Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dibalik padamnya listrik
23 Juli 2008 · Jam 21:45 malam
Hujan turun seperti ditumpahkan langit. Badai terbesar tahun itu menggulung Semarang, dan di atas Gunungpati langit hitam pekat tanpa seberkas bintang. Petir menyambar tiap sepuluh detik cahaya putih menyilaukan sejenak, lalu diikuti dentuman yang menggetarkan tanah. Angin dari arah Ungaran menderu kencang, sampai pohon mangga yang berdiri tegak bertahun-tahun di depan kontrakan Gang Mangga akhirnya tumbang, menabrak pagar bambu dengan bunyi yang menggelegar.
Di dalam petak tiga kali empat meter itu, dinding triplek bergetar pelan. Lantai semen dingin merembes ke tulang. Listrik mati sejak jam delapan malam, dan satu-satunya penerang hanyalah lampu teplok kecil yang apinya bergoyang-goyang, memantulkan bayangan tak tenang di dinding.
Sari duduk di tikar pandan yang sudah lembap. Usianya genap dua puluh tiga tahun empat bulan lahir sebelas Maret 1985 di Karanganyar dan perutnya membuncit besar, sembilan bulan sepuluh hari mengandung. Bagian bawah dasternya yang bermotif bunga hijau basah kuyup; air ketuban sudah pecah sejak jam setengah sembilan, merembes perlahan ke kain, meninggalkan bau anyir yang bercampur bau tanah basah dari celah lantai. Wajahnya pucat selembar kertas, keringat dingin menetes di pelipis, bercampur air hujan yang menyelinap lewat celah genteng bocor. Rambutnya diikat asal, rambut-rambut halus di dahi menempel basah di kulit.
Di depannya, Slamet. Dua puluh enam tahun, lahir lima Juni 1982 satu bulan yang lalu ia baru berulang tahun. Tubuhnya tidak tinggi, kurus, tapi kedua lengannya padat berotot dari mengangkat semen dan batu tiap hari. Kulitnya hitam legam terbakar matahari di proyek BSB City. Kaos abu-abunya penuh bercak semen kering yang mengeras, celana pendek kolor lusuh, sandal jepit kuning yang jepitannya putus dijahit pakai kawat bendrat. Baru pulang jam tujuh malam, upah harian tiga puluh lima ribu rupiah masih terbungkus rapi di kantong plastik hitam, basah di saku celananya.
"Mas..." suaranya lirih, terputus saat rasa sakit itu datang lagi perut seperti diremas dari dalam, tajam dan mendesak. "Mas Slamet... perutku sakit sekali... rasanya ingin buang air besar, tapi tidak bisa..."
Slamet menelan ludah, dadanya sesak. Ini anak pertama mereka. Menikah tahun lalu di kampung halaman, lalu merantau ke Semarang karena di rumah tak ada sawah yang bisa diwarisi. Tak punya motor, tak punya telepon bahkan Nokia 3310 pun tak mampu beli. Puskesmas Gunungpati sudah tutup sejak jam sembilan, dan bidan desa Bu Sumi pulang ke Kendal karena ibunya sakit.
"Sar, kita harus ke Rumah Sakit Elisabeth," suaranya bergetar, berusaha tegar. "Bidan bilang kalau air ketuban sudah pecah, tak bisa diurus di rumah. Harus ke tempat besar."
Sari menggelah lemah, matanya berkaca-kaca. "Naik apa, Mas... hujan begini..."
Tanpa berkata-kata lagi, Slamet meraih jas hujan kresek biru yang satu-satunya sobek di bagian punggung, sudah lama ingin diperbaiki tapi belum sempat. Dipakaikan ke tubuh Sari lebih dulu, lalu ia ikut menyelipkan badannya di balik kain tipis itu, menutupi perut besar istrinya sebaik mungkin. Menggendongnya pelan, melangkah keluar ke tanah yang becek dan licin, air hujan langsung membasahi punggungnya.
