NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Gara-gara keserakahan manusia merobek batas dimensi, bumi kiamat dan peradaban malah mundur ke abad pertengahan yang kejam. Dua ratus tahun kemudian, ras manusia dianggap sebagai makhluk paling lemah di dunia baru ini.

Tapi aturan itu tidak berlaku bagi Leo, Cheeta, dan Rheno tiga pemuda yatim piatu super nekat dari Lembah Karat. Ambisi mereka awalnya sederhana: bertahan hidup, menjarah, dan jadi kaya raya! Sialnya, gara-gara tergiur harga jual buah magis yang selangit, aksi nekat Leo malah menyeret mereka ke dalam takdir misterius.

Tanpa disadari, kekuatan purba Equilibrium yang terkunci di dalam darah mereka mulai terbangun. Bersiaplah mengikuti perjalanan epik yang seru, kocak, dan penuh kejutan dari trio penjarah amatir ini dalam mengocok isi dunia atas dan bawah!

Gaya Cerita: Santai & Humoris. Pas buat kamu yang suka petualangan fantasi seru tapi bikin ngakak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di luar dugaan taktik licik

Di sisi lain medan perang, Rocky tampaknya sedang menghadapi masalah terbesar dalam hidupnya. Ia benar-benar dibuat frustrasi setengah mati menghadapi Rheno. Memang, Rheno sempat terpental beberapa kali akibat terjangan hujan batu yang mengenai tubuhnya dengan telak.

Sebagai petarung jarak dekat, Rheno awalnya sempat kewalahan menghadapi Rocky yang terus-menerus memanipulasi tanah dan batu, lalu menggunakannya sebagai rentetan serangan jarak jauh. Namun, bukan luka fisik yang membuat Rocky tersiksa, melainkan respons membisu dari lawannya.

"Ayo bicara, dasar bajingan!" ucap Rocky, kesal sampai ke ubun-ubun.

"Jangan cuma mengangguk!" teriaknya lagi sembari melayangkan sebongkah batu raksasa ke arah Rheno.

DUAR!!!

Rheno seketika terkubur di bawah reruntuhan batu besar. Namun, sedetik kemudian, ledakan energi hijau menghancurkan bongkahan penjerat itu dari dalam. Rheno menerobos keluar setelah menghantam hancur batu tersebut menggunakan sepasang knuckle di tangannya.

Aksi diam seribu bahasa milik Rheno yang persis seperti kebiasaan lamanya saat melamar kerja dulu sukses menguras habis energi dan emosi Rocky hanya untuk menghujatnya tanpa mendapat balasan kata sepatah pun.

Sementara itu, setelah ini Snap memilih tidak banyak bicara. Ia memeras seluruh fokusnya untuk mengimbangi pertarungan serba cepat melawan Cheeta.

"Hanya melempar proyektil belati ke sembarang arah, hah?! Apakah kamu tidak tahu apa itu akurasi?" sindir Snap di sela-sela gerakannya. "Dasar perempuan barbar!" lanjutnya sengit.

"Barbar?!" bentak Cheeta dengan dahi yang langsung mengernyit hebat.

Kata-kata itu bagai memicu sumbu pendek trauma lama dari kota masa lalu mereka.

Seketika di tempat lain yang terpisah jarak sangat jauh, yaitu di lantai atas toko kelontong IKN Kerajaan Nova Castra, seorang pemilik toko pria mendadak terbangun dari tidur nyenyak nya dengan tubuh gemetar dan bermandikan keringat dingin.

"Ampun! Tolong jangan hancurkan toko saya lagi...!" pekik si pemilik toko ketakutan sembari menengok panik ke kanan dan kiri. Begitu menyadari sekelilingnya aman dan ia berada di kamarnya yang damai, ia mengembuskan napas lega yang panjang. "Ah, syukurlah... ternyata hanya mimpi buruk tentang perempuan mengerikan itu."

Kembali ke Cheeta, ucapan Snap barusan nyatanya layaknya menginjak ranjau darat paling sensitif. Tanpa ba-bi-bu lagi, mode serius Cheeta langsung membara hebat.

Sepasang belati kembar dengan kilatan batu Ruby di tangannya bergerak dalam kecepatan yang tidak masuk akal. Gadis itu menebas dan menghancurkan area di sekitar mereka secara membabi buta, membuat segalanya berhamburan acak.

Snap seketika dibuat jantungan setengah mati menyaksikan perubahan drastis tersebut. Sembari bersusah payah melompat mundur demi menghindari tebasan liar yang mematikan, ia bertekad dalam hati untuk menjaga perkataannya baik-baik di depan gadis mengerikan ini jika masih ingin hidup.

Di sudut lain medan laga, Ely dan Mona mulai terlibat adu taktik yang sengit. Penyihir umumnya selalu punya satu kelemahan yang sama: mereka tidak akan bisa merapal sihir menyerang sekaligus bertahan dalam satu waktu secara bersamaan.

