Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 10
. itu atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar. Kita lihat saja... apakah Kaisar Tian masih akan membela selir kesayangannya saat beliau menyadari bahwa racun yang kau sebarkan juga merayap merusak saraf di pelipis beliau sendiri."
Kalimat terakhir Anran bagaikan hantaman yang meremukkan seluruh pertahanan Selir Mei. Wajah cantik yang biasa dipoles riasan halus itu kian pucat pasi bagaikan mayat. Bibirnya bergetar hebat tanpa sanggup melontarkan sepatah kata pun untuk membela diri.
"K-Kau..." desis Selir Mei parau, sorot matanya yang biasa dipenuhi kepura-puraan kini sarat akan ketakutan murni.
"Lian, antarkan Selir Mei keluar dari Istana Fengyi," perintah Anran tenang seraya membalikkan tubuhnya, melangkah kembali ke meja kerja seolah-olah kehadiran Selir Mei hanyalah seekor lalat yang mengganggu. "Pastikan beliau berjalan dengan baik. Sangat memprihatinkan jika selir kesayangan Kaisar pingsan di pelataran istanaku."
"Hamba laksanakan, Yang Mulia Permaisuri!" seru Lian dengan suara tegas dan penuh rasa bangga.
Selir Mei mengepalkan jemarinya hingga kuku-kuku jarinya meremas kain gaun ungunya kencang. Dengan napas memburu dan langkah kaki yang terhuyung-huyung ketakutan, ia memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan aula Istana Fengyi diiringi dua pelayannya yang panik.
Malam kian larut. Hawa dingin meresap menembus celah jendela Istana Fengyi, namun suasana di dalam kamar peraduan Anran terasa jauh lebih hangat dan tenang. Anran menghabiskan sisa malamnya memeriksa catatan medis dan meracik herbal sederhana untuk memulihkan staminanya yang sempat terkuras.
Ia tahu betul bahwa esok fajar di Aula Keagungan, pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Pendar fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan warna keemasan yang membelah kegelapan langit Kerajaan Great Yan. Lonceng perunggu raksasa di puncak benteng istana berdentang sembilan kali, menandakan dimulainya sidang fajar yang dihadiri oleh seluruh pejabat tinggi, menteri, dan anggota keluarga kerajaan.
Di dalam Aula Keagungan yang megah, pilar-pilar merah raksasa berukir naga emas berdiri kokoh menopang langit-langit yang tinggi. Kaisar Tian duduk di atas Tahta Naga, berbalut jubah kebesaran emas-hitam. Raut wajahnya yang tampan tampak begitu dingin dan keras, dengan sepasang mata elang yang memancarkan aura intimidasi yang menekan seluruh isi ruangan.
Para pejabat dan menteri berbaris rapi di sebelah kiri dan kanan, berbisik-bisik penuh spekulasi setelah mendengar kabar angin bahwa sang Permaisuri yang dibuang secara mendadak dipanggil menghadap hari ini.
"Yang Mulia Permaisuri memasuki Aula Keagungan!" seru pengawal pintu dengan suara bergaung nyaring.
Seluruh mata di aula utama seketika tertuju ke arah gerbang utama.
Anran melangkah masuk dengan gaun kebesaran Permaisuri berwarna merah-emas yang menjuntai anggun di lantai batu pualam. Mahkota feniks emas berkilau di atas kepalanya, membingkai wajah cantiknya yang tenang, berwibawa, dan tanpa sekelumit pun rasa gentar. Setiap langkah kakinya begitu teratur, memancarkan pesona seorang ratu sejati yang tak tergoyahkan.
Di sudut kiri aula, Selir Mei berdiri dengan wajah pucat dan mata yang agak sembap, didampingi oleh ayahnya Menteri Kebudayaan yang berpengaruh di istana. Selir Mei menatap Anran dengan binar kebencian yang samar, berusaha keras mempertahankan raut wajah memelas di hadapan Kaisar Tian.
Anran menghentikan langkahnya di tengah aula, membungkuk hormat dengan gerakan yang amat sempurna. "Hamba, Permaisuri Anran, memberi hormat kepada