NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

~DALAM TAHAP REVISI~

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Kesombongan yang Terlambat

Karung itu lebih berat daripada yang Danang kira. Mungkin karena sudah lama ia tidak mengangkat sesuatu yang bukan untuk dihitung.

"Pun, Mas. Kulo mawon." (Sudah, Mas. Biar saya saja.) Pak Karto sudah memegang sisi satunya. Napasnya terdengar berat.

"Sisih meniko mawon, Pak. Kulo ingkang nyunggi." (Sisi itu saja, Pak. Saya yang memikul.)

Gudang Wates sudah sepi. Lampu neon di langit-langit berdengung, sementara bau tanah basah masuk lewat pintu yang terbuka. Di tumpukan paling dalam, Pak Karto sudah menyiapkan satu karung kacang hijau dengan jahitan rapi.

Jari Danang berhenti di simpul jahitan. Daun kuningan itu menggantung di sana, dingin dan sedikit lembap.

Tangannya sudah merogoh saku untuk mencari pisau lipat sebelum ia sadar. Tiga tahun, ratusan karung, dan setiap kali ia memotong tanda itu tanpa menoleh, seolah-olah sedang memutus benang yang mengganggu.

Ia menarik tangannya perlahan, seperti menarik tangan dari kompor yang ternyata masih panas. Pisau itu tetap di saku.

"Mboten dipun copot, Mas?" (Tidak dilepas, Mas?)

"Besok Pak Hartono mau lihat tandanya, Pak." Suaranya terdengar kering. "Biarkan di situ."

"Kaleng biskuit wonten kantor niku isinipun tandi-tandi meniko, Mas. Wahyu ingkang nyimpen, mboten wantun mbucal." (Kaleng biskuit di kantor itu isinya tanda-tanda ini, Mas. Wahyu yang menyimpan, tidak berani membuang.)

Danang membayangkan kaleng itu, ratusan keping kuningan tersimpan rapi seperti arsip yang tak pernah ia minta. Tenggorokannya terasa sempit.

Mobil Dimas sudah menunggu di halaman dengan lampu menyala. Dimas bersandar di kap sambil melipat lengan. Ia tidak bertanya dari mana Danang seharian.

"Bapak minta aku jemput. Bu Tutik nggak salah, Nang. Bapak cuma tanya dua kali."

"Aku tahu."

Mereka memasukkan karung itu ke bagasi dan membungkusnya dengan terpal, dengan tanda kuningan menghadap ke atas. Danang membungkuk kepada Pak Karto lebih dalam dari biasanya, lalu masuk ke kursi penumpang.

Jalan raya yang basah memantulkan cahaya lampu truk yang melintas. Kaca jendela mulai berembun. Danang menatap garis putih yang datang dan lenyap tanpa bicara. Dimas membiarkannya.

Di kepalanya, bunyi jahitan karung tadi berubah menjadi suara lain. Suara tawa.

Lebaran kedua setelah mereka menikah. Ruang makan keluarga Prasetya penuh dengan opor dan ketupat. Surya bertanya soal kontrak Hartono, lalu Marlina menoleh kepada Raras, entah ramah, entah sekadar iseng.

"Menurutmu gimana, Ras?"

Danang menjawab lebih dulu sambil tertawa. "Raras itu jago ngurus rumah, Bu. Dagang bukan wilayahnya."

Semua ikut tertawa. Raras sedang membawa mangkuk opor. Ia meletakkannya di meja dengan kedua tangan, pelan sekali. Jemarinya tertahan di tepi mangkuk sedetik lebih lama daripada yang diperlukan.

"Monggo dipun dahar, Pak," katanya sambil tersenyum.

Waktu itu Danang bangga. Ia merasa sudah menyelamatkan Raras dari pertanyaan yang tidak perlu. Sekarang, di mobil yang berbau karung basah, ia mengingat senyum itu dengan rinci yang tak diinginkannya: ujung bibirnya terangkat, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.

"Aku ingat Lebaran itu," kata Dimas tiba-tiba, matanya tetap tertuju ke jalan. "Kamu lagi mikirin apa?"

"Lebaran yang mana?"

"Yang kamu bilang dagang bukan wilayahnya Raras." Dimas mengganti persneling. "Aku ikut ketawa. Aku nggak pernah bilang itu salah."

"Waktu itu cuma bercanda, Mas."

"Bercanda itu yang bikin orang betah duduk di ujung meja sambil nunduk." Dimas tidak menaikkan suara. "Aku lihat Raras waktu itu. Dia ngitung butir nasi di piringnya."

Danang ingin membantah. Ia mencari tempat untuk meletakkan bantahan itu, tetapi tidak menemukannya.

Perutnya terasa dingin, bukan karena AC.

Satu ingatan lain menyusul, lebih dekat. Malam sebelum ia menandatangani kontrak Hartono, di ruang tengah rumah kecil mereka. Kertas bertebaran di meja, sementara Raras berdiri di dekatnya sambil membawa teh.

"Mas, boleh saya bacakan dulu sebelum tanda tangan? Cuma baca."

"Kamu tahu apa soal kontrak, Ras?" Ia tidak mengangkat kepala. "Ini bukan timbangan pasar."

"Nggih, Mas."

Ia mendengar jawaban itu tanpa memikirkannya. Baru sekarang ia melihat kembali apa yang terjadi setelahnya: Raras meletakkan teh, tangan kanannya menemukan ujung kebaya rumah dan menggulungnya satu kali, lalu ia keluar ruangan tanpa suara sandal.

