NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 - Gerbang Eldermere

*Reincarnation of the Limitless*

Perjalanan keluar dari Death Forest jauh berbeda dari perjalanan masuk.

Kali ini Kael tidak sendirian, dan meski Seraphina masih lemah, pengetahuannya tentang hutan—meski sudah seribu tahun usang—jauh lebih berguna daripada sekadar naluri bertahan hidup.

Dia mengenali tanda-tanda bahaya yang tidak bisa dilihat Kael: retakan tanah yang menandakan sarang di bawahnya, pohon-pohon yang condong ke arah yang salah, bau samar yang berarti predator sedang mengintai.

"Ke kiri," Seraphina berkata tiba-tiba, menarik lengan Kael.

"Kenapa?"

"Ada sesuatu yang besar di depan. Aku bisa menciumnya."

Mereka berbelok, dan beberapa menit kemudian terdengar raungan berat dari arah yang tadinya akan mereka lewati. Kael menoleh ke belakang, membayangkan pertarungan yang untungnya berhasil dihindari.

"Kau berguna juga," katanya.

"'Juga'? Memangnya sebelumnya aku terlihat tidak berguna?"

"Tidak, tidak. Maksudku selain menjadi partner mengobrol yang menarik."

Seraphina mendengus, tetapi tidak membantah lebih jauh.

Hari demi hari berlalu dengan pola yang sama: berjalan, menghindar, sesekali bertarung ketika tidak ada pilihan lain, lalu beristirahat di bawah akar pohon besar saat malam tiba. Kael berburu, Seraphina—meski awalnya enggan mengakuinya—mulai belajar makan daging panggang selain darah, meski hanya sedikit demi sedikit.

"Rasanya aneh," komentarnya suatu malam, mengunyah potongan daging Dire Wolf dengan ekspresi bingung. "Manusia benar-benar makan ini setiap hari?"

"Setiap hari, tiga kali sehari kalau beruntung," jawab Kael sambil mengunyah bagiannya sendiri.

"Mengerikan."

"Kau akan terbiasa."

Di sela-sela perjalanan, Kael terus berlatih. Setiap monster yang mereka temui menjadi kesempatan untuk mengasah Teknik Pedang Dasar yang mulai mendekati level Mahir, dan setiap malam dia duduk bersila untuk menyerap sisa-sisa energi dari beast core yang mereka kumpulkan.

[Body Tempering 4★ — Progres: 62%.]

Seraphina mengamatinya dengan tatapan yang perlahan berubah dari skeptis menjadi penasaran, lalu dari penasaran menjadi sesuatu yang lebih hangat.

"Kau berkembang terlalu cepat," komentarnya suatu malam, memperhatikan Kael berlatih menebas dengan pedang yang sudah beberapa kali dia ganti karena patah. "Bahkan untuk seorang jenius, kecepatanmu tidak masuk akal."

"Infinite Growth," Kael menjelaskan sambil menyeka keringat. "Tidak ada batas maksimum untukku. Yang lain berhenti di seratus, aku terus naik."

"Kau menyadari betapa berbahayanya itu, bukan?" Seraphina duduk di atas akar pohon, menatapnya serius. "Semakin cepat kau tumbuh, semakin banyak perhatian yang akan kau tarik. Sekte-sekte besar, kerajaan, bahkan mungkin makhluk-makhluk kuno—semuanya akan menginginkan seseorang dengan potensimu."

"Kau sudah bilang itu."

"Aku mengulanginya karena kau sepertinya tidak terlalu khawatir."

Kael berhenti berlatih dan duduk di sebelahnya. "Aku sudah mati sekali. Rasanya sulit untuk takut pada sesuatu yang belum terjadi."

Seraphina menatapnya lama, dan untuk sesaat ekspresinya melunak menjadi sesuatu yang hampir menyerupai kekhawatiran tulus. "Itu bukan alasan untuk ceroboh."

