang tuanya yang hancur akibat kebohongan dan kekejaman Alden.

Selama enam bulan ini, orang tuanya menangisi kematian anak perempuan mereka, sementara anak perempuan itu dikurung di sebuah istana megah, diberi racun kimia setiap malam, dan dipaksa mencintai pria yang telah menghancurkan hidup keluarga mereka.

Sesil mengusap air matanya dengan kasar. Rasa duka itu dengan cepat berubah menjadi amarah yang membara dan dingin.

Ia melanjutkan pencariannya, mengetikkan nama:

"Rian Pratama Jurnalis".

Hasil pencarian menampilkan beberapa berita terkait rekan kerjanya itu. Rian rupanya terus menerus mengadakan konferensi pers dan menuduh adanya keterlibatan jajaran eksekutif PT Mandaroba Medika atas hilangnya Sesil. Namun, artikel terbaru memperlihatkan bahwa Rian telah dipecat dari perusahaan media tempat mereka bekerja atas tuduhan 'pencemaran nama baik' setelah digugat oleh tim pengacara hukum Alden, dan kini hidup dalam pengawasan ketat.

Semua jejak kehidupan Sesil Wijaya sebagai manusia bebas telah dihapus secara sistematis oleh Alden. Pria itu telah mematikan identitasnya di mata hukum, menghancurkan keluarganya, menyingkirkan sahabat-sahabatnya, dan menciptakan sebuah realitas palsu di mana Sesil hanya ada sebagai "tunangan" yang terisolasi di puncak bukit.

BZZZZT.

Suara getaran ponsel milik Alden yang tertinggal di atas rak buku dekat meja mengejutkan Sesil.

Layar ponsel itu menyala, memperlihatkan sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor yang tidak ditandai nama, namun memiliki pengenal enkripsi:

[Sistem Pengawasan Keamanan Terintegrasi]: Peringatan! Aktivitas pencarian jaringan eksternal terdeteksi pada IP Laptop Utama.

Mata Sesil membelalak tajam. Sistem rumah pintar milik Alden memiliki firewall otomatis yang memberi tahu ponselnya jika ada aktivitas pencarian di laptop tanpa izin!

Hanya dalam hitungan detik setelah pesan itu masuk, ponsel Alden mulai berdering nyaring. Nama yang tertera di layar panggil:

ALDEN.

Pria itu sedang menelepon ponselnya sendiri yang tertinggal untuk memeriksa siapa yang menyentuh laptopnya!

Adrenalin Sesil memuncak hingga ke titik tertinggi. Dengan kecepatan yang luar biasa, Sesil segera menghapus seluruh riwayat pencarian (history) dan cookies pada browser incognito, menutup jendela peramban, dan mengembalikan kursor ke posisi semula.

Ia mematikan layar laptop, lalu melangkah mundur dengan tergesa-gesa tanpa menimbulkan suara.

Ia berlari pelan menuju ruang tengah, mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin, dan mendudukkan dirinya kembali di sofa tepat saat suara langkah kaki cepat Ibu Marta terdengar dari arah koridor belakang menuju ruang kerja tempat ponsel Alden terus berdering nyaring.

Ibu Marta mengangkat telepon tersebut.

"Halo? Ya, Tuan Alden... Ponsel Tuan tertinggal di atas rak... Nona Sesil? Nona Sesil sedang duduk tenang minum teh di ruang tengah sejak tadi, Tuan... Baik, saya akan memeriksanya."

Ibu Marta melangkah keluar dari ruang kerja dan menatap Sesil yang sedang duduk di sofa dengan pandangan sayu, memegang cangkir teh dengan tangan yang dipura-purakan gemetar.

"Ada apa, Ibu Marta?" tanya Sesil dengan nada suara lambat dan polos.

Ibu Marta mendesah lega, mengabaikan kecurigaannya. "Tidak ada apa-apa, Nona. Tuan Alden hanya merasa khawatir. Saya akan membawakan teh hangat yang baru untuk Nona."

"Terima kasih, Bu Marta," bisik Sesil.

Begitu wanita tua itu kembali ke dapur, Sesil menyandarkan punggungnya ke sofa. Dadanya berombak naik turun menahan napas.

Di balik topeng kepatuhan yang masih terpasang rapi di wajahnya, Sesil menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan.

Ia telah mengetahui kebenaran sepenuhnya. Namanya mungkin telah dihapus dari dunia luar, dan keluarganya mungkin telah dihancurkan, tetapi ia masih hidup.

Dan selama ia masih bernapas dan memiliki kejernihan otaknya, ia akan memastikan bahwa jejak kejahatan Alden tidak akan pernah bisa dihapus dari muka bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!