Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Jendela dan Peringatan yang Terabaikan
Hari-hari berlalu di SMA Pelita Bangsa membawa angin perubahan yang terasa begitu menenangkan bagi Juwita. Di bawah naungan beasiswa penuh dari Pratama Corp dan perlindungan tak kasat mata dari dewan juri nasional, hari-hari sekolah Juwita yang tadinya dipenuhi teror kini berubah menjadi hamparan ketenangan. Namun, yang paling mengejutkan bukan lagi perlakuan sekolah padanya, melainkan sosok Kevin Aditama.
Sudah hampir sebulan sejak insiden air mata penyesalan itu di taman belakang sekolah. Selama kurun waktu tersebut, Kevin menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda dari pemuda arogan yang dulu dikenal seisi sekolah. Tidak ada lagi tatapan merendahkan, tidak ada lagi bisikan beracun, dan yang paling penting, tidak ada lagi sabotase. Sebaliknya, Kevin konsisten menunjukkan sikap yang sangat kooperatif. Ia sering kali menunggu Juwita di depan perpustakaan, membawakan setumpuk referensi jurnal ilmiah internasional yang sulit diakses, bahkan dengan sabar mendiskusikan kerangka algoritma kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan Juwita untuk pameran sains nasional mendatang.
Sore itu, di bawah temaram lampu perpustakaan kota yang tenang, Juwita menutup buku catatannya lalu menghela napas lega. Di seberang mejanya, Kevin tersenyum ramah sambil menyerahkan segelas cokelat hangat.
"Minumlah dulu, Juwita. Kamu sudah menatap layar komputer itu selama tiga jam tanpa berkedip," ucap Kevin lembut, sorot matanya memancarkan perhatian yang begitu tulus.
Juwita menerima gelas itu, tersenyum kecil. "Terima kasih, Kevin. Aku hanya ingin memastikan kode program ini benar-benar matang sebelum diserahkan ke tim Profesor Hendra minggu depan. Proyek ini sangat berarti buat aku... dan buat ibuku."
Kevin mengangguk paham, senyuman tipis tersungging di bibirnya—senyuman yang tampak begitu bersahabat, namun menyembunyikan rencana iblis di baliknya. "Aku mengerti, Juwita. Dan aku sangat bangga padamu. Sungguh... melihat perjuanganmu dari awal sampai detik ini, aku merasa sangat bodoh pernah menjadi musuhmu."
Mendengar kalimat itu, rasa bersalah yang sempat tersisa di benak Juwita atas prasangkanya di masa lalu seketika menguap. Ia menatap Kevin dengan pandangan penuh keyakinan. Selama beberapa minggu terakhir, Kevin terbukti selalu ada di sisinya, melindunginya dari siswa-siswa lain yang masih berani bergosip, dan membantunya mengurus berbagai administrasi riset. Di mata Juwita, manusia memang bisa berubah. Luka masa lalu perlahan tertutup oleh bukti nyata bahwa pengampunan dan kesempatan kedua memiliki kekuatan untuk mengubah seseorang menjadi lebih baik.
"Terima kasih, Kevin," bisik Juwita tulus. "Aku senang... kita bisa berteman seperti ini."
"Aku juga, Juwita. Aku juga," jawab Kevin, sementara di dalam hatinya ia tertawa dingin, merayakan betapa mudahnya gadis jenius itu masuk ke dalam perangkap kepercayaannya.
Malam harinya, suasana di gubuk reot di bantaran rel kereta api terasa hangat. Di atas ranjang kecilnya, kesehatan Dara kini telah pulih secara drastis. Wanita paruh baya itu bahkan sudah bisa duduk bersandar sambil melipat pakaian bersih, sementara aroma harum masakan sederhana mengepul dari sudut dapur kecil mereka.
Juwita duduk di samping ibunya, membantu melipat kain sarung sambil menceritakan kejadian di sekolah hari ini dengan antusias yang meluap-luap.