Ia menempuh jalan lima ratus meter ke pangkalan ojek di Pasar Gunungpati, berlari dalam hujan, merasakan dinginnya air menembus baju sampai ke kulit. Di sana hanya ada satu orang yang masih menunggu penumpang Pak Parno, lima puluh dua tahun, mengendarai Honda Supra Fit hitam buatan 2005, mengenakan jas hujan plastik bening yang sudah keruh.
"Pak Parno!" panggilnya napas terengah, suara memecah hujan. "Tolong, Pak! Istri saya mau melahirkan! Ke Elisabeth sekarang, Pak! Berapapun harganya, saya bayar!"
Pak Parno langsung mematikan rokoknya, wajahnya berubah. "Naik cepat! Jangan terlambat!"
Jam 22:00 malam Berangkat
Tiga orang menumpang satu motor bebek kecil yang bergetar. Sari duduk menyamping di tengah, perutnya membuncit menekan ke depan. Slamet duduk di belakang, melingkarkan kedua lengan erat-erat di perut istrinya, menahan agar ia tak terlempar di jalan yang berlubang. Tangan kirinya mencengkeram besi penahan, tangan kanannya memeluk tas plastik berisi tiga ratus ribu rupiah hasil menjamu selama seminggu bersama KTP dan selembar sarung. Jas hujan tipis itu tak sanggup menahan derasnya air; basah kuyup mereka bertiga.
Jalan dari Gunungpati ke Manyaran lalu ke Jatingaleh gelap gulita, hanya diterangi lampu motor yang menyala samar. Aspal licin mengkilap, banyak lubang tersembunyi di genangan air. Motor melaju pelan, dua puluh kilometer per jam. Tiap kali kontraksi datang, Sari menjerit pelan, menahan rasa sakit yang meremas seluruh tubuhnya.
"Sakit, Mas... sakit sekali..."
"Tahan, Sar... tahan sebentar... sepuluh menit lagi sampai..." Slamet berbisik di telinganya, meski ia sendiri tak yakin seberapa jauh lagi.
Jam 22:20 Tiba di IGD Elisabeth
Mereka sampai di depan pintu gawat darurat. Ongkosnya dua puluh ribu, tapi Slamet menyerahkan dua puluh lima ribu ia tak tega melihat Pak Parno pulang basah kuyup kedinginan.
Sari tak sanggup melangkah. Air ketuban menetes di lantai keramik IGD. Petugas keamanan segera mendorong brankar besi ke arah mereka.
Suster Yati, tiga puluh lima tahun, bertugas malam itu di meja IGD, langsung mencatat sambil bergerak cepat. "Nama? Umur? Alamat?"
"Sari, Bu... umur dua puluh tiga tahun," jawab Slamet cepat, menggantikan istrinya yang hanya bisa mengerang lemah. "Saya suaminya, Slamet, dua puluh enam tahun. Alamat Gang Mangga, Gunungpati."
Mata Suster Yati melirik tas plastik di tangan Slamet. "Punya BPJS? Asuransi?"
Slamet menunduk, suaranya mengecil. "Tidak punya, Bu... bayar sendiri. Uangnya ada tiga ratus ribu..."
Lantai Dua Ruang Bersalin
Di lantai dua, dua kamar bersebelahan, hanya dipisahkan dinding triplek tipis.
Kamar 2A Kamar VIP
Di pintunya tertulis rapi: Ny. Maya Larasati · 32 Tahun · Hamil Keempat. Ruangan itu terang benderang, udara dingin AC menyelimuti. Dr. Hartono, empat puluh lima tahun, berdiri di sisi tempat tidur didampingi dua suster berpengalaman. Alat pemantau bunyi teratur, tabung oksigen siap sedia. Di luar, suaminya Pak Hendra berdiri gagah dengan kemeja batik, berbicara lewat ponsel sambil menunggu mobil Alphard hitamnya terlihat parkir di depan IGD.
