NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bayang dari seberang jalan

"Mbak Sora, permisi... Ada kurir yang mengantarkan dokumen ini untuk Mbak."

Suara Lisa memecah keheningan galeri yang hangat. Sora, yang sedang berdiri di dekat jendela besar sambil mengamati lalu lintas malam, membalikkan badannya perlahan.

Pengunjung galeri sudah surut sejak pukul tujuh malam tadi. Udara Jakarta yang mulai disiram gerimis tipis menyisakan aroma tanah yang basah dan hawa dingin yang perlahan merayap masuk melalui celah pintu.

Sora menerima amplop dokumen berwarna cokelat dari tangan Lisa. Tidak ada nama pengirim, hanya tertera alamat galeri dan nama Sora di bagian depannya.

"Terima kasih, Lisa. Kamu boleh pulang duluan kalau pekerjaanmu sudah selesai," ucap Sora lembut sambil mengusap amplop tersebut dengan ibu jarinya.

Lisa mengangguk ramah. "Baik, Mbak Sora. Kunci pintu depan sudah saya cek, semua sudah terkunci aman. Saya pamit ya, Mbak."

Setelah langkah kaki Lisa menghilang di balik pintu samping dan suara mesin motornya menjauh, Sora membawa amplop itu ke meja kerjanya.

Lampu ruang kerja yang remang memancarkan pendar keemasan di atas meja kayu jati. Sora merogoh cutter pemotong kertas, membuka segel amplop cokelat itu dengan hati-hati.

Di dalam amplop, terdapat selembar cetakan foto beresolusi tinggi dan sebuah flashdisk hitam kecil.

Sora mengambil foto tersebut. Detak jantungnya mendadak berhenti untuk sepersekian detik.

Foto itu diambil tadi sore dari kejauhan. Terlihat jelas sosok dirinya dan Bima yang sedang berdiri berdampingan di dekat jendela besar galeri, sedang tertawa sambil memegang cangkir cokelat hangat. Sudut pengambilan fotonya sangat presisi—diambil dari seberang jalan raya di balik deretan pohon.

Tangan Sora mulai gemetar halus. Dingin yang asing menjalar dari ujung jarinya hingga ke tengkuk.

Dengan napas yang tertahan, Sora memasukkan flashdisk hitam itu ke dalam port laptopnya. Sebuah berkas audio singkat langsung muncul di layar.

Sora menekan tombol play.

Suara desis rekaman audio yang agak kabur terdengar mengisi ruangan hening itu. Suara seorang wanita paruh baya yang sangat dikenalinya—suara Helena Kusuma—terdengar berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon dari dalam penjara:

"Aris dan Rian hanyalah pion yang terbawa perasaan. Tapi gadis itu... gadis itu berpikir dia bisa bahagia hanya karena sudah keluar dari sangkarku? Cari tahu siapa pria yang berdiri di sampingnya sore ini. Hancurkan pria itu lebih dulu sebelum kita menyentuh Sora."

Suara rekaman itu terputus dengan bunyi klik yang tajam.

Sora menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Tangisannya yang tertahan pecah tanpa suara. Airmata hangat menetes deras membahasi meja kerjanya. Helena... meskipun wanita itu sudah mendekam di balik tahanan isolasi, tangannya yang beracun masih bisa menjangkau dan mengawasi setiap detik dalam hidupnya.

Dan kali ini, ancaman itu tidak hanya mengincar dirinya, melainkan mengincar Bima—pria tulus yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dosa masa lalu keluarganya.

"Nggak... ini nggak boleh terjadi..." cicit Sora dalam tangisnya yang sesak. "Aku nggak boleh membiarkan Bima jadi korban berikutnya."

Pukul sepuluh malam.

Hujan deras mulai mengguyur kota. Sora duduk membisu di sudut sofa ruang kerjanya, memeluk kedua lututnya rapat-rapt. Lampu utama galeri sudah ia matikan, membiarkan ruangan besar itu diselimuti kegelapan yang hanya diterangi pendar samar dari lampu jalanan luar.

Bip... Bip...

