Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di tempat yang sudah ditentukan, Jenn berjalan lebih dulu untuk menunjukan arah ruangan yang sudah dia pesan. Dan rupanya mereka datang lebih awal jadi harus menunggu.
"Presdir?" tanya Jenn saat mereka baru saja duduk di tempat masing-masing.
"Ya?"
"Sebenarnya siapa anak baru itu? Apa saya harus memberikan perlakuan khusus padanya?"
Andrew terdiam, dia tampak ragu untuk menjawab.
"Tidak perlu, posisi kalian sama. Karyawanku."
Mendengar jawaban Andrew, Jenn cukup senang dan lega karena memang sepertinya gadis itu tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Andrew.
Namun dia juga merasa tidak suka karena Andrew selalu menganggapnya hanya sebatas karyawan. Padahal selama ini dialah yang paling berperan penting mendampingi Andrew apalagi jika urusan perusahaan.
Bagi seorang Jenn tentu Andrew adalah wujud yang sempurna. Pria super matang, duda tampan dan kaya raya. Siapa yang tidak menginginkan pria seperti itu? Meskipun usianya tidak lagi muda tetapi kenyataannya para kaum hawa selalu memperebutkannya.
"Sampai hari ini kau masih menganggapku seperti itu? Baiklah mari kita lihat seberapa lama lagi kau akan tahan dengan pesonaku." batin Jenn sangat yakin.
Pertemuan siang itupun berjalan mulus, tentu peran Jenn cukup begitu penting di dalamnya. Wanita itu tersenyum puas karena lagi-lagi dia bisa menunjukan betapa pentingnya perannya itu untuk Andrew.
Setelah pertemuan Andrew dan Jenn langsung merampungkan semuanya. Sampai tidak terasa waktu malam pun tiba. Setelah mengantar Jenn pulang, Andrew langsung meminta sopir untuk membawanya ke sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Mobil mewah itu berhenti di lobi dan Andrew bergegas turun, pria itu langsung masuk ke dalam lift.
Saat lift berhenti di lantai yang dituju, Andrew melangkah keluar dengan langkah lebarnya. Dia berbelok di sebuah lorong khusus penthouse.
Yang akhirnya langkahnya berhenti di depan sebuah pintu, lagi-lagi tanpa membutuhkan waktu lama pria itu langsung menempelkan sidik jarinya pada layar smartlock dan pintu itupun terbuka dengan mudah.
Hal pertama yang Andrew lihat adalah ruang tamu kosong. Kemudian dia mengecek ruangan lain namun samar-samar terdengar suara cipratan air dari arah kolam renang.
Andrew berjalan mendekat ke asal suara sampai akhirnya langkahnya tertahan saat melihat seorang gadis keluar dari dalam air dengan hanya berbalut bikini.
Gadis itu berjalan di pinggir kolam dan mengambil handuk kimono yang tersimpan di atas meja. Merasa sedang di perhatikan gadis itu menoleh dan mendapati Andrew yang mematung di tempatnya. Dengan langkah pasti dia langsung menghampirinya.
"Kau datang?"
Buyar. Lamunan Andrew berlarian saat dia menyadari bahwa gadis itu ternyata sudah berdiri di depannya. Dia berdehem keras guna menetralkan keterkejutannya.
"Aku kemari hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Bukannya kau sedang sibuk? Dimana wanita itu?"
"Carl, untuk itu aku minta maaf. Tapi memang sudah seharusnya kita bersikap profesional di kantor. Meskipun sebenarnya kamu adalah adik iparku."
"Mantan!" ralat Carol tak suka. Gadis itu melangkah menuju meja pantry. Dengan gerakan kasar dia mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis.
"Ya, kau memang mantan adik iparku. Tapi bagiku kau itu sudah seperti adik kecilku sendiri." ucap Andrew yang membuat Carol semakin kesal.
Amarah yang sejak siang dia simpan, rasanya sudah tidak tertahankan. Gadis itu melangkah berani ke hadapan Andrew, tinggi tubuhnya yang tidak setara dengan tinggi tubuh Andrew membuat Carol terpaksa menarik kemeja pria itu supaya menunduk.
Carol meremas tengkuk Andrew kemudian menciumnya dengan lapar. Sejenak Andrew terbawa suasana dia membalas ciuman itu sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.
Tiba-tiba tangan besarnya mendorong kuat tubuh kecil Carol sampai membuat tubuh gadis itu tersungkur di lantai. Andrew melotot tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan.
Namun tanpa diduga Carol malah tertawa, "Kau menikmatinya, Andrew Lawson."
"Apa yang kau lakukan Carl, ini salah!" balasnya marah.
Carol kembali berdiri, dia membelai dada pria itu tanpa canggung, "Apa yang salah? Apa karena kita pernah menjadi keluarga hm? Aku tidak peduli."
Andrew menggelengkan kepalanya sebagai tanpa penolakan, "Aku harus pergi."
Pria itu benar-benar pergi tanpa menoleh lagi. Melihat itu Carol nampak mengepalkan tangannya, dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di depan cermin sambil memperhatikan pantulan dirinya di dalam sana, namun sekian detik kemudian dia pun tersenyum tipis.