Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sang Penyihir (Prolog)
Pukulan fisik memang menyakitkan. Namun bagi perempuan yang berdiri di sini, melihat cinta sepanjang hidupnya berdiri mesra dengan selingkuhannya, dipermalukan di hadapan begitu banyak orang, itulah tetes terakhir yang membuat cawan tumpah. Hatinya membara, terbakar oleh kebencian. Ke mana perginya pria yang dulu begitu tahu sopan santun? Ke mana perginya cinta itu? Mereka berdua saling menatap, tetapi pria itu membencinya dengan sepenuh jiwa. Baginya, Kayana hanyalah duri yang menempel, bayang-bayang yang selalu mengekor di belakangnya, si benalu bodoh yang selama ini ia manfaatkan. Sampai kemudian datang perempuan yang manis, lembut, mungil, jinak, dan penurut itu — cawan porselen yang bisa retak oleh sentuhan siapa pun. Dan untuk pertama kalinya, pria itu merasakan cinta, merasakan dorongan untuk melindungi.
"Kau ini sampah berjalan, Kayana," ucap Kevin dingin.
Itulah Kevin. Pria yang dengan kebutaannya sibuk melindungi "cinta sejatinya", justru dari satu-satunya perempuan yang mencintainya selama sepuluh tahun.
"Jangan pernah menatapku lagi, dasar jalang kotor."
Semua orang di pesta itu tertawa. Yang hadir malam ini adalah krim dari kalangan atas negeri ini: para CEO, pengacara, insinyur, politikus, peraih medali, anak-anak orang kaya yang memamerkan kekayaan hasil rampasan — juga para pemabuk dan wanita penghibur.
Kayana berusaha menahan air mata. Hatinya remuk, tetapi ia manusia, dan sebagaimana manusia, ia masih menyimpan harapan bahwa segalanya bisa berubah.
"Kenapa kau masih menatapku, perempuan murahan?"
Sakitnya sungguh tak tertahankan — betapa membakar, betapa perih diperlakukan sekasar itu oleh pria yang pernah ia cintai. Kayana bukan sekadar kekasih yang menanti diajak nonton atau makan, yang berharap dibawakan bunga. Kevin tak pernah melakukan semua itu, dan itu bisa dimaklumi — ia calon pewaris Santoso Corporation. Kayana-lah yang mengangkatnya menjadi yang terbaik.
Selama bertahun-tahun, dialah yang mengerjakan semuanya, sementara Kevin menikmati tepuk tangan. Berkali-kali Kayana bermain kotor demi memenangkan kontrak, dan dengan begitu ia mengubah pria yang tadinya hanya "anak papa" menjadi seseorang yang punya nama: Kevin Santoso. Seorang ahli bisnis dan strategi, bukan sekadar orang tak dikenal.
Namun Kevin begitu dibutakan kesombongannya hingga selalu mengira semua itu memang hasil kerjanya sendiri. Ia memandang Kayana seperti pembantu, lupa bahwa sementara ia bercinta dengan sekretarisnya, perempuan itu berhari-hari begadang mempelajari kontrak.
Kayana bertanya-tanya, mengapa dulu ia bisa jatuh cinta pada pria yang tak pernah memberinya kebaikan apa pun — seorang lelaki yang begitu dangkal. Kevin memilih perempuan yang harus tunduk dan bisa ia lindungi. Di zaman apa pria ini hidup? Sekarang perempuan jauh lebih berharga dari itu. Betapa hatinya sendiri telah melukainya, gara-gara jatuh cinta pada seonggok sampah.
Memang benar, Kayana pernah melakukan segala cara untuk menjauhkan Marina dari kekasihnya, menyelidiki seluruh hidup perempuan itu. Dan hasilnya adalah apa yang bahkan orang buta pun bisa lihat: seorang perempuan yang demi uang rela menjual ibunya sendiri.
"Aku harap tak pernah lagi melihatmu, Kayana. Membusuklah dalam kesengsaraanmu." Lalu Kevin menamparnya. Dan sudah bisa ditebak — seluruh kalangan atas itu berpura-pura tak melihat, seolah menyaksikan seorang pria memukuli perempuan adalah hal yang lumrah.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Marina bicara dengan nada begitu cemas pada Kevin, sampai Kevin pun merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Ayo kita pergi. Aku kasihan melihatnya." Mereka berdua berlalu dalam pelukan mesra, sementara Kayana masih tergeletak di lantai. Matanya perlahan terpejam, hatinya seakan tergenggam remuk di tangannya sendiri.