Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MOMEN "BED SCENE" YANG ANTI-KLIMAKS
Kaki Vania terasa seperti baru saja diinjak-injak oleh gajah sirkus. Sepatu hak tinggi 12 sentimeter yang dia pakai hari ini bukan alas kaki, melainkan alat penyiksaan yang seharusnya dilarang oleh konvensi hak asasi manusia internasional.
Begitu pintu utama mansion tertutup di belakangnya, Vania tidak repot-repot menyapa pelayan yang berdiri tegak di lorong. Dia tidak peduli pada lampu kristal yang berkilau megah, tidak peduli pada lukisan minyak seukuran pintu garasi yang menghiasi dinding, dan yang paling penting, tidak peduli pada aura mencekam yang biasanya menyelimuti ruangan ini.
Dia hanya peduli pada satu hal: sofa.
Sofa ruang tamu utama itu adalah monster berukiran emas dengan bantal-bantal beludru hijau tua yang besarnya bisa menelan satu orang dewasa. Di sinetron 90-an, sofa ini biasanya hanya berfungsi sebagai properti latar belakang saat para karakter berteriak-teriak soal warisan. Tapi bagi Vania yang otaknya baru saja meleleh karena menghadapi Tasya, dokumen ilegal, dan AC kantor yang terlalu dingin, sofa ini adalah surga.
"Kalian tahu nggak," gumam Vania pada "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga raksasa, suaranya serak karena kelelahan. "Ngadepin sekretaris pingsan di tahun 90-an itu lebih capek daripada ngadepin auditor pajak di tahun 2026. Di tahun 2026, minimal mereka pingsannya karena beneran stres. Ini? Pingsan karena egonya disentuh. Aku butuh kasur. Aku butuh skincare. Aku butuh tidur selama tiga tahun."
Dengan gerakan yang sama sekali tidak elegan dan sangat tidak cocok untuk seorang sosialita, Vania menendang sepatu hak tingginya ke arah rak sepatu. Byur. Byur. Kedua sepatu itu mendarat dengan suara berat. Dia tidak peduli. Dia berjalan menyeret kaki menuju sofa hijau raksasa itu, lalu menjatuhkan tubuhnya.
Brak.
Dia mendarat dengan posisi miring, satu kaki terlipat di bawah tubuhnya, kepalanya menumpu pada sandaran tangan sofa yang empuk. Dalam waktu kurang dari tiga detik, matanya terpejam. Napasnya melambat, berubah menjadi ritme yang dalam dan teratur. Vania Kirana, atau sekarang Vania antagonis, telah resmi shutdown.
***
Dua jam kemudian, pintu ruang tamu terbuka dengan suara pelan.
Kevin masuk. Bahunya sedikit merosot, melonggarkan dasi hitamnya yang tadi pagi terikat sempurna. Hari ini panjang. Rapat direksi yang melelahkan, negosiasi dengan investor tua yang keras kepala, dan bayangan wajah Vania yang terus menghantuinya sejak kejadian di kantor. Dia mengharapkan rumah ini kosong, atau setidaknya Vania sedang bersembunyi di kamarnya, menyusun rencana licik berikutnya.
Tapi ruangan itu sepi. Hanya ada lampu meja berujung hijau yang menyala remang, menciptakan bayangan-bayangan panjang di sudut ruangan.
Dan di sana, di atas sofa hijau raksasa, Vania tertidur.
Kevin berhenti melangkah. Kakinya terpaku di atas karpet Persia yang tebal. Matanya yang tajam menyapu tubuh wanita itu. Gaun kerja Vania sedikit kusut di bagian pinggang. Rambut bob-nya yang biasanya disisir rapi kini berantakan, beberapa helai menutupi sebagian wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka, dan tidak ada tatapan tajam atau senyum sinis yang biasa dia pakai. Dia terlihat... kecil. Rapuh. Dan sangat lelah.
Otak Kevin, yang selalu bekerja dengan algoritma kecurigaan dan strategi balas dendam, tiba-tiba mengalami glitch.
Apa ini jebakan? pikirnya refleks. Apakah dia pura-pura tidur agar aku mendekat, lalu dia akan menusukku dengan pensil yang dia sembunyikan di bantal?
Kevin menatap sekeliling. Tidak ada senjata. Tidak ada kamera tersembunyi. Hanya ada Vania yang tidur dengan nyenyak, bahkan mendengkur sangat pelan—suara yang lucu dan sama sekali tidak cocok dengan citra antagonis yang dia bangun.
