NovelToon NovelToon
Komandan Galak Itu, Suamiku

Komandan Galak Itu, Suamiku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Dokter / Tamat
Popularitas:279.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"

Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.

Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Setelah situasi di rumah sakit mereda, Rahma memutuskan untuk pulang sebentar ke rumahnya guna mengambil beberapa keperluan Ayahnya yang sempat tertinggal. Keadaan rumah begitu sepi dan senyap. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia merebahkan tubuhnya di atas kursi kayu panjang di ruang tamu.

Pintu depan sengaja dibiarkan tetap terbuka, membiarkan angin sore berhembus masuk. Pandangan Rahma lurus menatap ke arah luar, tepat ke seberang jalan. Di sanalah dulu keluarga Pak Wirahadi tinggal.

Keluarga terpandang yang memiliki pengaruh besar di dunia militer. Rahma tahu betul, Pak Wirahadi adalah sosok ayah yang tegas dan selalu menginginkan Sakti mengikuti jejaknya. Dan sedari dulu, Sakti memang anak yang penurut, selalu patuh pada perintah sang ayah demi menjaga kehormatan keluarga.

Mata Rahma perlahan meredup saat memandangi rumah kosong di seberang sana. Tanpa sadar, pikirannya ditarik kembali ke belasan tahun yang lalu. Bayangan masa kecilnya mendadak berputar dengan begitu jelas di pelupuk matanya.

Saat itu, ia sedang berada di atas punggung tegap Sakti yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Dengan telaten, Sakti menggendongnya menuju rumah setelah kakinya terluka akibat jatuh ke dalam got. Sambil menyandarkan kepalanya di bahu lebar Sakti, Rahma kecil yang masih ingusan melontarkan pertanyaan polos yang sampai detik ini tidak bisa ia lupakan.

"Kak Sakti, nanti kalau Rahma sudah besar, Rahma mau jadi pengantinnya Kak Sakti, boleh?" tanya Rahma kecil dengan suara serak habis menangis.

Sakti remaja tertawa geli mendengar kepolosan tetangga kecilnya itu. Begitu pula dengan Salma yang berjalan di samping mereka, ikut tertawa terbahak-bahak sambil menuntun sepeda kesayangannya yang baru saja dievakuasi dari got.

"Iya, boleh kok. Nanti Rahma jadi pengantinnya Kak Sakti, ya? Kakak tunggu sampai Rahma tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik dan anggun!" jawab Sakti sore itu, terdengar tulus sambil membetulkan posisi gendongannya agar Rahma tidak merosot. Rahma kecil yang mendengar jawaban itu tersenyum lebar, lalu semakin mengeratkan pelukan tangannya yang melingkar di lehernya Sakti.

Tes.

Setetes air mata hangat lolos begitu saja dari sudut matanya Rahma, membasahi pipinya. Kenangan manis masa kecil itu mendadak terasa begitu hambar dan menyakitkan ketika ia mengingat kembali penolakan mentah-mentah dari Sakti di taman rumah sakit tadi siang. Kalimat bahwa pria itu masih mencintai wanita lain dan belum bisa melupakannya, terasa seperti duri yang menancap dalam di hatinya.

"Kenapa... kenapa dadaku sesak sekali?" bisik Rahma lirih pada kesunyian rumah.

Ia mencengkeram dadanya yang mendadak terasa ngilu. Ada rasa tidak rela yang aneh, yang seharusnya tidak boleh ia rasakan.

"Padahal aku hanya mengagumi Kak Sakti sebagai seorang kakak... Dan kata-kataku waktu kecil itu kan hanyalah sebuah kalimat konyol belaka," hiburnya pada dirinya sendiri, mencoba menyangkal perasaan asing yang mulai tumbuh.

Dengan gerakan cepat, Rahma buru-buru mengusap ujung matanya menggunakan ibu jari. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk kembali tegak. Ia harus mengubur dalam-dalam kenangan manis itu, karena kini ia tahu, pria yang dulu berjanji akan menunggunya tumbuh dewasa, ternyata sudah mengunci hatinya untuk wanita lain.

Rahma bergegas bangkit dari kursinya. Ia menepis semua gundah yang berkecamuk di dalam dada, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah salat Magrib. Baginya, bersujud di hadapan Sang Pencipta adalah satu-satunya cara untuk menenangkan hatinya yang sedang carut-marut.

*

*

Sesuai rencananya, setelah menunaikan salat Isya, Rahma akan kembali ke rumah sakit untuk menemani sang ayah, sekalian membawakan makan malam untuk ibunya. Ketika jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam, Rahma sudah siap dengan sebuah tas jinjing berisi beberapa potong pakaian ganti dan rantang makanan di tangannya.