Ponsel Sora di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari Bima:

"Sora, aku baru selesai memeriksa berkas kasus lain di kantor. Hujannya lumayan deras di luar. Kamu sudah sampai di rumah dengan aman, kan?"

Sora menatap layar ponselnya dengan mata sembap. Tangannya gemetar hebat saat mengetik balasan. Ia tahu, semakin ia dekat dengan Bima, semakin besar bahaya yang mengintai pria itu. Ia tidak bisa membiarkan sejarah kelam Rian dan Aris terulang kembali pada orang yang tidak bersalah.

"Aku sudah di rumah, Bima. Terima kasih atas perhatianmu. Bima... sepertinya besok dan beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk dengan persiapan pameran luar kota, jadi kita mungkin tidak bisa bertemu dulu."

Di ujung sana, Bima mengerutkan dahi saat membaca balasan Sora. Perasaan janggal mendadak menyergap dadanya. Selama beberapa bulan mendampingi Sora, Bima sangat memahami gerak-gerik dan pola komunikasi wanita itu jika sedang memendam ketakutan.

Bima meraih kunci mobilnya dari atas meja kantor, mengambil payung, lalu bergegas keluar menuju pelataran parkir.

Pukul setengah sebelas malam.

Mobil sedan putih Bima membelah guyuran hujan deras menuju kompleks galeri seni milik Sora. Dari jarak lima puluh meter, Bima melihat lampu galeri Sora yang padam total, namun mobil kecil milik Sora masih terparkir rapi di halaman samping.

Bima mematikan mesin mobilnya di tepi jalan, menatap bangunan galeri dari balik kaca depan yang tersiram air hujan.

Tiba-tiba, mata Bima menangkap keberadaan sebuah mobil sedan hitam ber kaca gelap yang terparkir tanpa lampu menyala di bawah pohon rindang seberang jalan—mobil yang sama yang tadi sore mengintai galeri.

Seorang pria berjaket tebal keluar dari mobil sedan hitam itu, berjalan mengendap-endap menembus hujan menuju pintu belakang galeri Sora sambil memegang sesuatu di dalam jaketnya.

Bima membelalakkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar payung dan sebuah tongkat besi pengunci stir dari bawah jok mobilnya, lalu berlari menerobos derasnya hujan.

Di dalam galeri yang gelap.

Sora mendengar suara gesekan pelan dari arah pintu belakang—pintu yang terhubung ke lorong ruang kerjanya.

Sora tersentak kaget dari sofanya. Jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu. Ia meraih patung perunggu kecil di atas meja, melangkah perlahan dan tanpa suara menuju lorong belakang yang gelap.

KLIK.

Engsel pintu belakang terdorong terbuka secara paksa dari luar. Pria berjaket tebal itu melangkah masuk dengan langkah kaki basah yang berbunyi nyaring di atas lantai semen. Di tangan kanannya, berkilat sebuah pisau lipat berukuran sedang di bawah pendar lampu darurat.

"Siapa kamu?!" teriak Sora dengan suara membelah kegelapan, mengacungkan patung perunggu ke udara.

Pria itu tidak menjawab. Ia menyunggingkan senyuman miring yang dingin, lalu menerjang maju ke arah Sora!

Sora menjerit histeris, melemparkan patung perunggu itu sekuat tenaga. Patung itu menghantam bahu sang penyusup, membuatnya sedikit terhuyung, namun pria itu dengan cepat menguasai keseimbangannya kembali dan menyambar pergelangan tangan Sora dengan kasar.

"Nyonya Helena kirim salam buatmu, manis..." bisik pria itu dengan suara serak yang memuakkan.

Sora meronta-ronta, memukul wajah pria itu dengan tangannya yang bebas, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. Pisau di tangannya terangkat tinggi, siap diayunkan turun—

BUGH!

Sesosok tubuh menerobos masuk dari pintu belakang yang terbuka! Bima menghantamkan tongkat besi pengunci stir tepat ke punggung sang penyusup dengan hantaman yang sangat keras!

