NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEDATANGAN UTUSAN KEKAISARAN

Langkah kaki empat anggota Unit 9 meninggalkan jejak-jejak tipis di atas salju tebal yang melapisi jalan setapak menuju gerbang utama Benteng Tembok Besi. Sinar matahari pagi mulai merambat naik di ufuk utara, menyinari dinding-dinding batu raksasa yang tampak keperakan dilapisi kerak es usai amukan badai semalam.

Namun, begitu melintasi lengkungan gerbang utama, suasana di dalam kompleks lapangan tengah benteng terasa sangat asing dan mencekam.

Puluhan kereta kuda mewah beratap kain sutra merah dan berukir benang emas berjejer rapi di sisi barat lapangan. Kuda-kuda penyariknya bukanlah kuda beban biasa, melainkan Kuda Duri Bernapas Api yang memancarkan uap hangat dari hidungnya. Di sekeliling kereta, berdiri dua puluh prajurit pengawal berseragam zirah pelat emas murni. Mereka berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi, menatap para veteran perbatasan yang kusam dan berdarah-darah dengan pandangan jijik yang sangat terbuka.

"Panji burung merak emas..." Ucap Lu Chen dengan suara pelan yang diwarnai desisan dingin di celah giginya.

"Siapa mereka, Lu Chen?" Tanya Shi Tou seraya menggeser perisai besinya yang pudar ke punggung, matanya membelalak menatap kemewahan di tengah lapangan lumpur itu.

"Rombongan Utusan Kekaisaran dari Ibukota Emas," Jawab Lu Chen seraya menatap panji sutra berkibar di atas menara utama. "Lebih spesifiknya, itu adalah lambang Klan Su. Salah satu klan bangsawan tingkat dua yang menguasai jalur distribusi logistik militer di kementerian perang."

Ah Xiu memicingkan matanya tajam, tangan kirinya secara refleks menggenggam erat busur tulang hitamnya. "Mereka membawa prajurit elit berbaju emas ke Tembok Besi hanya untuk mengantar surat?"

"Orang-orang ibukota tidak pernah bepergian tanpa pamer kekayaan, Ah Xiu," Ucap Lu Chen dengan senyum sinis yang amat pahit. "Bagi mereka, perbatasan utara ini hanyalah tempat pembuangan sampah yang penuh bau busuk."

Lin Yuan melangkah tenang di barisan paling depan, matanya yang sekelam malam menyapu kerumunan prajurit veteran dari berbagai unit yang telah berkumpul di depan mimbar kayu utama. Ratusan prajurit buangan berdiri dalam keheningan yang tegang. Wajah-wajah kasar mereka dipenuhi rasa tidak puas yang tertahan.

Di atas mimbar kayu tinggi, berdiri seorang pemuda berusia awal dua puluhan.

Pemuda itu mengenakan mantel bulu rubah putih yang sangat tebal di balik zirah peraknya yang tanpa cacat sedikit pun. Wajahnya halus dan agak pucat, dengan alis tipis yang terangkat sombong. Di jemarinya, melingkar dua cincin giok penyimpanan bernilai fantastis.

Su Jing. Utusan Muda Kekaisaran dari Ibukota Emas.

Di samping Su Jing, Komandan Zhao berdiri kaku dengan satu matanya yang tersisa menatap lurus ke depan. Wajah sang komandan veteran tampak mengeras seperti batu karang, sementara perwira logistik tua, Perwira Li, berdiri gemetar di belakang mereka memegang gulungan catatan inventaris.

Su Jing melangkah ke depan mimbar, menarik sebuah gulungan titah sutra kuning berujung kayu cendana dari dalam saku jubahnya. Tanpa memandang ratusan prajurit di bawahnya, ia membuka gulungan itu dengan gerakan yang terkesan malas dan meremehkan.

"Dengar, para prajurit Benteng Tembok Besi!" Seru Su Jing dengan suara melengking tinggi yang disokong oleh sedikit tenaga *qi* spiritual, menggema ke seluruh penjuru lapangan. "Atas nama Kementerian Perang Kekaisaran dan Titah Agung Kementerian Logistik Ibukota, Penyesuaian Alokasi Perbatasan Musim Dingin resmi diberlakukan mulai hari ini!"

Su Jing menghentikan suaranya sejenak, mengibaskan mantel bulu rubahnya yang terkena sedikit hembusan angin salju.

"Mengingat kebutuhan pertahanan di garis dalam Ibukota Emas dan persiapan Festival Bintang Kekaisaran," Lanjut Su Jing tanpa beban sedikit pun di wajahnya, "Maka seluruh pasokan minyak spiritual, batu energi tingkat dua, dan obat herbal penyembuh untuk unit-unit barisan belakang serta unit tahanan buangan di Benteng Tembok Besi akan dipotong sebesar lima puluh persen!"

SERUAN KAGET DAN MURKA MELETAK SEKETIKA!

Ratusan prajurit veteran di lapangan tengah mendadak gempar. Bisikan-bisikan emosi yang tertahan berubah menjadi raungan ketidakpuasan dari para pria bertubuh tegap yang baru saja pulang bertaruh nyawa di luar tembok.

"Dipotong lima puluh persen?!" Jerit seorang veteran berkumis tebal dari Unit 7. "Badai salju baru saja dimulai! Tanpa minyak spiritual, bagaimana kami bisa bertahan dari hawa beku di pos perimeter?!"