Namun, begitu ia membuka pintu depan, langkah kaki Rahma mendadak terkunci di ambang pintu. Sebuah motor sport berwarna hitam pekat baru saja berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

Sosok pria bertubuh tegap turun dari atas jok motor tersebut. Malam ini, pria itu tidak mengenakan seragam lorengnya, melainkan hanya kaos putih polos yang dibalut jaket kulit hitam serta celana jeans senada. Penampilannya terlihat sangat gagah, namun tatapan matanya begitu dingin menembus kegelapan malam, lurus terarah pada Rahma. Pria itu melangkah lebar, seolah sengaja menghadang jalan Rahma.

"Rahma, kita perlu bicara sebentar!" ucap Sakti dengan nada suara yang sedikit menyentak dan berat.

Aura intimidasi khas militer yang menguar dari tubuh Sakti seketika membuat keberanian Rahma menciut. Ia menelan ludah dengan susah payah. "I... iya, Kak. Apa yang mau Kakak bicarakan?" tanya Rahma gugup, memeluk erat rantang di tangannya.

Sakti bersidekap dada, rahangnya mengeras karena menahan kekesalan yang sudah menumpuk sejak di markas tadi.

"Kau... kenapa kau tidak menolak perjodohan kita? Kau sengaja berbohong kepadaku di taman tadi siang, hmm?" cecar Sakti ketus.

Mendapat tuduhan itu, Rahma menarik napasnya dalam-dalam. Sebagai mahasiswi yang terbiasa berpikir logis, ia mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi.

"Maaf, Kak Sakti. Tolong dengarkan dulu penjelasan dariku," ucap Rahma dengan suara bergetar, mencoba membela diri. "Soal perjodohan kita, aku bersumpah sudah menolaknya di depan Ibu dan Ayah. Namun... Ayah tetap bersikukuh ingin kita menikah. Bahkan, Ayah sampai mengancam ku kalau aku tidak menerima perjodohan ini, Ayah tidak mau diobati lagi dan mogok rawat jalan."

Rahma menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca saat mengingat wajah pucat ayahnya. "Posisiku sangat terjepit, Kak. Aku bingung harus berbuat apa," lanjutnya, suaranya mulai serak menahan tangis.

Melihat gurat keputusasaan yang nyata di wajah gadis di hadapannya, kemarahan Sakti yang semula menggebu-gebu mendadak luntur begitu saja. Sisi protektifnya sebagai seorang kakak bangkit. Hatinya melunak, merasa tidak tega. Sakti perlahan mengikis jarak, melangkah semakin mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Rahma.

"Maafkan aku, Kak... aku benar-benar tidak bisa menghindari perjodohan ini. Aku melakukan hal ini demi kesembuhan Ayahku... aku sangat menyayangi Ayah," isak Rahma.

Akhirnya, pecah sudah air mata yang sejak sore tadi ia bendung. Bahu gadis itu bergetar hebat.

Melihat tangisan itu, Sakti tanpa sadar mengulurkan kedua lengannya, mendekap tubuh Rahma ke dalam dada bidangnya. Ia memeluk gadis itu dengan erat namun lembut. Sentuhan ini seketika melempar memori Sakti kembali ke masa lalu. Dulu, setiap kali Rahma kecil menangis karena terjatuh atau digoda Salma, Sakti adalah orang pertama yang akan datang mendekap dan menenangkannya.

Kini, gadis kecil itu kembali menangis di dalam pelukannya. Pria yang selalu Rahma anggap sebagai kakak itu memang telah banyak berubah menjadi lebih gagah dan tegas, namun di dalam hatinya, Sakti tetap menganggap Rahma sebagai gadis kecil ingusan yang harus ia lindungi.

Sakti mengusap lembut punggung Rahma, lalu berbisik di dekat telinganya dengan nada suara yang jauh lebih lembut, mirip seperti masa lalu mereka. "Cup... cup... sudah, Rahma, jangan menangis lagi. Nanti Kak Sakti belikan kamu permen Jagoan Neon, mau?"

Mendengar gurauan masa kecil yang tiba-tiba keluar dari bibir sang Komandan galak, Rahma langsung menyunggingkan senyum di balik tangisnya, meskipun ia masih sesenggukan di dada pria itu.

Sakti perlahan melonggarkan pelukannya, menatap wajah Rahma yang sembap dengan tatapan penuh penyesalan. "Tolong maafkan sikapku yang kasar tadi ya, Rahma. Aku menyesal karena telah menyakitimu. Tidak seharusnya aku melampiaskan kekesalanku padamu. Kau tidak salah dalam hal ini."