"Ibu tahu tidak? Minggu depan proyek riset Juwita akan diuji coba secara langsung di depan dewan juri nasional," ceritanya dengan mata berbinar-binar. "Dan... Kevin yang sekarang sudah sangat berbeda, Bu. Dia benar-benar membantu Juwita menyelesaikan seluruh referensi kode pemrogramannya. Dia sudah berubah total, tidak seperti dulu lagi."
Dara yang tadinya sedang merapikan pakaian berhenti bergerak. Wanita paruh baya itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap putrinya lekat-lekat. Ada kilatan pengalaman hidup yang tajam, sebuah insting keibuan yang sangat peka, terpancar dari balik mata Dara yang mulai berkerut.
"Kevin Aditama... anak dari keluarga itu?" tanya Dara pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati namun penuh penekanan.
Juwita mengangguk antusias. "Iya, Bu. Dia bahkan sering traktir minum dan jagain Juwita dari anak-anak lain di sekolah. Juwita rasa, kita tidak boleh terus-menerus menyimpan benci. Manusia pantas mendapatkan kesempatan kedua, kan, Bu?"
Dara terdiam cukup lama. Ia meletakkan pakaian di pangkuannya, lalu meraih tangan Juwita, menggenggamnya dengan erat. Telapak tangan Dara yang kasar dan penuh bekas luka kerja keras itu memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya peringatan yang hendak ia ucapkan.
"Nduk... dengar kata Ibu," ucap Dara dengan nada suara yang sangat serius, membuat senyumen di wajah Juwita perlahan meredup. "Harimau mungkin bisa mengubah belangnya untuk sementara waktu, tapi seekor pemangsa tidak akan pernah melupakan nalurinya untuk menerkam."
Juwita mengerjap kaget. "Ibu... maksud Ibu apa? Kevin benar-benar tulus mau berteman dan bantu Juwita, bahkan dia juga melindungi Juwita dari teman-teman sekolah yang tidak suka melihat Juwita maju"
"Ibu bukan meragukan kebaikan hatimu, Nak," lanjut Dara, sorot matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Tapi keluarga Aditama... darah yang mengalir di nadi mereka adalah darah orang-orang yang terbiasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Ayahnya adalah orang yang licik, demi kekuasaan dan ambisi, ia rela menghancurkan hidup orang lain dengan berbagai cara, baik cara yang kasar maupun cara yang halus tanpa orang lain menyadarinya. Ibu takut... anak itu mewarisi sifat yang sama."
Juwita menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum kecil untuk menepis kekhawatiran ibunya. "Ibu terlalu terbawa oleh trauma masa lalu. Waktu sudah berubah, Bu. Kevin sudah minta maaf, dan dia tidak punya alasan lagi untuk menyakiti Juwita. Lagi pula, semua data riset Juwita disimpan dengan aman."
Melihat keyakinan yang begitu kuat di mata putrinya, Dara hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak ingin mendebat lebih jauh; ia tahu Juwita adalah gadis yang keras kepala dalam hal mempertahankan prinsip kebaikannya. Namun, rasa cemas di dada Dara tidak kunjung surut. Ia merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat seolah ingin melindunginya dari badai yang kasat mata.
"Berhati-hatilah, Nduk..." bisik Dara parau di dekat telinga Juwita. "Jangan pernah serahkan seluruh kepercayaanmu pada seseorang yang belum pernah teruji kesetiaannya di dalam api."
Juwita membalas pelukan ibunya dengan senyuman hangat, mengangguk patuh meskipun di dalam hatinya ia merasa ibunya terlalu berlebihan. Baginya kebaikan, perhatian dan bantuan yang diberikan kevin sudah membuktikan bahwa kevin benar-benar berubah, bukan kevin yang dulu.
Ia tidak tahu... bahwa di belahan kota yang lain, di dalam kamar megah yang diterangi lampu temaram, Kevin Aditama sedang menatap layar laptopnya dengan seringai lebar yang mengerikan. Di hadapan Kevin, seluruh file kode sumber utama riset Juwita telah berhasil disalin ke dalam flashdisk pribadinya. Jebakan itu telah terpasang sempurna. Dan esok hari, giliran babak akhir dari sandiwara pengkhianatan itu dimulai untuk menghancurkan Juwita untuk selama-lamanya.