"Darah kami mengering di luar tembok setiap malam, dan orang-orang di ibukota memotong obat herbal kami demi festival konyol?!" Teriak prajurit lain dari Unit 4 seraya menghentakkan tombaknya ke tanah.

Shi Tou mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya menyala merah oleh amarah. "Sialan! Lima puluh persen?! Jatah minyak spiritual kita kemarin saja sudah sangat pas-pasan!"

Lu Chen menghela napas berat, menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata yang amat dingin. "Seperti biasa. Orang-orang bersutra di ibukota menganggap kita yang berdarah-darah di perbatasan ini cuma pemakan jatah gratis. Mereka lebih memilih mengamankan stok energi untuk lampu hiasan festival daripada kehidupan sepuluh ribu prajurit di sini."

Ah Xiu merapatkan bibirnya rapat-rapat. "Mereka sengaja membunuh kita perlahan."

Lin Yuan tetap berdiri tegak di tengah barisan. Di dalam dadanya, Kera Putih mendesah pelan, memancarkan gelombang kehangatan yang mengalir tenang di meridiannya yang baru saja menembus *Level Pembentukan Otot*. Ketenangan Lin Yuan berkontradiksi total dengan keriuhan murka di sekelilingnya.

"Mereka memotong jatah minyak spiritual saat musim dingin baru saja dimulai," Ucap Lin Yuan datar, suaranya membumi dan sangat dingin. "Itu artinya persaingan antarunit di dalam benteng ini akan menjadi sepuluh kali lebih berdarah."

Di atas mimbar, Perwira Li memberanikan diri melangkah maju satu jangkah, membungkuk dalam-dalam di hadapan Su Jing dengan wajah pucat pasi.

"U-Utusan Su..." Ucap Perwira Li dengan suara gemetar penuh permohonan. "Mohon pertimbangkan kembali penyesuaian ini. Musim dingin kali ini jauh lebih ganas dari tahun lalu. Pasukan tahanan di unit barisan depan seperti Unit Sembilan dan Unit Tujuh sangat membutuhkan minyak spiritual untuk bertahan di pos perimeter luar. Jika dipotong separuh..."

"Cukup!" Bentak Su Jing seraya mengibaskan tangannya kasar, memotong kalimat Perwira Li dengan penuh keangkuhan.

Su Jing menatap Perwira Li dengan pandangan mematahi yang sangat menjijikkan. "Perwira Li, kau mengkhawatirkan nyawa para kriminal buangan itu? Mereka hanyalah sampah klan, pembunuh, dan manusia tanpa kultivasi murni yang dibuang ke sini untuk menebus dosa! Apa bedanya mereka mati membeku hari ini atau tewas dicakar monster besok?"

Kata-kata Su Jing menggema keras di udara dingin, menusuk hati setiap prajurit buangan yang mendengarnya.

Komandan Zhao yang berdiri di samping Su Jing mengepalkan tangan kimpalnya di balik mantel hitamnya hingga bersuara gemeletuk. Namun sang komandan veteran memilih tetap diam, mengetahui bahwa membangkang langsung pada utusan resmi kementerian perang sama saja dengan memicu pemberontakan militer yang akan menghancurkan benteng dari dalam.

"Titah ini sudah final!" Seru Su Jing seraya menutup kembali gulungan sutra mewahnya. "Seluruh kekurangan logistik akan mulai dipotong dari pembagian jatah sore ini! Siapa pun yang mencoba membangkang atau membuat keriuhan akan dihukum di bawah Hukum Militer Kekaisaran!"

Su Jing membalikkan badannya dengan keangkuhan penuh, melangkah turun dari mimbar kayu dikawal ketat oleh enam prajurit elit berbaju emas.

Saat berjalan melintasi lapangan tengah menuju ke arah kediaman perwira tinggi, jalur berjalan Su Jing kebetulan melewati barisan depan tempat Unit 9 berdiri.

Su Jing menghentikan langkahnya sejenak saat aroma darah amis dan jelaga dari pakaian Lin Yuan menyengat hidungnya. Utusan muda itu serta merta menarik sapu tangan sutra dari sakunya, menutup hidungnya dengan raut wajah jijik yang luar biasa.

Mata Su Jing yang penuh keangkuhan bergulir, menatap keempat anggota Unit 9 dari atas ke bawah. Pandangannya sempat tertahan sejenak pada Lu Chen—yang menatapnya balik dengan senyum dingin penuh dendam—lalu beralih menatap Lin Yuan.

Lin Yuan berdiri sangat tegak. Ia tidak membungkuk, tidak menundukkan kepala, dan tidak memancarkan rasa takut sedikit pun. Mata hitam Lin Yuan menatap lurus ke dalam pupil mata Su Jing dengan ketenangan yang teramat pekat—sebuah ketenangan dari seorang pemangsa yang sedang menilai mangsanya.

Su Jing merasa jantungnya berdesir aneh akibat tekanan tak bersuara dari tatapan Lin Yuan. Perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya membuat utusan muda itu merasa sangat tersinggung.

"Kenapa prajurit kusam ini menatapku seperti itu?" Desis Su Jing dingin pada pengawalnya, jari tangannya menunjuk lurus ke arah Lin Yuan.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!