Kamar 2B Kamar Umum
Ruangan itu sempit, cat kuningnya pudar dan mengelupas. Tempat tidur besi catnya retak-retak. Satu-satunya penerang adalah lampu neon yang berkedip samar, dan kipas angin gantung yang berputar pelan berbunyi krek... krek... krek.... Di sini hanya ada Sari—dan satu bidan magang bernama Rina.
Rina baru dua minggu lulus sekolah kebidanan, sepuluh hari pertama bertugas. Wajahnya masih polos, jilbab putihnya agak miring ke samping, dan tangannya gemetar pelan. Ini pertama kalinya ia menangani persalinan sendirian tanpa pengawasan.
Slamet tak diperbolehkan masuk. Ia duduk di kursi plastik biru di koridor, baju basah menempel di punggung, sandal penuh lumpur di lantai bersih. Tangan kanannya meremas tas plastik. Ia berdoa dalam hati, dalam bahasa Jawa yang sederhana, tanpa ayat yang indah:
"Ya Allah... Gusti... istriku masih muda... anak pertama... tolong jaga mereka..."
Jam 22:30 Persalinan Dimulai
Kontraksi datang tiap dua menit sekarang. Sari mengejan, wajahnya merah padam lalu pucat kembali.
"Tarik napas dalam, Mbak Sari... dorong... Mbak masih muda, kuat sekali..." Rina berbicara berusaha tenang, meski suaranya ikut bergetar.
Dari kamar sebelah terdengar suara lain suara Maya yang juga sedang berjuang, disambut suara tenang dokter yang memberi arahan. Dua jeritan bercampur di udara malam. Slamet berdiri, mondar-mandir di koridor yang sepi.
Jam 23:15 Petir Mencabut Cahaya
Petir menyambar tepat di depan rumah sakit. Suara ledakan menggelegar menggetarkan kaca jendela.
DUAR! BRAK!
Lampu padam seketika. Gelap gulita menyelimuti seluruh bangunan. AC berhenti berdengung, kipas angin diam, alat pemantau di kamar sebelah mati. Rumah sakit menjadi sunyi sesaat, lalu jeritan terdengar dari berbagai ruangan.
Genset seharusnya menyala otomatis dalam sepuluh detik, tapi malam itu operatornya sedang sholat Isya di mushola lantai satu kunci ruang genset tertinggal di loker. Dua menit empat puluh tujuh detik, lantai dua terbenam dalam kegelapan total.
Hanya ada satu cahaya: sinar kuning samar dari ponsel Nokia 3310 milik Rina, baterainya tinggal satu batang.
Jam 23:30 Dua Bayi Lahir
Di kamar yang sama gelapnya, dua kehidupan datang ke dunia hampir bersamaan.
Di Kamar 2A: Maya melahirkan bayi perempuan, berat 3,2 kilogram, menangis keras memecah kegelapan. Tali pusat dipotong di bawah cahaya senter ponsel.
Di Kamar 2B: Sari juga melahirkan. Bayi perempuan, berat 2,9 kilogram, tangisnya pelan namun jelas. Sari tersenyum tipis sesaat, lalu kesadaran meninggalkannya kehabisan tenaga dan kehilangan darah cukup banyak.
Di koridor, Slamet mendengar dua tangisan itu menyatu. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya bergetar. "Alhamdulillah... lahir..."
Kesalahan yang Mengubah Segalanya
Karena gelap dan panik, Rina melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan membawa kedua bayi itu keluar kamar, berjalan ke ruang perawatan bayi di tengah, satu di tangan kanan, satu di tangan kiri. Ia berniat membersihkan mereka lebih dulu sebelum mengembalikan ke ibu masing-masing.
Di meja baja panjang itu, kedua bayi diletakkan berdampingan. Sama-sama merah, sama-sama masih berlumuran darah dan lendir. Belum ada gelang nama. Belum ada tanda beda.