Namun, karena itulah Ely lebih unggul dari Mona. Keunikan Ely yang menggunakan busur sebagai tongkat sihir sekaligus senjata jarak jauh ditambah berkah darah murni Elf-nya membuat gerakan Ely jauh lebih fleksibel untuk menyerang maupun bertahan.

Serangan magis Mona selalu berhasil digagalkan oleh anak panah angin milik Ely yang terus-menerus datang mengacaukan konsentrasinya.

Sayangnya, keunggulan itu justru membuat sang Elf lengah. Ia tidak menyadari bahwa selain tongkat sihir, Mona juga menyembunyikan senjata rantai rahasia.

Tepat saat Ely menciptakan dinding air dan membuka sedikit celah untuk melesatkan anak panah angin pamungkasnya—

CEKREK!

Rantai besi berbalut kobaran api milik Mona melesat cepat menembus celah tersebut, lalu melilit kuat pergelangan kaki Ely. Seketika itu juga, Ely menjerit kesakitan. Hantaman rantai yang berat ditambah hawa panas yang membakar langsung melukai kulit kakinya dengan parah.

Mona tersenyum kejam melihat korbannya terjerat. Dengan satu sentakan kuat, ia membanting tubuh Ely beberapa kali ke tanah sebelum melemparkannya ke arah gugusan batu besar yang tajam.

BOOM!

Suara dentuman bebatuan yang hancur berpadu pilu dengan teriakan kesakitan dari mulut Ely.

Mendengar jeritan pilu tersebut, fokus Leo, Cheeta, dan Rheno seketika pecah. Mereka bergerak serentak hendak berbalik arah menolong Ely. Namun, Rocky bertindak cepat memanfaatkan celah itu dan berhasil mengunci rapat pergerakan Rheno.

Menyadari bahwa Leo, Cheeta, dan Rheno secara individu ternyata jauh lebih kuat dari kelompoknya, senyum licik di wajah Grim kembali mengembang. Ia melihat formasi musuh kini telah berantakan karena panik.

"Rocky, kunci dia! Jangan biarkan lepas!" perintah Grim sembari melesat mundur untuk berkumpul ke arah posisi Mona.

Rocky langsung paham arah taktik tersebut. Ia mengerahkan seluruh manipulasi tanahnya untuk mengunci pergerakan Rheno di tempatnya. Di saat yang sama, Grim memberi kode cepat kepada Snap dan Mona untuk menyatukan target serangan pada sang Elf yang sudah terluka parah.

Melihat bahaya besar mengancam teman baru mereka, Leo dan Cheeta langsung pasang badan di depan Ely. Memanfaatkan momen pengalihan itu, Snap memutar arah, mencari celah sempit, lalu melesatkan tombak magis hitamnya ke titik buta Ely.

WUSS! DENTANG!

Cheeta bergerak tangkas menangkis tombak tersebut dengan belatinya. Namun di detik yang sama, Grim melesat cepat ke arah Cheeta, melancarkan tebasan dari arah yang sama sekali berbeda dan tidak terduga.

Leo yang menyadari bahaya itu mencoba melesat ke depan untuk melindungi rekan setimnya.

BOOM! SRETT!

Bola api besar ciptaan Mona menghujam tubuh Leo, bersamaan dengan tebasan belati Grim yang berhasil merobek zirah dan mengenai tubuh Cheeta. Mereka mungkin ahli dalam menyahut serangan, tetapi Leo dan Cheeta bukanlah tipe petarung bertahan yang memiliki spesialisasi sebagai pelindung. Tertahannya Rheno oleh Rocky benar-benar menjadi malapetaka bagi formasi mereka.

"Huahahaha...!" Grim tertawa puas. Taktik liciknya terbukti berhasil melukai kelompok yang awalnya tampak mustahil ditembus itu. "Ada apa, Leo?! Sudah, biarkan saja Elf lemah itu mati!" lanjut Grim memprovokasi, sembari terus-menerus melancarkan rentetan serangan kombinasi hingga membuat Leo dan Cheeta babak belur.

Sementara di langit atmosfer perbatasan merosot hingga titik beku saat aura hitam Lucifer dan Maxxis bergesekan, menciptakan listrik magis yang meretakkan tanah.

Lucifer mencengkeram sabit energinya, menatap lekat mantan rekan seperjuangannya itu. Ia sengaja bertanya demi memastikan apakah Maxxis datang atas perintah Raja Iblis atau murni demi ego sendiri, berharap masih ada celah damai untuk melindungi Castra Metropolis.

"Tarik mundur pasukan mu sekarang, Maxxis," ucap Lucifer berat. "Pulanglah, dan aku akan menganggap malam ini tidak pernah terjadi."

Maxxis tertawa meremehkan dengan mata menyala merah. "Berdamai setelah kau mengkhianati ras kita? Kepalamu adalah tiket emas bagiku untuk menjadi panglima utama Raja Iblis!"

Harapan damai Lucifer padam seketika, digantikan aura kematian yang pekat. Ia sadar musuhnya sudah menutup mata dan telinga.

"Begitu rupanya," desis Lucifer dingin. "Kalau begitu, bersiaplah untuk tidak akan pernah bisa kembali ke dunia bawah."

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!