NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daftar Ulang UNHASY

Senin pagi di Darunnajah.

Pagi ini kabut masih tebal menggantung di atas kolam ndalem. Seperti yang sudah kami rencanakan semalam, pagi ini aku - Ning Sopiah -, Ning Latifah dan Gus Azam akan pergi ke UNHASY Tebuireng untuk daftar ulang. Bukan untuk mengajukan cuti, tapi untuk mengajukan dispensasi istimewa.

Aku berdiri depan cermin, merapikan kerudung segi empatku. Perutku masih rata, tapi di dalamnya ada amanah 7 minggu. Dokter bilang aku tidak boleh kecapekan bolak-balik Cukir - Tebuireng setiap hari.

"Udah siap, Ning?" Ning Ummah muncul dari balik pintu, beliau masih istirahat di ndalem utama.

"Siap, Ummah."

Ning Ummah mengelus pundakku. "Nanti bilang sama Pak Rektor pelan-pelan ya, Nak. Bilang mau ikut kelas karyawan, seminggu sekali saja tatap muka, selebihnya online. Biar Gus Azam yang ngomong."

Aku mengangguk. Di halaman, Avanza hitam sudah standby. Gus Azam sudah rapih dengan jas hitam, sarung BHS hijau tua dan sorban hitam. Gantengnya... wibawanya...

Dan di sebelahnya ada Ning Latifah dengan tas ransel pink-nya yang isinya kayaknya cuma lip tint sama cermin.

"Kita berangkat, Ummah," pamit Gus Azam.

Kami bertiga masuk mobil. Aku di belakang Gus Azam, Tipah di sampingku. Baru 5 menit jalan, mode GPS penjaga istri aktif lagi.

Gus Azam dari spion: "Ning Sopiah, Ning Latifah. Nanti di kampus jaga sikap. Jangan kasih celah lawan jenis mendekati. Ingat status."

Aku: "Iya Gus."

Tipah dengan isengnya: "Ya kalau Tifah sih tergantung cowoknya Gus, kalau gantengnya kayak Oppa Lee Min Ho masa iya ditolak Gus, itu mah rejeki..."

"NING LATIFAH AZZAHRA!" potong Gus Azam. Satu mobil langsung hening.

Aku mencubit Tipah, "Tipah udah ah jangan godain suami kita nanti nggak diizinin kuliah gimana!"

Tipah meringis sambil terkekeh, "Bercanda Gus... Tifah setia kok sama Gus Azam, Lee Min Ho mah lewat."

Gus Azam menghela nafas. "Lee Min Ho itu di Korea, ini di Jombang."

Perjalanan 30 menit itu penuh ceramah tapi penuh tawa juga. Akhirnya gerbang UNHASY Hasyim Asy'ari terlihat megah.

Begitu turun dari mobil, Gus Azam langsung switch mode wibawa. Punggung tegak, langkah pelan, semua dosen dan mahasiswa yang lewat langsung menunduk, "Gus... Gus Azam..."

Aku dan Tipah jalan di belakangnya dengan jarak satu langkah, kerudung dirapikan.

Naik lantai 2, ruang rektorat. Di depan ada mbak sekretaris cantik ber-blazer.

"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?"

Ning Latifah langsung pasang badan, berdiri di antara mbak itu dan Gus Azam.

"Pagi mbak, kami mau ketemu Pak Rektor, sudah janjian. Saya istri pertama, ini istri kedua, beliau suami kami dari Darunnajah."

Mbaknya agak kaget tapi mempersilakan. "Silakan Gus Azam masuk dulu, istri-istrinya tunggu di sini ya."

Gus Azam menatap kami: "Duduk sini. Jangan kemana-mana."

"Siap Gus!"

Pintu tertutup. Di dalam, Pak Rektor K.H. Dr. Irfan langsung berdiri memeluk Gus Azam.

"Gus! Alhamdulillah sowan juga. Gimana kabar Ning Ummah?"

"Alhamdulillah sehat Pak Rektor, titip salam."

Setelah duduk dan disuguhi teh, Pak Rektor langsung bertanya, "Jadi gimana Gus? Daftar ulang? Katanya ada keperluan khusus untuk Ning Sopiah?"

Nah, di sinilah wibawa Gus Azam yang sesungguhnya keluar.

Gus Azam duduk tegak, tangannya bertaut di meja, suaranya tenang, jelas, sangat bertanggung jawab.

