NovelToon NovelToon
Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Status: tamat
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Autora Gabriela

Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.

Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.

Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.

Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

POV: Kirana

Hari Kamis, Om Marsudi menelepon lagi, cemas. Kebun budidaya itu, proyek yang sama yang pernah coba dihalangi Laras, mengalami masalah teknis pada panen ekstraksi pertamanya, dan seluruh hasil panen bisa hilang kalau tak ada yang menyelesaikan proporsinya sampai akhir pekan.

"Aku berangkat hari Sabtu, Om," kataku. "Serahkan padaku."

Kutitipkan Nindy pada Bu Lestari, yang sudah pulih dari krisis itu, sedang bermain membuat kue. Kuajak Rini dan membawa mobil, menempuh empat jam perjalanan ke pedalaman, sekitar dua ratus kilometer dari Jakarta, tempat kebun nenekku berada.

Kebun itu bagian dari masa kecilku. Di sanalah Nenek Sumirah mengajariku mengenali tanaman dari baunya, mencatat segala hal di sebuah buku, curiga pada hasil yang terlalu bagus. Setiap bedeng punya cerita darinya. Bekerja di laboratorium darurat itu, dengan bau tanah basah masuk lewat jendela, mengingatkanku mengapa aku memilih kehidupan ini sebelum seorang Bramantyo mana pun muncul di dalamnya.

Sore itu kuhabiskan mengulang proporsi, menyesuaikan suhu dan waktu ekstraksi, Rini mencatat setiap langkah. Menjelang malam, hasilnya cocok, bulat, nyata, cara angka jujur cocok. Panennya selamat, dan Om Marsudi, yang seumur hidup takut kehilangan peninggalan terakhir ibunya, nyaris menangis lega di tengah bedeng-bedeng.

"Nenekmu akan bangga padamu, Kirana," katanya, suaranya serak. "Sangat bangga."

Kusimpan kata-kata itu. Dari semua pujian yang kuterima tahun itu, dari daftar-daftar dan penghargaan, tak satu pun seberat ini, diucapkan di tengah kebun oleh kakak ibuku.

Tapi langit telah berubah selagi kami bekerja. Badai pegunungan jatuh sekaligus, air seperti dinding, angin merobohkan dahan. Dan tengah malam datang kabar dari penjaga kebun: jembatan kayu di atas sungai, satu-satunya akses ke jalan raya, runtuh oleh banjir. Tak seorang pun bisa masuk atau keluar dari kebun sampai air surut.

Kami terjebak. Penjaga kebun berkata, pasrah, bahwa jembatan kayu seperti itu runtuh setiap dua atau tiga banjir besar, dan pemerintah daerah butuh berbulan-bulan memperbaikinya. Malam itu, setidaknya, tak ada yang keluar dari sana.

Rini menempati kamar di rumah induk bersama istri penjaga kebun. Aku di kamar kecil di belakang, dengan ranjang single dan jendela tua yang berderak ditiup angin. Kutelepon ibuku, mengabarkan aku akan menginap di kebun, sinyal buruk, tanpa kepastian pulang sebelum air surut.

Nindy sudah tidur. Semuanya baik-baik di rumah, dan itu satu-satunya yang penting bagiku sementara badai mengamuk di luar.

Sekitar tengah malam, aku melihat lampu mobil.

Sebuah mobil mendaki jalan tanah dalam hujan, lampunya membelah air yang turun. Mustahil, karena jembatan sudah runtuh. Tapi di sana, berhenti di halaman kebun yang berlumpur, dan dari kursi pengemudi turun Bayu, dan dari kursi penumpang, kuyup, Rendra.

Kubuka pintu kamar tanpa mengerti.

"Jembatannya runtuh," kataku. "Bagaimana kalian..."

"Kami lewat jalan lama, yang berkerikil, sebelum air menenggelamkan semuanya." Rendra basah kuyup, sepatunya penuh lumpur. "Nindy meneleponku sore tadi lewat jamnya, bilang kamu pergi ke sini sendirian dan minta aku menjemputmu. Lalu jembatannya runtuh dan kami terkurung di sisi dalam juga. Tak ada yang pulang malam ini."

Nindy yang meminta. Tentu saja. Putriku, dengan jantungnya, masih mencoba merekatkan keluarga bertiga dalam gambarnya.

Penjaga kebun hanya punya satu kamar kering tersisa, kamarku. Bayu mencari tempat di beranda beratap. Dan Rendra, basah kuyup dan tak punya tempat lain, akhirnya berada di kamar kecil yang sama denganku, terpisah oleh sebuah kursi dan sunyi yang terlalu besar untuk ruangan itu.

Sekering turun karena hujan. Kami berada dalam gelap, hanya kilatan petir masuk lewat jendela. Ia melepas sepatunya yang berlumpur, duduk di lantai bersandar ke dinding, jauh dari ranjang, menjaga jarak tanpa perlu kuminta.

"Sudah lama kita tidak berada di kamar yang sama," katanya, dalam gelap. Suaranya rendah, tanpa kesombongan biasanya. "Bertahun-tahun."

"Kamu yang menginginkannya begitu." Aku tidak menuduh, hanya menyatakan. "Kamar terpisah. Kamu yang mengusulkan."

Ia diam beberapa saat. Hujan memukul atap seng dengan kekuatan yang mengisi hening di antara kami.

"Nindy mengkhawatirkanmu," katanya akhirnya. "Karena itulah aku datang. Dia memandangku dengan wajah kecilnya itu dan bilang 'jemput Mama, Pa, Mama sendirian di tengah hujan'. Aku tidak sanggup bilang tidak padanya."

"Dia masih mengira kita keluarga bertiga," jawabku. "Biarkan dia mengira begitu sedikit lebih lama. Anak yang mengetahui kebenaran orang tuanya tumbuh terlalu cepat."

Ia diam lagi, dan ketika bicara, ada sesuatu yang baru di suaranya, diaduk oleh gelap dan hujan.

"Kirana. Apa kita merusak segalanya di suatu titik yang masih bisa diperbaiki?"

Kupandang siluetnya di lantai, sesekali disinari kilat. Enam tahun lalu aku akan memberikan segalanya untuk pertanyaan itu. Sekarang pertanyaan itu datang terlambat, basah oleh hujan dan penyesalan yang suam-suam kuku, dan tak menggetarkanku lebih dari angin di jendela.

"Tidak, Rendra," jawabku. "Kita tidak merusaknya di satu titik. Kita tak pernah sempat membangunnya. Kamu tak bisa memperbaiki rumah yang tak pernah punya fondasi. Tidurlah. Besok air surut."

Aku berbalik ke dinding dan memejamkan mata. Di seberang kamar, di lantai, kudengar ia bernapas dalam gelap, terjaga lama, mengutak-atik sebuah pertanyaan yang enam tahun lalu akan mengubah hidup kami dan yang kini hanya membasahi lantai sebuah kamar pinjaman.

Aku tidur lebih dulu darinya. Tenang, meski badai di luar dan suami dua meter jauhnya. Dan itu juga mengatakan segalanya: aku tak lagi kehilangan tidur karena lelaki itu. Tidak di ranjang yang sama, tidak di kamar yang sama, tidak dalam pernikahan yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!