Itu terakhir kalinya ia menawarkan bantuan. Danang tahu persis, karena sesudah itu ia tidak pernah lagi ditawari apa pun. Empat baris di selipan buku hitam. Jangan tanya Mas soal untung. Aturan itu tidak datang dari dalem. Aturan itu lahir dari kalimat yang ia ucapkan sambil menandatangani.

Timbangan pasar.

Ia mengulang dua kata itu dalam hati, dan lidahnya terasa pahit. Perempuan yang ia ejek karena tidak mengerti timbangan adalah perempuan yang dulu, di bangku kayu dekat pintu samping, menyuruhnya membawa daftar harga pasar agar Pak Slamet mau menerimanya.

Ia mencoba membela diri, seperti biasa. Ia tidak pernah membentak. Tidak pernah memukul. Tidak pernah mempermalukan Raras dengan kasar di depan orang. Itulah yang selama ini ia pegang sebagai bukti bahwa ia bukan lelaki jahat, dan bukti itu masih bisa ia genggam.

Namun, genggamannya mulai longgar. Sekarang ia tahu, orang tidak perlu dibentak untuk berhenti bicara.

Satu per satu, kalimat itu bisa dibela. Bercanda, capek, jujur. Tetapi jika dijajarkan, semuanya membentuk pagar, dan Raras telah hidup di dalamnya selama tiga tahun sambil tersenyum.

Selama ini ia mengira kesombongan selalu berteriak. Ternyata kesombongan bisa tampil rapi dan sopan. Ia bisa selalu merasa benar, duduk di kepala meja, lalu memotong tanda daun dari karung tanpa menoleh.

Ia ingat malam lain, pada tahun ketiga pernikahan mereka. Ia pulang dalam keadaan sangat lelah, lalu Raras menanyakan sesuatu yang kecil, soal listrik atau gas, ia tidak ingat. Ia menjawab sambil melepas sepatu.

"Kamu itu diem terus, Ras. Kadang aku ngerasa ngomong sama tembok."

Raras tidak membalas. Ia mengangguk, mengambil sepatu yang baru dilepasnya, lalu meletakkannya dengan rapi di rak. Danang mengira ia tidak mendengar. Malam itu ia tidur lebih cepat dari biasanya dan menyebutnya lega.

Ia mencoba mengingat satu kalimat baik yang pernah ia ucapkan kepada Raras dalam setahun terakhir. Ia hanya menemukan tiga. Enak. Makasih. Tidur aja. Pendek-pendek, seperti nota.

"Kamu diam banget." Dimas meliriknya sekilas. "Mikirin Hartono?"

"Mikirin Raras."

Dimas tidak berkata apa-apa lagi. Wiper bergerak pelan melawan gerimis yang tinggal tersisa.

Ponsel di pangkuan Danang menyala. Niken, tujuh panggilan tak terjawab sejak siang. Ia membalik ponsel hingga layarnya menghadap ke bawah, bukan karena marah. Nama itu tiba-tiba terdengar seperti suara dari ruangan lain.

Sepanjang jalan, ia menyusun jawaban untuk pertanyaan tentang karung bertanda. Kalimatnya rapi: jaringan lama, hubungan baik, kebetulan. Ia tidak menyusun jawaban untuk pertanyaan yang kini menunggunya di depan.

Hampir pukul sebelas malam, mobil itu berbelok ke gang rumah Danang. Dari tikungan, ia sudah melihatnya: lampu teras menyala dan sedan hitam milik Bapak terparkir di depan pagar.

Dimas mematikan mesin. "Aku nggak bilang apa-apa ke mereka."

"Aku tahu."

Pintu depan sudah tidak terkunci. Di ruang tengah, Surya duduk tegak di sofa dengan jas masih terpasang. Marlina duduk di sampingnya, kedua tangannya meremas selendang di pangkuan, matanya merah.

Di meja kecil di depan mereka, menghadap pintu, berdiri sebuah bingkai foto pernikahan. Danang meninggalkannya di meja makan semalam. Seseorang sudah memindahkannya ke sini.

"Duduk, Nang," kata Surya.

Danang menurut. Ia duduk di ujung sofa, tempat para tamu biasa duduk. Lututnya hampir tak kuat menopang tubuhnya.

"Le," suara Marlina serak, hampir tak terdengar. Selendangnya bergetar di antara jari-jarinya. "Ibu cuma pengin kamu jujur. Sekali ini saja."

Surya menunjuk satu wajah di barisan belakang foto dengan ujung pena. Pak Hadi, tua, menunduk, mengenakan batik yang sangat rapi.

"Bambang menyebut Pramesti. Hartono menyebut tanda. Ibumu menemukan ini di meja makanmu, dan sebelas orang di foto ini tidak ada yang menatap kamera." Suaranya tidak meninggi, dan justru itu yang membuat Marlina berhenti meremas selendangnya. "Bapak tidak minta kamu menjelaskan bisnis. Bapak cuma minta satu jawaban."

Danang menatap wajah-wajah di foto itu, lalu satu wajah di tengah yang melirik ke arahnya. Mulutnya kering. Jawaban yang ia susun sepanjang jalan lenyap satu per satu, seperti karung-karung yang diturunkan dari truk.

Surya mengangkat mata.

"Siapa istrimu sebenarnya, Nang?"

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!