"Ngapunten Pak Rektor, saya datang sebagai suami dan sebagai wali. Begini, istri saya Ning Sopiah semester 5 Tarbiyah IPK 3.9. Alhamdulillah Allah baru saja menitipkan amanah di rahimnya, usianya 7 minggu."

Pak Rektor langsung berbinar, "Subhanallah! Selamat Gus!"

"Alhamdulillah, mohon doanya Pak Rektor. Karena itu, saya mohon kebijaksanaan Pak Rektor, bukan untuk cuti, tapi untuk dispensasi kelas."

Gus Azam melanjutkan dengan sangat wibawa, "Saya mohon Ning Sopiah diperkenankan mengikuti *kelas karyawan dan hybrid online*. Jadi tatap muka cukup seminggu sekali saja, di hari Sabtu misalnya. Selebihnya dia mengikuti perkuliahan via Zoom Meeting dari ndalem Darunnajah. Tugas-tugas bisa online."

Pak Rektor mengangguk-angguk serius. "Ohh, jadi bukan cuti ya Gus? Tetap kuliah tapi online?"

"Iya Pak Rektor. Sayang sekali kalau dia cuti, IPK-nya bagus, semangatnya tinggi. Tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bolak-balik setiap hari, naik motor, berdesakan di kelas. Saya sebagai suami harus menjaga. Kalau kelas karyawan kan mahasiswanya lebih sedikit, jamnya sore, dan bisa online. Dia bisa tetap kuliah dari rumah sambil menjaga kandungannya. Saya yang akan mengawasi tugas-tugasnya di rumah."

Pak Rektor terdiam, lalu tersenyum penuh hormat.

"Gus Azam... ini baru suami idaman. Tanggung jawabnya luar biasa. Banyak suami yang menyuruh istrinya cuti saja, tapi Gus Azam justru mencarikan solusi agar istrinya tetap bisa berprestasi tanpa mengorbankan kesehatan."

Gus Azam menunduk tawadhu, "Saya hanya menjalankan kewajiban Pak Rektor. Ilmu Ning Sopiah ini amanah juga."

"Permintaan ini saya kabulkan Gus! Bahkan saya dukung penuh!" Pak Rektor langsung mengambil telepon di mejanya. "Saya akan hubungi Dekan Tarbiyah dan Ketua Prodi sekarang juga. Ning Sopiah saya pindahkan ke kelas Karyawan B, jadwal tatap muka hanya Sabtu pagi jam 8-12, selebihnya Zoom. Absensi tetap terhitung. Dan... privasi kehamilannya akan saya jaga, hanya dekan dan dosen wali yang tahu, tidak akan disebar ke mahasiswa umum."

"Alhamdulillah, matursuwun sanget Pak Rektor," Gus Azam lega, wajahnya yang tadi tegang kini tersenyum tulus.

"Terus untuk Ning Latifah?"

"Untuk Ning Latifah tetap regular Pak Rektor, tetap masuk setiap hari. Tapi saya titip juga, tolong kalau ada tugas kelompok sampai malam, atau ada mahasiswa ikhwan yang mendekati, tolong ditegur. Saya yang tanggung jawab."

Pak Rektor tertawa ngakak, "Hahaha! Siap Gus! Tapi kalau Ning Latifah, yang harus dijaga itu bukan dia didekati cowok, tapi dia yang mendekati cowok! Kemarin katanya se-angkatan heboh karena dia naksir Lee Min Ho!"

Gus Azam batuk, "Pak Rektor tahu juga?"

"Se-UNHASY tahu Gus!"

Di luar, aku dan Tipah yang nguping langsung ngakak tertahan.

Lima belas menit kemudian, Gus Azam keluar dengan surat dispensasi resmi: *Surat Keterangan Kuliah Hybrid Kelas Karyawan*.

Wajahnya lega dan bangga.

"Ayo pulang. Alhamdulillah dikabulkan. Mulai minggu depan, Ning Sopiah kuliahnya Sabtu saja tatap muka, selebihnya Zoom dari ndalem. Kamu bisa istirahat di rumah, Piah."

Hatiku... Ya Allah hangat sekali. Air mataku hampir menetes. Betapa wibawa dan bertanggung jawabnya suamiku ini. Dia tidak memutus mimpiku untuk kuliah, tapi dia juga menjaga aku dan calon anak kami.

Ning Latifah langsung nyamber, "Wah enak ya Piah, kuliah sambil rebahan, sambil disuapin Gus Azam!"

"Tipah!"

Gus Azam jalan di depan, pura-pura tidak dengar, tapi telinganya... merah lagi.

Dasar Gus ku yang wibawa itu...

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!