Rina membersihkan mereka secepat mungkin dengan cahaya ponsel yang redup.
Tepat jam 23:33, genset akhirnya menyala. Lampu terang kembali menyilaukan mata.
Rina mengerjap. Menatap kedua bayi itu. Ia tak tahu mana yang mana. Spidol untuk menulis gelang hilang di kegelapan tadi.
Ia menatap bayi di sebelah kiri: kulitnya tampak lebih cerah, rambutnya tipis halus. Lalu ke kanan: kulitnya sawo matang, rambutnya agak tebal.
Pikirannya yang panik mengambil kesimpulan sesaat: Yang cerah pasti anak keluarga kaya dari kamar VIP. Yang gelap pasti anak pasien umum dari Gunungpati.
Ia salah. Cahaya ponsel yang samar dan sisa darah di kulitnya menipunya. Kedua bayi itu sudah tertukar di kepalanya.
Dengan tangan gemetar karena takut dimarahi, ia membungkus bayi yang kulitnya tampak cerah dengan selimut bertuliskan nama rumah sakit, lalu membawanya ke Kamar 2B kamar Sari.
"Ini anak Ibu..." suaranya pelan. "Perempuan... cantik, kulitnya bersih... berat dua koma sembilan kilogram."
Sari yang baru sadar tersenyum lemah, menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca. Bayi itu putih, hidung mancung, rambut lurus. Ia dan Slamet berkulit gelap, berhidung pesek namun ia memeluknya erat, membiarkan kebahagiaan mengubur keraguan sejenak.
Di Kamar 2A, bayi yang berkulit lebih gelap diserahkan kepada Maya. "Ini anak Ibu, perempuan, berat tiga koma dua kilogram."
Maya menatapnya bingung sesaat, lalu dokter tersenyum menenangkan: "Sedikit kuning saja, Bu bilirubin agak tinggi. Nanti dijemur dua hari, putih lagi kok." Maya percaya, bahagia tak terlukiskan setelah tiga kali keguguran.
Jam 23:40 Slamet Masuk
Slamet akhirnya diizinkan masuk. Ia berdiri canggung di samping tempat tidur, baju masih basah, sandal berlumut. Melihat istrinya memeluk bayi yang putih bersih, matanya melebar.
Ia berjongkok pelan, berbisik agar tak didengar siapa pun: "Sar... kok putih... aku hitam, kamu juga hitam... kok anak kita putih?"
Sari menatap bayi itu lembut, suaranya berbisik balik: "Mas... jangan bicara begitu... ini rezeki dari Tuhan. Anak kita... putih..."
Slamet diam. Ia hanya pekerja bangunan. Tak berani membantah rumah sakit besar. Takut kalau protes, mereka akan diminta membayar lebih mahal, atau diusir. Ia hanya duduk di lantai, menjaga mereka, tanpa tahu bahwa putri kandungnya sedang berada di kamar sebelah, dipeluk orang lain.
Jam 00:00 Pencatatan
Hujan mereda perlahan. Di meja perawat, Rina menulis buku kelahiran dengan tangan gemetar. Tak ada yang tahu.
23 Juli 2008 · 23:30 WIB
Kamar 2B Sari (23) & Slamet (26), Gang Mangga Gunungpati
Bayi perempuan, 2,9 kg Nama: Aurel
Kamar 2A Maya Larasati (32), Graha Candi Golf
Bayi perempuan, 3,2 kg Nama: Clarissa
Tertulis rapi dan sah di atas kertas. Padahal di antara kedua nama itu, tak ada yang benar.
Dua belas tahun ke depan, dua gadis akan tumbuh satu di rumah sederhana berlantai semen, satu di rumah mewah berlantai marmer tak menyadari bahwa wajah yang mereka lihat di cermin setiap pagi, bukanlah wajah keluarga kandung mereka.
kalau bisa double up