"Aku tidak ceroboh. Aku hanya ... memilih untuk menghadapi masalah saat masalah itu benar-benar datang, bukan mengkhawatirkannya sebelum waktunya."

"Filosofi yang naif."

"Filosofi yang membuatku masih hidup sejauh ini."

Seraphina tidak membantah lagi, meski raut wajahnya menunjukkan dia belum sepenuhnya setuju.

Pada hari kesepuluh sejak meninggalkan dungeon, pepohonan raksasa Death Forest mulai menipis. Cahaya matahari yang sebelumnya hanya menyusup dalam serpihan kecil kini mulai menerobos lebih leluasa, dan udara terasa lebih ringan, lebih bersih dari miasma yang selama ini menjadi teman latihan Kael.

"Kita hampir sampai," gumam Seraphina, menghirup udara dalam-dalam. "Aku bisa mencium bau manusia. Asap, ternak, jerami."

Kael ikut menghirup, meski indranya belum setajam Seraphina. "Aku tidak mencium apa-apa."

"Kau akan segera terbiasa. Kultivasimu naik cepat—indramu juga akan mengikuti."

Mereka berjalan lebih jauh, dan akhirnya, di balik deretan pohon terakhir, pemandangan yang belum pernah dilihat Kael sejak dia terbangun di dunia ini terbentang di hadapannya: padang rumput luas yang menghijau di bawah sinar matahari sore, dan jauh di kejauhan, siluet dinding kota yang menjulang, dikelilingi ladang-ladang yang tertata rapi.

Kael berhenti melangkah, menatapnya lama.

"Itu ..."

"Eldermere," Seraphina menjawab, berdiri di sampingnya. "Kota perbatasan Kerajaan Valtherion."

Untuk pertama kalinya sejak dia membuka mata di Death Forest, Kael merasakan sesuatu yang mirip lega. Bukan karena dia lelah dengan hutan—dia justru menikmati setiap pertarungan dan setiap pelajaran yang didapatnya di sana—tetapi karena melihat kota itu berarti satu hal: dunia ini nyata, penuh dengan orang-orang, kehidupan, dan mungkin, jawaban atas semua pertanyaan yang mulai menumpuk di kepalanya.

"Ayo," katanya, melangkah maju dengan semangat baru. "Aku ingin melihat seperti apa dunia ini sebenarnya."

Seraphina menarik tudung dari kain yang mereka temukan di reruntuhan dungeon untuk menutupi wajah dan telinganya yang runcing, mencoba menyamarkan penampilannya yang tidak biasa.

"Ingat," katanya sambil berjalan di samping Kael, "jangan sebut apa pun tentang darahmu, tentang Death Forest, atau tentang aku menjadi vampir. Manusia biasa cenderung panik atau serakah kalau tahu terlalu banyak."

"Dicatat," Kael mengangguk. "Aku hanya seorang pengembara biasa yang kebetulan sangat kuat dan punya teman vampir yang kebetulan sangat cantik."

"Kau benar-benar tidak tahu cara menyamar, ya?"

"Aku akan belajar. Sama seperti segalanya."

Seraphina menghela napas, tetapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya—sesuatu yang mirip harapan, hal yang sudah lama tidak dia rasakan sejak seribu tahun lalu.

Mereka berjalan bersama menuruni bukit terakhir, meninggalkan bayangan Death Forest di belakang mereka, menuju gerbang Eldermere yang mulai terlihat jelas di kejauhan, dengan bendera Kerajaan Valtherion berkibar pelan di atasnya.

---

Gerbang Eldermere jauh lebih besar dari yang Kael bayangkan.

Dinding batunya menjulang setinggi sepuluh meter, dijaga oleh menara-menara kecil di setiap sudut, masing-masing dengan penjaga bersenjata tombak dan busur. Di depan gerbang utama, antrian panjang pedagang, petani, dan pengembara menunggu giliran untuk diperiksa.