Pria itu menghela napas pelan. Dia melangkah mendekati sofa. Gerakannya lambat, hati-hati, seolah dia sedang mendekati hewan liar yang bisa kapan saja mencakar. Dia berdiri di samping sofa, menatap wajah Vania dari atas. Jarak mereka sangat dekat. Kevin bisa mencium aroma samar dari parfum Chanel Vania yang bercampur dengan bau kopi dingin.
Dengan gerakan yang canggung namun lembut, Kevin mengambil selimut rajut tebal yang terlipat di sandaran sofa sebelah. Dia membukanya, lalu dengan sangat hati-hati, menurunkan selimut itu ke atas tubuh Vania. Dia menarik ujung selimut hingga menutupi bahu Vania, memastikan tidak ada angin dari AC yang bisa menyentuh kulit wanita itu.
Kevin menarik tangannya kembali, berniat untuk berbalik dan pergi ke ruang kerjanya.
Tapi sebelum dia sempat melangkah, sesuatu yang aneh terjadi.
Vania, yang sedang berada di alam mimpi yang entah di mana (mungkin sedang bermimpi tentang antrean GoFood yang hampir sampai), merasakan perubahan suhu. Selimut itu hangat, tapi ada sesuatu yang lebih hangat di dekatnya.
Dalam keadaan setengah sadar, otak Vania yang lelah tidak memproses bahwa dia ada di ruang tamu mansion. Otaknya mengira dia ada di kamarnya, dan benda hangat di sebelahnya adalah body pillow raksasa yang dia beli secara online sebelum dia meninggal.
Tangan Vania meraba-raba di atas selimut. Jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras, hangat, dan bertekstur seperti kain kemeja katun premium. Tanpa pikir panjang, tangan itu mencengkeram lengan Kevin.
Kevin membeku. Matanya terbelalak.
Dengan kekuatan yang mengejutkan untuk seorang wanita yang sedang tidur, Vania menarik lengan Kevin ke arahnya. Dia memeluk lengan pria itu erat-erat, menempelkan pipinya yang lembut ke bahu bidang Kevin, dan menggesekkan hidungnya ke lengan bajunya seperti kucing yang mencari posisi paling nyaman.
Kevin berdiri kaku seperti patung marmer. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dia menatap tangan kecil Vania yang mencengkeram lengan bajunya, lalu menatap wajah Vania yang kini terlihat sangat damai, dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Anget..." gumam Vania pelan. Suaranya serak, bergumam di dalam tidur, napasnya yang hangat menerpa kulit lengan Kevin melalui kain kemeja. "Jangan gerak... enak..."
Hening.
Ruangan itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh suara dengungan AC dan detak jantung Kevin yang tiba-tiba berdetak dengan ritme yang sangat tidak wajar. Dug. Dug. Dug. Suaranya begitu keras hingga Kevin yakin Vania bisa mendengarnya.
Wajah Kevin, yang biasanya dingin dan tak tersentuh emosi, kini memerah. Bukan merah karena marah atau karena minum alkohol. Telinganya, leher, dan pipinya memerah padam dalam cahaya remang ruang tamu.
Pria yang biasa memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan perusahaan pesaing dalam semalam, pria yang tidak pernah gentar menghadapi ancaman pembunuhan, kini berdiri terpaku, takut untuk menarik lengannya.
Jika aku menarik tangannya, dia akan bangun, batin Kevin, panik. Jika dia bangun, dia akan marah. Dia akan bilang aku mengganggunya. Dia akan bilang aku bukan prioritasnya lagi.
Kevin menatap Vania yang kini mulai mendengkur pelan lagi, pipinya masih menempel erat di bahunya. Pria itu perlahan, sangat perlahan, menggeser tubuhnya ke bawah, hingga dia terpaksa duduk di tepi sofa, membiarkan Vania tetap memeluk lengannya seperti boneka guling.
"Kau wanita yang paling merepotkan di dunia ini, Vania," bisik Kevin pelan, suaranya bergetar, penuh dengan rasa frustrasi yang bercampur dengan sesuatu yang sangat hangat dan asing di dadanya.
Dia tidak berani bergerak sedikit pun. Dia duduk di sana, dalam gelap, membiarkan antagonis wanita yang seharusnya dia benci, tertidur pulas di pelukan lengannya.
BERSAMBUNG...