Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Langit malam sudah sepenuhnya gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu taman yang jauh. Viona melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga Mirella terhuyung mundur sedikit. Wanita itu berbalik menatapnya, senyum manis yang tadi ia pasang di depan tamu-tamunya kini lenyap seketika, digantikan oleh wajah merah padam penuh amarah pada sang putri.
"Kenapa pulang?" suaranya rendah namun tajam, menusuk lebih tajam daripada teriakan.
"Aku bilang jangan pulang kalau belum ku bilang pulang kan? Kau kenapa, kenapa tidak angkat telpon? Astaga, kenapa aku bisa melahirkan anak bodoh dan memalukan seperti kau. Lihat, teman-temanku meremehkanku karena anak bodoh dan bikin malu sepertimu. Tetap di sini, jangan masuk rumah sampai aku ijinkan
Mirella menunduk dalam, kedua tangannya meremas ujung seragamnya yang sedikit kusut. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu agar tidak jatuh. Ia sudah terbiasa dengan ini. Selalu saja seperti ini.
"Aku... aku lihat bunda nelepon tiga kali. Aku pikir bunda butuh aku..." suaranya nyaris tak terdengar, bergetar di antara ketakutan dan rasa sedih yang mendalam.
Viona tertawa sinis, matanya menyipit menatap tajam ke arah putrinya sendiri.
"Butuh kamu? Apa yang bisa kau berikan selain membuat ibumu malu di depan orang? Lihat dirimu! Tidak ada satu pun dari dirimu yang mirip denganku. Kau itu seperti noda hitam di hidupku. Sejak aku melahirkanmu, aku selalu dipermalukan. Dan hari ini? Hari ini kau melakukannya lagi dengan sengaja!"
"Aku nggak bermaksud begitu, bunda... aku benar-benar nggak bermaksud..." Mirella mencoba membela diri, namun kalimatnya justru membuat Viona semakin meledak.
"Diam! Jangan berani-berani membela dirimu di depanku! Kau tahu betapa malunya aku saat mereka bilang kau terlihat seperti pembantu? Mereka menertawakanku, Mirella! Teman-temanku, orang-orang yang aku hormati, mereka menertawakan aku karena anakku sendiri tidak bisa menjaga penampilan! Kenapa kau tidak bisa seperti anak-anak lain? Kenapa kau harus selalu begitu ... membosankan dan menyedihkan?"
Viona menghela napas kasar, menunjuk pintu kaca yang menghadap ke halaman belakang yang luas dan gelap.
"Dan kenapa tidak angkat teleponku? Berkali-kali aku hubungi, kau tidak jawab! Berani kamu sekarang pada bundamu?!"
Air mata akhirnya jatuh juga, mengalir pelan di pipi Mirella yang dingin. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangis agar tidak terdengar.
"Maafkan aku, bunda... aku janji nggak akan mengulanginya lagi."
Viona tidak tersentuh sedikit pun. Justru ia menatap putrinya dengan tatapan yang terasa begitu asing dan kejam.
"Tetap di sini. Jangan berani masuk ke rumah sampai aku panggil. Kau dengar aku? Sampai semua tamuku pulang, kau tetap di halaman belakang ini. Kau ingin membuatku malu? Maka rasakan sendiri bagaimana rasanya tidak diinginkan di mana pun kau berada."
"Tapi bunda... sudah malam... Di sini agak gelap dan dingin ... Aku nggak pakai man ..."
"Itu bukan urusanku. Kau yang memutuskan untuk pulang tanpa izin, maka kau yang harus menanggung akibatnya. Jangan berharap aku akan merasa kasihan. Kau sudah cukup besar untuk belajar, di rumah ini, tidak ada tempat untuk orang yang tidak tahu aturan seperti kau. Kau tidak mau di kurung di gudang kan? Jadi diam saja di sini!"
Viona berbalik dengan kasar, menutup pintu kaca itu dengan bunyi denting yang keras. Tirai tebal itu ditarik menutup, seakan-akan Mirella tidak pernah ada di sana. Beberapa pembantu yang melihat dari dapur rumah merasa kasihan, tapi Viona mengancam mereka jangan ada yang membawa putrinya masuk ke dalam tanpa ijinnya. Kalau tidak langsung di pecat. Jadi tidak ada yang berani.
Mirella berdiri sendirian di tengah halaman yang luas dan sepi. Angin malam bertiup pelan, membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia memeluk dirinya sendiri, kedua lengannya saling mengusap bahu yang menggigil. Di dalam rumah itu, ia bisa mendengar suara tawa dan musik lembut yang terdengar begitu hangat, kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebagai miliknya.
