Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.Gengsi tinggi
Malam makin larut saat mobil sport hitam milik Damar membelah gerbang besi mansion Diksara. Di dalam kabin, Naya sudah mulai terkantuk-kantuk sambil tetap memeluk buket bunga mawar merah muda yang aromanya makin semerbak.
Begitu mobil berhenti sempurna di garasi, Damar mematikan mesin, lalu menoleh ke samping. Ia memperhatikan wajah Naya yang tertidur ayam dengan bibir sedikit terbuka. Cahaya remang-remang dari lampu garasi memantul halus di kulit mulus Naya yang habis dipijat spa siang tadi.
Damar menghela napas pelan. Kenapa makin dilihat, cewek ini makin ngeselin tapi bikin nagih? batin sang CEO gengsian itu.
Ia memajukan tubuhnya perlahan, hendak melepas sabuk pengaman Naya. Namun, begitu wajah Damar hanya berjarak beberapa senti dari Naya, mata Naya mendadak melotot terbuka.
"Astagfirullah! Mas Kulkas mau manfaatin kesempatan dalam kesempitan ya?!" pekik Naya refleks seraya mendorong dada tegap Damar hingga pria itu terdorong ke belakang.
Damar meringis pelan sambil membetulkan posisi kemejanya, wajahnya mendadak merah padam gara-gara ketahuan.
"Saya cuma mau bukakan sabuk pengaman kamu, jangan kebiasaan percaya diri berlebihan!" desis Damar dengan suara ketus khasnya, menutupi rasa malu setengah mati. "Cepat keluar. Saya mau istirahat."
Naya tertawa ngakak melihat telinga Damar yang memerah terang. "Alah, alasan! Bilang aja mau colong-colong pandang kan?!"
Tanpa menunggu balasan Damar, Naya menyambar buket bunganya dan melompat keluar dari mobil dengan riang. Ia berjalan mendahului Damar menaiki tangga menuju lantai dua.
Sementara Damar mengekor di belakang dengan langkah kaku, terus merutuki refleks tubuhnya sendiri yang makin hari makin tidak bisa diajak kompromi jika berada di dekat Naya.
Keesokan paginya, pukul enam tepat.
Naya terbangun gara-gara suara dentingan piring dan sendok dari arah lantai bawah. Karena merasa lapar lagi setelah mencerna pecel lele semalam, Naya beranjak dari kasur, menggulung rambut asalnya, lalu melangkah turun hanya mengenakan piyama satin berwarna merah muda pastel.
Di ruang makan, Mamah Ratna sudah duduk anggun di kepala meja sambil menyesap teh hangatnya. Wajahnya yang tegang langsung makin ditekuk saat melihat kehadiran Naya.
"Hmph! Baru bangun jam segini? Dasar istri tidak tahu diri, bukannya menyiapin sarapan buat suami, malah santai-santai!" cibir Mamah Ratna pedas tanpa pemicu.
Naya yang baru mau menyapa Bik Inah di dapur mendadak menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap ibu mertuanya itu dengan senyuman paling savage.
"Aduh, Tante Ratna yang terhormat," sapa Naya manis yang dibuat-buat. "Rumah sebesar ini kan punya Bik Inah dan tiga pelayan khusus dapur. Masa uang bulanan ratusan juta dari Mas Damar cuma dipakai buat pajangan pelayan? Kalau saya yang masak, nanti gaji Bik Inah saya potong dong? Tante mau nanggung?"
"Kamu!" Mamah Ratna menggebrak meja makan pelan. "Kurang ajar sekali mulut kamu ya! Kemarin sudah mempermalukan Lea, sekarang tidak ada hormat-hormatnya sama mertua!"
"Tante kan belum jadi mertua seutuhnya, kan baru kontrak empat bulan lagi," jawab Naya santai sambil mengambil sebutir buah apel merah di piring buah dan menggigitnya renyah. "Kriuk! Manis banget apelnya, kayak janji kompensasi dua miliar dari Mas Damar."
