Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petualangan Pertama Berdua
Pikiran Adrian sempat terusik oleh panggilan telepon dari sang mama, namun ia tak membiarkan kemelut keluarga besarnya merusak hari bahagia sang putra. Pria itu segera melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota. Bagi Adrian, waktu empat tahun yang terbuang tak akan pernah bisa diputar kembali, tetapi ia bertekad mencurahkan seluruh kasih sayang yang sempat tertunda untuk Azka.
Jam pulang sekolah Adrian kembali ke TK setelah dari mall membeli hadiah untuk Azka berupa mainan 1 mobil full dengan mainan.
Begitu mobil hitam mengkilap itu terparkir di depan gerbang sekolah, lonceng tanda pulang bergema nyaring. Anak-anak kecil berlarian keluar kelas dengan riang. Di antara kerumunan itu, Azka melangkah santai bersama beberapa temannya. Matanya yang bulat seketika berbinar terang saat melihat sosok Adrian yang sudah berdiri menunggunya di samping mobil dengan jas hitam yang rapi.
"Papaaa!" teriak Azka riang, berlari kecil menghampiri sang ayah.
Adrian berlutut dan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. "Pagi anak Papa... Gimana sekolahnya hari ini? Senang?"
"Senang banget, Pa! Tadi Azka bisa mewarnai, terus teman-teman ajak Azka main perosotan!" cerita Azka antusias sembari memeluk leher Adrian.
"Anak pintar," puji Adrian sembari mengecup pipi cabi sang putra. "Karena Azka hari ini pintar dan penurut, Papa punya sesuatu buat Azka di belakang."
Azka memiringkan kepalanya bingung. "Sesuatu apa, Pa?"
Adrian mengulas senyum tipis, lalu menekan tombol kunci otomatis pada remotenya. Pintu bagasi belakang mobil mewah itu terangkat naik secara perlahan.
Mata bulat Azka seketika melebar sempurna, mulut kecilnya menganga takjub. Bagasi mobil yang sangat luas itu kini penuh sesak dengan puluhan kotak mainan berbagai ukuran—mulai dari mobil-mobilan remote control, robot transformer, trek balap yang megah, hingga boneka karakter kesukaannya. Bagasi itu benar-benar menjelma menjadi toko mainan pribadi khusus untuk Azka.
Anak-anak TK dan para orang tua murid yang melintas di depan gerbang seketika melangkah lambat, menatap pemandangan itu dengan rasa takjub yang tak tertahankan.
"Wahhh! Banyak banget mainannya!" seru Azka histeris kegirangan, melompat-lompat kecil di dalam dekapan Adrian. "Ini semua buat Azka, Pa?!"
"Iya, Sayang. Semua ini punya Azka," balas Adrian lembut, mengacak rambut putranya penuh kasih sayang. "Tapi ingat ya, mainnya harus bergantian dan tetap ingat waktu belajar."
"Siap, Papa! Makasih banyak, Papa!" ucap Azka polos lalu mengecup pipi Adrian dengan spontan.
Kecupan hangat di pipinya itu membuat dada Adrian berdesir hebat. Seluruh kelelahan dan beban dari dunia bawah tanah yang selama ini menghimpitnya mendadak sirna begitu saja, berganti dengan rasa bahagia yang tak ternilai harganya.
"Sekarang kita jemput Ibu di toko roti, ya? Kita kasih lihat Ibu mainan Azka," ajak Adrian sembari mendudukkan Azka di kursi belakang dengan aman.
"Huraaa! Jemput Ibu!" seru Azka gembira saat mobil mulai melaju meninggalkan area sekolah.
Azka mendadak menepuk jidat kecilnya dengan gaya polos setelah mendengar ucapan Adrian. Mengingat jam kerja sang ibu, bocah kecil itu mendongak menatap ayahnya melalui kaca spion tengah.
"Tapi Ibu pulang sore, Paa..." cicit Azka pelan, menyandarkan punggung kecilnya di jok mobil yang empuk.
Adrian mengulas senyum hangat. Ia melirik Azka dari kaca spion, memutar kemudi untuk mengarahkan kendaraan mewahnya menuju pusat kota yang lebih ramai.
"Ya sudah, Azka mau jalan-jalan tidak?" tanya Adrian menawarkan dengan nada penuh perhatian.
Mata bulat Azka seketika berbinar cerah kembali. "Maksudnya jalan-jalan sama Papa?"
"Iya, sama Papa. Azka mau ke mana saja hari ini? Mau makan es krim, jalan-jalan ke taman bermain, atau keliling lihat kota? Nanti sore baru kita jemput Ibu bersama-sama," ujar Adrian mantap.
"Mauuu! Azka mau makan es krim yang besarrr banget, terus main perosotan tinggi!" seru Azka riang dari kursi belakang, merentangkan kedua tangan kecilnya lebar-lebar untuk menggambarkan betapa besarnya es krim yang ia inginkan.
Adrian tertawa pelan. Suara tawa tulus yang kini semakin sering keluar dari bibirnya setiap kali berada di dekat sang putra. Bagi pria yang biasa diselimuti ketegangan dan bahaya dari dunia bawah tanah itu, momen sederhana seperti ini terasa begitu berharga dan menenangkan jiwanya.
"Siap, Bos kecil. Kita berangkat sekarang," balas Adrian santai.
Sepanjang perjalanan, mobil mewah itu diisi oleh celoteh polos Azka yang tak ada habisnya. Bocah 3,5 tahun itu menunjuk-nunjuk gedung-gedung tinggi, kendaraan yang melintas, hingga balon warna-warni di pinggir jalan dengan rasa ingin tahu yang luar biasa. Adrian mendengar dan merespons setiap pertanyaan Azka dengan penuh kesabaran—sebuah pemandangan langka bagi siapa pun yang mengenal sosok Adrian yang dingin dan tak tersentuh.
Mobil berhenti di salah satu kafe ramah anak terbaik di pusat kota. Adrian turun terlebih dahulu, membukakan pintu belakang, lalu menggendong Azka di atas pundaknya masuk ke dalam tempat tersebut.
Melihat deretan es krim warna-warni dan arena bermain di dalam kafe, Azka bersorak gembira. Adrian mendudukkan sang putra di kursi khusus, memesankan porsi es krim cokelat terbesar, serta menunggui Azka menikmati setiap suapannya dengan tatapan yang sarat akan rasa syukur dan kasih sayang mendalam.