Ia berjalan perlahan menuju bangku batu di sudut halaman, lalu duduk di sana, memeluk lututnya erat-erat. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi bagian depan bajunya. Di rumah yang mewah ini, ia merasa lebih miskin dan sendirian daripada siapa pun. Tidak ada yang tahu keberadaannya di sini. Tidak ada yang akan mencarinya.
Daddy Zavian...
Ia lalu teringat nama itu. Apa lelaki itu sudah ada? Hanya lelaki itu yang berani melawan bundanya di rumah ini. Tapi tadi pagi dia sempat dengar pembantu bercerita sang majikan utama rumah ini akan keluar kota. Mirella menunduk. Pasti daddy Zavian gak akan pulang malam ini.
Mirella makin menggigil.Angin malam makin kencang bertiup, membuat tubuh kecil Mirella makin menggigil hebat. Ia melingkarkan kedua lengannya lebih erat di tubuhnya, berusaha menahan hawa dingin yang mulai merambat ke seluruh tulangnya.
Matanya menatap jendela-jendela yang bercahaya hangat di lantai atas, bertanya-tanya apakah ada satu pun orang di dalam rumah raksasa ini yang benar-benar memikirkan keberadaannya. Entah sudah berapa lama dia di luar sini. Gadis itu akhirnya berbaring di bangku panjang yang ada di halaman itu, berharap dirinya tertidur. Tapi tidak bisa. Dinginnya terlalu menusuk. Ia menutup mata tapi tubuhnya makin menggigil hebat.
Sementara itu, teman-teman sosialita Viona akhirnya pulang tepat pada saat mobil Zavian memasuki halaman rumah itu. Zavian tidak menyapa mereka, ia terlalu lelah hari ini dan sangat tidak tertarik dengan Viona dan teman-temannya.
Begitu memarkir mobil sportnya di garasi, ia segera naik ke lantai dua menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat melihat kamar Mirella terbuka. Zavian berjalan ke arah kamar gadis itu untuk melihat apa yang dia lakukan, kenapa kamarnya masih terbuka tengah malam begini. Bahkan pembantu pun sudah tidur.
Begitu sampai di ambang pintu, Zavian tidak melihat gadis remaja itu sama sekali.
Ke mana dia?
Pria itu masuk. Kamar mandinya terbuka. Mirella tidak ada di sana juga. Kening Zavian berkerut. Ia berjalan ke arah balkon kamar,
"Mirella, kau di luar?"
Tak ada jawaban. Begitu pintu balkon terbuka, tidak ada siapa-siapa juga.
Zavian mulai gelisah. Ia berjalan cepat menuruni tangga, memeriksa ruang keluarga, ruang makan, lalu dapur. Tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu. Hatinya mencelos.
Langkahnya bergegas menuju pintu kaca yang menghadap ke halaman belakang. Saat ia membukanya dan cahaya lampu teras menyinari ke luar, ia kaget sekali. Di bangku batu yang jauh di sudut, terlihat sosok kecil meringkuk tak bergerak.
"Mirella!" serunya panik. Ia berlari mendekat.
zavian jangan takut sama ancaman wanita iblis itu, kasian hidupnya mirella sangat menderita. penuh tekanan dan ancaman ibunya yg gila dan stress itu🤭
daddy zavian merasa kasian dan prihatin sama mirella punya ibu sakit jiwa dan stress itu, makanya daddy zavian tidak akan membiarkan mirella menderita. akan menjaga dan melindunginya..
hanya daddy zavian dan bara sangat peduli dan perhatian sama mirella, daddy davian berangkat kerja viona pasti akan marah dan memaki-maki mirella.
viona emang gila dan stress anak kandung sendiri diperlakukan seperti anak tirinya, ibu macam apa viona itu tidak sayang dan perhatian sama mirella...
mirella sangst lemah dan tidak berdaya selali nurut ancaman viona, sabar ya mirella suatu nanti kamu berhak bahagia...
lanjut mae..
ditunggu updatenya lagi...
zavian ayah tiri yg baik👍
bisa gak zavian tetap jd ayah tiri ny mirrela aja, jng nyimpang2 ke ayah tiri cinta ke ank,, emg sih cerita kk mae bnyak pria dewasa suka sama gadis kecil cinta beda usiaaaaaa jauhhh bnget ,, tp kan status ny gak ad hubungan gitu,,
kan mirrela bisa sama bara yg jg baik🙏🙏🙏🙏🙏🙏