Mamah Ratna yang tensinya mendadak naik langsung memegangi dadanya, kehabisan kata-kata untuk membalas kecerdikan dan kelihaian lidah menantunya itu.
Tepat saat ketegangan makin memuncak, Damar turun menaiki tangga. Pria itu sudah rapi mengenakan setelan jas biru gelap bertali leher kelabu. Penampilannya sangat tajam, namun di matanya terlihat sedikit bekas lingkaran hitam akibat semalaman memikirkan kejadian di warung pecel lele.
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Damar tegas sambil melangkah ke ruang makan.
Mamah Ratna langsung memajukan tubuhnya, memasang raut wajah penuh drama penderitaan. "Damar! Kamu lihat kan?! Istri kurang ajar kamu ini dari tadi menghina Mama! Dia bilang Mama tidak berhak dihormati dan sibuk membanggakan uang dua miliar itu!"
Damar menghentikan langkahnya. Matanya beralih menatap Naya yang sedang mengunyah apel dengan wajah tanpa dosa.
"Naya benar, Ma," ujar Damar tenang, suaranya pelan tapi menusuk.
DEG!
Mamah Ratna menganga lebar. "Damar?! Kamu belain cewek ini lagi?!"
"Naya memang tidak perlu memasak karena ada Bik Inah," lanjut Damar kaku seraya duduk di kursinya. "Dan soal uang dua miliar itu... itu urusan internal saya dan Naya. Mama tidak perlu ikut campur."
Damar kemudian melirik Naya yang masih berdiri memegang apel. Pria itu berdeham pelan, merapikan lengan jasnya demi menutupi gengsi setinggi langit.
"Naya, duduk. Makan sarapan kamu," perintah Damar dengan nada yang diusahakan selayaknya bos besar, padahal hatinya ingin sekali melihat Naya duduk di sampingnya.
Naya mengangkat sebelah alisnya, terkekeh geli melihat cara Damar yang sok memerintah padahal tadi malam di warung pecel lele tangannya blepotan bumbu sambal terasi.
Naya menarik kursi tepat di samping Damar, lalu duduk santai. "Tuh kan, Tante... Mas Kulkas aja setuju sama saya. Mending Tante habiskan tehnya sebelum dingin, nanti makin darah tinggi."
Mamah Ratna yang merasa benar-benar terasingkan dan kalah telak akhirnya membanting serbet makannya ke atas meja, lalu berdiri seraya menghentakkan kakinya gusar meninggalkan ruang makan.
"Mama tidak sudi sarapan di sini!" teriak Mamah Ratna dari kejauhan.
Naya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ckckck, kasihan ya Tante Ratna, porsi makannya dibuang-buang. Padahal roti bakarnya kelihatannya enak."
Damar memiringkan kepalanya sedikit, menatap Naya dari samping. "Kamu tidak perlu terlalu keras pada Mama."
"Lah, yang mulai duluan siapa, Mas?" balas Naya cepat sambil melirik Damar. "Saya kan cuma membela diri secara sah dan beradab. Lagian Mas Damar tadi belain saya pura-pura atau emang udah mulai luluh nih?"
Damar mendadak tersedak ludahnya sendiri. Ia batuk kecil dua kali, lalu buru-buru menyambar cangkir kopi hitamnya untuk menutupi kepanikan.
"Saya tidak membela kamu," kilih Damar dengan wajah kaku bagaikan papan tulis. "Saya cuma bicara sesuai fakta efisiensi rumah tangga. Jangan percaya diri."
Naya tertawa mengejek. "Alah, gengsi terus dipelihara, Mas! Nanti kalau gengsinya beranak pinak, susah loh ditampung di mansion ini!"
Damar menatap Naya tajam, namun di balik tatapan tajamnya itu, bibirnya berkedut menahan senyum. Pria itu meraih sepotong roti bakar, lalu meletakkannya di piring Naya tanpa diucap sepatah kata pun.
"Makan. Jangan banyak bicara," gumam Damar singkat, berpura-pura sibuk memeriksa layar tabletnya.