"Kita akan diperiksa juga?" Kael bertanya pelan.

"Kemungkinan besar," jawab Seraphina. "Tapi mereka biasanya hanya mencari barang selundupan atau monster yang menyamar. Selama kita tidak menunjukkan sesuatu yang aneh, seharusnya tidak masalah."

"Kau menyamar sebagai manusia dengan tudung dan aku baru sadar aromaku sendiri masih berbau darah kering. Kita definisi dari 'aneh'."

"Diam dan ikuti saja arahanku."

Mereka bergabung dengan antrian. Kael memperhatikan sekelilingnya dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa dia sembunyikan—gerobak penuh sayuran, kuda-kuda yang meringkik, anak-anak berlarian di sela orang dewasa, pedagang yang berteriak menawarkan barang dagangannya bahkan sebelum masuk kota. Semua ini terlalu asing, terlalu hidup, dibandingkan sunyi dan bahaya Death Forest.

Ketika giliran mereka tiba, seorang penjaga berzirah ringan menatap mereka dengan curiga, matanya berhenti lama di pakaian mereka yang compang-camping dan bernoda darah kering.

"Dari mana kalian?" tanyanya, tangan tidak jauh dari gagang pedang.

"Death Forest," Kael menjawab jujur, karena dia belum sempat memikirkan kebohongan yang lebih baik.

Penjaga itu tertawa keras, seolah mendengar lelucon terbaik minggu ini. "Death Forest? Kalian bercanda? Tidak ada yang keluar hidup-hidup dari sana kecuali beberapa kultivator Domain Realm, dan bahkan mereka jarang mau masuk terlalu dalam."

"Kami beruntung," Kael menambahkan dengan senyum santai.

"'Beruntung' katanya," penjaga itu masih terkekeh, meski matanya tetap waspada. "Baiklah, tunjukkan identitas kalian."

Kael dan Seraphina saling pandang. Tentu saja mereka tidak punya identitas apa pun.

"Kami ... kehilangan semua dokumen kami saat melarikan diri dari serangan monster," Seraphina berkata cepat, suaranya berubah menjadi lembut dan sedikit gemetar, jauh berbeda dari nada dinginnya yang biasa. "Kami hanya ingin masuk untuk berlindung dan mencari nafkah baru."

Penjaga itu tampak ragu sejenak, matanya melembut sedikit melihat "kegetiran" yang diperankan Seraphina dengan sempurna.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi kalian harus mendaftar di kantor catatan sipil dalam tiga hari, atau kalian akan dianggap pengembara ilegal. Bayar pajak masuk dua perak per orang."

Kael membeku. "Perak?"

"Uang," Seraphina berbisik cepat sambil tersenyum canggung ke arah penjaga. "Tunggu sebentar, Tuan Penjaga, kami akan mencarinya."

Dia menarik Kael menjauh sedikit dari antrian.

"Kita tidak punya uang," Kael berbisik.

"Aku tahu," Seraphina mendesis. "Tapi aku juga tidak berencana memberitahunya bahwa kita berdua bisa membunuh seluruh pasukan penjaga ini dalam semenit kalau perlu."

"Jadi apa rencananya?"

Seraphina melirik ke sekeliling, lalu matanya berhenti pada sebuah papan kayu yang terpasang di dekat gerbang, penuh dengan kertas-kertas yang dipaku.

**PAPAN BURUAN — Hadiah Untuk Pemburu Monster**

"Papan buruan," gumamnya. "Mereka membayar untuk kepala monster atau bagian tubuhnya yang berharga. Berapa banyak Beast Core yang kita bawa?"

Kael merogoh kantong kain yang mereka buat dari sisa pakaian di dungeon, tempat mereka menyimpan beberapa kristal yang belum diserap. "Lima. Tiga kualitas rendah, dua kualitas menengah."

"Itu cukup," Seraphina tersenyum tipis. "Selamat datang di ekonomi Elyndra, Kael. Semuanya bisa dijual, termasuk mayat monster."