Pria itu mengerang kesakitan, terlempar ke samping dan melepaskan pegangannya pada Sora. Pisau lipatnya jatuh berdenting ke lantai semen.

"Sora! Lari ke belakangku!" teriak Bima dengan napas memburu, berdiri tegap memosisikan dirinya di depan Sora.

Pria penyusup itu menyapu darah di bibirnya, menatap Bima dengan mata merah penuh murka. Ia menarik pisau cadangan dari saku jaketnya, lalu melompat menyerang Bima secara liar!

Pertarungan sengit pecah di dalam lorong sempit yang temaram. Bima mengayunkan tongkat besinya untuk menangkis sabetan pisau tajam pria itu. Suara benturan logam beradu berdenting nyaring mengalahkan suara gemuruh hujan di luar.

"Bima, awas!" jerit Sora histeris saat melihat pria itu mencoba memutari tongkat Bima.

Pria itu berhasil menyayat lengan kemeja Bima, membuat darah segar menetes membasahi lantai. Namun Bima tidak mundur sedikit pun. Dengan satu gerakan bertahan yang kuat, Bima mengunci lengan pria itu, lalu menghantamkan lututnya sekuat tenaga ke perut sang penyusup hingga pria itu tersungkur tak berdaya di atas lantai semen.

Bima dengan cepat menindih punggung pria itu, mengunci kedua tangannya ke belakang menggunakan tongkat besi, lalu menoleh ke arah Sora yang gemetar ketakutan di sudut dinding.

"Sora! Ambil ponselku di saku jas! Telepon polisi sekarang!" panggil Bima dengan suara terengah-engah namun sangat mantap.

Sora bergegas merogoh saku jas Bima dengan tangan yang kaku karena syok. Ia menekan nomor darurat kepolisian dengan pendar air mata yang menetes deras di pipinya.

"P-Polisi... Tolong! Ada penyerangan di Sora Art Gallery!" jerit Sora di telepon.

Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga tiga mobil patroli polisi dengan sirine meraung-raung tiba di lokasi kejadian. Pria penyusup itu diringkus dan diborgol secara kasar oleh petugas, sementara tim medis memberikan pertolongan pertama pada luka sayat di lengan Bima.

Sora duduk di samping Bima di dalam ambulan yang terparkir di depan galeri. Ia memegang erat kain kassa yang menekan luka di lengan Bima, air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi kemeja pria itu.

"Maafkan aku, Bima... Ini semua gara-gara aku..." cicit Sora dengan suara yang pecah oleh rasa bersalah yang amat sangat. "Aku yang membawa bahaya ini ke hidupmu..."

Bima menatap Sora dengan sorot mata yang penuh kelembutan dan ketegasan yang jujur. Ia menggunakan tangannya yang tidak terluka untuk menyapu air mata di pipi Sora.

"Dengar aku, Sora," ucap Bima dengan suara bariton yang amat tenang. "Ini bukan salahmu. Kamu adalah korban dari orang-orang jahat itu. Dan aku tidak akan pernah menyesal berdiri di depanmu untuk melindungimu."

Sora mendongak, menatap mata Bima yang tidak memancarkan sedikit pun ketakutan atau rasa menyesal. Di balik kehangatan tatapan Bima, Sora merasakan sebuah perlindungan sejati yang belum pernah ia dapatkan dari Rian maupun Aris—perlindungan yang lahir bukan dari obsesi atau rasa memiliki, melainkan dari keberanian dan ketulusan murni.

Seorang perwira polisi senior melangkah mendekati ambulan, memegang sebuah papan dokumen pemeriksaan.

"Mbak Sora, Mas Bima... Pria penyusup tadi sudah mengonfirmasi bahwa dia bergerak atas perintah pengacara rahasia Helena Kusuma," terang perwira polisi tersebut. "Malam ini juga, tim Polda bersama Densus akan melakukan penggeledahan total pada seluruh aset tersembunyi dan jaringan komunikasi luar milik Helena."

Sora menarik napas panjang, merapatkan genggaman tangannya pada jemari Bima yang hangat.

"Tolong pastikan kali ini... tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh kehidupan kami lagi, Pak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!