Naya memandangi roti bakar di piringnya, lalu melirik Damar yang sok sibuk membaca berita ekonomi. Senyuman jenaka terukir di wajah Naya. Dasar Kulkas dua pintu! Mau perhatian aja pakenya cara gengsi begini, batin Naya tertawa puas.
Satu jam kemudian, Damar sudah siap berangkat ke kantor. Biasanya, ia langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada siapa pun. Namun pagi ini, Damar berdiri di dekat pintu utama mansion selama hampir sepuluh menit, pura-pura merapikan jam tangannya, sesekali melirik ke arah tangga lantai dua.
Pak Mamat yang berdiri memegang pintu mobil di luar sampai kebingungan. "Bapak ada barang yang tertinggal?"
"Tidak," jawab Damar pendek dan dingin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki santai terdengar dari atas. Naya turun membawa cangkir jus jeruknya, mengenakan baju santai berniat mau berenang di kolam belakang.
Melihat Naya akhirnya muncul, Damar langsung menegakkan tubuhnya, berpura-pura baru saja hendak melangkah keluar.
"Naya," panggil Damar dengan suara beratnya yang bergema di lorong.
Naya menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. "Kenapa, Mas? Mau minta uang jajan?"
Damar mengabaikan ejekan Naya. Ia berdeham pelan. "Nanti malam... saya ada acara makan malam bisnis dengan jajaran komisaris utama Diksara Group."
Naya mengangguk-angguk polos. "Oh, ya udah. Selamat bertugas ya, Mas Kulkas! Semoga sahamnya naik terus biar uang dua miliar saya aman."
Damar mengepalkan jemarinya di samping tubuh. Kenapa uang dua miliar itu selalu disebut sih?! batin Damar jengkel.
"Sebagai istri sah, kamu harus hadir mendampingi saya," tegas Damar, mencoba membuat ajakan itu terdengar seperti sebuah kewajiban dinas yang tidak bisa dibantah. "Ini bukan tawaran, Naya. Ini formalitas penting untuk citra perusahaan."
Naya menyandarkan tubuhnya di pegangan tangga, menatap Damar dari atas sampai bawah dengan binar mata jahil. "Gitu ya, Mas? Berarti saya harus tampil cantik dong?"
"Terserah kamu. Pakai gaun yang paling mahal dari belanjaan kamu kemarin," sahut Damar kaku. "Jam lima sore Andre akan jemput kamu ke salon. Jangan terlambat."
Naya tersenyum lebar. Ia melangkah mendekati Damar, memiringkan kepalanya sedikit hingga jarak wajah mereka cukup dekat. "Bilang aja Mas Damar gengsi kalau enggak didampingi istri cantik kayak saya di depan komisaris, kan?"
Jantung Damar kembali berdegup kencang yang sangat tidak profesional. Ia buru-buru mundur satu langkah, memalingkan wajahnya yang mulai terasa hangat.
"Jangan kebiasaan halusinasi," desis Damar ketus. "Saya berangkat."
Tanpa menunggu balasan Naya lagi, sang CEO dingin itu berbalik cepat dan melangkah lebar-lebar menuju mobilnya dengan langkah yang agak terburu-buru, meninggalkan Naya yang tertawa terpingkal-pingkal di pintu utama.
Pak Mamat yang melihat bosnya masuk mobil dengan wajah memerah menggeleng-gelengkan kepala. Walah, Pak Damar beneran udah kena pelet Bu Naya ini mah! batin Pak Mamat tertawa dalam hati.
Di dalam mobil yang melaju menuju Diksara Tower, Damar menyandarkan kepalanya di kursi, menatap keluar jendela dengan tangan menutupi separuh wajahnya.
Kenapa sulit sekali cuma buat bilang 'saya mau kamu ikut karena saya mau jalan sama kamu'?! bentak Damar pada gengsi besarnya sendiri di dalam hati.
Tapi di sisi lain, sebuah sunggingan senyum tipis yang penuh antusiasme terukir di bibirnya. Pria itu sudah tidak sabar menunggu pukul five sore untuk melihat istrinya tampil memukau di sampingnya nanti malam.
_Bersambung