Mereka mendekati sebuah kios kecil di dekat papan buruan, tempat seorang pria tua dengan kacamata besar duduk di balik meja penuh timbangan dan kotak-kotak kecil.

"Beast Core?" pria itu mengangkat alis melihat kantong yang disodorkan Kael. Dia membuka satu per satu, memeriksa dengan alat kaca kecil, lalu bersiul pelan. "Ini kualitas bagus untuk ukuran pemburu baru. Dari mana kalian dapat yang kualitas menengah ini? Biasanya butuh Qi Gathering untuk melawan monster sekelas ini."

"Beruntung," Kael menjawab lagi, senyumnya semakin lebar.

Pria tua itu menatapnya curiga sebentar, lalu mengangkat bahu—toh bukan urusannya dari mana barang dagangan berasal, selama itu bukan barang curian. "Baiklah, aku akan bayar dua puluh keping perak untuk semuanya."

"Tiga puluh," Seraphina langsung menyahut, nada dinginnya kembali seketika. "Kualitas menengah itu sendiri seharusnya bernilai lebih dari itu."

Pria tua itu mendesah. "Dua puluh lima."

"Tiga puluh, atau kami akan menjualnya di kios sebelah."

"Baik, baik, tiga puluh!" pria itu menyerah, meski dengan gerutuan pelan.

Setelah transaksi selesai, Kael menatap Seraphina dengan kagum. "Kau jago tawar-menawar."

"Seribu tahun yang lalu, aku pernah mengelola perbendaharaan klanku sendiri," jawabnya dengan bangga. "Keterampilan semacam ini tidak hilang meski sudah tertidur lama."

Mereka membayar pajak masuk, dan gerbang besar itu akhirnya terbuka penuh untuk mereka. Begitu melangkah masuk, Kael disambut oleh riuh rendah kehidupan kota: suara pandai besi menempa logam, aroma roti segar dari toko roti, tawa anak-anak, dan derap kaki kuda di jalanan berbatu.

Dia berhenti sejenak, menyerap semuanya.

"Ini ..." Kael tersenyum lebar, matanya berbinar seperti anak kecil. "Ini luar biasa."

Seraphina memandanginya dengan ekspresi lembut yang jarang dia perlihatkan. "Kau belum pernah melihat kota sebelumnya?"

"Dunia lamaku punya kota juga, tapi rasanya ... berbeda. Di sana semua terasa buru-buru dan terlalu bising dengan cara yang tidak menyenangkan. Ini—" dia menunjuk sekeliling, "—ini terasa hidup."

"Kau benar-benar orang aneh," Seraphina menggeleng, tetapi senyumnya tidak hilang. "Ayo. Kita perlu pakaian baru, tempat menginap, dan aku ingin tahu informasi apa yang bisa kita kumpulkan tentang Kerajaan Valtherion dan mungkin ... tentang siapa yang mengkhianatiku seribu tahun lalu."

Kael mengangguk, mengikuti langkahnya menyusuri jalanan Eldermere yang ramai. Di sudut matanya, dia menangkap sekilas bayangan seorang pria berjubah gelap yang berdiri diam di ujung jalan, menatap ke arah mereka lebih lama dari yang seharusnya sebelum menghilang ke dalam kerumunan.

Kael berhenti sejenak, mengernyit.

"Ada apa?" Seraphina bertanya, menyadari perubahan sikapnya.

"Tidak apa-apa," Kael menggeleng, meski perasaan tidak enak masih mengendap di dadanya. "Mungkin hanya perasaanku saja."

Namun jauh di dalam pikirannya, dia tahu satu hal yang sudah dipelajarinya dari Death Forest: naluri jarang salah.

Mereka melanjutkan langkah, tidak menyadari bahwa kedatangan mereka ke Eldermere telah mulai menarik perhatian dari pihak-pihak yang bahkan belum pernah mereka bayangkan keberadaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!