Sakti menghela napas panjang, memantapkan sebuah keputusan besar yang baru saja ia ambil setelah melihat air mata Rahma. "Dan sepertinya... masalah perjodohan kita, sebaiknya kita lanjutkan saja."

Deg!

Mendengar perkataan yang keluar dari belahan bibir Sakti, jantung Rahma rasanya berhenti berdetak serentak. Ia mendongak, menatap bola matanya Sakti dengan tatapan tidak percaya. Rahma merasa seolah dirinya sedang bermimpi di siang bolong.

Pernikahan yang tadinya terasa seperti paksaan yang menakutkan, kini mendadak memercikkan rasa aneh yang membuat dadanya berdesir hangat. Apakah... apakah permintaan konyolnya sewaktu berusia enam tahun dulu kini benar-benar akan menjadi kenyataan? Menjadi pengantin dari Kak Sakti nya?

Bersambung...

1
Hilmiya Kasinji
ijin baca kak
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih sudah mampir, kak 😊🤗
total 1 replies
juwita
ini si sakti bodoh apa bego. ngpain ngejaga hati buat mantan yg udh jd istri org. mending kasihkan rasa itu buat istri sah mu. gedek banget sm laki" ky gitu yg masih mengharapkan mantan😡😡
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: timpuk aja kak, aku ikhlas 🤣🤣🤣
total 1 replies
juwita
lgian udh nikah sah ngpain tidur pisah kamar aneh" km sakti umur udh tuir gitu kelakuan ky bocah🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
juwita
jorok Rahma knpa g di keluarin aj dr pd di tarik lg keatas🤣🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse/
total 1 replies
Deera__
aiih yg mau anu anu mereka kenapa aku yg jadi dah Dig dug deg deg an begini.. alamakkkk ... 🤣🤣🤣🤣🤣/Shame//Shame//Sweat//Sweat//Sweat/
Deera__: hahahahaa🤣🤣🤭🤭🙈🙈🙈
total 2 replies
Deera__
heh enemia ya eh salah amnesia ya kau pak Komandan.🤣🤣/Facepalm//Facepalm/ sadarlah kau itu galak bin kejam. suka judesss dan beri hukuman suka² lgi🤣🤣🤣🤣
Deera__: /Tongue//Tongue//Tongue/

kabuurrr

🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🤸🏻‍♀️
total 2 replies
juwita
udh tau cwek g bener ninggalin km dmi yg mapan. msh aj di cintai. buang rasa yg mau buat cwek gitu mah
Deera__
benar itu Cok Ucok🤣🤣🤣🤣🤣
Deera__
astaga gelii aku /Joyful//Joyful/ GK suka pink
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh udah tamat saja.
kelahiran Bima ternyata sebagai penghujung cerita.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Wah baby Boy nih, kayaknya bakal jadi kesayangan semua Opa Oma'nya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya yang di tunggu² calon anggota baru hadir juga.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tenang pak Wira, sebentar lagi pasti doanya terkabul.

tapi Emang Rahma lagi libur tah masa magang di RS bandungnya.🤔😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
mayor Adna sudah ga jomblo lagi.🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤗🤗🤗
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selesai juga masalahnya.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
babat sampe habislah sekalian orang yang terlibat di institusi atas biar malu sekalian karna sudah salah menggunakan jabatannya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Profesor Asha dan mayor Yuda teman terThe best, saling bantu dan tau balas budi tanpa iri hati.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Syukurnya ada prof Asha dan dokter Adnan jadi kamu terselamatkan dari pikiran egatifmu sendiri Rahma... lain kali di konfirmasikan dulu baru ambil keputisan kalaupun mau sendiri dulu asal jangan bikin suami mu panik dan malah memperbesar masalah kalau seandainya ada orang lain yang ambil kesempatan di tengah masalahmu dengan Sakti
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Rahma ini lemah banget, kemana keberanian dan otak cerdasmu sebagai calon dokter harusnya sebagai calon dokter yang kerjanya bituh otak yang tenang saat melakukan tindakan bisa juga harus lebih tenang dalam masalah RTnya dan lebih hati² ambil keputisan ga ceroboh dikit² kabur
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hayo loh harus jujur dari pada kedepannya jadi bumerang kalau tiba² Rahma tau dari orang lain atau bisa jadi Dinda datangin Rahma dan ngarang cerita, Sakti.
jadi mending jujur saling terbuka daaannn belajar komunikasi yang lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!