Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Polisi menganggukkan kepalanya tegas. "Pasti, Pak Narendra. Pihak kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian sektor lain untuk memblokir jalan keluar kota."
Belum sempat percakapan itu berlanjut, langkah kaki tegap tergesa-gesa terdengar mendekat. Robby, kekasih Imelda, berlari mengikis jarak di koridor rumah sakit dengan raut wajah panik luar biasa.
"Sayang!"
Robby langsung meraih tubuh Imelda dan memeluknya erat-erat, mengusap punggung kekasihnya yang masih bergetar hebat.
Imelda menyandarkan kepalanya di dada Robby, mencari ketenangan yang sempat hilang.
"Bagaimana ceritanya, Sayang? Kok bisa sampai kayak gini?" tanya Robby pelan, menatap kekasihnya dengan penuh rasa cemas.
"A-aku nggak tahu," suara Imelda terputus-putus, tercekik oleh rasa syok yang kembali menyerang.
"Aku tadi ke sana bawa bubur ayam. Pintu terbuka, dan pas aku masuk, aku melihat Tiyas, darahnya banyak banget, Rob."
Imelda kembali menangis sesenggukan di pelukan Robby.
Robby memeluknya makin erat, lalu mengalihkan tatapannya pada Narendra yang berdiri membisu di depan pintu ruang operasi.
Naren hanya menatap lurus ke arah pintu berlampu merah itu dengan pandangan kosong dan rahang mengetat keras, berjuang menahan gelombang amarah dan ketakutan yang menggelegak di dalam dadanya.
"Papa Joni sudah kamu beritahu?" tanya Robby pelan sambil merapikan rambut Imelda yang berantakan karena kepanikan.
Imelda menganggukkan kepalanya pelan, menyapu air mata yang masih tersisa di pipinya dengan punggung tangan.
"Sudah, tadi pas di dalam ambulans aku sempat telepon," bisik Imelda liris, suaranya masih tersendat-sendat.
"Beliau sama Ibu sedang perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai."
Narendra yang mendengar ucapan Imelda makin mempererat kepalan tangannya di samping tubuh.
Penyesalan kembali menghantam dadanya. Baru beberapa jam lalu ia berjanji kepada Papa Joni untuk menjaga Tiyas sampai sembuh total, namun kini ia justru harus menghadapi calon mertuanya itu dalam situasi yang jauh lebih mengerikan.
KLIK!
Suara engsel pintu ruang operasi mendadak terbuka, memecah ketegangan di lorong dingin itu.
Seorang dokter berpakaian hijau lengkap dengan masker melangkah keluar, menyapu pandangan ke arah orang-orang yang menunggu di luar.
"Keluarga dari Pasien Tiyas?" tanya dokter itu cepat.
Naren langsung melompat maju memotong jarak. "Saya calon suaminya, Dok! Gimana kondisi Tiyas?!"
Dokter melepas maskernya, membuang napas berat sebelum menatap Narendra dengan raut wajah yang sangat serius.
"Kondisi Mbak Tiyas saat ini masih dalam penanganan sangat intensif. Beliau mengalami trauma kapitis berat atau cedera kepala berat akibat benturan benda tumpul yang sangat keras," jelas dokter secara terperinci.
"Terjadi retakan pada tulang tengkorak bagian samping, yang memicu pendarahan aktif di dalam rongga kepala serta pembengkakan pada jaringan otak."
Narendra mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut dokter dengan dada yang makin sesak. Jemarinya saling tertaut kaku.
"Kami sudah melakukan tindakan operasi darurat untuk menghentikan pendarahan dan mengurangi tekanan di dalam kepalanya," lanjut dokter.
"Untuk menjalankan prosedur sterilisasi dan pembedahan tersebut secara maksimal, tim medis terpaksa menggunduli seluruh rambut Mbak Tiyas. Ini prosedur mutlak yang harus kami ambil agar area jahitan bersih dari risiko infeksi kuman."
Imelda memekik pelan sambil menutup mulutnya, menangis makin kencang di dada Robby.
Ia tahu betul betapa Tiyas sangat merawat rambut panjangnya selama ini.
"Jahitan di kepalanya cukup banyak dan ekstensif," sambung dokter, menatap Naren penuh empati.
"Saat ini pendarahan berhasil kami kendalikan, namun Mbak Tiyas belum melewati masa kritisnya. Kami memindahkan beliau ke ruang ICU untuk pemantauan ketat selama 24 hingga 48 jam ke depan. Pemicu utama ancaman keselamatan jiwanya sekarang adalah risiko komplikasi pascaoperasi dan reaksi otaknya terhadap benturan keras tersebut."
"Dokter, apa calon istri saya bisa sadar?" suara Naren bergetar parah, matanya merah menahan tangis yang pecah.
"Kami sudah mengondisikan Mbak Tiyas dalam keadaan koma medis agar proses pemulihan sel otaknya berjalan tanpa tekanan. Kita harus berdoa semoga respon tubuhnya kuat dalam melewati masa kritis ini," tutup dokter lembut sebelum pamit kembali ke dalam untuk memantau pemindahan pasien.
Mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Tiyas yang harus digunduli dan dipindahkan ke ruang ICU dalam keadaan koma medis, pertahanan Imelda runtuh seketika.
Tubuhnya mendadak lemas, pandangannya meredup, dan ia kembali pingsan di pelukan kekasihnya.
"Sayang! Imelda!" panggil Robby panik seraya menahan tubuh kekasihnya yang lunglai.
"Suster! Tolong, perawat! Pacar saya pingsan lagi!"
Dua orang perawat dengan sigap berlari membawa kursi roda.
Robby segera mengangkat Imelda dan mendudukkannya di atas kursi roda, membiarkan perawat membawanya ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan dan penanganan akibat syok berat.
Kini, tinggal Narendra seorang diri di depan pintu ruang operasi yang dingin.
Pertahanan pria itu runtuh sepenuhnya. Narendra meluruh ke lantai, berlutut di atas ubin rumah sakit yang keras.
Tangisan Narendra pecah; bahunya terguncang hebat membendung keputusasaan, penyesalan, dan rasa bersalah yang mencabik-cabik dadanya.
Pria yang biasanya selalu terlihat tenang dan tangguh itu kini menangis histeris tanpa memedulikan lalu lalang orang di sekitarnya.
"Tiyas, maafin aku." bisik Naren terisak-isak, meraup wajahnya yang basah oleh air mata.
Darah Tiyas yang masih mengering di telapak tangannya menjadi saksi betapa mengerikannya nasib yang menimpa wanita yang paling dicintainya.
Di tengah kesendirian dan lorong yang sunyi, jerit tangis Narendra bergema, memohon mukjizat agar Tiyas mampu bertahan melewati masa kritisnya.
Tiyas sudah berada di ruang ICU. Berbagai selang medis dan peralatan pemantau detak jantung terpasang di tubuhnya yang ringkih.
Narendra berdiri mematung di luar ruangan, menatap calon istrinya melalui kaca jendela bening.
Wajahnya yang pucat dan kepalanya yang kini terbungkus perban putih tebal di atas sisa rambutnya yang digunduli membuat dada Naren terasa teremas menyakitkan.
Dari ujung lorong, derap langkah terburu-buru bergema.
Papa Joni dan Ibu berlari mengikis jarak dengan wajah sembab dan linangan air mata yang tak membendung.
Melihat kehadiran kedua orang tua Tiyas, Narendra langsung berbalik.
Tanpa ragu sedikit pun, Narendra duduk bersimpuh di lantai di hadapan Papa Joni dan Ibu.
Air matanya kembali menetes deras, membasahi wajahnya yang lelah.
"Pak, Ibu, maafkan Naren." bisik Naren terisak dengan suara parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Naren gagal menjaga Tiyas. Naren tinggalkan Tiyas sendirian sampai semua ini terjadi.Tolong maafkan Naren."
Papa Joni menatap calon menantunya itu dengan mata yang menahan duka mendalam.
Ia membungkuk, memegang kedua bahu Naren lalu membantunya bangkit berdiri.
"Sudah, Naren. Sudah, bukan salahmu," ucap Papa Joni dengan suara bergetar namun berusaha tegar.
Ia merangkul Naren hangat, menepuk-nepuk punggung pria itu.
"Ini musibah. Kamu tidak bisa memprediksi kejahatan orang lain. Jangan siksa dirimu seperti ini, Nak."
Sementara itu, Ibu melangkah mendekati kaca jendela ICU.
Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh permukaan kaca yang dingin, seolah ingin mengusap pipi putri bungsunya.
Ibu melihat putrinya yang masih koma di dalam sana, berjuang antara hidup dan mati di balik balutan perban.
"Tiyas, Anakku." ratap Ibu lirih. Isakannya pecah, membuat Papa Joni segera merangkul istrinya dari samping untuk memberikan kekuatan.
Di depan ruangan yang hening itu, mereka bertiga saling menguatkan, menanti sebuah keajaiban di tengah masa kritis Tiyas.
tp mksh crtanya...d tnggu crtamu yg lain y....smnggtt....😘😘😘
yg mau lhirn msih bengong,tp suaminya udh ngibrit dluan....
jd,spa yg mau lhirn sbnrnya????🤣🤣🤣
ondel2 kna mntal....ngaku2 jd pcr rhsia sm istri sah....🙄🙄🙄
enth istrimu ngidam apa lg besok dn strusnya...🤣🤣🤣....
mnimal,mia bnrn tobat....spa tau mreka bnrn jth cnta krna trbiasa....
tuh buktinya....k kntor pke sarung....🤣🤣🤣....
mngkn nnti d sruh pke baju sm celana pink smua.....
slmt y buat klian brdua....akhrnya stlh skian lma,bntr lg bkln nmbah anggota kluarga yg baru....
naren stok sbr yg bnyak,krna ibu hmil pst bnyak maunya...siap2 jg kl ngidam....😁😁😁